
"Ma bagaimana kita bisa membayar semua belanjaan ini Ma?" rengek Silvia.
"Tidak ada pilihan lain selain kita tidak jadi membelinya atau kamu hubungi Indra, minta dia untuk membantu kita!"
"Ok Ma..aku akan hubungi Indra sekarang,"
"Maaf Nyonya, masih banyak yang mengantri silahkan kembali lagi setelah uang pembayaraannya tersedia,"
Mirna menyingkir dari depan kasir dengan perasaan kesal, baru kali ini dia dipermalukan seperti ini.
"Mereka pikir mereka siapa, lihat saja aku akan minta Bondan untuk membeli toko kalian ini." Umpat Mirna di dalam hatinya.
"Bagaimana Silvia apakah Indra bisa membantu?"
Silvia menggeleng, "Dia bahkan tidak bisa dihubungi Ma,"
Ibu dan anak itu merasa dunia mereka berputar-putar, sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Silvia mengajak Mamanya untuk pergi dari supermarket itu tanpa sebuah belanjaanpun, padahal biasanya di tangan kiri dan kanan mereka akan full dengan belanjaan yang nilainya fantastis. Bahkan teman-teman yang mereka ajak berbelanja pun sama, tapi kini sungguh ironis, begitu cepat dunia berbalik arah.
Mari kita tinggalkan sejenak nasib malang orang yang tidak tahu diri itu. Kini Hyorin dan keluarganya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
"Ayah mau makan apa biar Orin ambilkan,"
"Ayah mau nasi goreng saja Nak,"
Orin mengambilkan sarapan untuk Ayahnya, kemudian beralih ke suaminya.
"Mas mau apa?"
"Aku juga nasi goreng sayang,"
"Segini cukup Mas?"
"Iya sayang cukup,"
Mahardika sangat bahagia melihat anak dan menantunya terlihat sangat harmonis.
Mahardika melirik Hyoshan yang dengan santai menyantap sarapannya.
"Oshan kapan kamu akan menikah?"
"Uhuk...uhuk...,"
Hyoshan tersedak makanan yang sedang dikunyahnya.
"Hati-hati Kak," Hyorin menyodorkan minum untuk Kakaknya.
"Ak-aku belum memikirkan soal itu Ayah," jawab Hyoshan setelah sedikit tenang.
"Kamu harus memikirkannya, sudah saatnya kamu berumah tangga dan hidup bahagia,"
"Iya Kak, cepatlah menyusul kami. Karena menikah itu membuat menyesal...!" Ayesh ikut nimbrung dengan senyum jahilnya.
"Menyesal? Maksud kamu apa Mas? Menyesal menikah sama aku, penginnya sama Jovanka kan Mas?" Hyorin merajuk.
"Makanya jangan potong ucapan Mas yang belum selesai, maksud Mas menyesal kenapa tidak dari dulu saja menikah!"
"Ihhh...Mas nyebelin," Hyorin mencebik.
Semua menjadi tertawa karena tingkah Hyorin yang imut dan manja, menambah gemas orang yang melihatnya. Dengan wajah merah jambu alami dan bibir tipisnya akan sangat lucu ketika dia cemberut, pipinya menggembung seperti jelly yang kenyal.
Mbok Nah muncul dari arah dapur menghampiri keluarga yang terasa sudah menjadi utuh kembali.
"Ada apa Mbok?"
__ADS_1
"An..anu Tuan," Mbok Nah merasa bingung untuk memulai dari mana.
"Bagimana cara ngomongnya ya," pikir Mbok Nah.
"Ada apa Mbok, cepat katakan tidak apa-apa. Tenanglah!"
"Ini Tuan, saya mau menyerahkan ini ke Tuan!" Mbok Nah menyerahkan bungkusan kecil yang dia bawa.
Mahardika meraih benda yang Mbok Nah berikan, kemudian membukanya.
"Cincin...cincin siapa ini Mbok?"
Mbok Nah menggeleng merasa sangat takut.
"Mbok katakan sama Orin ya, tidak apa-apa!"
"Begini Tuan saya menemukan benda itu di dekat tubuh Nyonya, saya tidak tahu itu milik siapa. Karena saking paniknya, saya mengantongi Cincin itu dan melupakannya. Kemarin saat bersih-bersih tidak sengaja saya menemukannya kembali. Mohon maafkan saya Tuan, karena saya ketakutan waktu itu."
"Sini Mbok Cincinya berikan kepadaku," Ayesh meminta Cincin itu dari Mbok Nah.
Mbok Nah meraih kembali Cincin yang ada di tangan Tuannya dan memberikannya kepada Ayesh.
"Ayah akan aku selidiki Cincin ini, sepertinya ada hubungannya dengan semua yang terjadi di rumah ini."
"Baik kamu simpanlah Nak, Mbok kamu boleh pergi. Terimakasih banyak ya Mbok, jangan lupa Mbok Nah sarapan juga. Panggil si Mamang untuk sarapan bersama."
"Baik Tuan terimakasih, saya permisi."
Mbok Nah undur diri untuk kembali ke dapur.
"Yesh aku percayakan padamu,"
"Baik Kakak Ipar, laksanakan!"
Selesai sarapan Hyorin dan Ayesh pamit pulang ke Apartemen. Sedangakan Hyoshan disuruh secepatanya untuk pindah ke rumah utama kambali, menemani Ayahnya yang mungkin kesepian.
"Ayah aku akan segera mengambil barang-barangku di Apartemen dan pindah kesini untuk menemani Ayah,"
"Ayah tunggu saja di rumah jangan kemana-mana ya, aku akan segera kembali."
Hyoshan menyambar kunci mobilnya yang ada di atas nakas ruang keluarga kemudian melesat pergi ke Apartemen untuk mengambil barang-barangnya yang diperlukan, dengan tidak mengosongkan sama sekali Apartemen.
Jikalau suatu saat ingin menginap di Apartemen jadi tidak perlu repot untuk membawa barang-barangnya.
Hyorin kini sudah berada di dalam mobil dengan Ayesh berada di balik kemudi. Hyorin memperhatikan jalan yang terasa berbeda sebab jalan yang mereka lewati bukan jalan yang biasa dilewati untuk menuju Apartemen mereka.
"Mas sebenarnya kita mau kemana?"
"Pulang," jawab Ayesh singkat.
"Ini bukan jalan ke Apartemen Mas, kamu tidak sedang demam kan Mas sehingga lupa jalan pulang?" Hyorin menempelkan punggung tangannya ke kening Ayesh.
"Aku sehat sayang,"
Ayesh menangkap tangan Hyorin dan menciuminya.
Kini mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang sedang dibangun, belum selesai memang baru Lima Puluh Persen bangunan itu dibuat tapi sudah nampak rancangan model rumah seperti apa yang sedang dibangun. Hari ini hari minggu jadi tidak ada seorang pekerjapun disana, mereka sedang berlibur sejenak dihari minggu.
"Mas kenapa membawaku kesini?" tanya Hyorin.
"Ini rumah siapa Mas?" imbuhnya.
"Ini akan menjadi rumah kita sayang, bukankah kamu ingin rumah yang cukup luas untuk kita dan anak-anak kita kelak, agar mereka bebas berlarian kesana kemari dengan nyaman."
__ADS_1
"Maafkan aku yang mungkin banyak permintaan dan mimpi Mas,"
"Siapapun boleh meminta sayang, kamu juga boleh bermimpi karena aku pasti akan mewujudkannya,"
Hyorin memeluk Ayesh, "Terimakasih Mas,"
"Mas sejak kapan kamu merencanakan hal ini?"
"Sejak aku sadar bahwa aku mencintaimu sayang, aku berusaha keras untuk menabung agar rumah ini bisa menjadi rumah impian kita, rumah dengan halaman yang luas dan penuh dengan pepohonan yang rindang dan bunga-bunga yang indah."
"Mas bukankah bisa mamakai uangku dan juga uang yang Mas transferkan setiap bulan ke rekeningku, semuanya masih utuh ditempatnya!"
"Itu hakmu sebagai seorang istri, aku tidak akan memakai uang yang sudah aku berikan kepadamu, aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkan semua impian kita. Percayalah aku tidak akan ingkar janji."
Hyorin semakin merapatkan pelukannya, mendongakkkan wajahnya ke atas memandang suaminya yang tengah memandanginya. Hyorin tersenyum sangat manis, berjinjit dan menempelkan hidungnya ke hidung Ayesh.
"Ayo sayang kita pulang, kita akan kesini lagi saat pindahan nanti!" Ayesh mengajak Istrinya untuk segera pulang karena Matahari sudah sangat terik, akan sangat gerah jika berlama-lama berada di bawah sinar matahari yang sedang merangkak naik.
Silvia dan Mamanya malam ini benar-benar mendatangi alamat yang Indra kirimkan, mereka tiba di sebuah restoran dan langsung menuju ruang VIP yang sudah dipesan oleh Indra.
Mereka memasuki ruangan yang ternyata di dalam sudah ada Indra dan orangtuanya.
"Silahkan duduk Tante, Silvia." Indra menggeret kursi dan menyuruh mereka duduk.
Tidak seberapa lama hidangan makan malam yang telah dipesan dibawa masuk oleh pelayan.
Mereka bersantap malam terlebih dahulu sebelum akhirnya pembicaraan yang serius pun dimulai.
"Begini Tante dan Silvia, mohon maaf karena saya mengundang kalian untuk datang kemari,"
"Ayah saya nanti akan menjelaskan semuanya,"
Orangtua Indra memulai pembicaraan dengan mimik wajah yang serius dan terkesan menakutkan.
"Begini Nyonya, keluarga kami berniat untuk membatalkan pernikahan antara Silvia dan Indra, karena kasus Nyonya kemarin yang menjadi trending topic terpanas di media, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan niatan kami untuk menikahkan mereka, bukan apa-apa hanya kami tidak ingin terkena imbas dari semua pemberitaan yang ada."
Jedeeeerrrr....
Silvia seperti tersambar petir, hatinya begitu hancur. Setelah diusir dari rumah Ayah Hyorin, kini impian untuk hidup bergelimang harta di dalam keluarga Indra pupus sudah, bak sudah jatuh tertimpa tangga.
"Maaf Tuan ini tidak adil untuk Silvia, dia anak perempuan yang sudah anak Anda tiduri berkali-kali, lalu siapa yang akan menerima anak saya jika anak Anda tidak mau bertanggungjawab!" jawab Mirna berapi-api saking emosionalnya.
"Terkait hal itu saya sudah tanyakan langsung kepada Indra, dengan sangat menyesal anak kami memang bersalah tapi yang memulai adalah anak Nyonya yang melakukan penjebakan dan mengancam putra saya jika tidak menuruti semua permintaan kalian, jadi disini anak kami adalah korban meskipun dia juga bersalah karena mengikuti permainan kalian, tapi ibarat seekor kucing mana ada kucing yang akan menolak jika disuguhkan ikan dihadapannya. Saya harap Anda paham akan maksud saya tadi,"
"Tapi tidak bisa seperti ini Tuan," Mirna masih saja menegosiasi.
"Apabila Anda masih memaksa, maka dengan sangat terpaksa saya akan melaporkan kalian kepada pihak yang berwajib atas tuduhan penjebakan dan pemerasan berencana."
"Jika Anda menerima keputusan ini, meskipun pihak kami adalah korban. Beruntung Silvia tidak hamil karena kalian bermain cantik, jadi kami akan memberikan kompensasi kepada kalian, Satu Milyar saya rasa cukup untuk menebus semuanya, jadi saya anggap impas meskipun kata Indra anak gadis Nyonya sudah tidak perawan ketika Indra pertama kali menyentuhnya." Ayah Indra menyerahkan sebuah cek kepada Mirna.
"Ingat hapus semua foto-foto yang kalain gunakan untuk mengancam anak saya, jika sampai foto-foto itu tersebar ke media maka saya tidak akan segan untuk memasukan kalian ke penjara." Ancam Ayah Indra.
Wajah Silvia sudah seperti kepiting rebus, malam ini dia benar-benar dipermalukan. Mirna memandang wajah putrinya dan dengan sangat terpaksa Mirna menerima cek itu, selain memang mereka sedang kekurangan uang juga tidak ada pilihan lain bagi mereka saat ini.
"Deal Nyonya," Ayah Ayesh menjabat tangan Mirna dengan senyum penuh kemenangan.
"Silahkan kalian keluar dari sini, pintunya ada di sebelah sana!" usir halus Ayah Indra.
Indra merasa hatinya sangat lega malam ini, selama ini dia terkungkung dalam penyesalan yang begitu dalam.
Jika harus menikahi Silvia lebih baik dia bunuh diri saja, itulah tekad Indra. Tidak disangka justru Mama Silvia sendiri yang membuat semua rencana yang telah tersusun rapi hancur berantakan.
Silvia menangis dipangkuan Ibunya disepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah.
__ADS_1
"Sudahlah Silvia, kamu belum kalah. Kamu masih bisa mencari pria lain yang lebih segala-galanya dari Indra. Kau lihat cek ini betul-betul akan menyelamatkan hidup kita sekarang." Bujuk Mamanya.
"Menyelamatkan hidup Mama, bukan hidup aku!" Silvia bersedekap memilih memandang ke arah jendela yang mulai basah karena hujan sudah turun.