
"Mas tolong maafkan Silvia, dia memang salah tapi apakah tidak ada ampun untuknya?" ucap Mirna ketika mereka sampai di kamar utama.
"Kamu pikir apa Mirna?!! Dia anak gadis, apa kamu tidak pernah mengajari agar bisa menjaga dirinya sendiri?"
"Aku yang salah terlalu memanjakannya Mas,"
"Bagus kalau kau paham, sekarang keluarlah aku ingin sendiri. Panggil aku kalau orang tua Indra sudah datang!"
"Iya Mas,"
Mirna mematuhi ucapan Suaminya, keluar meninggalkan Mahardika di kamarnya.
Dasar tua bangka, kalau saja aku tidak membutuhkanmu sudah aku buang dari sejak dulu.
Mirna membatin dan menghentakan kakinya kesal ketika keluar dari kamar.
Mahardika mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya yang tidak lain adalah Akbar besannya.
"Baik Dika, aku paham. Akan aku atur segera, setelah semuanya siap aku akan menghubungimu."
"Terimakasih Akbar, aku sangat bergantung kepadamu."
Panggilan telfonpun terputus, Mahardika kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, mencoba menenangkan diri dengan semua hal yang terjadi.
Dia mengingat semua perkataan Hyoshan dulu sebelum Putra Sulungnya memilih menyingkir dan memutuskan keluar dari rumah.
Mahardika saat itu benar-benar tidak mempercayai ucapan Hyoshan bahkan menganggap bahwa Hyoshan tidak menyukai Silvia dan Ibunya sehingga membuat fitnah untuk mereka.
Di kamar Silvia masih terjadi perdebatan yang cukup serius.
"Silvia kamu ini membuat pusing Mama saja, tinggal selangkah lagi kalian berdua malah mengacaukannya."
"Maafkan aku Ma, siapa yang mengira jika akan seperti ini!"
"Kita pikirkan caranya supaya dia percaya lagi kepada kalian!"
"Ma aku belum mau menikah, aku masih muda dan aku masih ingin bersenang-senang."
"Betul apa kata Silvia Tante, kami belum mau menikah. Bukankah menikah tidak untuk sehari atau dua hari? Kami masih mau bersenang-senang dulu."
"Diam kamu Indra!! Salah sendiri kalian kepergok. Kalau bermain-main itu harus hati-hati, sudah runyam begini kalian malah seperti orang tidak waras!"
"Silvia kau juga, setelah menikah kamu masih bisa bersenang-senang. Saat ini kamu hanya bisa patuh agar Ayah tirimu itu bisa percaya lagi kepadamu," sambung Mamanya.
"Indra bagaimana dengan perkembangan rumah sakit? Apakah kamu sudah berhasil membuat jerat untuk Dokter Asef?"
"Be-belum Tante," Indra sedikit gugup, sebab di rumah sakit dia hanya memikirkan Hyorin tidak sempat memikirkan hal lain lagi.
"Dasar bodoh! Apakah orang tuamu akan segera datang?"
"Sebentar lagi mereka akan datang Tante,"
****
Hyorin masih sibuk dengan rajutan di tangannya, kali ini dia sangat fokus. Aktivitas merajut membuat Hyorin melupakan kebosanan yang melanda harinya saat ini, akibat cedera dia belum bisa ke rumah sakit.
Ponsel Hyorin berdering, ternyata Ayesh yang menghubunginya, dengan segera Hyorin mengangkat telfon dari Suaminya itu.
"Hallo sayang, kamu sedang apa?"
"Aku sedang tidak ngapa-ngapain Mas," Hyorin berbohong karena ingin memberikan kejutan untuk Ayesh.
"Kamu pasti sangat bosan di rumah ya, Mas janji akan pulang lebih cepat hari ini."
"Terimakasih Mas,"
__ADS_1
"Sama-sama sayang, baik-baik di rumah ya. Aku tutup dulu!"
Sambungan telfon pun terputus, Hyorin kembali merajut dengan perasaan bahagia.
Setelah Ayesh meletakkan ponselnya terdengar ketukan dari luar, ruang kerja Ayesh diketuk oleh seseorang, Ayesh mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Ceklek....Pintu pun terbuka.
"Ayah...,"
"Iya Nak, Ayah mencarimu ada hal yang harus kita bicarakan!"
"Baiklah..., bolehkah Doni tetap disini?"
"Iya tentu saja,"
Mereka bertiga kemudian beralih untuk duduk di sofa.
"Ini kau bacalah, semua itu atas permintaan Ayah Mertuamu."
Pak Akbar menyerahkan file yang telah dibuatnya atas perintah Mahardika.
Ayesh mengambil file tersebut dan mulai membacanya dengan seksama.
"Ini...apa maksudnya Ayah? Apakah ada hal yang buruk sehingga harus ada pengalihan aset seperti ini?"
"Sepertinya begitu, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi itu atas permintaan Mahardika sendiri. Jadi kamu harus berhati-hati, dalam hal ini Istrimu bisa saja dalam masalah besar, termasuk Kakaknya."
"Baik Ayah aku mengerti,"
"Rahasiakan ini dari Istrimu, kamu Ayah beritahu karena Ayah tidak mau terjadi apa-apa pada kalian terutama menantu Ayah yang cantik. Berhati-hatilah!"
"Terimakasih Ayah,"
"Baik Ayah, ikut apa nasehat Ayah."
Sepeninggal Ayahnya, Ayesh tampak berpikir sangat keras terkait bagaimana caranya dia bisa melindungi Istri tercintanya.
"Don apakah kamu punya ide?" tanya Ayesh kepada Doni.
Seolah paham dengan apa yang Ayesh pikirkan, Doni memberikan sebuah saran untuk Ayesh.
"Tempatkan pengawal bayangan untuk Nona Hyorin, agar kita bisa setiap saat memantau kondisinya, begitu juga untuk Hyoshan. Mereka tidak perlu tahu akan hal ini, tapi kitalah yang harus bisa melindungi mereka."
"Kamu benar juga Don, segera persiapkan semuanya!"
"Laksanakan Bos,"
"Oh ya Don, terkait persiapan resepsi pernikahanku dan Orin sudah sampai mana kira-kira perkembangan persiapannya?"
"Sudah hampir rampung keseluruhan Yesh, tinggal tentukan kapan kalian bisa pergi viting baju."
"Aku menunggu Orin sembuh dulu, kalau untuk itu Don."
"Aku berharap sebelum surat pemindahan aset keluarga Orin dibacakan, kita sudah bisa melaksanakan acara resepsi agar semua orang tahu jika Orin adalah Istriku dengan begitu aku akan lebih mudah untuk melindunginya dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya." Sambung Ayesh.
"Ok...," Doni mengacungkan jempolnya.
"Nona Orin sungguh beruntung bisa menikah dengan pria seperti kamu Yesh."
"Kamu juga harus segera menikah Don, karena menikah itu sangat indah. Ada banyak kejutan di setiap harinya, kita juga bisa memiliki banyak emosi yang sering kali berubah-ubah."
Ayesh menerawang memikirkan hidupnya yang berubah seketika semenjak kehadiran Hyorin, banyak rasa yang berkecamuk dalam dada dan yang paling mendominasi adalah rasa untuk terus bisa melindungi gadisnya, tidak ingin seorangpun melukainya.
"Tenang saja Yesh, aku pasti akan segera mengabulkan harapanmu." Mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya Yesh, ada file yang perlu kamu baca juga. Sebentar aku ambilkan!"
Doni menyerahkan file yang berhasil dia kumpulkan. Ayesh menerimanya dan membuka lembaran demi lembaran dan membacanya dengan sangat teliti.
Ayesh tiba-tiba mengepalkan tangannya geram membaca isi file-file itu.
"Dasar Laki-laki licik, akan aku pastikan dia tidak akan mendapatkan apapun!"
****
Keluarga Indra sudah tiba di kediaman Ayah Hyorin, mereka disambut oleh Tante Mirna dengan sangat hangat. Setelah mempersilahkan mereka masuk kemudian Mirna naik ke atas untuk memanggil Suaminya.
Mereka turun untuk menemui kedua orangtua Indra, begitu juga Indra dan Silvia juga ikut turun bersama dengan perasaan yang tidak karuan, khawatir jika orang tua Indra akan mengamuk seperti Pak Mahardika ketika mengetahui kebejatan kelakuan mereka.
"Tuan Mahardika, ada apa Anda memanggil kami untuk datang kemari?" ucap Ayah Indra begitu Mahardika dan keluarganya telah duduk.
"Maafkan kami Tuan Gunawan telah menganggu waktunya, tapi ini terkait Putra Anda Indra yang semalam menginap disini dan tidur dengan Putri saya,"
"Apa?!!!" Ayah Indra seolah tidak percaya dengan kelakuan Putranya itu.
"Indra kamu ini sungguh telah mempermalukan keluarga kita, Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarimu untuk berbuat tidak baik kepada seorang gadis, kamu telah merusak masa depannya." Pak Gunawan memarahi Indra karena merasa sangat kecewa dengan kelakuan Putra Bungsunya itu.
"Apakah dia yang bernama Hyorin Tuan?"
Mendengar nama Hyorin disebut Silvia merasa hatinya panas, semua orang seolah hanya mengenal Hyorin saja. Silvia berpikir kenapa Ayah Indra tahu mengenai Hyorin, apakah Hyorin dan Indra dulu memiliki hubungan yang sudah cukup jauh?
"Bukan Tuan Gun, dia Silvia. Putri saya Hyorin sudah lama menikah dan ikut bersama Suaminya."
"Oh benarkah? Sayang sekali, padahal kami sangat berharap Nona Hyorin bisa menjadi menantu kami."
"Maafkan kami Tuan Gun,"
"Baiklah mari kita bahas mengenai hal ini lebih serius,"
Kedua keluarga sepakat untuk menikahkan Silvia dan Indra. Meskipun pada dasarnya baik Silvia maupun Indra, keduanya belum ingin untuk menikah. Namun, semua orang mendesak mereka sebab tidak ingin nama keluarga mereka tercoreng akibat ulah mereka yang minim akhlak.
Keluarga Indra pamit undur diri dan membawa serta Indra untuk pulang. Di rumah, Indra dimarahi oleh kedua orang tuanya habis-habisan.
****
Ayesh tiba di Apartemen tepat ketika Adzan Maghrib berkumandang, dia tidak melihat Istrinya ada dimana-mana, Ayesh mencari di dapur, di kamar, di kamar mandi, di ruang kerjanya juga tidak ditemukan.
Seketika itu Ayesh merasa panik, kemudian dia mencoba untuk menghubungi ponsel Hyorin, sayup-sayup terdengar suara ponsel berdering.
Ayesh mencari-cari sumber suara itu. Ternyata Hyorin berada di ruangan khusus di kamar mereka yang tertutup tirai, sedang tidur dengan nyenyaknya memeluk rajutan yang ia buat.
Bahkan suara ponsel yang memekik, tidak membuat Hyorin terusik sama sekali.
"Dasar tukang tidur, bangun sayang sudah saatnya menunaikan ibadah!" Ayesh menepuk pipi Hyorin lembut.
"Kamu sudah pulang Mas?" Hyorin perlahan membuka matanya.
"Apa ini?" tunjuk Ayesh kepada benda yang tadi dipeluk oleh Hyorin ketika tidur.
"Ini aku buat untuk kita berdua Mas, tapi baru setengah jadi. Niatnya mau buat kejutan tapi sudah ketahuan duluan," Hyorin menggembungkan pipinya.
Ayesh merasa gemas dengan tingkah Istrinya, "Kamu menggemaskan sekali sayang, sana ambil wudlu dulu aku akan menyusul!"
--------------------------------------------------------------------
Happy reading ya Kak, jangan lupa like, komen, vote dan jadikan Favourite ya agar tidak ketinggalan ceritanya ketika Author update lagi.
😘😘😘
Terimakasih yang selalu setia mendukung karya Author 🤗🤗🤗💕💕💕💕💕
__ADS_1