Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 51


__ADS_3

"Kak Indra...," Hyorin spontan menyebutkan nama Indra karena sejak tadi dia memang merasa familiar dengan suaranya, meskipun wajahnya tadi tidak terlihat secara jelas dari posisi sudut pandang Hyorin yang ada di lantai atas.


Indra terpaku di tempat, merasa canggung dengan situasi yang ada. Dia merasa sudah tertangkap basah, tidak ada lagi harapan baginya untuk bersama Hyorin, padahal tempo hari Indra baru saja mengatakan kepada Hyorin bahwa dia akan membahagiakan Hyorin jika Ayesh tidak bisa melakukannya.


"Sudah aku bilang bukan kamu pasti mengenalnya?" ucap Tante Mirna.


"Aku peringatkan kamu Orin, jangan coba-coba kamu mengganggu Mas Indra, dia sekarang milikku! Jika kalian bertemu di rumah sakit bersikaplah bahwa kalian itu tidak saling mengenal. Awas jika kalian macam-macam, seperti tempo hari saat kamu di rawat di rumah sakit, Mas Indra begitu mengkhawatirkan kamu, jadi kamulah yang seharusnya sadar bahwa kamu sudah menikah Orin!" ancam Silvia kepada Hyorin.


Hyorin berusaha dengan sekuat tenaga untuk berdiri dengan menopang Satu kakinya.


"Baiklah bukankah itu sangat mudah, lagian aku tidak berminat sama sekali untuk hal ini apalagi harus berebut dengan orang lain. Aku sudah membuangnya tanpa menyentuhnya sedikitpun dan tidak akan mungkin aku pungut kembali!"


Hyorin menyeringai sambil melirik Indra yang masih diam di tempat.


"Seharusnya aku yang peringatkan kamu Silvia, jangan pernah ganggu Mas Ayesh lagi, silahkan kamu pungut sampah yang sudah aku buang!"


"K-kau...," Silvia mengangkat tangannya ingin menampar Hyorin tapi Indra mencegahnya.


"Diam kamu Orin, jangan coba-coba kamu mengancam Silvia!" tante Mirna mencoba membela anaknya.


"Baiklah Tante aku tidak berminat untuk ribut dengan kalian, aku datang kesini hanya ingin bertemu Ayah bukan bertemu kalian!"


"Ayahmu sedang keluar Kota jadi tidak perlu kamu tunggu, lebih baik kamu pergi dari sini sebelum kami usir!" ucap Tante Mirna lagi.


"Ini rumah Ayahku Tante, aku anak kandungnya jadi tidak salah bukan kalau aku berada disini,"


"Anak Kandung yang telah dibuang oleh Ayahnya sendiri, kesalahan terbesar Ayahmu adalah memiliki anak sepertimu dan Hyoshan!"


"Nasibmu akan sama seperti Kakakmu jika kamu belum menikah, terusir dari rumahnya sendiri secara tidak hormat!"


"Kakak? Apa yang kalian lakukan kepada Kakakku?"


"Kamu tidak perlu tahu, tunggu saja akan aku pastikan sebentar lagi Kakakmu itu juga akan segera hengkang dari Perusahaan!" jawab Silvia ketus.


"Jangan macam-macam kamu Silvia, Ayah tidak akan pernah membuat anak-anaknya menderita."


"Kamu lihat saja nanti, tunggu saja apa yang akan kami perbuat kepadanya!"


"Kalian memang jahat, tidak sepantasnya kalian berada disini!"


"Diam kamu Orin!"


****


Ayesh kini sudah berada di jalan, mengemudi dengan perasaan yang tidak tenang. Dia sangat mengkhawatirkan Hyorin, ada kemungkinan Hyorin disakiti oleh keluarga sambungnya sendiri sebab tadi Ayesh mengkonfirmasi keberadaan Ayah Mertuanya yang ternyata sedang berada di luar Kota dan malam ini belum kembali.


Ayesh menyesali dirinya yang begitu bodoh yang dengan mudahnya mengizinkan Hyorin ke rumah Ayahnya sendirian tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu keberadaan Ayah Mertuanya yang memang sangatlah sibuk.


Ayesh sampai di halaman rumah Mertuanya, memarkirkan mobil kemudian masuk ke dalam tanpa ada seorangpun yang mengetahui gerak langkahnya.


Ayesh mendengar keributan yang terjadi di lantai atas, Ayesh hendak menyusul Hyorin yang sepertinya sedang di cecar oleh Silvia dan Ibu Tirinya. Namun, Ayesh segera menghentikan langkahnya begitu mendengar Istrinya sedang melakukan pembelaan diri, bahkan menyebut Indra sebagai sampah yang belum pernah dipergunakan tapi sudah dibuang.


Hati Ayesh sungguh puas mendengar pernyataan Istri kesayangannya itu.


Ayesh melangkahkan kakinya kembali ketika merasa Istrinya sedang terpojok.


"Hentikan!!!" suara Bass Ayesh menginterupsi.


"Jangan pernah kalian sentuh Istri saya dengan tangan kotor kalian!" sambung Ayesh sambil melangkah mendekati Hyorin yang sudah tersungkur karena didorong oleh Silvia.


"Kak Ayesh? Kapan kamu datang kenapa aku tidak melihatmu masuk?" Silvia mulai gemetar sebab ini merupakan kedua kalinya Ayesh memergoki Silvia menyakiti Hyorin.


Pandangan Ayesh tertuju pada Indra menatap secara intens dan dingin. Seketika udara disekitar terasa dingin membeku, udara panas seketika berevaporasi berganti kesunyian yang mencekam, tidak ada yang berani membuka suara sebab tatapan Ayesh sangatlah mengintimidasi.


Ayesh melewati Indra, kemudian membopong Istrinya yang tadi tersungkur di lantai.


"Beginikah cara seorang lelaki yang ingin membahagiakan Istri orang lain?" bisik Ayesh ditelinga Indra ketika melewatinya kembali.


Indra tidak mampu mengucapkan apapun, dia merasa sangat malu terhadap Hyorin.

__ADS_1


"Nak Ayesh tolong kejadian ini jangan sampai Suamiku mengetahuinya ya?" mohon Tante Mirna.


Ayesh menghentikan langkahnya, kini Ayesh sudah berada di anak tangga nomor Lima dari atas. Ayesh menoleh dan menarik Satu sudut bibirnya dengan sinis tanpa mengucapkan apapun, Ayesh membawa Hyorin keluar dari rumah dengan segera. Ayesh tidak ingin Istrinya semakin tersakiti jika terlalu lama berada disana.


Sepeninggal Ayesh dan Hyorin, mereka begitu ribut memikirkan cara jika sampai Pak Mahardika mengetahui kejadian malam ini.


"Ini semua gara-gara kamu Silvia, kenapa kamu mendorong Orin," ucap Tante Mirna.


"Bukankah Mama yang melakukannya lebih dulu hah?!!"


"Kalau Mama kan tidak ada yang tahu selain kalian,"


"Itu sama saja Ma,"


"Ah sudahlah, yang terpenting tua bangka itu jangan sampai tahu kejadian ini. Mama mau istirahat dulu, Mama pusing memikirkan banyak kemungkinan,"


Tante Mirna masuk kembali ke dalam kamar utama meninggalkan Indra dan Silvia.


Silvia menatap Indra penuh tanda tanya, meminta penjelasan dari Indra terkait ucapan Ayesh tadi.


"Sekarang jelaskan padaku kata-kata Kak Ayesh tadi!" perintah Silvia.


"Kata-kata yang mana Sil?"


"Kamu pikir aku tuli apa Mas, aku mendengarnya dengan sangat jelas!"


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku pulang dulu sudah sangat malam aku capek!"


Indra melangkah hendak menuruni anak tangga yang langsung dicegah oleh Silvia.


"Mas mau pergi sekarang?" ucap Silvia dengan manja.


Silvia bergelayut manja di lengan Indra.


"Iya, tidak ada gunanya aku disini!"


Indra yang memahami maksud Silvia langsung berbalik dengan wajah yang sudah berubah cerah.


"Benarkah?"


"Iya Mas," Silvia menggandeng tangan Indra dan menariknya masuk ke dalam kamarnya.


****


Ayesh mendudukkan Hyorin di kursi penumpang dan memasang seatbelt untuknya, kemudian Ayesh memutari mobilnya dan duduk di balik kemudi. Ayesh menoleh ke arah Hyorin yang masih memandangi rumah Ayahnya dengan sendu.


Ayesh memegang tangan Hyorin dan gadis itu menoleh ke arahnya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"


"Aku tidak apa-apa Mas, aku hanya sedikit sedih saja."


"Karena Indra bersama Silvia?" tanya Ayesh mencoba menelusuri lebih dalam.


"Bukan itu Mas, kenapa kamu berpikir sejauh itu?"


"Aku hanya menebak saja, kalau begitu kita pulang sekarang. Kamu harus segera istirahat agar cepat sembuh!"


Hyorin tersenyum, "Terimakasih Mas,"


Ayesh melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah orang tua Hyorin.


Hyorin tampak diam saja di dalam mobil, dia terus memandangi foto keluarganya yang dulu masih lengkap. Ayesh yang melihat pemandangan itu merasa sangat iba terhadapnya, Hyorin sudah berjuang sangat keras. Dia berhak bahagia, tapi kedatangan Nenek Sihir dan anaknya membuat kebahagiaannya terenggut kembali untuk kedua kalinya.


"Sayang kita mampir cari makan dulu ya?"


Hyorin mengangguk.


"Kamu mau makan apa Rin?"

__ADS_1


"Aku terserah Mas Ayesh saja,"


"Loh kok terserah sih, biasanya Mas yang ngikut kamu,"


"Sekarang aku yang ngikut Mas,"


"Baiklah ikut apa titah Nyonya Ayesh saja."


Hyorin memukul pelan lengan Suaminya, "Mas lebay deh,"


"Kamu yang membuat aku begini,"


Hyorin dan Ayesh sampai di sebuah Restoran, mereka masuk dan duduk di meja paling pojok.


Restoran itu tidak sepi juga tidak terlalu ramai. Pelayan datang memberikan daftar menu, setelah mencatat pesanan Pelayan itu pergi meninggalkan mereka.


Hyorin mengedarkan pandangan ke beberapa penjuru, dia melihat sosok yang tidak asing baginya.


"Mas lihatlah itu bukankah Nita dan Kak Doni?"


"Benarkah? Mana Rin?" Ayesh mencari-cari keberadaan keduanya.


"Itu Mas di sebelah sana," tunjuk Hyorin.


Ayesh menemukan sosok yang dimaksud kemudian bermaksud untuk mengerjai sahabatnya itu.


Ayesh mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencoba menelfon Doni yang dalam Satu kali panggilan sudah tersambung.


"Hallo ada apa Yesh?" jawab Doni dari seberang telefon.


"Cepat pulang sekarang ada tugas penting untukmu!"


"Apakah tidak bisa ditunda sampai besok?"


"Tidak ada tawar menawar, sekarang ya harus sekarang!"


Ayesh mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Doni.


Doni menghembuskan nafasnya kasar.


Nasib...nasib...kok gini amat ya nasib gue.


Doni membatin.


"Ada apa Kak? Apakah ada masalah?" tanya polos Nita.


"Tidak ada Dek Nita," Doni tersenyum.


Mereka kembali meneruskan makan malamnya.


Ayesh yang melihat Doni tidak beranjak dari tempat duduknya kemudian mencoba menelfon Doni kembali.


"Ada apa lagi sih?"


"Cepat kemari!"


Ayesh menutup telfonnya kembali.


Doni yang merasa kesal dengan sikap Ayesh sejurus kemudian menemukan sosok yang tadi mengganggunya sedang melambaikan tangan dan tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.


Dasar teman nggak ada akhlak menganggu kebahagiaan orang saja.


 


Happy Reading ya Kak 🥰🥰🥰


Jangan lupa dukung Author dengan terus like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak. 💕💕💕


Terimakasih ya Kak yang selalu dukung Author 🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2