
Puas bermain di taman bunga Ayesh membawa Hyorin kembali masuk ke dalam ruang akad, selanjutnya mereka berpamitan untuk pulang terlebih dahulu sebelum acara pesta pernikahan Hyoshan dan Nita nanti malam diselenggarakan.
Ayesh tentu saja sangat lelah, setelah menempuh perjalanan jauh dan harus menyingkirkan Nenek Lampir dan anaknya terlebih dahulu.
Mereka kembali ke apartemen setelah sebelumnya mengambil barang-barang Hyorin yang ia bawa selama menginap di rumah Ayahnya.
Hyorin terlelap saat perjalanan pulang ke apartemen, Ayesh merasa tidak tega untuk membangunkannya, Hyorin terlihat sangat letih, ada sedikit lingkaran hitam di bawah matanya seperti orang yang sering kurang tidur.
Ayesh menggendong Hyorin masuk ke unit apartemen mereka, membaringkan Hyorin di atas kasur mereka yang dingin karena sudah lama tidak ditempati.
Ayesh masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya sudah terasa sangat lengket karena tadi pagi terburu-buru sehingga langsung menuju ke tempat Hyoshan melangsungkan akad nikah tanpa sempat membersihkan diri terlebih dahulu, namun dia tetap terlihat tampan dan wangi.
Selesai membersihkan diri, Ayesh ikut masuk ke dalam selimut bersama istrinya, memeluknya erat. Rindu sungguh rindu yang Ayesh rasakan.
Pukul empat sore Ayesh kembali terjaga, namun Hyorin masih terlelap. Ayesh mengendus-endus ceruk leher istrinya agar Hyorin sedikit terusik dan bangun.
Hyorin menggercap-gercapkan mata lentiknya.
"Putri tidur apakah sudah bangun?" goda Ayesh.
"Aku lelah sekali Mas, rasanya baru kali ini aku bisa tidur nyenyak." Hyorin mengendurkan otot-ototnya.
"Apakah kau merindukanku sayang?"
"Tentu saja iya, apa Mas pikir aku tidak kehilanganmu?"
Ayesh memeluk Hyorin tanpa berkata-kata. Ayesh merasa sangat terharu karena istrinya baru saja mengungkapkan perasaannya.
"Mas itu susah sekali untuk dihubungi, apalagi Dua minggu terakhir ini!" Hyorin mengurai pelukan Ayesh dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jangan ngambek sayang, maafkan aku ya semua itu ada alasannya karena jika tidak begitu mungkin saja hari ini aku belum ada disini bersamamu." Ayesh *******-***** jemari tangan Hyorin dan menciuminya lembut.
"Apakah kamu lapar Mas?"
Ayesh mengangguk, "Sedari pagi aku belum makan sama sekali,"
"Benarkah?"
"Aku akan masak sekarang,"
"Tunggulah sebentar, makanan akan segera tersaji."
Hyorin beranjak dari tempat tidur namun dicegah oleh Ayesh.
"Eits...mau kemana sayang?"
"Ke dapurlah Mas, aku akan masak buat kamu. Mas minggir dulu dong!"
Ayesh menarik tangan Hyorin hingga dia terjatuh di bawah kungkungan tubuh suaminya. Mata mereka bersitatap, Ayesh kemudian mencium bibir Hyorin dengan lembut.
"Mas bukankah kau lapar?" tanya Hyorin ketika Ayesh melepaskan ciuman mereka.
"Aku memang lapar dan aku akan memakanmu!"
Ayesh mengendus leher istrinya tanpa memberikan celah bagi istrinya untuk membantah, wangi vanila yang dia rindukan masih tetap sama. Ayesh memang mencandu wangi istrinya itu.
"Mas geli ah...jangan kaya gitu ih, aku nanti kelelahan kalau kita melakukannya sekarang. Bukankah kau juga sangat lelah Mas? Kita masih ada acara nanti malam."
"Nanggung sayang, yang di bawah sudah mode on, aku merindukanmu sayang. Boleh ya, sekali saja setelah itu kita bersiap untuk pergi."
__ADS_1
"Aku juga merindukan anakku, aku ingin menjenguknya sebentar. Boleh ya sayang," Ayesh tersenyum penuh arti.
Hyorin sudah tidak bisa lagi menolak, tatapan mata Ayesh seolah memohon. Memang benar mereka sangat merindukan satu sama lain, kobaran api gairah tergambar jelas diwajah tampan Ayesh yang sudah lama tidak dapat merengkuh istrinya.
Hyorin akhirnya mengangguk, entah sudah seperti apa wajahnya sekarang. Meskipun sudah lama menikah, namun untuk urusan ranjang Hyorin masih sangat malu.
"Kamu terlihat menggemaskan kalau sedang malu seperti ini sayang," Ayesh berkata dengan tangan yang sudah bergerilya ke aset Hyorin.
Menyapa dua bukit yang sudah lama tidak didaki. Ayesh sedikit nakal dengan meremas-remasnya hingga tubuh Hyorin meremang seperti disengat listrik ribuan volt.
Ayesh terus melancarkan aksinya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan bibirnya yang tertaut pada istrinya, dengan cekatan Ayesh membuka semua kain yang menempel di tubuh Hyorin, begitu juga yang menempel pada dirinya dan membuangnya asal, membiarkannya berserakan ke segala arah.
Kini mereka sudah dalam keadaan polos di bawah selimut, Hyorin menikmati setiap sentuhan yang Ayesh berikan.
Ciuman Ayesh perlahan turun ke leher hingga ke bagian dada istrinya yang memberikan sensasi kenikmatan tersendiri, hingga keduanya siap untuk melakukan penyatuan sampai menuju puncak secara bersamaan.
Menumpahkan lahar panas yang sudah tertahan selama berminggu-minggu.
Hyorin terkulai lemas di bawah selimut, memilih memejamkan mata sejenak yang diikuti oleh Ayesh yang memeluknya dari belakang.
Rasa lapar yang sesungguhnya hilang menguap begitu saja, padahal memang Ayesh belum memakan apa-apa sejak pagi.
Sementara dua sejoli sedang kelelahan setelah melakukan pertempuran sore hari, di rumah Ayah Hyorin sedang disibukkan dengan berbagai macam persiapan untuk pesta nanti malam.
Pak Mahardika mondar mandir menunggu Hyorin yang tak kunjung datang padahal mereka sudah pergi sejak siang.
Berkali-kali Pak Mahardika mencoba menghubungi putrinya, namun tak diangkat sedangkan ponsel Ayesh tidak aktif karena belum diisi daya sejak kemarin.
Pada panggilan kesepuluh barulah Ayesh mendengar bunyi ponsel Hyorin, karena tidak tega membangunkan istrinya akhirnya Ayesh mengangkat panggilan itu.
Ayesh tidak melihat id caller orang yang menelfon.
"Nak kalian dimana kenapa jam segini belum sampai di rumah Ayah, kita akan segera berangkat menuju hotel!"
Suara Ayah Hyorin terdengar sedikit bergetar karena panik sebab putri dan menantunya entah kemana, padahal yang ditunggunya sedang sama-sama menikmati surga dunia.
"Maafkan kami Yah, kami akan segera bersiap."
Panggilanpun dimatikan, Ayesh melihat jam di dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.
"Tidurku terlalu lama sampai tidak mendengar suara adzan maghrib,"
Ayesh membangunkan istrinya, "Sayang ayo bangun!"
"Masih ngantuk Mas, sebentar lagi ya?" jawab Hyorin masih dengan mata terpejam.
"Ayah sudah menunggu kita sayang,"
"Jam berapa sekarang Mas?" tanya Hyorin dengan malas.
"Setengah tujuh lewat,"
"Apaaa..!!!!" Hyorin bangkit dari tidurnya dan terduduk dengan muka panik.
Hyorin sangat terkejut, "Kalau begitu aku mandi dulu!"
"Bareng saja sayang agar hemat waktu,"
"Jangan Mas, nanti malah jadi lama. Kamu pasti macam-macam!"
__ADS_1
"Cuma Satu macam saja,"
"Apanya yang satu macam, biasanya Mas suka minta lebih!"
"Satu macam saja, mandi!"
Ayesh kemudian bangkit dari tempat tidur dan mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi, tubuh mereka masih sama-sama polos.
Ritual mandi berlangsung selama dua puluh menit, beruntung Ayesh menepati janjinya untuk tidak bermain-main terlebih dahulu di dalam kamar mandi sebab jika tidak sudah dipastikan satu jam tidak akan selesai.
Kini Hyorin sudah sampai di rumah Ayahnya.
Hyorin masuk dengan tergesa-gesa yang disambut oleh Mbok Nah.
"Mbok Ayah mana?"
"Baru saja mereka pergi Non, pesan Bapak Non Orin dan Aden disuruh menyusul!"
"Iya Mbok, terimakasih."
Hyorin dan Ayesh bergegas masuk ke dalam mobil berharap tidak tertinggal terlalu jauh dari rombongan Ayahnya.
Ayesh menyetir dengan kecepatan sedang, sebab dia tidak mau terjadi sesuatu terhadap mereka. Meskipun sedang dalam kondisi dikejar waktu, namun pikiran harus tetap waras dan fokus terhadap jalan. Suasana di dalam mobil hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Hyorin menerima sebuah notifikasi.
Ayah Hyorin
Rin kamu menyusul saja ya, Ayah sudah berangkat duluan karena kamu lama takut terlambat kasian Kakakmu.
Hyorin
Maafkan aku Ayah telah membuat kalian menunggu, kami sedang dalam perjalanan.
Ayah Hyorin tidak membalas pesan lagi, namun ponsel Hyorin mendapatkan sebuah notifikasi kembali. Hyorin bergegas membukanya karena Hyorin menyangka ada pesan balasan dari Ayahnya.
Indra
Selamat malam Orin, Kakakmu hari ini menikah bukan? Dimana suamimu pasti belum kembali kan? Bukankah sudah aku bilang dia berkencan dengan wanita lain, jadi untuk apa kamu menunggunya. 😎😎😎
Hyorin mengabaikan pesan dari Indra, kemudian muncul pesan berikutnya.
Indra
Aku tahu kamu pasti kesepian, tidak perlu mengabaikanku seperti ini. Ayolah Rin pergi saja bersamaku, sudah aku bilangkan kalau aku tahu siapa yang membunuh Ibumu, jika kamu mau semalam saja bersamaku maka aku akan menyeret orang itu kehadapanmu, selagi suamimu tidak ada. Rahasia kita pasti aman, ayolah Orin sayang, tidak usah terus-terusan menolakku, Ayesh si Pengacara busuk itu pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain. Kenapa kamu tidak melakukan hal yang sama? Ayolah sayang. 😘😘😘
"Dasar menjijikan!" umpat Hyorin.
"Siapa sayang yang menjijikan?"
"Nanti saja kamu baca sendiri Mas,"
"Lho bukankah tadi pesan dari Ayah?"
"Iya Mas, tapi pesan selanjutnya bukan dari Ayah."
Ayesh menduga jika Hyorin menerima pesan dari Indra, karena hanya laki-laki itu yang berani menganggu istrinya.
Mobil Ayesh berhasil menyusul mobil rombongan Ayah Mertuanya, sehingga mereka sampai hampir bersamaan kemudian masuk ke dalam ruang pesta secara bersama-sama yang menambah kesan harmonis di dalam keluarga Mahardika di depan para tamu undangan yang hadir, karena memang sejatinya keluarga mereka sangatlah hangat dan harmonis hanya semenjak kehadiran Nenek Lampir dan anaknya ke dalam kehidupan mereka seolah kehangatan itu memudar, namun kini semua itu telah kembali seperti semula.
__ADS_1