Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 41


__ADS_3

Ayesh seperti biasa menjemput Hyorin di rumah sakit sepulang dari kantor. Hyorin masih di ruangannya ketika Ayesh tiba.


Ayesh


Rin aku sudah di depan, apakah kamu sudah selesai?"


Hyorin tengah merapikan berkas ketika ponselnya berkedip menandakan ada pesan yang masuk.


Hyorin


Iya Mas, tunggu sebentar aku rapikan berkas dulu.


Tidak seberapa lama, Hyorin keluar dari dalam rumah sakit dan menemukan suaminya sedang menunggunya di dalam mobil.


"Hai Mas, sudah nunggu lama?"


Ayesh hanya tersenyum, "Masuk Rin!"


Hyorin masuk ke dalam mobil, kemudian duduk anteng di samping suaminya.


"Aku lelah sekali hari ini Mas," keluh Hyorin.


"Banyak Pasien?"


Hyorin menggelengkan kepalanya,


"Tidak juga Mas seperti biasa sebenarnya, tapi tubuhku rasanya pegal semua."


Ayesh malah tertawa membayangkan apa yang dia lakukan kepada Hyorin tadi malam.


"Mas kok malah tertawa, Mas Ayesh nyebelin ihh...!" Hyorin mencebik.


"Kamu tidak ingat Rin?"


"Ingat apa Mas?"


"Kamu juga punya Pasien lain kan, selain di rumah sakit yang harus kamu layani?"


"Siapa?" Hyorin mendadak telmi.


Ayesh mengecek kening Hyorin dengan punggung tangannya.


"Biasa aja tidak panas ataupun demam?" Ayesh merubah wajahnya menjadi serius.


Hyorin dibuat semakin tidak paham dengan maksud Ayesh.


"Aku tidak sakit kok Mas,"


"Kamu memang tidak sakit,"


"Lalu?"


Ayesh terbahak,


"Ih kamu jahat Mas," Hyorin menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, Hyorin sangat kesal.


Ayesh melirik Istrinya yang ngambek karena ulahnya.


Mereka tiba di depan Apartemen dan langsung naik, Hyorin masih terus mendiamkan Suaminya hingga memasuki kamar.


Hyorin merampungkan aktivitas mandi sorenya hingga menyiapkan makan malam tanpa mengucapkan satu patah katapun untuk Suaminya, mereka makan dalam diam.


"Rin sini sebentar?"


Ayesh menepuk bagian kasur di sebelahnya yang kosong, menyuruh Istrinya untuk mendekat.


"Aku mau tidur disana saja Mas," Hyorin menunjuk ruangan yang dulu pernah ia tempati.


"Mana boleh!"


"Habisnya Mas nyebelin," Hyorin beranjak dari meja rias hendak menuju ruangan sebelah.


"Sini dulu sebentar," Ayesh menarik lengan Hyorin dan menjatuhkan gadis itu di kasur kemudian menguncinya berada di bawah tubuhnya.


"Lepaskan aku Mas,"


"Kamu tidak akan pernah aku lepaskan kalau kamu masih bandel, nurut!"


"Iya Mas, tapi lepaskan aku dulu!"


Ayesh melepaskan Hyorin dari bawah kungkungannya, kemudian mereka berbaring bersama menghadap langit-langit kamar.


"Rin kamu itu Dokter Pribadiku, masih ingat bukan?"


"Iya masih ingat,"


"Lalu?"


"Berarti kamu Pasien aku dan juga Suamiku,"


"Lalu?"


"Aku harus merawat Mas dan juga melayani Mas dengan baik,"


"Itu tahu,"


Hyorin memikirkan kejadian tadi sore yang berujung membuat dirinya ngambek.


Hyorin dan Ayesh kemudian tertawa bersama, membayangkan betapa lucunya tingkah mereka berdua. Kadang tiba-tiba ngambek, baikan lagi, ngambek lagi gara-gara hal sepele.

__ADS_1


Jika jauh saling merindukan dan ketika dekat sering tidak bisa akur.


"Apakah ini yang dinamakan cinta Rin?"


"Kenapa Mas menanyakan itu?"


"Aku dulu sangat membencimu, sangat benci, kamu yang merusak hari indahku yang sempurna saat pertama kali berjumpa,"


"Koreksi Mas, pertemuan kedua!" Hyorin mengiterupsi.


"Iya pertemuan kedua....tapi takdir cinta kita membawa kita sampai pada detik ini. Detik dimana kita bisa bersama, bahkan kamu membuat aku jatuh cinta kepadamu dengan cara yang sederhana, kamu begitu berbeda Rin."


"Mas...,"


"Aku masih ingin bicara Rin,"


Hyorin menatap Suaminya yang mendadak jadi sedikit cerewet.


"Aku bahkan tidak tahu seberapa dalam rasa cintamu kepadaku, aku tidak perduli. Asalkan kamu tetap berada disisiku mengisi hari-hariku yang dulu begitu dingin," Ayesh menarik nafasnya dan menghembuskannya, seperti ada sesak di dalam hatinya.


Hyorin masih setia mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Ayesh yang terasa begitu sendu di telinganya.


"Rin berjanjilah, jika suatu saat ada orang lain yang datang kepadamu atau kepadaku dan akan memisahkan kita, tetaplah bersamaku, mempercayaiku bahwa hatiku ini hanyalah untukmu, sama seperti aku percaya kepadamu. Berjanjilah Rin, kamu tidak akan meninggalkanku sampai kapanpun!"


Hyorin mengangguk, menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ayesh.


"Maafkan aku Mas, jika aku membuatmu khawatir. Tapi aku sungguh-sungguh membuka hatiku untukmu, sejak pertama kali Mas menjadikanku Istri yang seutuhnya. Aku merelakan hal yang paling berharga dan sangat aku jaga selama ini hanya untukmu, itu artinya aku percaya kepadamu Mas, kamu adalah Laki-laki yang bertanggungjawab."


"Jadi kamu setuju jika kita segera mengumumkan pernikahan kita?"


"Jika itu lebih baik, maka lakukanlah Mas."


"Aku akan segera mengaturnya Rin,"


Hyorin tersenyum, malam ini dia sangat bahagia sebab dia sesungguhnya juga tidak ingin lama-lama menyembunyikan status mereka berdua di depan umum.


"Oh ya Mas, menurut prakiraan cuaca malam ini sangat cerah bintang-bintang akan terlihat jelas kemungkinan akan ada hujan meteor Mas."


"Maksud kamu, kita akan melihat semua itu?"


"Iya Mas, yuk keluar sebentar."


Hyorin dan Ayesh menuju balkon, melihat kerlap kerlip lampu kota yang menawan ditambah langit cerah, bintang-bintang bertebaran menghiasi langit malam.


"Kamu lihat bintang yang itu Rin?" Ayesh menunjuk sebuah bintang yang tampak paling besar diantara yang lain.


"Iya Mas, aku melihatnya."


"Itu adalah kamu di dalam hatiku, semua terlihat kecil sebab kamu telah menguasainya."


Ayesh mengacak rambut Hyorin, sedangkan wajah Hyorin tampak bersemu.


Ayesh meraskan hatinya menghangat, debaran jantungnya tidak menentu. Berbeda dengan yang dia rasakan terhadap Jovanka dulu.


"Mas ngomong apaan sih, ayo kita masuk saja Mas. Lama-lama disini kamu malah semakin ngawur tidak jelas!"


Ayesh mengikuti Hyorin masuk ke dalam, keduanya terbuai masuk dalam mimpi masing-masing.


****


"Rin kamu mau aku pakai kaos ini?" Ayesh merentangkan sebuah kaos yang ada di tangannya, membolak baliknya ke depan dan belakang memeriksa setiap bagiannya dengan teliti.


"Iya Mas, aku juga pakai lihat ini cocok buat aku kan?"


"Aku tidak mau Rin,"


"Cepat pakai saja, Kak Oshan pasti sudah menunggu kita!"


Ayesh menurut pada Istrinya, memakai kaos couple yang Hyorin siapkan. Kaos itu berwarna Biru Muda dan ada gambar hati dibagian tengah sama seperti yang Hyorin kenakan.


Ayesh yang merasa lucu dengan penampilannya sendiri, kemudian memadukan jaket denim berwarna hitam untuk sedikit menutupi penampilannya yang tidak biasa, beruntung Hyorin tidak protes akan hal itu.


Hyoshan sudah menunggu dua sejoli itu di parkiran, mereka sudah janjian akan keluar bersama sebab hari ini weekend, tidak ketinggalan Doni dan Nita yang juga akan ikut bersama mereka.


"Hai Kak, sudah lama menunggu?" sapa Hyorin begitu keluar dari dalam lift.


"Belum juga Rin, duh yang couple bajunya."


Pandangan Hyoshan berpindah pada baju yang Hyorin dan Ayesh kenakan.


"Adik kamu nih Kak, dia memaksaku untuk berpenampilan seperti ini." Adu Ayesh kepada Kakak Iparnya.


"Sudah-sudah ayo kita jemput Nita dan Doni, mereka pasti sudah menunggu kita." Hyoshan menyuruh Ayesh dan Hyorin masuk ke dalam mobil demi menghindari perdebatan yang sepertinya akan panjang.


Mereka berlima tiba di lokasi, sebuah taman yang sangat luas. Terdapat banyak pepohonan disana sini, pemandangannya begitu asri.


Hyorin dan Nita sibuk menata makanan di atas tikar lengkap dengan berbagai jenis minuman yang mereka bawa. Sedangkan para pria sibuk mempersiapkan keperluan barbeque mereka.


Tadi sebelum berangkat mereka mampir terlebih dahulu ke supermarket untuk membeli semua keperluan mereka untuk piknik hari ini.


Acara barbeque siap dimulai, senda gurau menghiasi kebersamaan mereka.


"Dek Nita boleh bicara sebentar?" Doni tiba-tiba ingin membawa Nita menjauh sedikit dari teman-temannya.


"Ada apa Kak? Kita bisa bicara disini saja!"


"Sebentar saja Dek Nita, please???"


"Modus aja loe Don," Ayesh melempar Doni dengan ciki-ciki yang sedang dimakannya.

__ADS_1


"Nggak papa kali, syirik bilang Bos." Doni tertawa.


Hyorin melihat ekspresi wajah Kakaknya yang berubah ketika melihat Nita dibawa oleh Doni ke tempat lain yang cukup jauh dari mereka.


Hyorin mendekati Kakaknya, "Kakak tidak perlu khawatir,"


Paham apa yang Adiknya ucapkan, Hyoshan membenarkan posisinya dan mencoba bersikap biasa kembali.


"Ayo lanjutkan makannya Rin, itu udangnya sangat enak." Hyoshan berusaha mengalihkan pembicaraan dan berusaha menetralkan hatinya sendiri.


Setengah jam berlalu, namun Nita dan Doni tak kunjung kembali.


"Aku akan cari mereka, kalian tunggu disini!" Hyoshan bangkit dari duduknya dan mencari dimana keberadaan Nita dan Doni.


"Kamu lihat tingkah Kak Oshan Rin?"


Hyorin mengangguk.


"Sepertinya ada yang tidak beres dari Kakakmu Rin?"


"Biarkan saja Mas, cinta pasti akan memilih jalannya sendiri, mencari tempat dimana cinta itu akan berlabuh."


"Kamu benar Rin, sama seperti aku menemukanmu. Pada akhirnya feromon dalam diriku bersenyawa denganmu, menemukan antoxianinnya sendiri."


Hyoshan menemukan keberadaan Nita dan Doni, mereka sedang duduk di bawah pohon beralaskan rumput hijau.


"Kenapa kalian lama sekali, ayo kita pulang!"


Hyoshan menarik tangan Nita, menyuruh gadis itu untuk berdiri.


"Aku belum selesai bicara sama Dek Nita Bro, sebentar lagi ya."


"Lanjutkan lain kali saja, lihatlah hujan sudah mau turun. Kita harus segera berkemas."


Doni menatap sekeliling, langit sudah mulai gelap. Suasana menjadi dingin, benar apa yang Hyoshan katakan jika mereka tidak segera berkemas maka sudah dipastikan mereka akan kehujanan.


Mereka semua bersiap untuk pulang, mengemasi semua barang-barang bawaan mereka dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Bagaimana kalau kita mampir makan malam dulu?" ucap Hyorin tatkala mobil sudah menempuh setengah perjalanan.


Saat ini hujan turun cukup lebat, sehingga Doni mengemudikan mobil dengan sangat hati-hati, menjadikan perjalanan mereka terasa sangat lamban.


"Iya benar juga, kalau kita tidak makan dulu sampai rumah sudah tidak keburu untuk makan malam." Ayesh menambahi ucapan Istrinya.


"Kita cari Restoran dekat sini," usul Doni.


Semuanya setuju dan mereka menemukan Restoran dengan menu makanan Jepang.


Mereka berlima duduk dalam Satu meja yang sama, ketika mereka tengah asyik menyantap makanan yang mereka pesan datang seorang wanita mendekati mereka. Tentu dalam situasi ini, Ayeshlah yang sangat dikejutkan dengan kehadiran wanita itu.


"Boleh gabung? Aku Jovanka, kalian masih ingat aku kan?" tanya Jovanka kepada semua yang ada disana.


Tentu saja yang merasa tidak kenal hanya Hyorin dan Nita yang baru bertemu dengan Jovanka hari ini.


"Silahkan Jovanka, kapan kamu kembali?" tanya Doni.


"Kemarin Don tapi aku diusir, ternyata kamu masih ingat aku."


"Benarkah? Siapa yang mengusir kamu Jov?"


Jovanka hanya tersenyum dan melirik Ayesh yang masih diam.


"Ini pasti Hyoshan ya, teman Ayesh juga?"


"Hai Jov apa kabar? Kita pernah beberapa kali bertemu. Kamu masih ingat aku ternyata."


"Kabarku baik, tentu aku masih ingat, kalau mereka berdua?" Jovanka menunjuk Hyorin dan Nita.


"Aku Nita," Nita memperkenalkan diri.


"Aku Hyorin Kak, panggil saja aku Orin." Hyorin memperkenalkan dirinya dan menjabat tangan Jovanka.


"Dia Istriku!!" sambung Ayesh ditengah-tengah sesi perkenalan Hyorin dan Jovanka.


"Benarkah? Kamu sudah menikah Yesh? Kapan? Kenapa kamu tidak mengundangku?"


Ayesh tidak menjelaskan secara detail terkait dirinya kepada Jovanka, dia justru membawa Hyorin pergi meninggalkan meja tempat mereka makan malam bersama.


Hyorin berpamitan dengan tergesa dan mengekori Suaminya.


"Don tolong jelaskan padaku, semua itu tidak benar kan?"


Doni mengangkat bahunya, "Kamu bisa tanyakan sendiri pada Ayesh Jov, kita pamit dulu ya!"


Doni, Hyoshan dan Nita meninggalkan Jovanka untuk menyusul Ayesh dan Hyorin yang sudah lebih dulu keluar dari Restoran.


Jovanka yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada menjadi sangat frustasi, rencana yang sudah ia susun terancam gagal total. Jovanka memukul-mukul kepalanya sendiri, hatinya meneriaki dirinya sendiri penuh amarah.


---------------------------------------------------------------------


Hai Kak, yang mungkin tidak nyaman dengan kehadiran Jovanka, tenang saja ya Kak. Cinta Ayesh hanya untuk Hyorin, mereka pasti akan saling menguatkan kok. Ini bumbu ya dalam kehidupan, supaya cinta mereka lebih kuat meskipun di hantam tornado sekalipun. heheheeee 🤭🤭


Oh ya mantan memang tidak selamanya jadi pelakor, sebab mantan tidak semuanya tidak tahu diri. Kalau disinikan Jovanka merasa dirinya bukan mantan, padahal Ayesh sudah membuangnya jauh sebelum dia bertemu dengan Hyorin, jadi Ayesh pasti kuat. 😉😉😉


Terus dukung Author ya, Author sangat senang dengan masukan-masukan kalian semua Kakak-kakak sayang. Author tambah cinta sama kalian. Love U All 💕💕💕


Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya. 😘😘😘


Terimakasih ya Kak, yang selalu setia dengan cerita Author 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2