
Sore hari Ayesh dan Hyorin memutuskan untuk pulang ke Apartemen mereka, Ayesh masih memikirkan dan mempertimbangkan saran dari Ayahnya. Memang harus ada yang berkorban dalam hal ini, antara dia harus menyelesaikan kasus yang terjadi sudah Lima tahun yang lalu ataukah dia harus selalu berada di sisi istrinya.
Semua hal ini berkaitan dengan Hyorin, berat rasanya jika harus meninggalkan Hyorin, namun ini juga demi penyelesaian kasus keluarga istrinya tentang kematian Ibu Mertuanya yang masih tertutup tabir.
Hyorin terlelap disamping Ayesh dengan berbantalkan lengannya. Ayesh menatap lekat-lekat wajah ayu istrinya.
"Aku pasti akan menyelesaikan ini satu persatu, aku berjanji akan terus melindungimu dan anak kita." tekad Ayesh dalam hati.
Doni mengirimkan pesan kepada Ayesh, mengabarkan jika Miko akan segera melangsungkan akad nikah dengan Jovanka karena kedua belah pihak telah sepakat.
Mereka akan menggelar acara akad di lapas Satu minggu lagi karena Jovanka masih harus menjalani masa hukumannya.
Ayesh
Kerja bagus Don, setelah ini kita akan ke Australia. Kamu bersiap-siaplah!
Doni yang belum mengetahui rencana Ayesh dibuat mengernyitkan dahi.
"Kenapa tiba-tiba mau ke Australia, untuk apa kesana bukankah pekerjaan kita disini saja masih sangat banyak!" pikir Doni.
Doni kemudian membalas pesan Ayesh tanpa banyak bertanya, dia percaya jika Ayesh memiliki rencana yang sudah matang dan sudah dipertimbangkan sebelumnya.
Doni
Baiklah...ikut apa kata big Bos saja. 😎😎😎
Ayesh
Aissshhh...apa-apaan kau ini yang Big Bos itu Ayah. Ngawur saja sukanya kamu Don.
Doni
😂😂😂😂
Ayesh
😤😤😤😤
Jadilah mereka perang emoticon pada akhirnya.
****
Hari ini Hyoshan mengajak Nita untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit Mahardika.
__ADS_1
Hyoshan memang sudah lama sekali tidak menemui Nita karena harus mengurus banyak pekerjaan, semenjak Perusahaan Ayahnya dilimpahkan kepada dirinya, Hyoshan memiliki tanggungjawab besar terhadap Perusahaan itu.
Ayah Hyoshan kini lebih sering melimpahkan pekerjaannya kepada Putra Sulungnya itu, dengan tujuan melatih Hyoshan agar terbiasa dengan beberapa pekerjaan sekaligus sebelum benar-benar diangkat menjadi Direktur Utama. Meskipun sebenarnya menjadi wakil Direktur saja Hyoshan sudah sangat sibuk.
Ayah Hyoshan berencana dalam waktu dekat akan mundur dari jabatannya dan digantikan oleh Putranya untuk mengurus Perusahaan secara penuh, beliau berencana akan pensiun.
Memilih menikmati masa tua di rumah dalam kondisi masih sehat agar bisa menimang cucu dari Hyoshan dan Hyorin. Oleh sebab itu, beliau menginginkan agar Hyoshan segera menikah.
Hari ini Hyoshan berniat menemui Nita sekaligus ingin menyampaikan keinginan Ayahnya kepada Nita.
Hyoshan sampai terlebih dahulu daripada Nita, karena Nita masih ada pekerjaan yang mesti diurus. Nita sudah mengirimkan pesan kepada Hyoshan bahwa dia akan sedikit terlambat. Namun, bagi Hyoshan itu bukanlah masalah besar baginya.
Hyoshan memilih duduk di dekat kaca agar dapat melihat pemandangan di luar. Meskipun begitu, orang-orang yang lewat tidak akan bisa melihat ke dalam karena kaca tersebut tak tembus pandang dari luar.
Hyoshan dibuat senyum-senyum sendiri melihat bidadari hatinya berdiri di depan persis tempat duduknya yang terhalang kaca merapikan baju dan rambutnya sebelum masuk, Nita mengenakan atasan berwarna salem dan rok cream selutut yang memperjelas aksen kulit putihnya, dengan rambut panjang sebahu yang dia gerai, riasan wajah tipis natural lengkap dengan sepatu snickers putih.
Nita memang sangat sederhana dalam hal penampilan sama seperti Hyorin sehingga mereka sangat cocok dan klop sejak masih duduk di bangku SMA. Namun, penampilan mereka tetap sangat mempesona bagi siapa saja yang melihatnya, cantik dan polos.
Nita masuk dan melihat Hyoshan masih dengan senyum yang terbit di sudut bibirnya.
Nita menggigit bibir bawahnya, sadar dengan apa yang barusan dia lakukan tadi di luar. Wajahnya sudah merona menahan malu.
"Hey...kenapa diam saja, ayo duduk!" perintah Hyoshan ketika melihat Nita berdiri termenung.
Nita duduk dengan wajah yang masih merona, dia menopang kedua pipinya dengan kedua tangannya, siku sebagai tumpuan di meja.
"Aku terserah Kakak saja,"
"Baiklah jika itu maumu,"
Hyoshan memesan menu makan siang mereka, kemudian menyampaikan maksud mengapa dia mengajak Nita makan siang hari ini.
Nita saat menerima pesan dari Hyoshan semalam merasa sangat senang hingga dia melompat-lompat saking girangnya.
"Nit maafkan aku ya akhir-akhir ini jarang sekali menghubungi kamu, karena aku benar-benar sibuk, tapi percayalah hati ini selalu aku jaga untuk kamu dan hanya kamu," Hyoshan memulai kata-katanya.
"Aku memang belum terbiasa karena ini pertama kalinya bagiku memiliki seseorang yang istimewa selain Ayah dan Adikku. Kamu mungkin bingung dengan sikapku,"
Ucapan Hyoshan harus terhenti karena ada pelayan yang membawakan pesanan mereka, setelah mempersilahkan keduanya untuk menikmati hidangan pelayan itu berlalu pergi setelah Hyoshan mengucapkan terimakasih.
"Nit aku mau kita segera menikah agar sama-sama bisa saling menjaga hati, lagi pula usia kamu sudah pantas untuk menikah karena Hyorin juga sudah menikah. Apakah kamu bersedia Nit?" Hyoshan mengungkapkan kata hatinya.
Nita dibuat menganga mendengar ucapan Hyoshan yang membuat dadanya sesak, Nita merasa sangat gugup. Meskipun Nita sangat bersyukur karena cintanya selama ini kepada Hyoshan tidak bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Bagaimana Nit apakah kamu bersedia?" desak Hyoshan lagi.
Nita tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, rasa gugup dan gerogi menguasai dirinya hingga tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya.
"Karena kamu diam, maka aku anggap kamu setuju dengan hal ini. Aku akan segera bicara pada Ayah agar bisa bersilaturahmi ke rumah kamu menemui kedua orangtua kamu Nit,"
"Sekarang makanlah, nanti aku antar kamu ke rumah sakit lagi."
Nita hanya bisa mengangguk, ada rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Nano-nano rasanya, beginikah rasanya jika dilamar oleh orang yang kita cintai? Apa kabar bagi orang-orang di luar sana yang menikah karena perjodohan dan tanpa cinta? Ah...sesuatu hal yang sakral memang tidak bisa dijadikan permainan atas dasar nafsu semata.
****
Mirna dan Silvia masih sibuk menyusun rencana untuk bisa membuat Hyoshan sang mantan Kakak Tiri bisa bertekuk lutut kepada Silvia, mereka sangat tidak suka hidup miskin dan menderita.
Mereka saat ini hidup pas-pasan dengan mengandalkan gaji Silvia sebagai penjaga toko yang tak seberapa.
Bondan hanya memberikan harapan palsu bagi mereka karena dia sibuk mengembalikan kestabilan perusahaan dan menelantarkan mereka berdua, padahal uang kompensasi dari keluarga Indra telah dibawa oleh Bondan.
Mereka merasa buntu mencari bagaimana rencana terbaik yang bisa mereka lakukan, sebab Hyoshan dulu jarang bersama mereka sehingga terasa buntu untuk bisa memikirkan cara terbaik tanpa harus bersentuhan dengan aparat penegak hukum.
"Mama saja yang mikirin, aku capek baru pulang kerja!" Silvia membanting pintu kamarnya.
"Anak ini benar-benar tidak pernah berubah." Umpat Mirna.
Sementara Mirna memikirkan apa yang harus dia lakukan kini Hyorin sudah ada di rumah sakit untuk bekerja seperti biasanya.
Hyorin berniat akan menemui Indra hari ini dan sudah meminta izin kepada Suaminya. Hyorin sudah membuat janji dengan Indra untuk bertemu di kantin rumah sakit pada jam makan siang.
Indra dengan antusias menerima ajakan Hyorin karena memang dia sangat berharap jika Hyorin berinisiatif menemuinya.
"Selamat siang Dokter Indra sudah lama menunggu?" Hyorin menyapa Indra sambil menggeret kursi untuk dirinya duduk.
"Belum Dokter Orin, aku juga baru sampai." Jawab Indra.
"Baiklah Dok, mohon maaf menganggu waktunya. Mungkin langsung saja ke intinya Dok,"
"Tunggulah sebentar Dokter Orin, kita makan siang dulu setelah itu kita akan bahas mengenai hal yang ingin Dokter ketahui dariku,"
Hyorin menghembuskan nafasnya pelan seraya mengangguk, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain mengalah.
"Iya Dok, mari kita makan siang dulu. Silahkan pesan apa saja yang Dokter mau aku yang traktir!" perintah Hyorin kepada Indra.
"Benarkah?" jawab Indra.
__ADS_1
"Kalau pesan yang seperti kamu Satu boleh?" sambungnya.
Hyorin tersenyum, "Maaf Dok sudah sold out!" jawab Hyorin dengan tenang, meskipun sebenarnya dia menahan amarah terhadap pria di depannya yang sengaja ingin bermain-main dengannya.