
Ayesh dengan lincah membuatkan salad buah untuk Hyorin setelah melihat stok bahan yang ada di kulkas hanya tersisa buah-buahan saja.
Tidak berselang lama Ayesh sudah siap dengan semangkuk besar salad buah dan juga segelas susu hangat untuk Hyorin.
Ayesh memasuki kamar meletakkan makanan di depan Hyorin yang masih asyik dengan ponselnya.
"Ayo dimakan sayang! Ponselnya diletakkan dulu, bukankah tadi sudah lapar?"
Hyorin tersenyum meletakkan ponsel di atas nakas seraya berkata, "Terimakasih Mas, tambah cinta aku mah," Hyorin mengerling.
"Sudah pinter menggombal sekarang rupanya Bu Dokter yang satu ini?" Ayesh menoel hidung Hyorin gemas.
"Ngegombalnya cuma sama Mas doang," Hyorin nyengir kuda.
"Sudah cepat makan atau mau Mas suapin?"
"Aaaaaaaa...," Hyorin membuka mulutnya.
Ayesh dengan sigap menyuapkan satu sendok penuh salad buah ke dalam mulut Hyorin, yang disuapin mengunyah sambil melengkungkan bibirnya.
"Manjanya Nyonya Ayesh, tapi aku senang kalau kamu manja gini Rin, dari pada jutek."
"Kapan aku jutek Mas, yang ada kamu Mas yang galak banget sama aku dari awal bertemu, dingin kaya freezer," keluh Hyorin kepada Suaminya.
"Apa dulu aku sejahat itu Rin? Memory otak kamu pasti mengingatku sabagai sosok yang sangat dingin, ah menyesalnya aku jika tahu kamulah yang akan membuat hari-hariku semanis ini."
"Mau lagi Mas," Hyorin menunjuk salad buah yang sedang di pegang Ayesh.
"Eh iya jadi lupa," Ayesh menyuapi Hyorin kembali.
"Kamu tidak makan juga Mas?"
"Mas sudah makan tadi, masih kenyang buat kamu dan debay aja,"
Ayesh menyuapi Hyorin hingga salad yang tadi penuh di mangkuk berpindah ke dalam perut Hyorin tanpa sisa. Kemudian Ayesh menyuruh Hyorin meminum susunya hingga habis.
Selesai bersih-bersih, Hyorin kembali ke atas ranjang bersiap untuk tidur. Perutnya kembali terasa mual.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Ayesh yang melihat ekpresi wajah Hyorin sedikit berubah.
"Mual Mas,"
Ayesh mendekati Hyorin dan mencoba membantunya ke kamar mandi. Belum sampai ke dalam kamar mandi Hyorin sudah merasa nyaman, rasa mual yang tadi dia rasakan tiba-tiba saja menghilang setelah mencium aroma tubuh Ayesh.
"Aku tidak jadi ke kamar mandi Mas,"
"Sudah tidak mual lagi?"
Hyorin menggeleng.
__ADS_1
"Ayo kita kembali ke ranjang, kamu harus segera istirahat!"
Ayesh membantu Hyorin berbaring dan menyelimutinya. Ayesh beranjak dari ranjang meninggalkan Hyorin sebentar karena dia akan mengambil laptopnya di ruang kerja.
Hyorin merasakan mual yang kembali menyerang.
"Kenapa dengan perutku, kenapa jadi rewel begini?" pikir Hyorin.
Ayesh kembali memasuki kamarnya, "Kamu mual lagi Rin?"
"Iya Mas,"
"Sini aku bantu,"
Benar-benar ajaib begitu Ayesh memapah Hyorin hendak ke kamar mandi, rasa mual itu hilang seketika, Hyorin mulai memahaminya.
"Mas sepertinya anak ini maunya selalu dekat sama kamu, aku sudah tidak mual lagi sekarang."
"Baiklah kalau maunya seperti itu, akan aku peluk kamu sepanjang malam supaya lebih nyaman,"
Hyorin tidur dengan posisi memeluk pinggang Ayesh yang masih duduk di atas ranjang sambil memeriksa beberapa email yang masuk.
Ayesh harus bergerak lebih cepat jika ingin segera lepas dari masalah yang berkaitan dengan Jovanka, dia sudah sangat gerah jika harus lama-lama berurusan dengan Rubah betina itu sebab semenjak kedatangan Jovanka yang menjadi korban selalu saja Hyorin dengan kelakuan Jovanka yang selalu di luar batas.
Ayesh menaruh laptopnya di atas nakas, kemudian menyusutkan tubuhnya yang sudah terasa penat ke dalam selimut. Tidur dengan posisi saling berpelukan membuat Hyorin sangat nyaman dan tidak terbangun lagi karena mual hingga esok hari.
****
"Don katakan apa rencanamu?"
"Undang dia di pesta resepsi pernikahan kamu Yesh, aku yakin jika kita gunakan nama Ayah Hyorin dia pasti akan datang, sebab aku sudah selidiki siapa Donatur yang membiayainya sampai lulus kuliah setelah keluarganya mengalami kebangkrutan akibat ulah keluarga Jovanka,"
"Ayah Mertuaku membiayainya?"
"Ayah Hyorin merupakan salah satu donatur tetap di Universitas kita dulu, dia akan membiayai setiap mahasiswa berprestasi yang mengalami kesulitan biaya. Saat itu prestasi Jesika memang biasa saja, namun pak Mahardika bermurah hati kepada Jesika sebab beliau kasihan begitu mendengar permasalahan yang menimpa keluarga Jesika, Pak Mahardika merupakan orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan juga dermawan."
"Baiklah lakukan segera dan rahasiakan hal ini dari Orin, aku tidak mau dia ikut memikirkan masalah ini. Apalagi menyangkut Jovanka aku tidak mau lagi terjadi kesalahpahaman." Perintah Ayesh kepada Doni.
"Aku akan urus semuanya dan kau bersiaplah untuk menjadi Raja dan Ratu sehari,"
"Eh ya terkait Jovanka, dia sudah lebih baik sekarang dan terkait orangtuanya juga sudah aku urus, mereka sudah tahu kenyataan yang sebenarnya, mereka hanya berharap anaknya ada yang bertanggungjawab maka semuanya akan selesai." Sambung Doni.
"Bagus...kamu memang selalu bisa diandalkan Don," puji Ayesh kepada Doni.
"Jelas...jangan lupa bonusku bulan ini!" Doni terkekeh.
"Masih ingat aja kamu Don," Ayesh juga ikut tertawa.
Hyorin hari ini sudah mulai aktif kembali di rumah sakit, dia tidak merasakan muntah-muntah yang berarti jika pagi hari atau dia tidak mengalami morning sicknes seperti kebanyakan wanita hamil lainnya, namun ketika malam hari barulah dia akan merasakan gejala mual-mual, yang hanya bisa berhenti ketika sudah mencium aroma tubuh suaminya.
__ADS_1
Dia sangat bersyukur dengan begitu maka pekerjaannya tidak terlalu mengalami gangguan yang berarti.
Indra yang melihat siluet Hyorin kemudian bergegas mengejar Hyorin yang sedang berjalan di koridor rumah sakit.
"Dokter Orin tunggu sebentar, bolehkah aku bicara padamu?"
Hyorin menoleh ke sumber suara, dia melihat Indra sedang menuju kearahnya. Hyorin mempercepat langkahnya berharap tidak sampai terkejar oleh Indra, namun langkah wanita tetap akan kalah dengan langkah laki-laki yang lebar.
Indra mencoba meraih tangan Hyorin namun berhasil Hyorin tepiskan.
"Maaf Dokter Indra, saya masih ada pasien yang harus diperiksa," tolak Hyorin halus.
"Aku mohon izinkan aku bicara sebentar saja, setelah itu terserah apa yang akan kamu katakan kepadaku dan terserah dengan segala penilaianmu terhadapku,"
"Mohon maaf Dokter Indra saya tidak ada waktu sekarang karena saya sedang bergegas, Anda sebaiknya menyelesaikan pekerjaan Anda."
Hyorin menggunakan bahasa yang formal karena menganggap diantara mereka sudah tidak bisa seakrab dulu. Hyorinpun berlalu dari hadapan Indra.
"Aku akan menikah dengan Silvia," ucap Dokter Indra yang berhasil membuat Hyorin menghentikan langkahnya.
Hyorin menoleh ke arah Indra sekilas dan kemudian kembali berjalan tanpa menoleh sedikitpun, Hyorin sudah tidak perduli lagi dengan mereka, dia sudah terlalu muak dengan perlakuan mereka terhadapnya, terlebih tempo hari dia sangat kecewa terhadap Indra yang tidak mampu membelanya ketika dia ditindas bahkan di depan mata kepala Indra sendiri.
"Sebenci itukah kamu kepadaku Rin? Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kehamilanmu dan aku berjanji tidak akan menganggu kehidupanmu lagi, paling tidak aku akan menjadi saudara kamu, aku tidak mau terjadi kecanggungan diantara kita saat kita nanti bertemu dalam sebuah lingkaran bernama keluarga." Doni bermonolog di dalam hatinya yang hampir tak lagi berbentuk, tidak ada lagi yang tersisa selain rasa sakit yang begitu dalam.
Sore hari Ayesh menjemput Hyorin di rumah sakit seperti biasanya, Hyorin sangat senang saat keluar dari dalam rumah sakit dan melihat suaminya sudah menunggunya di parkiran dengan sangat menawan. Semenjak dia hamil rasanya ingin selalu menempel kemanapun Ayesh pergi meskipun sebuah hal yang mustahil tentunya.
Perhatian yang Ayesh berikan meskipun hal kecil lebih terasa begitu manis untuk Hyorin.
Ayesh membukakan pintu mobil untuk Hyorin begitu melihat Hyorin sedang mendekat ke arahnya, Hyorin duduk di kursi penumpang dengan anteng. Mobilpun melaju menembus hiruk pikuk lalu lintas di sore hari yang padat.
"Rin apakah kamu baik-baik saja hari ini? Apakah dedek rewel?"
Hyorin menggeleng mengisyaratkan jika bayi mereka sangatlah penurut, "Aku baik-baik saja Mas,"
Ayesh sebenarnya tahu jika Indra tadi siang berusaha mendekati Hyorin, namun dia sangat puas karena Hyorin mengabaikan Indra. Ayesh sudah berhasil menempatkan orang-orangnya di dalam rumah sakit sehingga dia akan sangat mudah menerima informasi mengenai aktivitas Hyorin bahkan hal-hal yang mungkin akan membahayakan Hyorin saat bekerja.
"Apakah laki-laki tak bermoral itu tidak menganggumu hari ini?"
"Emmm...maksud Mas Dokter Indra?"
Ayesh mengangguk, "Iya sayang siapa lagi kalau bukan dia,"
"Tadi dia mau berbicara padaku, tapi aku abaikan. Aku sudah tidak mau lagi berurusan dengannya Mas," cerita Hyorin.
"Dia bilang sebentar lagi akan menikah dengan Silvia,"
"Bagus sekali, mereka memang sangat cocok."
"Kamu juga harus bersiap, akhir pekan ini resepsi pernikahan kita akan segera di gelar."
__ADS_1
"Secepat itukah Mas?"
"Kalau bisa segera kenapa harus ditunda?"