Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 84


__ADS_3

Pesta pernikahan Hyoshan dan Nita digelar dengan sangat mewah dan elegan, banyak yang menganggap keduanya merupakan pasangan yang serasi.


Hyorin sangat bahagia, pada akhirnya sahabat baiknya itu bisa bersatu dengan Kakak yang sangat dia sayangi. Hyorin tahu betapa gigihnya Nita mengejar cinta Hyoshan hingga pada akhirnya Hyoshan merasakan betapa tulusnya cinta dari sahabatnya itu dan mau membuka hatinya untuk Nita.


Nita merupakan yang pertama bagi Hyoshan begitu pula sebaliknya, karena sudah sejak SMA dulu Nita telah jatuh hati pada Hyoshan dan tidak pernah berpaling kepada laki-laki lain meski tidak sedikit laki-laki yang menyukai Nita seperti Doni contohnya yang kini sudah move on karena sadar bahwa Nita mendapatkan orang yang tepat.


Cinta memang tidak selamanya harus memiliki, namun cinta tahu kemana dirinya harus menetap.


Serangkaian acara telah terlewati dan berkahir dengan bahagia. Pasangan pengantin baru itu akan tinggal di hotel malam ini, sedangkan keluarga yang lain akan pulang terlebih dahulu.


Hyorin memeluk Kakaknya erat.


"Selamat ya Kak, aku sangat bahagia."


"Terimakasih Rin, Kakak juga bahagia."


"Jaga Nita dengan baik ya Kak,"


"Tentu saja sayang,"


Hyorin melepaskan pelukannya dan beralih ke Nita, memeluk sahabatnya yang sekarang sudah menjadi Kakak Iparnya.


"Selamat ya Kakak Ipar,"


"Terimakasih Adik Ipar,"


"Usaha memang tidak pernah menghianati hasil,"


"Kau juga sudah banyak membantuku,"


"Tentu saja, jangan lupa bikin keponakan yang banyak buat aku ya," Hyorin menggoda Nita.


"Ih kau ini satu saja belum tercetak, sudah minta yang banyak."


"Sudah belum ngobrolnya gantian yang lain!" cegah Hyoshan yang seolah tidak rela Istrinya dipeluk oleh Hyorin terlalu lama.


"Kakak pelit,"


"Biarin Istri Kakak ini," Hyoshan tertawa.


Ayesh, Doni dan yang lainnya juga mengucapkan selamat kepada Hyoshan dan juga Nita.


"Kak kami pulang dulu ya, silahkan kalian bertempur sampai pagi!" ledek Hyorin kepada Kakaknya.


"Kau ini Rin membuat Kakak tidak sabar saja,"


"Sudah sana kalian pulanglah!" sambung Hyoshan.


"Kita diusir nih ceritanya?" jawab Hyorin.


"Belum sadar juga kalau di usir?"


"Baik...baik...kita pulang, malam ini milik kalian!"


Hyorin dan rombongan akhirnya meninggalkan sepasang pengantin baru yang sudah siap bertempur malam ini.


Hyorin langsung pulang ke apartemen bersama Ayesh karena memang dia sudah sangat penat ingin segera istirahat.


"Sayang boleh pinjam ponsel kamu?"

__ADS_1


"Untuk apa Mas?"


"Bukankah ada hal yang belum aku baca?"


"Ah ya aku sampai lupa Mas," Hyorin menyerahkan ponselnya kepada Ayesh, sedangkan dirinya langsung melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Ayesh membuka dari atas pesan yang dikirimkan Indra kepada Hyorin lengkap dengan foto dirinya bersama Alysa sewaktu di Melbourne.


Beruntung Hyorin tidak terpengaruh dengan setiap pesan yang Indra kirimkan jika tidak sudah dipastikan perang dingin sudah akan terjadi diantara mereka.


Ayesh bangga terhadap istrinya yang mampu menahan amarah dan menaruh kepercayaan penuh terhadap dirinya.


Ayesh mengepalkan tangannya karena geram dengan Indra yang tidak pernah jera.


"Aku akan menemuinya," batin Ayesh.


Hyorin keluar dari kamar mandi, melihat Ayesh yang terlihat emosi menahan amarah yang bergejolak di dalam dada. Siapa yang tidak akan marah jika ada laki-laki yang terang-terangan ingin merebut istrinya.


"Mas kamu kenapa?" Hyorin memeluk Ayesh.


"Aku tidak apa-apa sayang,"


"Ini pasti ada hubungannya dengan pesan Indra kan Mas?"


"Maafkan aku sayang, kamu pasti sangat terluka!" Ayesh mulai terisak dipelukan Hyorin.


"Aku Mas?" Hyorin menyebut dirinya sendiri.


"Aku wanita yang tangguh, hanya pesan seperti itu saja tidak akan merubah perasaanku terhadapmu," Hyorin menatap wajah suaminya yang terlihat sendu.


"Aku menaruh kepercayaan penuh terhadapmu Mas, jadi tidak usah terlalu mengkhawatirkanku seperti ini,"


"Terimakasih sayang, terimakasih."


"Kamu lihatlah ini sayang!"


Hyorin mengambil ponsel milik Ayesh dan mengamati foto-foto yang ada disana.


Foto-foto itu memiliki background yang sama, hanya saja dengan personil yang berbeda.


"Kamu lihat sendiri kan kalau aku tidak hanya berdua saja dengan Alysa,"


"Ah ya aku belum cerita sama kamu kalau Alysa dan suaminyalah yang banyak membantuku dan Doni ketika kami di Melbourne,"


"Ini suami Alysa?" Hyorin menunjuk foto Alex.


Ayesh membenarkan akan hal itu, "Tidak mungkin bukan jika aku berkencan dengan Alysa, sedangkan Alysa juga sudah bersuami."


"Aku tidak pernah percaya dengan Indra Mas, itulah yang membuatku tidak meresponnya sama sekali,"


"Lalu ajakannya apakah kau mau?" Ayesh menggoda istrinya.


"Apa Mas pikir aku wanita seperti itu?"


"Tentu saja tidak," jawab Ayesh.


"Kalau begitu jaga ucapanmu Mas, karena bisa saja aku tersinggung dengan kata-katamu itu,"


Ayesh merasa telah salah bicara, dia merutuki dirinya sendiri yang tidak memiliki pengendalian diri yanga baik seperti Hyorin.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang," Ayesh mengendus ceruk leher istrinya.


"Bersihkan dirimu dulu Mas!" perintah Hyorin.


Ayesh bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu di hotel, Hyoshan dan Nita sedang mengahabiskan malam bersama. Rasa canggung dan malu menyusup dalam hati keduanya, mereka sama-sama merasa udara terasa sangat tipis di ruangan yang cukup luas itu.


Selama ini mereka terbiasa sendiri, namun sekarang mereka harus berbagi ranjang. Keduanya sama-sama belum dapat memejamkan mata, padahal malam sudah beranjak menuju dini hari.


"Nit apakah kamu tidak bisa tidur?" tanya Hyoshan yang berbaring memunggungi Nita.


"Iya Kak," jawab Nita singkat.


"Apakah kau ingin aku peluk?" tanya Hyoshan canggung.


"Bolehkah?" tanya Hyoshan lagi.


Nita hanya mengangguk dan berbalik menghadap suaminya.


"Nit apakah kau bahagia?" Hyoshan mengelus lembut wajah istrinya.


"Aku bahagia Kak, sangat bahagia malah."


"Kenapa kamu tidak bisa tidur? Apakah kau merindukan kamarmu?" Hyoshan bertanya dengan sangat polos, dia memang belum berpengalaman untuk urusan wanita.


Wajah Nita memerah, "Pertanyaan macam apa itu," batin Nita.


"Kak ayo kita tidur!" ucap Nita pada akhirnya karena Hyoshan sangat kaku.


"Apakah kamu menyesal menikah denganku Nit?" Hyoshan memandang langit-langit dengan menekuk kedua lengannya sebagai bantal kepala.


"Kak jangan bicara sembarangan, bahkan kita menikah belum genap sehari. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu."


"Benarkah?"


"Apa Kakak menyesal?"


"Tidak! Siapa bilang aku menyesal."


"Aku mencintaimu sejak dulu Kak, bisa menikah denganmu adalah impianku sejak lama yang dapat aku wujudkan hari ini, mana mungkin aku tidak bahagia ataupun menyesal."


"Aku berharap kita akan hidup bahagia selamanya Nit,"


Hyoshan memberanikan diri untuk terus mendekati istrinya, tidak benar jika malam ini dia membiarkan Nita begitu saja, karena dia sudah mempersiapkan diri untuk malam ini.


Melepas setatus lajang mereka dan bersiap membangun hubungan suami istri baik lahir maupun batin.


Pandangan mereka saling bertemu. Hyoshan menundukkan kepalanya merengkuh bibir tipis Nita, menciuminya dengan lembut. Ciuman pertama bagi keduanya, terasa kaku memang namun lama kelamaan mereka saling menikmati, saling membalas, saling mengeksplor dan berlanjut hingga sentuhan terdalam.


Nita melenguh membuat Hyoshan semakin bersemangat karena Nita merespon setiap sentuhannya.


"Maafkan aku jika nanti mungkin terasa sakit," bisik Hyoshan ditelinga Nita.


Nita hanya mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya menahan hasrat yang tersulut akibat sentuhan yang memabukkan.


Hyoshan menghujam Nita dengan lembut, khawatir jika aksinya akan membuat Nita kesakitan.


Untuk beberapa saat keduanya saling berpacu dengan waktu, pergulatan yang menguras tenaga itu diakhiri dengan semburan lava pijar di dalam mangkuk telur yang siap bertumbuh, sebuah kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan.

__ADS_1


Mereka mengulanginya hingga beberapa ronde, hingga akhirnya terkulai lemas bersama karena kehabisan tenaga. Nita merasakan perih di bawah sana, berpacu berkali-kali dan untuk pertama kalinya membuat dirinya harus menyerah karena Hyoshan sangat bersemangat.


Meskipun terasa sakit untuk awalnya, namun dia sangat beruntung karena Hyoshan dengan kasih sayangnya melakukan dengan sangat hati-hati.


__ADS_2