
Hari ini merupakan hari terakhir bagi Hyorin dan Ayesh berada di Sydney. Esok mereka sudah harus kembali ke Indonesia.
Hari ini Ayesh akan membawa Hyorin untuk berbelanja sepuasnya di Sydney sebagai penutup perjalanan liburan mereka kali ini. Mereka akan berbelanja untuk diri mereka sendiri dan juga untuk oleh-oleh keluarga di rumah.
Ayesh mengajak Hyorin ke Haymarket yang merupakan kawasan kuliner, souvenir, fashion, cafe dan resto. Di kawasan Haymarket juga banyak terdapat arsitektur bangunan yang bisa dijadikan sebagai latar foto yang instagramable, serta memberikan nuansa jalanan yang romantis.
Puas berbelanja Ayesh mengajak Hyorin ke sebuah restoran untuk mengisi perut mereka.
"Mas apa ini tidak terlalu banyak?" Hyorin menunjuk paperbag yang mereka bawa.
"Tidak sayang, tak apalah sekali-sekali ini."
"Tapi ini terlalu berlebihan Mas,"
"Sudah tidak apa-apa, ayo makan karena kita harus segera berisirahat untuk perjalanan besok!"
Hyorin menghabiskan makan siangnya dengan perlahan, dia makan sambil memandang jalanan yang terlihat begitu romantis. Sesekali Hyorin memandang lekat wajah Ayesh, betapa dia merasa beruntung dapat bersanding dengan suaminya itu. Dulu Hyorin tidak pernah terpikirkan akan bersama Ayesh sejauh ini.
"Kamu kenapa sayang?"
"Aku hanya ingin selalu bersamamu Mas,"
"Tentu saja kau akan selalu bersamaku."
Mereka melanjutkan makan dan memutuskan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sebenarnya Ayesh menahan ingin merengkuh istrinya, hanya saja dia tidak mau membuat Hyorin lelah. Ayesh memilih menahan diri dan akan melakukannya ketika sudah di rumah saja karena masih banyak kesempatan bagi mereka.
Keesokan paginya mereka telah bersiap menuju Bandara setelah check out dari hotel tempat mereka menginap. Hyorin terus menyelipkan lengannya di lengan Ayesh.
Tingkahnya mendadak posesif, dia bersikap seperti pengantin baru saja. Hyorin melakukan hal ini bukan tanpa alasan, ketika mereka keluar dari hotel ada segerombolan orang yang meminta foto dengan Ayesh yang mayoritas adalah perempuan seolah Ayesh seorang artis terkenal.
Mereka melihat ketampanan paripurna dari seorang Ayesh, bahkan mereka tidak memperdulikan Hyorin yang berada di samping Ayesh. Mereka seolah tidak melihat Hyorin sama sekali, meskipun Ayesh berusaha menolak dan tetap berjalan santai namun mereka tetap saja mengejar Ayesh dan membuat Hyorin merasa gerah dibuatnya.
Kini keduanya telah berada di dalam pesawat, Hyorin duduk disamping suaminya dengan perasaan yang masih dongkol.
"Kenapa muka kamu ditekuk begitu sayang?"
tanya Ayesh, sedangkan Hyorin masih diam, dia enggan untuk memberikan jawaban.
"Kenapa sayang, ayo ceritakan?" Ayesh terus mendesak.
"Aku tidak rela Mas dikerubuti semut-semut kaya tadi!"
__ADS_1
Ayesh tersenyum bahagia, ternyata istrinya itu tengah cemburu.
"Beruntung hari ini kita sudah harus kembali, jika tidak habislah kau disambangi mereka setiap hari,"
"Apa aku salah jika aku ini terlihat tampan?" ledek Ayesh kepada istrinya.
"Dasar narsis!" Hyorin bersedekap merasa kesal mendengar jawaban Ayesh.
Ayesh mendekatkan wajahnya ke wajah Hyorin bermaksud meninggalkan jejak sayang di kening istrinya namun Hyorin malah memundurkan wajahnya.
"Mas ih nyebelin, tidak tahu tempat." Kesal Hyorin.
"Aku tidak perduli sama sekali, sekalipun mereka melihat apa yang aku lakukan tadi, toh kita pasangan halal, mereka tidak bisa melarangku melakukan hal yang aku sukai terhadapmu!" jawab Ayesh asal.
"Tapi bukan harus diumbar juga kan Mas, khawatir ada orang yang tidak suka."
Sebenarnya Ayesh bukanlah tipe laki-laki yang suka mengumbar kemesraan di depan umum, hanya saja dia tidak tahan melihat istrinya yang terus diam saja mengacuhkannya. Padahal kepulangan mereka kali ini setelah berlibur tentu saja seharusnya mereka bahagia ditambah Ayesh yang sudah menahan ingin, jika partnernya saja ngambek maka hal itu tidak akan pernah terwujud.
Hyorin masih saja diam karena masih merasa kesal dengan sikap Ayesh yang santai dan terlalu cuek.
"Kau tahu sayang, mereka hanyalah semut. Pemilik hatiku yang sesungguhnya hanyalah kau seorang. Lihatlah perutmu, bukankah ini karena ulahku sehingga menjadi begini?" Ayesh menunjuk perut Hyorin yang sudah semakin membuncit.
Hyorin menyunggingkan senyum manisnya mendengar kata-kata Ayesh barusan, "Gombal!" ucapnya.
Sementara mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan bahagia, kini Indra sedang berada di ruang rapat mendengarkan semua pendapat dari pemegang saham dan juga dewan direksi.
Indra seolah menjadi pesakitan di dalam sana karena menjadi orang yang paling disalahkan atas kemerosotan yang terjadi di berbagai lini perusahaan.
"Menempatkan orang yang tidak tepat dan tidak sesuai kompetensi memang sebuah kesalahan besar, lama-lama kita akan menjadi bangkrut karena ulah anak bau kencur seperti dia!" umpat salah satu dewan direksi yang dibenarkan oleh yang lain.
Diantara mereka banyak yang meminta Indra agar mundur dari jabatannya saat ini.
"Seorang Dokter itu pantasnya berada di rumah sakit, bukan memimpin sebuah perusahaan!"
Kata-kata bernada serupa kerap terdengar menggema di dalam ruangan, hingga Ayah Indra sendiri sudah tidak mampu lagi membendung segala cacian yang dilontarkan oleh hampir semua yang hadir di ruangan tersebut.
Indra yang sejak awal memang merasa tidak tertarik dengan jabatan yang Ayahnya berikan sebenarnya cuek saja, namun melihat Ayahnya kewalahan pada akhirnya Indra membuka suaranya.
Terakhir diputuskan jika Indra harus keluar dari perusahaan dan meninggalkan jabatan yang diembannya sekarang sebab Indra dianggap tidak memiliki kemampuan di bidang bisnis sama sekali.
Ayah Indra sangat menyesal telah memaksakan kehendaknya kepada Indra, sehingga membuatnya tidak serius dalam bekerja dan merugikan banyak orang. Ayah Indra memang tidak tahu jika memang hal ini disengaja agar Indra mendapatkan pelajaran yang berharga dari kejadian ini.
Indra sempat merasa malu karena hinaan yang dilontarkan kepadanya. Kini dia harus menganggur untuk sementara waktu.
__ADS_1
Kini Ayesh dan Hyorin sudah sampai di Bandara, seperti biasa Donilah yang dengan setia menjemput mereka.
Doni tersenyum ketika melihat Ayesh berjalan mendekatinya.
"Duh jan yang baru pulang berlibur, senyumnya mengalahkan manisnya gula," Ledek Doni.
"Iya dong, emang kamu. Di kantor mulu kerjanya!"
"Eits...ketika Tuannya berlibur, asisten pribadi sudah menyelesaikan pekerjaan Tuannya yang terbengkalai!"
"Bukankah aku seorang asiten pribadi yang pantas mendapatkan bonus?"
"Kamu memang selalu bisa diandalkan Don," puji Ayesh.
"Tapi bonus baru bisa diberikan dengan syarat dan ketentuan berlaku," sambung Ayesh yang membuat Doni sedikit mengerucutkan bibirnya.
Mereka pada akhirnya menaiki mobil melanjutkan obrolan mereka disana, Doni membawa Ayesh dan Hyorin ke rumah baru mereka yang sudah selesai di bangun.
"Mas kita mau kemana? Bukankah jalan ke apartemen tidak lewat jalan ini?" tanya Hyorin merasa asing dengan jalan yang mereka lalui, Hyorin memang merasa pernah melewatinya namun dia lupa.
"Kita akan pulang sayang!" jawab Ayesh.
"Ikuti saja kemana Doni membawa kita pulang sayang," sambungnya.
Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah berada di depan sebuah rumah megah dengan ukuran yang cukup besar. Terdapat sebuah taman dengan berbagai macam tanaman bunga dan buah, menambah asri dan menyejukan mata.
Di depan rumah, mereka disambut oleh perempuan paruh baya. Dia adalah Bik Siti yang akan membantu Hyorin dalam membereskan urusan rumah mereka.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya," sapa Bik Siti kepada pemilik rumah.
"Sore Bik," jawab Ayesh.
"Kenalkan Bik, ini Istri saya namanya Hyorin."
Hyorin mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah kepada Bik Siti.
"Mari Tuan, Nyonya saya bawakan barang-barangnya."
"Terimakasih Bik,"
Hyorin memasuki kamar bersama Ayesh, sedangkan Doni sudah kembali lagi ke kantor.
Mereka merasa sangat lelah, sehingga memutuskan untuk beristirahat lebih awal setelah makan malam.
__ADS_1