
Pagi ini Ayesh akan membawa Hyorin menemui Mr. Jacob di New South Wales, perjalanan yang akan mereka tempuh memang cukup jauh yaitu sekitar Sembilan Jam Lima Belas Menit dengan menggunakan mobil karena jarak Melbourne ke New South Wales sekitar 879,1 km.
Mereka memilih menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil karena ingin menikmati perjalanan berdua saja dan dapat beristirahat dimanapun yang mereka mau.
Ayesh ingin mengukir kenangan indah bersama Hyorin sebelum anak mereka lahir, selama ini Ayesh mengabaikan jika istrinya juga membutuhkan waktu untuk sekedar menghabiskan sedikit waktu bersamanya.
Hyorin tidak seperti kebanyakan wanita lain yang suka berbelanja dan berkumpul dengan teman sosialitanya menghabiskan uang suami tanpa mau tahu bagaimana kerasnya suami mereka mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ayesh memberikan uang bulanan rutin kepada Hyorin, namun sepertinya dia tidak pernah menggunakan uang yang Ayesh berikan itu. Hyorin tipe perempuan yang tidak suka dengan barang-barang branded dan mahal. Oleh sebab itu, Ayesh merasa sangat bersalah jika tidak memiliki waktu untuk mengajaknya berlibur, menghilangkan kepenatan rutinitas harian mereka.
Ayesh sudah merencanakan tempat liburan mereka yaitu di Sydney yang merupakan ibu kota negara bagian New South Wales sejak lama, namun belum terwujud ditambah lagi pencarian Mr. Jacob waktu itu yang memakan waktu cukup lama dan tidak mungkin jika dirinya membawa Hyorin turut serta.
Sydney merupakan kota yang cukup ramai dengan banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi dan terkenal akan keindahannya sehingga mereka rencananya setelah bertemu Mr. Jacob maka perjalanan selanjutnya adalah untuk berlibur dengan mengunjungi tempat-tempat wisata di Sydney sebelum kembali pulang ke Indonesia.
Ayesh merasa begitu bahagia karena Hyorin sangatlah penurut, selama menikah dengannya Hyorin tidak pernah sekalipun membantah perkataan Ayesh. Hyorin cenderung akan diam jika tidak sependapat dengan Ayesh.
Sepanjang perjalanan mereka saling melempar canda tawa, bercerita banyak hal termasuk tentang masa depan mereka. Ayesh sesekali berhenti untuk beristirahat, makan dan beribadah. Hyorin juga kerap kali tertidur di mobil, sedangkan Ayesh jika merasa lelah memilih untuk berhenti sejenak.
Dia tidak mau membahayakan dirinya sendiri dan juga istri sekaligus anaknya yang masih ada di dalam perut Hyorin.
"Sayang apakah kamu lelah?" tanya Ayesh ketika melihat Hyorin terdiam.
"Tidak Mas, aku hanya sedang menikmati pemandangan," Jawab Hyorin.
"Apakah indah?"
"Ya tentu saja Mas, aku suka. Perjalanan ini akan aku ingat selamanya." Hyorin tersenyum kepada Ayesh yang sedang memandangnya.
"Aku janji akan sering membawamu jalan-jalan,"
Janji Ayesh kepada Hyorin.
"Terimakasih Mas," Hyorin memeluk lengan Ayesh yang sedang menyetir.
"Apakah masih jauh Mas?"
"Kira-kira sekitar dua jam perjalanan lagi kita akan sampai sayang,"
Hyorin kembali terdiam, memilih memalingkan wajahnya ke jendela dan menghirup udara banyak-banyak. Dia memikirkan betapa waktu itu Ayesh dan Doni bekerja sangat keras untuk menemukan Mr. Jacob dengan waktu yang terbatas, tentu saja mereka harus cepat dalam bergerak.
Hyorin tidak bisa membayangkan betapa lelahnya mereka karena sedikitnya waktu istirahat mereka, menempuh perjalanan jauh kesana kemari.
Hyorin sangat bersyukur karena kerja keras Suaminya dapat membuahkan hasil. Kini Hyorin berharap semoga kehidupan keluarga kecilnya selalu bahagia dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
Hyorin teringat akan Indra yang masih selalu saja menganggunya. Tanpa sadar Hyorin bergidik karena merasa ngeri sendiri.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?"
"Melihat sesuatukah, kok sepertinya ngeri begitu?" tanya Ayesh heran dengan tingkah Hyorin yang tiba-tiba bergidik.
"Tidak ada apa-apa Mas,"
"Aku cuma teringat Indra yang selalu saja menganggu kita Mas,"
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, biarkan saja dia yang terpenting kita tetap bersama."
Hyorin mengangguk, "Eh ya Mas, bukankah kita perlu mengambil foto?"
"Nanti saja sayang, masih banyak tempat yang akan kita kunjungi."
Sementara Hyorin dan Ayesh sedang menikmati perjalanan mereka. Doni sedang mengerahkan sumber dayanya untuk bisa masuk ke dalam perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Indra.
Doni akan melemahkan saham perusahaan keluarga Indra, ini merupakan sebuah peringatan bagi Indra agar jangan menjadi orang yang serakah ingin menguasai rumah sakit milik orang lain. Seharusnya dia berpikir untuk bisa membangun rumah sakitnya sendiri.
Jesika setiap hari dengan setia menunggu Doni sampai dia usai bekerja. Jesika akan datang ke Firma Hukum Akbar Grup setelah jam pulang kerjanya, Jesika sengaja melakukan hal itu untuk sekedar menemani Doni makan malam karena Doni sering kali melupakan jam makannya karena terlalu sibuk bekerja.
Doni dan Jesika ternyata sudah Satu bulan belakangan membangun komunikasi yang cukup intens, bahkan Doni telah mengungkapkan perasaannya kepada Jesika dan berniat untuk menjadikan Jesika sabagai istrinya. Meskipun untuk niatnya yang ini dia belum sempat menyampaikannya kepada Jesika. Dia masih menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengatakannya kepada Jesika.
Ketika Doni mengungkapkan perasaannya waktu itu, Jesika dengan tulus menerimanya sebab Doni merupakan pemuda yang baik dan pekerja keras.
Banyak karyawan yang penasaran dengan Jesika karena setiap hari mendatangi Doni di kantor, terutama karyawan wanita yang kebetulan melihat Jesika datang ketika mereka hendak meninggalkan kantor karena memang waktunya untuk mereka pulang bekerja.
Sebenarnya tidak sedikit karyawan wanita di tempat Doni bekerja menaruh hati terhadap Doni, namun Doni sama seperti Ayesh sangat tidak bisa semudah itu membuka hatinya terhadap lawan jenis.
Tok...tok...tok....
Jesika mengetuk pintu ruangan Doni.
"Masuk!" perintah Doni dari dalam.
"Kamu masih sibuk Don, ada yang bisa aku bantu?" tawar Jesika.
"Tidak perlu Jes, kamu istirahat saja di sofa. Kamu juga pasti lelah seharian bekerja."
Jesika patuh dengan ucapan Doni, dia memang sangat lelah hari ini karena tadi meninjau lapangan bersama rekan kerjanya dan juga tempatnya yang cukup jauh membuat tenaganya terkuras cukup banyak hari ini.
Tanpa terasa Jesika tertidur di sofa, Doni yang melihat Jesika memejamkan matanya kemudian mendekati Jesika dan menyelimuti gadis itu dengan jasnya.
"Kamu manis sekali kalau sedang terlelap begini," gumam Doni lirih sambil tersenyum.
Doni melanjutkan pekerjaannya hingga waktu menunjukkan jam Delapan malam. Setelah dirasa cukup untuk hari ini, Doni menutup laptopnya dan merapikan meja kerjanya sebelum pulang.
__ADS_1
Doni mendekati Jesika bermaksud membangunkan gadis itu, Doni merapikan poni Jesika yang berantakan.
Merasa ada yang menyentuh keningnya, Jesika terkesiap kemudian bangun dan mengambil posisi duduk karena terkejut.
"Kamu kenapa Jes?" tanya Doni.
"Aku kaget Don, aku kira siapa yang menyentuhku tadi." Jesika memegangi Dadanya.
"Sebegitu takutkah kamu Jes?"
"Ten-tentu saja," jawab Jesika terbata.
"Mana Jesika yang tomboy dulu hah?!" ledek Doni.
Jesika hanya tersenyum karena memang dulu dirinya sangat tomboy.
"Ayo kita pulang Jes!" ucap Doni.
"Pekerjaan kamu sudah selesai Don?"
"Aku rasa cukup untuk hari ini, aku kasihan sama kamu menungguku sampai larut malam."
"Aku tidak apa-apa Don, aku senang bisa menemani kamu bekerja Don."
"Bagaimana kalau kamu menemani hidupku saja," Doni memasang wajah seriusnya.
Seketika wajah Jesika memucat dengan ucapan Doni.
"Ka-kamu serius Don?"
"Dua rius malahan Jes,"
"A-aku akan memikirkannya dulu," jawab Jesika masih dengan terbata.
"Aku akan menunggunya sampai kamu benar-benar siap Jes,"
"Ayo kita pulang, aku sudah sangat lapar. Kita cari makan dulu sebelum pulang!"
Jesika tersenyum, seolah aliran darahnya mulai mengalir lagi setelah kekagetan yang dia rasakan tadi.
"Baiklah ayo Don,"
Jesika dan Doni sedang berkeliling kota mencari tempat makan, sementara Ayesh dan Hyorin kini sudah berada di hotel sedang beristirahat karena baru saja menempuh perjalanan yang cukup lama hari ini.
Mereka sampai di New South Wales sore tadi dan langsung menuju hotel karena tidak memungkinkan jika langsung ke peternakan milik Mr. Jacob, lagi pula mereka merasa tidak enak jika harus bertamu malam-malam ke tempat orang lain.
__ADS_1