Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 39


__ADS_3

Hyorin dan teman-temannya sampai di rumah sakit Mahardika sekitar pukul Satu dini hari, mereka langsung membawa Ayesh ke IGD untuk pemeriksaan lebih lanjut.


"Kamu tenanglah jangan terlalu cemas Dokter Orin, Ayesh pasti akan baik-baik saja." Ucap Doni yang melihat Hyorin mondar-mandir di depan ruang IGD.


"Iya benar Rin, kamu pasti sangat lelah. Sekarang duduklah, istirahat dulu."


"Terimakasih ya Nit, Kak Doni juga. Gara-gara kami kalian jadi ikut repot."


"Tidak Rin, kamu tidak usah khawatir."


"Mana mungkin aku merasa direpotkan, Ayesh merupakan tanggungjawabku sebagai asisten pribadi sekaligus sahabatnya." Doni ikut menimpali ucapan Nita.


Ayesh berada di IGD sekitar hampir Dua jam, setelah itu dia dibawa ke ruang rawat untuk perawatan lebih lanjut.


Diagnosa sementara dari Dokter dia mengalami peradangan pada ususnya akibat benturan benda tumpul yang cukup keras dan terjadi beberapa kali.


Hyorin dengan telaten merawat suaminya, dia terus berada di rumah sakit selama Ayesh dirawat. Setelah selesai menyelesaikan tugasnya sebagai Dokter, dia akan langsung ke ruang perawatan Ayesh untuk menemani suaminya. Orangtua Ayesh pun sesekali datang untuk menjenguk Putranya.


Saat Hyorin memasuki kamar rawat Ayesh, dia melihat Ibu Mertuanya sudah berada disana.


Ceklek....


Hyorin membuka pintu ruang perawatan.


"Ibu...kapan datang bu?" Hyorin berhambur ke arah ibu Ayesh yang sedang berdiri di samping ranjang Putranya kemudian mencium punggung tangan Ibu Mertuanya itu dengan takzim dan memeluknya.


"Ibu baru saja sampai Nak, Ayah juga sedang dalam perjalanan kesini," Ibu Ayesh mengelus rambut Hyorin lembut.


"Iya Bu, bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" Hyorin mengurai pelukannya.


"Kami baik Nak, Ibu kangen sekali sama kamu Nak,"


"Orin juga kangen sekali sama Ibu,"


"Aduh yang sudah bertemu dengan menantunya, anak sendiri dilupakan." Ayesh mencebik berpura-pura cemburu dengan perlakuan Ibunya kepada Hyorin.


"Putra Ibu cemburu rupanya ya," Ibu Ayesh tertawa melihat tingkah Putranya.


"Ayesh sebenarnya sangat bahagia ternyata Ibu sayang sekali sama Orin,"


"Iya dong Nak, tentu saja Ibu sangat sayang pada Istrimu, dia begitu cantik dan baik. Ibu sangat beruntung memiliki menantu seperti Orin."


Hyorin yang disanjung oleh Ibu Mertunya merasa malu sendiri, sebab dirinya bahkan belum bisa menjadi Istri yang baik bagi Ayesh.


Definisi yang menurut Hyorin terlalu berlebihan dari Ibu Mertuanya. Namun, Hyorin merasa begitu bahagia, seolah dia menemukan sosok Ibunya kembali dalam kehidupannya.


Beberapa saat kemudian Ayah Ayesh tiba di rumah sakit berbarengan dengan keluarga pak Mahardika yang datang hendak menjenguk Ayesh.


Silvia juga terlihat ikut dalam rombongan, seolah memanfaatkan situasi begitu tiba di depan kamar rawat Ayesh Silvia menyerobot masuk dan langsung memeluk Ayesh tanpa permisi.


"Kak Ayesh baik-baik saja kan, aku sangat khawatir."


Ayesh yang tidak siap dengan perlakuan Silvia terhadapnya tidak bisa mengelak.


"Silvia lepaskan aku!" Ayesh melirik Istrinya, mengecek perasaan Hyorin melalui ekspresi wajahnya.


Hyorin hanya tersenyum dengan ekspresi wajah datar seolah baik-baik saja yang sebenarnya cukup dipaksakan.


"Tidak mau Kak, aku maunya dekat dengan Kak Ayesh. Aku sangat khawatir Kakak kenapa-kenapa."


"Aku tidak apa-apa, kamu bisa lihat sendiri kan aku baik-baik saja sekarang."


"Nak Silvia, tolong lepaskan Ayesh ya dia pasti kesakitan karena kamu menyentuh tepat dibagian yang sakit." Ibu Ayesh menginterupsi dengan sangat sopan meskipun dia sangat tidak suka dengan sikap Silvia.

__ADS_1


"Baik Bu, maafkan aku Kak Ayesh."


Silvia terus berada di sisi ranjang Ayesh, memberikan perhatian yang sebenarnya tidak Ayesh butuhkan.


Hyorin semenjak kedatangan Silvia memilih untuk duduk di sofa menemani Ayahnya dan Ayah Mertuanya. Dia tidak ingin melihat Silvia yang begitu manja terhadap Ayesh.


Dia memilih menyingkir untuk menata hatinya, sebab tidak ingin terjadi keributan antara dirinya dan Silvia.


"Ayah kangen sekali sama kamu Rin, semenjak menikah kamu tidak pernah datang ke rumah."


"Maafkan aku Ayah, aku sangat sibuk dengan pekerjaanku sendiri."


"Dika kamu harus paham, pasangan yang baru menikah tentu akan disibukkan dengan hal-hal baru yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, kita kan sudah pernah muda seharusnya kamu juga paham," Ayah Ayesh tertawa nyaring.


"Iya Akbar kamu benar, bagaimana aku bisa lupa." Ayah Hyorin ikut tertawa.


"Jangan lupa buat cucu yang banyak buat Ayah, agar keluarga kita tambah ramai. Kita sudah ingin dipanggil Opa sama malaikat kecil yang menggemaskan, bukankah begitu Akbar?"


"Iya Dik kamu benar sekali,"


Ayah Ayesh dan Hyorin tertawa bersama, mereka nampak sangat bahagia.


Hyorin hanya diam saja sambil sesekali melihat Silvia yang terus saja menempel kepada Ayesh, Hyorin paham betul suaminya itu merasa risih. Tetapi, Hyorin merasa tidak ingin mencegah semua itu terjadi, dia ingin agar suaminya memiliki inisiatif sendiri untuk lebih bisa menjaga hatinya, ego Hyorin kali ini lebih mendominasi.


"Wah heboh sekali kelihatannya," Ibu Mirna mendekati Suaminya.


"Iya kami jarang bertemu akhir-akhir ini, anggap ini pertemuan untuk melepaskan kerinduan." Jawab Ayah Hyorin.


"Mari kita pulang, hari sudah semakin petang. Kasian Ayesh yang mungkin mau beristirahat."


"Oh ya baiklah, besok-besok kita sambung lagi."


"Dengan senang hati Dik, kita main golf lagi kapan-kapan ya."


Tidak lama, Ayah dan Ibu Ayesh juga berpamitan untuk pulang. Namun, mereka berjanji akan datang kembali esok hari. Kini tinggalah Hyorin dan Ayesh di dalam kamar rawat.


Hyorin yang kesal masih terdiam duduk di sofa yang cukup jauh dari ranjang dimana Ayesh berbaring. Ayesh yang merasa dirinya di abaikan kemudian memanggil Hyorin.


"Rin...," panggil Ayesh.


Hyorin pura-pura tidak mendengar panggilan Ayesh dan memilih tetap fokus pada ponselnya.


"Orin...," panggil Ayesh sekali lagi.


Hyorin tetap tidak bergeming, Ayesh paham jika Hyorin marah kepadanya.


"Aawwwww...," Ayesh memekik sambil memegangi bagian perutnya.


Hyorin yang mendengar jeritan Ayesh setengah berlari ke arah ranjang.


"Kamu tidak apa-apa Mas?" tanya Hyorin khawatir.


Hyorin mencondongkan tubuhnya untuk memeriksa luka di perut Ayesh.


Ayesh membuka sebelah matanya yang tadi ia pejamkan, kemudian dia menarik lengan Hyorin hingga tubuh gadis itu jatuh menimpa tubuhnya. Manik mata Ayesh menatap lekat bola mata hitam milik Hyorin hingga pandangan mereka saling beradu.


"Mas ikh...lepaskan aku," Hyorin tersadar jika Ayesh sedang mengerjainya.


Ayesh justru mendekap semakin erat, rasa rindu terhadap istrinya sungguh sudah tidak terbendung lagi. Kembali ia rasakan aroma Vanilla dari tubuh Hyorin yang merupakan candu baginya.


Hyorin perlahan merasakan kehangatan yang sama dengan yang Ayesh rasakan saat ini, hatinya berangsur-angsur berubah menjadi lebih baik, ada ketenangan di dalam hatinya.


Ceklek....

__ADS_1


Pintu kamar rawat Ayesh dibuka oleh seorang Perawat yang hendak mengantarkan obat untuk Ayesh.


"Maafkan saya Dokter Orin, saya tidak tahu jika...,"


Hyorin yang tersentak kaget dengan segera menarik tubuhnya dari dekapan Ayesh, kemudian membetulkan posisi dirinya.


"Tidak apa-apa, ini tidak seperti yang Suster lihat,"


"Saya mohon maaf tidak bermaksud untuk mengganggu, saya permisi Dok."


Perawat itu buru-buru keluar dari kamar rawat setelah meletakan obat di atas nakas.


"Tuh kan Mas, gara-gara kamu kita jadi kepergok gini, malu tahu Mas."


"Kenapa harus malu, bukankah aku ini Suami sah kamu Rin."


"Tidak semua orang yang ada disini tahu jika aku sudah menikah, aku tidak mau ada yang berpikiran yang tidak-tidak tentang kita Mas."


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan,"


"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya Mas, aku bekerja disini dan kalau ada gosip yang tidak benar aku pasti akan merasa tidak nyaman."


"Rin kenapa tadi kamu malah tidak melarang Silvia dekat-dekat denganku?" Ayesh mengalihkan pembicaraan.


"Buat apa aku harus melarang, kamu saja menikmatinya kan Mas?"


"Kamu cemburu ya Rin?"


"Tidak ada ya Mas, aku cuma geli aja masih sakit bisa-bisanya ya bermesraan sama wanita lain di depan mata istrinya. Jangan-jangan selama aku tidak ada kalian sering bertemu."


"Kalau iya bagaimana? Apakah kamu akan marah?" Ayesh mengerjai Istrinya lagi.


"Dasar pria, semua sama saja!"


Ayesh menarik sudut bibirnya, melihat tingkah Hyorin yang jelas-jelas sangat cemburu tapi enggan untuk mengakuinya.


Ayesh menggeser bobot tubuhnya kesisi ranjang, menepuk-nepuk sisi yang kosong menyuruh Hyorin untuk naik.


"Aku tidak mau Mas, disitu sempit. Aku mau tidur di sofa saja."


"Tidak boleh menolak Suami, nanti berdosa loh Rin!"


Hyorin pada akhirnya memilih patuh, naik ke atas ranjang seperti yang Ayesh inginkan dan berbaring disisi Ayesh.


"Nah begini lebih baik," Ayesh mengendus tengkuk Hyorin.


"Geli Mas, jangan kaya gitu."


"Tapi aku suka,"


"Ingat lagi sakit, pikirannya dikondisikan biar cepat sembuh!"


"Baik Bu Dokter sayang, my wife."


Ayesh mengeratkan dekapan tangannya di tubuh Istrinya kemudian perlahan memejamkan matanya yang diikuti oleh Hyorin pada akhirnya.


---------------------------------------------------------------------


Hai Kak, maafkan Author yang updatenya telat ya, Author sedang disibukkan dengan kegiatan akhir tahun di dunia nyata yang begitu padat sedang dikejar dateline (loh kok malah curhat) 🤭🤭🤭


Author pasti usahakan update rutin kok, tetap dukung Author ya, jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya. 😘😘😘


Terimakasih yang selalu setia mendukung Author, Love U All. 💕💕💕 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2