
Doni mengerem mobilnya secara mendadak, membuat kepala keduanya membentur dashboard mobil, beruntung mereka mengenakan seatbelt jadi tidak sampai terluka.
"Adoooohhhhh...," Jesika memegangi kepalanya.
"Don yang bener aja loe kalau ngerem itu kira-kira dong!"
"Sorry Jes, gue kaget soalnya. Kenapa loe nggak bilang tadi Jes?"
"Loe juga nggak nanya Don," jawab Jesika sedikit kesal.
"Lah mana gue tahu,"
Doni sudah menceritakan semuanya mengenai kondisi Jovanka saat ini, sebenarnya Jesika sangat enggan berurusan dengan Jovanka lagi. Namun, hal ini menyangkut kebahagiaan Ayesh dan Hyorin yang sudah sangat baik kepadanya.
Apalagi Jesika memiliki hutang budi kepada Ayah Hyorin, tentu dia tidak akan pernah rela jika Jovanka menganggu rumah tangga Hyorin sampai kapanpun.
Cerita penculikan Hyorin yang dilakukan Jovanka saja sudah membuat Jesika geram.
"Tadi loe nggak balas perkenalan Miko ke loe sih Don,"
"Gue tadi banyak pikiran Jes,"
"Trus ini mau gimana? Balik atau besok-besok saja kita temuin dia?" tanya Jesika.
"Loe tahu alamat atau nomor Miko Jes?"
"Tahulah Don, pas malam itu gue yang minta bantuan Miko karena Jovanka mabuk berat sedangkan gue nggak bisa kan bawa pulang Jovanka sendirian. Tapi karena kebencian gue terhadap Jovanka terlalu besar, gue bilang ke Miko terserah dia mau dibawa kemana, ternyata Miko terkam juga tuh Jovanka. Gue memang waktu itu sangat egois Don, gue tahu gue salah. Tapi apa yang dilakukan keluarga Jovanka dan Jovanka sendiri kepada keluarga gue jauh lebih menyakitkan. Beruntung ada Tuan Mahardika yang sangat baik, jika tidak entahlah hidup gue sekarang Don, mungkin gue udah jadi sampah masyarakat."
Jesika menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, buliran bening perlahan jatuh, begitu besar ujian hidup yang harus dia tanggung selama ini.
"Jes jangan nangis dong, ntar orang-orang pada ngira kalau gue menyakiti loe."
Jesika perlahan menghapus air matanya, dia kembali tersenyum meskipun mungkin sangat berat.
"Loe pasti marah sama gue kan Don, gara-gara keegoisan gue kalian semua terkena imbasnya. Terlebih Nona Orin kalau dia tahu pasti dia akan sangat benci sama gue," Jesika kembali tergugu, air matanya tumpah membanjiri pipi.
Doni secara refleks menarik tangan Jesika membawa gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap lembut rambut Jesika agar dia tenang.
"Percayalah padaku Jes, baik Ayesh maupun Nona Orin tidak akan pernah bersikap demikian. Mereka orang-orang baik yang tidak akan menilai perbuatan seseorang dari apa yang dia lakukan saja, tapi lebih kepada sebab mengapa orang itu melakukannya."
Jesika mendongakkan wajahnya, mata mereka saling bertemu tatap. Hening menghampiri mereka sampai ketika mereka tersadar jika wajah mereka sudah sangat dekat.
Doni mengangkat kedua tangannya, "Maafkan gue Jes, gue nggak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
Jesika malah tertawa, "Gue yang terimakasih Don, loe mau meminjamkan dada loe sebentar buat gue, tadi sangat nyaman."
Hening kembali menyapa ketika Doni kembali melajukan mobilnya, ada rasa canggung diantara mereka yang sedang tenggelam ke dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Terimakasih ya Don, loe sudah anterin gue pulang! Maaf gue jadi ngrepotin loe Don," ucap Jesika ketika hendak turun dari mobil Doni.
"Sama-sama Jes," jawab Doni.
"Gue masuk dulu ya Don, loe hati-hati dijalan. Jangan ngebut udah malam!"
Doni mengangguk, "Tunggu Jes," Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jesika menghentikan langkahnya, "Kenapa Don?"
"Emmm...soal yang tadi, loe boleh kapanpun pinjam dada gue ketika loe butuh!" Doni menstater mobilnya dan berlalu pergi.
Jesika masih terpaku di tempat, mencerna apa yang baru saja Doni katakan.
Kali ini Doni akan kembali ke restoran dimana tadi dia dan Jesika bertemu dengan Miko, dia berharap Miko masih ada disana.
****
Dirumah lama Mirna dan Silvia terjadi ke kekacauan yang membuat keduanya saling adu mulut.
"Ma...Mama ini bodoh atau bagaimana sih, kenapa uang Satu Milyar yang Ayah Indra berikan kepada Mama malah Mama berikan kepada Om Bondan!"
"Om Bondan sedang butuh dana untuk bisa membuat perusahaannya bangkit kembali, setelah pemberitaan yang mengatakan ada skandal antara Mama dan dirinya, semua investor menarik semua investasinya dari perusahaan, sahamnya juga jatuh sejatuh-jatuhnya Sil."
"Apa Mama lupa ketika kita butuh dia, bahkan ponselnya saja tidak aktif Ma. Kenapa Mama masih percaya sama dia!"
"Tadi Mama sudah memberikan alasan tapi tetap dia tidak percaya bahwa kita tidak memiliki uang, bahkan dia mengancam Mama Sil, katanya Mama harus ikut bertanggungjawab atas apa yang terjadi, jika tidak dia akan menghabisi kita."
"Kamu kan masih bekerja, untuk sekedar makan kita masih bisa Sil. Mohon mengertilah setelah Perusahaan Om Bondan bangkit dia pasti akan membantu kita melanjutkan rencana kita,"
"Tadi siang Oshan memecatku Ma, aku sudah tidak bekerja disana lagi!"
"Apa!!! Kamu dipecat?"
Mirna tampak sangat shock mendengar berita tersebut, dia sangat menyesal telah memberikan sisa uang yang mereka miliki kepada Bondan yang belum tentu akan menepati janjinya, sedangkan uang itu adalah uang kompensasi dari keluarga Indra agar bisa tidak menikah dengan Silvia meskipun mereka pernah melewati malam panjang bersama berkali-kali.
Silvia sangat kesal dengan Mamanya yang terlalu bodoh, kemudian dia memasuki kamar dan membanting pintunya dengan keras.
"Aku akan menemui Mahardika besok, dia harus masuk ke dalam pelukanku kembali, jika tidak hidupku dan Silvia pasti akan sangat menderita ke depannya!" pikir licik Mirna.
****
Ayesh terbangun dari tidurnya karena bunyi ponselnya yang memekik berkali-kali, sebenarnya dia enggan untuk mengangkat panggilan itu, tapi khawatir jika tidur Hyorin akan terganggu maka Ayesh memilih mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu di balkon.
"Yesh loe pasti sudah tidur ya, sorry gue ganggu!" suara Doni terdengar menyesal saat telfon tersambung tapi tetap saja melakukan panggilan malam-malam.
"Ada apa Don?"
__ADS_1
"Gue menemukan orang yang malam itu bersama Jovanka!"
"Benarkah? Siapa orang itu Don?"
"Namanya Miko, gue sudah melihat wajahnya Yesh."
"Lalu sekarang dimana dia?"
Doni menceritakan semuanya kepada Ayesh dari saat mereka bertemu tidak sengaja sampai dengan Jesika mengatakan bahwa Miko itu teman satu malamnya Jovanka.
"Gue balik ke sini lagi orangnya sudah pergi Yesh," Doni menghembuskan nafasnya.
"Kamu pulanglah dulu Don, malam ini istirahat saja dulu, besok kita lanjutkan lagi sekaligus kita lanjutkan penyelidikan terkait cincin itu, gue sudah tahu jika model cincin itu dibuat khusus oleh designer perhiasan dalam jumlah sedikit hanya ada Dua saja di dunia ini, limited edition ketika diluncurkan ke pasaran."
"Ok Yesh gue pulang sekarang,"
Doni menutup sambungan telfonnya.
Hyorin merasa sedikit dingin sebab ruang disebelah tempat tidurnya kosong, dia tidak menemukan Ayesh disana.
Hyorin melihat jika Ayesh sedang di balkon, Hyorin tidak bisa memejamkan matanya kembali dan disaat itulah terasa perutnya mulai bergejolak. Hyorin masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahnya isi perutnya.
Hoekkk...hoekkk....
Ayesh yang mendengar istrinya muntah-muntah kemudian masuk ke dalam membantu Hyorin dengan cara menepuk-nepuk punggungnya dan memijitnya perlahan.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"
Hyorin menggelang, satu-satunya cara agar dia bisa merasa nyaman adalah berada di dada Ayesh. Aroma tubuh Ayesh memberikan kenyamanan tersendiri baginya, yang pada akhirnya membuat mual itu berangsur-angsur reda.
Ayesh membawa istrinya kembali naik ke atas ranjang, menyelimutinya agar lebih hangat.
"Mas ke dapur dulu ya, ambil minuman hangat buat kamu!"
"Jangan pergi Mas, aku sudah tidak apa-apa," Hyorin mencoba meyakinkan Ayesh.
"Baiklah sayang, sekarang bobo lagi ya!"
Ayesh mengecup kening Hyorin agar dia tidur kembali.
Beberapa saat kemudian terdengar nafas Hyorin yang terdengar lebih teratur menandakan dia sudah terlelap kembali. Ayesh justru yang malah tidak bisa memejamkan matanya. Ayesh mengambil posisi duduk dengan bersandar dikepala ranjang. Dia teringat akan notifikasi yang masuk ke ponselnya tadi sore tapi belum sempat dia buka.
Ayesh dibuat geram melihat foto-foto istrinya yang sedang berbicara dengan Indra di rumah sakit, terlihat sekali Hyorin menanggapi Indra dengan sangat datar. Selain foto ada video juga yang pengawalnya kirimkan. Meski tidak terdengar jelas pembicaraan keduanya, tapi Indra sepertinya memaksa Hyorin untuk mengikuti keinginannya, merayunya dengan senjata mendiang Ibu Hyorin.
Pantas saja tadi ketika Ayesh menjemputnya Hyorin nampak sangat kesal dan memilih diam disepanjang perjalanan.
"Kurang ajar kamu Indra, berani-beraninya kamu mengganggu istriku!" batin Ayesh.
__ADS_1
"Aku sangat yakin pasti kamu terlibat dalam hal ini!"
Ayesh mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya dia menghajar Indra saat ini juga, tapi dia harus bermain cantik, agar mereka tidak kabur, yang bersalah harus mendapatkan hukuman setimpal.