Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 29


__ADS_3

Tepat pukul Satu siang Hyorin dan Ayesh tiba di rumah Ayah Hyorin. Mereka disambut oleh Mbok Nah dan Pak Udin yang sudah mendengar kabar pernikahan keduanya.


"Non Orin selamat ya Non, semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah penuh berkah," ucap Mbok Nah begitu Hyorin dan Ayesh masuk ke rumah.


"Iya selamat ya Non dan Aden, semoga langgeng sampai maut memisahkan," ucap Pak Udin tidak ketinggalan.


"Terimakasih Mbok dan Pak Udin, Aamiin...do'akan ya," jawab Hyorin mengaminkan do'a dari Mbok Nah dan Pak Udin.


"Oh ya Mbok semua pada kemana sepi sekali?" tanya Ayesh kemudian.


"Tuan sedang ke Kantor, Non Silvia ada di kamarnya, kalau Nyonya sedang pergi arisan," jawab Mbok Nah.


"Baiklah Mbok, kami kesini mau mengambil barang-barang Orin,"


"Kalau begitu Mbok bantu kemasi ya Non?"


"Tidak usah Mbok nanti biar Orin kemasi sendiri saja,"


"Iya Mbok biar saya saja yang membantu Orin berkemas."


"Kalau begitu kami pamit undur diri dulu ya Non dan Aden, masih ada pekerjaan di belakang."


"Iya Mbok,"


Hyorin mengajak Ayesh naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar, betapa terkejutnya Hyorin saat memasuki kamarnya. Semua barang-barangnya berserakan di lantai, bahkan baju-baju yang tertata rapi di lemari sudah tidak ada satupun yang berbentuk lipatan rapi, semua berantakan dan banyak barang yang pecah.


Hyorin terduduk di lantai sambil sesenggukan, menangisi semua yang terjadi.


Ayesh mengambil gambar dengan ponselnya, mengantisipasi jika suatu saat gambar-gambar itu cukup berguna.


Ayesh kemudian mengahampiri Hyorin dan meraih tangan Hyorin agar gadis itu duduk di kasur.


Ayesh kemudian berkata, "Rin tenanglah kamu jangan menangis ya, kita bereskan semuanya dan segera pergi dari sini."


Ayesh membawa Hyorin ke dalam pelukannya.


Tiba-tiba terdengar suara tepukan dari ambang pintu kamar Hyorin.


"Bagus sekali ada yang bermesra-mesraan disini rupanya," ucap Silvia yang muncul dari arah pintu dan berjalan mendekati Hyorin dan Ayesh.


Ayesh menatap tajam Silvia tanpa melepaskan pelukannya. Hyorin masih sesenggukan.


"Menangislah Hyorina Nasywa Putri Mahardika, seorang Dokter Pribadi yang menikah dengan pasiennya," ucap Silvia sambil tangannya terulur hendak menarik Hyorin dari pelukan Ayesh.


"Sudah aku bilangkan Kak Ayesh itu milikku! Kenapa kamu masih berani merebutnya dariku Rin?" Silvia berkata tanpa rasa malu sedikitpun, padahal Ayesh juga berada di kamar itu.


"Tutup mulut kamu Silvia!" Ayesh berkata sambil menahan amarahnya.


Silvia malah tertawa seperti orang gila.


"Kamu seharusnya memilihku Kak, bukan dia!" suara Silvia meninggi ketika mengucapkan kata "dia" sambil menunjuk Hyorin dengan tatapan kebencian.


"Silvia aku tidak memilih kamu itu urusanku, menikah itu soal hati. Kamu tidak usah bawa-bawa Hyorin ke dalam masalah antara aku dan kamu."


"Seandainya tidak ada Dokter murahan seperti dia, kamu pasti sudah menjadi milikku. Sebab Ayah pasti menjodohkan kita berdua dan kamu tidak bisa menolak perjodohan itu." ucap Silvia kepedean, tidak sadar bahwa siapa yang sebenarnya anak kandung dan anak tiri.


"Tidak usah berkhayal kamu Silvia!" ucap Ayesh begitu kesal dengan wanita tidak tahu malu itu.


Hyorin menghapus air matanya dia kemudian berkata, "Sudah cukup Silvia, aku sudah paham siapa yang melakukan semua ini. Tapi yang perlu kamu ingat aku tidak pernah mengambil Mas Ayesh dari kamu, dialah yang memilihku dan menjadikanku pendamping hidupnya,"


Hyorin kemudian mengambil koper miliknya yang ada di atas lemari dan mulai menata barang-barangnya ke dalam koper tanpa memperdulikan keberadaan Silvia yang masih berdiri.


Silvia dibuat kesal sebab Hyorin tidak terpancing dengan semua kata-katanya. Silvia yang malu akhirnya meninggalkan kamar Hyorin.


Ayesh membantu Hyorin mengepak semua barang-barang miliknya tanpa tersisa, selesai memasukkan semua barangnya Hyorin mengajak Ayesh untuk keluar dari kamar. Setelah sebelumnya memandangi setiap sudut kamar yang penuh dengan kenangan, kamar yang sangat dia rindukan, sebab ia tinggalkan selama Lima tahun. Namun, kini baru beberapa bulan ia tinggali dia sudah harus meninggalkannya lagi.


"Sudahlah Rin...ayo kita keluar, jangan tangisi lagi tempat ini sudah tidak aman untuk kamu tinggal," ajak Ayesh kemudian menutup pintu kamar Hyorin rapat dan mengajak gadis itu menuruni tangga.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Mbok Nah, pasangan pengantin baru itu keluar dari kediaman keluarga Mahardika.


****


"Rin kita langsung pulang atau mau kemana dulu?" tanya Ayesh begitu mereka menaiki mobil.


"Kita langsung pulang saja Mas," jawab Hyorin datar.


Sepanjang perjalanan suasana menjadi hening, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.


Setelah perjalanan sekitar Dua Puluh menit, mereka sampai di Apartemen.


Ayesh membawakan barang-barang milik Hyorin masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih Mas," ucap Hyorin.


"Tidak perlu sungkan istriku,"


Jantung Hyorin berdegup kencang saat Ayesh berkata seperti itu.


"Aku beres-beres dulu ya Mas, setelah itu aku akan masak makan malam."


"Biar aku bantu ya, jadinya cepat selesai."


"Tidak perlu Mas, kamu mandi saja sana!"


"Mandinya bareng kamu ya Rin," Ayesh mencoba memancing reaksi Hyorin.


Hyorin menimpuk Ayesh dengan bantal guling kemudian menyuruh pemuda itu untuk keluar dari ruangannya, menutup pintu kaca dan menggeser tirai agar tidak terlihat dari luar.


Ayesh tersenyum puas, sebab dia tahu jika Hyorin sangat malu. Namun, Ayesh tetap akan setia menunggu sampai Hyorin benar-benar menerimanya dengan tulus.


Selesai dengan aktivitas berberesnya Hyorin menuju dapur untuk memasak makan malam. Namun, tidak disangka Ayesh dengan lincah sedang memasak di dapur. Ayesh yang sejak lama telah tinggal sendiri sudah terbiasa dengan memasak meskipun terbatas dengan menu makanan yang sederhana tetapi itu sudah lebih baik dibandingkan tidak bisa sama sekali.


"Mas kenapa kamu yang masak?" tanya Hyorin begitu memasuki dapur.


"Aku baik-baik saja Mas,"


"Aku tahu kamu gadis yang tangguh!" puji Ayesh sambil terus memasak.


Hyorin secara spontan bangkit dari duduknya mendekati Ayesh yang tengah memasak dan memeluk pemuda itu dari belakang.


"Terimakasih Mas, seandainya kamu tidak ada aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku,"


Ayesh memegang tangan Hyorin yang melingkar dipinggangnya kemudian Ayesh berbalik memeluk Hyorin erat.


"Selama masih ada aku, akan aku pastikan tidak akan ada seorangpun yang berani menyakitimu Rin,"


"Mas...," Hyorin mendongakkan wajahnya menatap Ayesh.


"Aku akan menunggumu Rin, selesaikan dulu urusanmu dengan Dokter Indra baru kemudian kamu bisa membuat keputusanmu sendiri, jangan pernah merasa terbebani dengan pernikahan ini."


Wajah Ayesh mendekat kepada Hyorin dengan tatapan yang lembut, Pemuda itu hendak mencium Hyorin.


"Mas makanannya," Hyorin memekik kaget sambil menunjuk masakan yang masih berada di atas kompor yang menyala.


Ayesh cepat-cepat melepaskan pelukannya, dan melihat makanan yang sedang ia masak dan benar saja masakannya sudah gosong.


Mereka tertawa bersama, melihat kekonyolan yang mereka lakukan sendiri.


"Tidak jadi makan nih kita sudah gosong," Ayesh tampak sedikit menyesal.


"Tidak apa-apa Mas, biar aku lihat ada apa di kulkas yang bisa kita jadikan makanan."


"Kita makan di luar saja bagaimana Rin?" tawar Ayesh.


"Aku sedang malas keluar rumah Mas," jawab Hyorin.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pesan online saja ya,"


Hyorin patuh pada akhirnya, sebab di kulkas memang terlihat sudah tidak ada apa-apa, persediaan makanan sudah menipis bahkan bisa dikatakan habis sebab hanya tertinggal beberapa butir telur saja.


"Besok aku akan belanja Mas," ucap Hyorin setelah duduk di samping Ayesh yang baru saja selesai memesan makanan secara online.


"Aku antar," jawab Ayesh.


"Bukankah kamu harus masuk ke kantor Mas, kasihan Kak Doni pasti kewalahan mengerjakan semua tugas kamu Mas."


"Aku akan kerjakan dari rumah, biarkan saja anak itu berpikir kita sedang melakukan hal yang seperti dia bayangkan," Ayesh tertawa membayangkan Doni yang pikirannya sering kali terlalu jauh.


"Ih Mas pikiran kamu tuch," Hyorin merasa malu sebab pasangan suami istri seharusnya memang melakukan semua itu. Namun, dirinya dan Ayesh belum bisa untuk melakukannya.


"Kamu pasti malu ya Rin?" Ayesh menggoda istrinya.


"Tidak ada ya Mas,"


"Wajah kamu merah Rin," Ayesh tertawa.


Hyorin memukul-mukul dada bidang milik Ayesh. Dia teringat kembali dengan seseorang, seketika Hyorin menghentikan aktivitasnya.


"Kamu kenapa Rin?"


"Aku tidak apa-apa Mas,"


"Kok kamu murung gitu?"


"Aku teringat seseorang Mas,"


"Siapa Rin, apakah itu aku?" Ayesh tersenyum, sebab memang dirinyalah yang pernah Hyorin tolong dan mungkin saja itu yang Hyorin maksud.


"Kepedean sekali kamu Mas," Hyorin tertawa.


"Aku pernah menolong seseorang sekitar Dua tahun yang lalu saat aku masih kuliah di Jerman, tapi orang itu pergi begitu saja."


"Apakah kamu pernah mencarinya?"


"Aku belum pernah melakukannya Mas, aku sangat sibuk waktu itu."


"Bagaimana jika orang itu masih terus mencari kamu Rin?"


"Apakah mungkin Mas?"


"Bisa saja kan, sebab dia belum sempat mengucapkan terimakasih kepadamu."


"Tidak mungkinlah Mas,"


"Apa kamu berniat untuk mencarinya sekarang?"


"Tidak Mas, biarkan dia yang mengenaliku dengan sendirinya jika memang kita ditakdirkan untuk bertemu kembali,"


"Bagaimana caranya?"


"Dia meninggalkan ini di kamarku, aku menemukannya saat aku kembali dan orang itu sudah tidak ada ditempatnya." Hyorin memegang liontin yang dia kenakan dan menunjukkannya kepada Ayesh.


"Apakah kamu menyukai orang itu Rin dan bagaimana cara kamu bisa mengenalinya jika kalian bertemu nantinya? Kamu tidak akan pernah percaya kan, jika orang itu mengaku sebagai orang yang kamu maksud meskipun dia mengenalimu dari ini," Ayesh memegang liontin yang Hyorin kenakan.


Hyorin hendak menjawab pertanyaan Ayesh, bersamaan dengan bunyi bel yang di pencet dari luar.


"Tunggu aku, biar aku lihat siapa yang datang."


Ayesh bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk tamunya.


 


Maafkan Author yang baru up ya Kak, yuk trus dukung Author ya dengan cara like, komen, vote dan jadikan favourite. 🤗🤗🤗

__ADS_1


Terimakasih yang selalu setia mendukung Author 💕💕💗💗💗


__ADS_2