Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 42


__ADS_3

Ayesh berjalan begitu cepat hingga Hyorin tertinggal cukup jauh darinya. Hyorin sendiri sangat bingung dengan sikap Ayesh yang mendadak berubah menjadi dingin.


"Mas Ayesh tunggu...," Hyorin menyeru kepada Ayesh yang berjalan di depannya.


Ayesh menoleh dan baru tersadar jika Hyorin masih ada di belakang.


Ayesh menghentikan langkahnya dan tersenyum kepada Hyorin, meraih tangan gadis itu dan membawanya serta untuk terus melangkah.


Tidak begitu lama, teman-teman mereka juga sampai di parkiran. Saat ini hujan sudah reda dan langit telah menyibakkan awan gelapnya, berganti dengan bintang yang terlihat begitu indah, udara malam terasa masih sangat dingin.


Mobil yang Doni kemudikan membelah jalanan yang ramai lancar tanpa terkendala.


Hyorin dan Nita tampak sudah terlelap, mereka mungkin sangat lelah hari ini.


Ayesh terus memandangi wajah ayu Istrinya, merasakan kekhawatiran yang begitu mendalam.


"Yesh loe tidak usah terlalu khawatir, percayalah pada cinta kalian, yakinlah bahwa kalian berdua ditakdirkan untuk bersama. Kerikil-kerikil kecil tidak akan mampu menggoyahkannya," Doni berbicara sedikit berbisik kepada Ayesh.


Ayesh meletakan jari telunjuknya di bibir, menginteruksi Doni agar diam. Ayesh tidak mau Hyorin mendengarkan pembicaraan mereka, dan berujung pada salah sangka terhadapnya. Meskipun Ayesh yakin jika Hyorin dan Nita benar-benar tertidur dengan begitu nyenyaknya.


Hyoshan menoleh ke arah belakang tempat dimana Ayesh duduk di sebelah Hyorin.


Pandangan matanya tertuju pada Ayesh, menepuk pundak Pemuda itu untuk lebih menguatkannya. Hyoshan sebenarnya mengetahui hububungan antara Ayesh dan Jovanka di masa lalu.


"Gue percaya sama loe Yesh, jangan pernah sakiti Adik kesayangan gue ya. Jika loe berani, maka aku orang pertama yang akan mencari loe sampai ke ujung dunia sekalipun!" Hyoshan sedikit mengancam Ayesh dengan lebih menekankan kata-katanya.


Ayesh mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Hyoshan yang kini sudah menjadi Kakak Iparnya.


Nita dan Doni sudah diantar ke rumah mereka masing-masing, Hyoshan kini menggantikan Doni untuk menyetir hingga sampai di Apartemen.


"Orin masih tidur Yesh?"


"Iya Kak, sepertinya dia sangat lelah sekali hari ini."


"Biar gue bangunkan,"


"Tidak usah Kak, biar gue saja yang urus."


Ayesh berdiri di samping mobil kemudian mengangkat tubuh Hyorin dan menggendongnya naik ke atas.


Hyoshan mengikuti Ayesh dari belakang, dia sangat yakin jika Ayesh kini hanya mencintai Adiknya, mengenai Jovanka, dia hanyalah sebuah masa lalu yang kelam bagi Ayesh.


Hyoshan memilih percaya pada Ayesh sepenuhnya.


Ayesh meletakkan tubuh Hyorin di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Melepaskan sepatu yang Hyorin kenakan dan menyelimuti gadis itu.


Ayesh masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian menyusul Hyorin masuk ke dalam alam mimpi.


****


Hyorin bangun terlebih dahulu dari pada Ayesh, dia merasakan tubuhnya yang sangat lengket.


Hyorin teringat jika semalam dia tertidur di dalam mobil dan tiba-tiba sudah berada di kamar. Hyorin bergegas membersihkan dirinya, kemudian melaksanakan rutinitas paginya.


Ayesh menghampiri Hyorin di dapur masih dengan muka bantalnya.


"Mandi dulu sana Mas, aku buatkan kopi ya." Ucap Hyorin dengan senyum manisnya.


"Baik Kakaq," Ayesh masuk kembali ke dalam kamar kemudian mandi.


Sekitar Lima Belas menit kemudian Ayesh muncul kembali dalam keadaan yang jauh lebih segar dari pada tadi.

__ADS_1


"Ini kopinya Mas, diminum dulu selagi masih hangat," Hyorin menyodorkan kopi hitam dengan sedikit gula kesukaan Ayesh.


"Terimakasih cinta...,"


Ayesh menyesap kopinya sambil memperhatikan Hyorin yang sangat lincah di dapur.


Ayesh bangga terhadap Istrinya sebab gadis itu selain cantik juga sangat mandiri, pandai dalam segala hal. Urusan rumah beres, pekerjaan di rumah sakit juga tidak terkendala.


Ayesh merasa sangat beruntung menjatuhkan pilihan kepada Hyorin hari itu, meskipun sebenarnya saat itu dirinya belumlah yakin dengan dirinya sendiri. Dia masih merasakan luka dari masa lalunya.


"Mas kok melamun?" Hyorin membuyarkan lamunan Ayesh.


"Aku tidak melamun kok Rin,"


Hyorin tersenyum, "Ayo sarapan dulu Mas,"


Mereka sarapan dalam diam, larut dengan pikiran masing-masing. Hyorin terlalu takut jika harus menanyakan soal wanita yang semalam menghampiri mereka. Sedangkan Ayesh juga tidak mau menjelaskan apapun kepada Hyorin, khawatir jika Istrinya justru akan marah dan merusak hari minggu mereka.


"Rin kamu sepertinya tidak pernah menggunakan kartu yang aku berikan?" tanya Ayesh ketika dia sudah selesai dengan sarapannya.


"Em...itu...aku masih punya uang sendiri Mas,"


"Mana boleh Rin, pakailah yang menjadi hakmu. Aku selalu transfer ke rekeningmu setiap bulan, tapi sepertinya jumlahnya tidak pernah berkurang itu artinya kamu tidak pernah menggunakannya."


"Aku belum membutuhkannya Mas, bukankah Mas selalu memenuhi segala kebutuhan rumah tangga kita, bagaimana bisa aku kekurangan uang Mas. Aku tidak butuh apapun sehingga aku tidak harus menggunakan uang itu sekarang Mas."


"Kamu kan bisa belanja untuk keperluan kamu Rin, ke salon misalnya atau belanja baju baru, tas baru, sepatu baru, make up dan keperluan kamu yang lainnya."


"Aku tidak terbiasa dengan semua itu Mas, saat ini aku belum memerlukannya. Jadi kamu tidak usah khawatir ya Mas, bersamamu aku tidak kekurangan apapun."


"Sebagai seorang Suami aku khawatir jika aku tidak bisa memenuhi kebutuhanmu Rin,"


Hyorin bangkit dari tempat duduknya kemudian mencium bibir Ayesh sekilas, bergegas membereskan piring kotor dan mencucinya.


Ayesh mengambil alih pekerjaan yang sedang Hyorin lakukan, "Sini biar Mas saja Rin, kamu bisa duduk manis disana menungguku,"


"Mas yakin bisa?"


"Tentu...," jawab Ayesh mantap.


Hyorin memperhatikan Ayesh yang sedang mencuci piring. Hyorin menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan yang begitu manis.


"Bagaimana kalau hari ini Mas temani kamu belanja kebutuhan bulanan kita, stok sepertinya sudah mulai habis semua." Ayesh berkata saat mereka sudah bersantai di depan televisi.


"Boleh Mas, tapi agak sorean saja ya. Aku masih capek sekali soalnya Mas. Aku ingin beristirahat sejenak."


"Iya terserah Nyonya Ayesh saja, bagaimana baiknya."


"Mas ke ruang kerja dulu ya sebentar, kamu tunggu disini ingat jangan kemana-mana tunggu disini."


"Iya Mas, tenang saja aku tidak akan kabur. Hatiku sudah terikat olehmu membentuk tetrahedron," Hyorin mengerling mencoba menggoda suaminya.


"Nyonya Ayesh sekarang sudah pandai menggombal,"


Ayesh mencubit hidung Hyorin gemas kemudian beranjak masuk ke dalam ruang kerjanya sedangkan Hyorin masih asyik di depan televisi menonton drama favoritnya.


Sore harinya mereka bersiap untuk belanja bulanan bersama, Hyorin sudah menyiapkan daftar belanjaan yang akan dibelinya. Gadis itu memang sangat teliti dan telaten dalam segala hal sehingga dia lebih memilih membuat catatan untuk memastikan jangan sampai ada barang yang lupa tidak terbeli sedangkan mereka sangat memerlukannya.


"Sudah belum Rin siap-siapnya, ayo kita segera berangkat keburu malam!"


"Iya Mas aku sudah selesai," Hyorin menyambar tas slempangnya yang ada di atas nakas dan melingkarkan di tubuhnya.

__ADS_1


Mereka sampai di supermarket yang mereka tuju, berbelanja dengan sangat seru dan menyenangkan. Kesana kemari, sering kali perdebatan kecil pun tak terelakan.


Pengunjung yang lain merasa heran dengan tingkah mereka yang begitu lucu, namun mereka tampak tidak terusik sedikitpun.


Hyorin sedang mengambil deterjen dan bergegas menaruhnya di atas troli ketika dia bertabrakan dengan seseorang.


"Auuuwwwwww...," Hyorin memegangi kepalanya.


"Kamu tidak apa-apa Rin?" Ayesh mengkhawatirkan Istrinya sambil membantunya untuk berdiri.


"Kalian...," ucap wanita yang tadi bertabrakan dengan Hyorin.


"Kak Jovanka, mohon maafkan aku Kak tadi aku tidak sengaja."


"Tidak apa-apa, aku baik kok. Kamu yang sampai terpental gitu pasti sakit."


"Aku juga tidak apa-apa kok Kak,"


"Baguslah kalau begitu," Jovanka tersenyum licik.


"Hai Yesh, kamu kok diam saja? Dengar-dengar akan diadakan reuni di kampus kita dulu, kamu pasti datang kan?"


"Lihat saja nanti, kalau aku ada waktu."


"Eh ya Rin, boleh kan kapan-kapan aku main ke rumah?"


"Iya boleh Kak, silahkan main. Kakak sudah tahu alamatnya?"


"Tentu aku tahu Rin, aku dulu biasa main kesana. Benar begitu kan Yesh?"


"Baiklah kalau begitu Kak," jawab Hyorin dengan perasaan yang sudah mulai tidak tenang.


"Boleh kita bertukar nomor ponsel Rin? Mulai sekarang kita berteman."


"Iya boleh Kak," jawab Hyorin.


Jovanka langsung memberikan ponselnya kepada Hyorin agar gadis itu mengetikkan nomor ponselnya.


"Sini biar aku tuliskan," Ayesh mengambil ponsel di tangan Jovanka dan mengetik angka demi angka di ponsel itu, Ayesh lalu memberikan ponsel Jovanka kembali.


"Baiklah karena sudah tidak ada urusan lagi, kami pamit dulu." Ayesh berkata dengan cukup ketus.


"Kami pamit dulu ya Kak, sampai jumpa Kak Jov." Hyorin melambaikan tangannya.


"Iya Rin, sampai jumpa." Jovanka membalas lambaian tangan Hyorin.


"Gadis yang polos, aku pasti bisa merebut apa yang seharusnya jadi milikku." Jovanka bermonolog lirih.


Ayesh dan Hyorin membayar di Kasir dan dengan segera membawa barang belanjaannya keluar dari Supermarket, memasukkan satu persatu bungkusan ke dalam bagasi mobil dan menutupnya.


"Rin lain kali jangan mudah percaya pada orang yang baru saja kamu kenal, salah-salah kamu bisa dimanfaatkan. Mengerti!" ucap Ayesh ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Bukankah Kak Jovanka itu teman Mas Ayesh, Kak Oshan dan juga Kak Doni? Jadi tidak apa-apa kan kalau aku berteman juga dengannya?"


"Rin dengarkan aku," Ayesh menatap Hyorin lekat.


"Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman diantara kita, jadi meskipun orang itu adalah temanku atau siapapun itu, aku mohon jangan mudah percaya kepadanya!"


Hyorin mengangguk patuh, meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang masih berputar-putar di dalam benaknya yang segera membutuhkan jawaban. Namun, Hyorin lebih memilih untuk diam sambil mencari waktu yang tepat untuknya bertanya kepada Ayesh.


Ayesh melajukan mobilnya membelah jalanan yang cukup lengang sehingga mereka dapat berkendara dengan nyaman.

__ADS_1


__ADS_2