Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 48


__ADS_3

"Mas...Mas Ayesh, mau kemana?" teriak Hyorin memanggil Suaminya.


Hyorin tidak bisa mengejar Ayesh sebab kakinya yang memang masih sakit. Ayesh tidak memperdulikan teriakan Hyorin.


Dia begitu kesal dengan gadis itu, meskipun mungkin tujuannya hanya bercanda namun kata-kata Hyorin cukup membuat hatinya panas.


Niat hati mengambil cuti untuk menemani Istrinya tapi malah dia dibuat kesal bukan main.


Ayesh pergi ke rumahnya di Desa untuk menenangkan pikirannya sejenak.


Kekanak-kanakan memang Ayesh terkesannya saat ini, namun dia ingin memberikan sedikit pelajaran kepada Hyorin agar bisa menghargai perasaannya lebih baik lagi.


Ayesh sengaja mematikan handphonenya, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun hari ini.


Hyorin menelfon Ayesh berkali-kali tapi ponsel Ayesh selalu saja di luar jangkauan.


Hyorin merasa telah salah bicara, tidak seharusnya dia mengatakan hal seperti tadi meskipun tujuan sebenarnya hanya untuk bercanda.


Dia mengingat-ingat kata-kata Ayesh yang hendak menemui Jovanka, seketika Hyorin langsung merasa panik.


Hyorin takut Jovanka akan mempengaruhi Ayesh dengan berbagai cara dan pada akhirnya mereka akan saling menemukan rasa mereka kembali.


Hyorin tidak bisa berpikir jernih kali ini, dadanya terasa sesak. Betapa dirinya sudah sangat mencintai Ayesh, meskipun tidak banyak yang dapat dia lakukan saat ini sebab kondisinya yang masih sakit.


Hyorin menelfon Doni, ternyata Ayesh tidak bersamanya karena memang hari ini Ayesh memutuskan untuk cuti demi menemani dirinya.


Hyorin diliputi penuh rasa bersalah, kekhawatiran memenuhi wajah ayunya, tanpa terasa butiran bening lolos begitu saja dari sudut matanya. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.


Ayesh yang sudah sampai di Desa langsung masuk ke dalam rumah, setelah sebelumnya disambut oleh penjaga rumah itu dengan sangat hangat. Ayesh merebahkan dirinya di kasur yang sudah lama sekali tidak pernah di tempati.


Ayesh sebenarnya hari ini berniat membawa Hyorin ke Desa, agar Hyorin dapat menghirup udara yang lebih segar. Namun, pada akhirnya hanya dia sendirian yang datang.


Ayesh menghembuskan nafasnya kasar, perlahan dia mulai terlelap rasa kantuk dan lelah menyergapnya begitu saja.


Hyorin masih menangis di dalam kamar, dia mendengar bel pintu di pencet dari luar. Hyorin berpikir pasti bukan Ayesh ataupun Doni yang datang sebab jika salah satu diantara mereka pasti akan langsung masuk.


Hyorin mendekati pintu dengan perlahan, kali ini Hyorin menggunakan kursi roda untuk mempermudah geraknya, kemudian bergegas membukakan pintu untuk tamunya.


Hyorin begitu terkejut ketika mengetahui ternyata yang datang adalah Jovanka. Hyorin memang tidak melihat terlebih dahulu siapa yang datang, sebab dia sulit untuk mencapai lubang pintu yang letaknya cukup tinggi, sebab dengan kondisi Hyorin saat ini sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Jovanka yang Ayesh permalukan di depan umum dan yang telah berusaha mencelakai dirinya ternyata masih memiliki muka untuk datang ke Apartemen mereka.


Di titik ini Hyorin merasa lega sebab Ayesh tidak benar-benar menemui Jovanka.


"Kak Jov, ada apa Kak datang kemari?" tanya Hyorin ramah sambil mempersilahkan Jovanka masuk.


Jovanka membawa sebuket bunga untuk Hyorin dan meletakannya di atas meja.


"Ayesh tidak sedang ada di rumah kan Rin?"


"Mas Ayesh sedang pergi Kak,"


"Bagus kalau begitu, aku mau bicara sama kamu Rin sebagai perempuan yang mencintai orang yang sama kita memang perlu face to face."


"Ap-apa yang mau Kakak bicarakan kepadaku?"


"Mengenai video yang kalian saksikan malam itu apakah kamu percaya Rin?"


"Ak-aku percaya Kak,"


"Aku akan jelaskan kepadamu kenapa aku di Luar Negeri berbuat seperti itu? Semua itu karena aku butuh kasih sayang juga kehangatan seorang pria, aku juga butuh pelepasan, bukankah kamu tentu paham sebagai seorang perempuan yang telah menikah dan juga seorang Dokter, ketika seseorang pernah melakukan sebuah hubungan dengan lawan jenis maka jatuhnya akan ketagihan?"


"Hah...minta maaf untuk apa aku minta maaf kepadamu, bukankah kamu pantas menerima semua itu sebab kamu adalah sembilu yang membuat Ayesh berpaling dariku padahal kami belumlah putus!" ucap Jovanka dengan arogan dan tanpa malu sedikitpun.


"Kalau Kakak mengatakan bahwa kalian belum putus dan maksud Kakak tadi bahwa orang yang merusak diri Kakak adalah Mas Ayesh hingga membuat tubuh Kakak menjadi kecanduan lalu kenapa Kakak melakukan hubungan Suami Istri dengan orang lain saat Kakak berada di Luar Negeri, apakah itu tidak dinamakan sebuah penghianatan? Kenapa Kakak harus ke Luar Negeri jika keadaannya memang seperti itu? Seharusnya Kakak tetap disini sehingga Kakak bisa melakukannya secara puas dengan Mas Ayesh, bukankah dulu kalian saling mencintai? Tidak akan sulit bukan di jaman semodern ini untuk bisa menemukan tempat hanya sekedar untuk memuaskan nafsu kalian?"


Hyorin mendebat Jovanka dengan sengit, hatinya bergemuruh. Sekuat tenaga Hyorin menahan agar dia tidak menangis di depan Jovanka, dia ingin Jovanka tahu bahwa dia Perempuan yang kuat dan tidak mudah dihasut.


"Kurang ajar sekali kamu gadis kecil, berani-beraninya kamu mengatakan hal itu dengan mulutmu ini hah!!!" Jovanka menjambak rambut Hyorin hingga kepalanya menengadah kemudian menunjuk-nunjuk bibir Hyorin.


Hyorin meringis kesakitan, tapi sekuat tenaga dia tahan.


Apa mau kamu sebenarnya bukankah kita sama-sama seorang Perempuan yang seharusnya bisa ikut merasakan betapa malangnya nasibku?!" Jovanka melanjutkan kata-katanya setelah tangannya melepaskan rambut Hyorin.


"Aku mau Kakak segera pergi dari sini, jangan harap aku akan memberikan kesempatan bagi Kakak untuk kembali kepada Mas Ayesh, sebab dia adalah milikku, akulah istri sahnya secara Negara maupun Agama!!! Aku sudah tidak perduli lagi dengan masa lalu kalian, keluarlah Kak dan jangan pernah datang lagi kesini!"


Hyorin memalingkan wajah, berkata dengan menekankan ucapannya dan menegaskan bahwa Ayesh miliknya seorang, dia tahu Jovanka sangat marah dengan dirinya tapi dia tidak mau dianggap lemah sehingga leluasa untuk diintimidasi.


Jovanka keluar dari Apartemen dengan amarah yang memuncak, pintu Apartemen dia banting kuar-kuat, matanya juga tampak memerah.

__ADS_1


Awas kamu gadis kecil pasti aku akan membalasmu.


Sepeninggal Jovanka, Hyorin menangis sangat hebat, dia juga merasa sangat lelah. Tubuh Hyorin merosot ke bawah dari posisinya yang duduk di atas kursi roda.


Gadis itu meraung-raung melepaskan semua beban yang menusuk-nusuk hatinya. Beruntung seluruh ruangan kedap suara sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui kejadian siang itu.


Ayesh tersentak kaget dari tidur siangnya, hatinya diliputi rasa kekhawatiran terhadap istrinya. Seolah Ayesh juga merasakan jika Hyorin sedang tidak baik-baik saja.


Ayesh bergegas keluar dari dalam kamar, menyambar kunci mobil yang ada di atas meja ruang tamu dan memakai jaketnya. Setelah berpamitan kepada penjaga rumah, dia bergegas memacu mobilnya dan kembali ke Apartemen dengan perasaan gelisah di sepanjang perjalanan.


Bodoh...bodoh...kenapa aku meninggalkannya, seharusnya semarah apapun aku harus tetap menemaninya. Kenapa aku tidak bisa berpikir jernih jika menyangkut cinta pertama Hyorin.


Ayesh merutuki dirinya sendiri, menyesali kebodohannya. Dia beberapa kali memukul-mukul kemudi mobilnya.


Sesampainya di Apartemen, dia mendapati Apartemen yang seluruh ruangannya gelap. Padahal saat Ayesh sampai, di luar memang sudah gelap tidak ada pencahayaan dari luar menyebabkan seluruh ruangan menjadi benar-benar gelap gulita.


Dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri kenapa Hyorin tidak menyalakan lampu, apakah dia tidak ada di rumah?


Ayesh memasuki kamarnya, dia melihat Hyorin meringkuk di atas kasur dengan memeluk kakinya, persis seperti bayi yang merasa nyaman di rahim Ibunya.


Ayesh menarik sudut bibirnya, merasa lega mendapati gadis itu tidak benar-benar serius dengan ucapannya tadi pagi. Padahal dia sempat memberikan ancaman kepadanya.


Ayesh mendekati Hyorin, membenarkan posisi tidurnya. Ayesh melihat sisa air mata di ekor mata lentik milik Hyorin, kantung mata Hyorin juga terlihat bengkak. Menandakan bahwa gadis itu baru saja menangis, perasaan bersalah memonopoli hati Ayesh.


Dia mencium kening Hyorin yang sedang tidur dengan lembut tidak mau jika Hyorin terusik karena ulahnya, terlihat sekali dari wajah Hyorin bahwa dia sangatlah lelah.


Ayesh turun dari ranjang kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.


Ayesh keluar dari kamar hendak menuju dapur, Ayesh merasa sedikit lapar setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memang tadi dia tidak sempat untuk makan siang.


Langkah Ayesh terhenti sebab di atas meja tergeletak sebuket bunga yang masih segar, tampak jelas sekali bahwa ada tamu yang datang ke Apartemen mereka hari ini.


"Siapa yang datang kesini? Apa dia yang membuat Hyorin menangis seharian? Lalu apa yang terjadi kenapa Istriku menangis?" Ayesh bermonolog lirih.


Tanpa menunggu waktu lama, Ayesh masuk ke ruang kerjanya melihat rekaman CCTV hari ini untuk memastikan siapa yang datang dan mungkin saja menganggu Hyorin saat dirinya tidak ada di Apartemen.


Ayesh mengepalkan tangannya begitu tahu bahwa Jovanka lah yang datang hari ini, dia memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan sebab CCTV di ruang tamu tidak dilengkapi dengan fasilitas audio.


Ayesh berniat untuk segera menggantinya agar ketika kejadian seperti ini dapat diketahui apa yang mereka bicarakan, tanpa harus bertanya kepada orangnya secara langsung. Meskipun begitu, Ayesh merasa cukup puas melihat Hyorin yang tampaknya melawan Jovanka hingga perempuan itu menjadikan pintu Apartemen mereka sebagai korban amukan kemarahannya.

__ADS_1


Awas kamu rubah betina, akan aku balas jika terbukti kamu berbuat jahat kepada Hyorin. Aku tidak akan segan membuat perhitungan denganmu sebab ternyata peringatanku saja tidak cukup untuk membuatmu jera.


__ADS_2