Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 74


__ADS_3

Hyorin memandangi jendela yang tampak basah terkena tetesan air hujan, kini hujan mulai turun membasahi setiap inchi bumi, membuatnya tak lagi gersang, menumbuhkan biji yang telah disemai.


Hyorin tenggelam dalam lamunan, memikirkan perkataan Indra dan perubahan sikap Ayesh yang membuat hatinya berkabut.


"Nona kita mau kemana?" tanya Supir taksi yang membawa Hyorin hingga membuyarkan lamunannya.


"Kita ke alamat ini Pak," Hyorin memberikan sebuah alamat yang akan dia tuju.


Hyorin sampai di depan rumah Mertuanya, setelah melakukan pembayaran dan mengucapkan terimakasih, dia bergegas masuk ke dalam rumah.


"Wah rupanya Menantu Ibu yang cantik datang," Nyonya Akbar memeluk Hyorin dengan senyum sumringahnya.


"Bagaimana kabar Ibu?" Hyorin mengurai pelukan Nyonya Akbar dan tersenyum manis kepada Nyonya rumah.


"Ibu baik Nak, loh sayang...Ayesh tidak datang bersamamu?" tanya Nyonya Akbar sambil celingukan mencari Putranya.


Hyorin menggelang, "Apakah Ayah sudah pulang?"


"Sudah Nak, sedang beristirahat di kamarnya,"


"Kamu juga masuk kamar sana, bersih-bersih dulu nanti Ibu panggil buat makan malam."


"Terimakasih Bu, Orin naik dulu ya."


Nyonya Akbar merasa ada sesuatu diantara Ayesh dan Hyorin, meskipun Hyorin tidak mengatakan apapun, tapi beliau paham jika sedang ada masalah diantara keduanya.


Beliau begitu bersyukur menantunya justru datang kepadanya ketika ada hal yang kurang mengenakan bagi mereka.


"Awas saja kamu Yesh, berani menyakiti Menantu Ibu kamu akan tahu akibatnya," batin Nyonya Mahardika.


Ayesh kini sudah berada di Apartemen, menunggu Hyorin yang tak kunjung sampai di rumah.


"Kemana dia sebenarnya, kenapa jam segini belum sampai di rumah juga," batin Ayesh.


Ayesh berulang kali mencoba menelfon nomor istrinya namun tidak tersambung karena nomor Hyorin sama sekali tidak aktif.


Ayesh merasa bersalah telah memperlakukan Hyorin tidak adil, seharian ini dia telah mengabaikannya, padahal jelas-jelas Hyorin tidak bersalah.


Hyorin bahkan tidak menanggapi Indra hanya menghormati laki-laki itu dengan menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Seperti sore tadi, Ayesh melihat sendiri jika Hyorin sangat datar terhadap Indra bahkan ketika laki-laki itu memprovokasinya, Hyorin justru tetap berfikir positif untuk dirinya.


Namun, Ayesh yang kadung terbakar api cemburu dan emosi justru pergi meninggalkan Hyorin dan kini istrinya sudah malam belum sampai di rumah juga.


"Seharusnya tadi sore aku turun dan membuat perhitungan dengan Indra, menunjukkan kepadanya bahwa kami membutuhkan satu sama lain sehingga dia tidak berhak menganggu kehidupan rumah tangga kami, bukan malah membiarkan Orin menghadapi Indra sendirian, pasti Orin akan sangat membenciku, Tuhan...ternyata aku seegois ini, maafkan aku yang telah memperlakukanmu tidak adil, menghukum kamu atas kesalahan yang tidak kamu lakukan," batinnya.


Ayesh mengacak rambutnya frustasi, mencoba menghubungi Hyoshan dan juga Nita, namun Hyorin tidak ada bersama mereka.


"Kamu kemana sih Rin, kenapa membuatku seperti ini?" gumam Ayesh lirih.


Terdengar sebuah pesan masuk ke ponsel Ayesh.


Nyonya Akbar


Istri kamu ada bersama Ibu di rumah.

__ADS_1


Dengan hati yang sedikit menghangat Ayesh segera membalas pesan dari Ibunya. Ayesh merasa kenapa bisa tidak ingat kalau Hyorin bisa saja mendatangi orangtuanya, sebab antara Hyorin dan Ibunya sangatlah akrab dan saling menyayangi.


Dalam hati Ayesh bersyukur karena Hyorin paling tidak memiliki pemikiran yang jernih ketika menghadapi masalah dengan tidak menimbulkan masalah baru untuk mereka karena di tempat Ibu tentu saja dia akan sangat aman. Ayesh menyunggingkan senyum mengingat Istrinya yang unik.


Ayesh


Jaga dia ya Bu, Ayesh akan segera menyusul kesana.


Nyonya Akbar


Eits...tidak semudah itu Nak, tunggu dulu Hyorin mempersilahkan kamu datang atau tidak.


Ayesh


Sebenarnya yang anak Ibu itu aku atau Orin sih Bu, masa Ibu tega sekali sama anak sendiri. 😔😔😔


Nyonya Akbar


Salah sendiri membuat Menantu Ibu menderita sampai harus pergi meninggalkan kamu, ingat cara laki-laki menyelesaikan masalah bukan seperti ini Nak.


Ayesh


Bu kalau malam biasanya Orin akan muntah-muntah dan yang bisa jadi obatnya itu aku Bu.


Nyonya Akbar


Bagus kalau kamu tahu, segera jemput istrimu kemari!


"Hallo Don, ada apa?" jawab Ayesh saat tombol hijau dia geser ke atas.


"Aku sedang bersama Miko, kamu bisa datang kesini sekarang?"


"Tidak bisa ditunda besok Don?"


"Tidak bisa Yesh, besok Miko sudah harus berangkat ke Luar Negeri, kita tidak punya waktu lagi."


"Baiklah aku akan kesana, jangan biarkan dia kemana-mana pastikan dia tetap disitu. Kirim alamatnya Don!"


Ayesh mengirim pesan kepada Ibunya untuk menjaga Hyorin sebentar sebab dia ada urusan penting. Setelahnya dia berjanji akan segera menyusul ke rumah orangtuanya.


Ayesh sampai di alamat yang Doni kirimkan, dia mencari sosok Doni yang ternyata berada di pojok ruangan bersama seorang pria.


"Duduk Yesh," Doni mempersilahkan Ayesh untuk duduk.


"Miko kenalkan ini Ayesh dan Yesh kenalkan ini Miko."


Ayesh mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Miko.


"Doni sudah menceritakan semuanya kepadaku, tapi aku ragu jika anak itu anak aku Yesh," ucap Miko pada akhirnya setelah cukup untuk berbasa-basi.


"Apa alasan kamu berkata demikian?"


"Begini saat aku menjamahnya dia sudah tidak suci lagi, sepertinya dia sudah melakukannya dengan banyak orang, tapi kenapa harus aku yang bertanggungjawab?"

__ADS_1


"Saat bersamanya apakah kau pakai pengaman?"


"Tidak," jawab tegas Miko.


"Lalu?" jawab Ayesh.


"Aku paham maksud kamu kawan, tapi disini aku nanti yang akan jadi korban jika anak itu bukan anakku,"


"Apakah ada bukti bahwa akulah yang bersamanya malam itu?" sambung Miko.


"Kami punya bukti yang sangat jelas, saat ini bukti itu sudah berada di tangan kami." Jawab Ayesh.


Ayesh memberikan kode kepada Doni, untuk menunjukkan bukti yang mereka miliki. Miko melihat sendiri bukti rekaman CCTV hotel tempat dia malam itu menginap bersama Jovanka, sekaligus bukti transaksi Miko malam itu, semuanya lengkap ada di tangan Doni.


"Sudah paham maksud kami kan kawan?"


"Ya..ya..aku akui hari itu memang aku menidurinya, tapi bukan berarti menutup kemungkinan setelah itu dia tidak tidur dengan orang lain lagi?" Miko masih saja memberikan alasan.


"Begini saja kawan, untuk menutupi aib keluarga Jovanka. Sebaiknya kamu nikahi saja dia sampai dia melahirkan anaknya, setelah itu kita lakukan tes DNA, apabila hasilnya memang anak itu bukan anak kamu, selanjutnya kamu bisa menbambil keputusan, melanjutkan pernikahan atau meninggalkannya." Doni memberikan usul.


"Bukankah kamu teman baik Jesika, kasihan Jesika jika harus menanggung rasa bersalah seumur hidupnya karena telah membuat kebahagiaan orang lain yang sudah berjasa terhadap dirinya rusak karena dendam yang ada pada dirinya." Sambung Doni.


Miko tampak terdiam sejenak, memikirkan perkataan Doni. Baginya Jesika sudah seperti adiknya, semenjak kedua orangtua Jesika meninggal dunia, Miko lah yang selalu menghibur Jesika, selalu ada di setiap Jesika membutuhkan pertolongan. Pun hari ini, akibat dari apa yang Jesika pinta, meskipun beresiko sangat besar bagi dirinya saat ini, Miko benar-benar ikhlas.


"Baiklah, aku akan bertanggungjawab." Miko pasrah dengan nasib dirinya.


Miko mengajukan syarat bahwa setelah anak itu lahir mereka akan melakukan tes DNA.


"Don selanjutnya tolong kamu urus semuanya, aku pergi dulu. Bidadariku sedang butuh aku saat ini."


Ayesh melesat pergi ke rumah orangtuanya, rasanya sudah tidak sabar untuk meminta maaf atas sikapnya hari ini.


Begitu tiba di rumah orangtuanya, Ayesh langsung menuju kamarnya karena kondisi rumah sedang heboh. Hyorin terus saja muntah sejak sore, tidak mau berhenti barang sejenak.


Ayesh melihat Hyorin yang sudah sangat pucat dan lemas sedang berbaring di ranjang, rasa mual itu tetap ada tapi sudah tidak bisa keluar apapun lagi karena sudah tidak ada yang tersisa. Sedangkan Ibunya terus saja menangis khawatir terjadi sesuatu terhadap menantu kesayangannya itu.


"Ibu jangan menangis lagi ya, Orin pasti akan baik-baik saja. Dia memang sering seperti ini Bu."


"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya?"


"Tidak usah Bu, dia pasti akan segera membaik."


"Kamu urus dia ya Nak, Ibu akan buatkan jahe hangat untuknya."


Nyonya Akbar meninggalkan mereka berdua di kamar, Ayesh terus memeluk Hyorin agar Hyorin merasa lebih nyaman.


Mual yang sedari tadi melanda, kini berangsur menghilang. Hyorin membuka matanya perlahan.


"Mas Ayesh, kapan datang?"


"Ustt...jangan banyak bicara dulu ya, kamu masih lemah,"


Hyorin menurut dan memilih membenamkan diri di dada suaminya yang memang menjadi obat setiap kali dia merasakan mual, sungguh aneh memang tapi sepertinya bayi mereka ingin selalu dekat dengan Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2