Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 47


__ADS_3

Doni datang ke rumah sakit dengan setumpuk berkas yang ia bawa beserta baju ganti untuk Ayesh.


Hyorin hanya mampu memandang aktivitas yang mereka lakukan. Suaminya itu begitu sibuk sepanjang hari, tenggelam dalam pekerjaan yang menggunung. Sesekali terdengar mereka berdiskusi mencari solusi terbaik dari setiap permasalahan yang ada.


Mereka hanya istirahat ketika masuk waktu sholat, makanpun sambil mereka selingi dengan tetap bekerja.


Mereka baru selesai ketika petang namun mereka masih mendiskusikan sebuah permasalahan yang sepertinya sangat pelik dan terjadi sudah sangat lama, Hyorin pada akhirnya memilih menyibukkan diri dengan bermain ponsel untuk menghilangkan kebosanan.


Doni pamit undur diri sekitar pukul Delapan malam dengan beberapa tugas yang harus segera Doni selesaikan berdasarkan perintah dari Ayesh. Ayesh perlahan mendekati Hyorin yang sudah terlelap di ranjangnya dengan posisi membelakangi Ayesh yang duduk di sofa.


"Rin kamu sudah tidur?"


Tidak ada jawaban dari Hyorin, kemudian Ayesh masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika Ayesh keluar dia melihat Hyorin yang hendak turun dari ranjang.


"Sayang kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kamar mandi Mas,"


"Biar aku antar,"


"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri."


"Kaki kamu masih sakit, biar Mas bantu kamu!"


Ayesh kemudian menggendong tubuh Hyorin masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas tunggu di luar saja sana!"


"Aku tidak mau, khawatir nanti terjadi sesuatu sama kamu." Ayesh bersikeras.


"Mas...tolong keluar dulu ya, kalau Mas tetap disini aku malu Mas,"


"Aku sudah melihat semuanya kenapa kamu harus malu?"


Wajah Hyorin memerah ketika Ayesh mengatakan hal itu. Hyorin memaksa Ayesh dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki supaya dia mau keluar dengan mendorong paksa tubuh Ayesh dari dalam kamar mandi.


Ayesh mengalah dan menunggu istrinya di depan pintu hingga Hyorin menyelesaikan aktivitasnya.


Ayesh kembali menggendong Hyorin sampai ke tempat tidur.


"Mas pasti lelah seharian bekerja, istirahatlah!"


"Aku mau menemani kamu disini Rin, maafkan aku ya seharian mengabaikanmu."


Hyorin tersenyum, "Aku memahami kesibukanmu Mas."


****


Hyorin diperbolehkan pulang setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit, mereka sampai di Apartemen sebelum petang.


Dokter Indra yang menangani Hyorin berpesan supaya Hyorin lebih hati-hati lagi dan jangan sampai terjatuh kembali sebab akibatnya akan lebih fatal, kali ini Hyorin beruntung karena kakinya hanya memar saja tidak ada tulang yang patah, hanya saja saat kejadian Hyorin sangat shock yang menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri dan tubuhnya menjadi drop.


Emosi yang naik turun malam itu mungkin menjadi salah satu penyebabnya.


"Mas siapkan air hangat untuk kamu ya, nanti aku akan memandikan kamu. Sekarang perbannya kita tutup dulu dengan ini ya,"


Ayesh membawa plastik wrap yang biasa digunakan untuk menutup makanan.


Ayesh dengan tlaten membungkus perban yang menutup luka Hyorin supaya jangan sampai terkena air.


"Nah selesai...ayo kita mandi sekarang supaya kamu bisa beristirahat dengan lebih nyaman."

__ADS_1


"Aku mandi sendiri saja Mas,"


"Tidak boleh!"


Ayesh mengangkat tubuh istrinya tanpa mau disanggah dan menurunkannya di bathtube yang sudah penuh dengan air hangat, perlahan Ayesh membuka satu persatu kain yang menempel di tubuh Hyorin.


Hyorin menutupi bagian dadanya yang terbuka dengan kedua tangannya, rasanya sangat malu bagian tersembunyi dari dirinya dilihat orang lain meskipun itu suaminya sendiri.


Ayesh tersenyum geli merasa lucu dengan tingkah Istrinya yang masih saja malu-malu di depannya.


Pada akhirnya Ayesh ikut masuk ke dalam bathtube, Ayesh sebenarnya sudah tidak tahan melihat Istrinya yang sedang mandi, ingin rasanya dia menerkam Istrinya saat itu juga. Namun, dia tidak mau membuat Istrinya merasa kesakitan sebab posisi yang kurang nyaman.


Ayesh dengan telaten menggosok punggung Istrinya. Wangi vanila kembali memancar dari tubuh Hyorin memasuki rongga hidung Ayesh, membuat juniornya bereaksi dan menegang. Wangi tubuh Hyorin merupakan candu bagi Ayesh.


Ayesh cepat-cepat memakai kimono mandinya, begitu pula dengan Hyorin yang Ayesh bantu untuk memakainya. Ayesh dengan segera mengangkat tubuh Hyorin, membawa gadis itu ke ranjang empuk mereka yang beberapa hari ini dibiarkan menganggur.


Hyorin merasa bingung dengan tingkah Suaminya yang mendadak jadi aneh.


Ayesh tiba-tiba menciumi bibirnya, awalnya begitu lembut perlahan semakin dalam. Ayesh baru melepaskannya tatkala Hyorin sudah terengah.


Dia membiarkan Hyorin mengambil nafas, kemudian memulai aksinya kembali.


Bibir Ayesh perlahan turun ke bagian sensitif istrinya, membuat tubuh Hyorin bergetar. Ayesh tersenyum puas sebab tubuh Istrinya tidak melakukan penolakan sedikitpun, meskipun Hyorin sendiri menatapnya khawatir.


"Aku akan melakukannya dengan perlahan, kamu cukup menikmatinya. Aku yang akan mendominasi," jawab Ayesh seolah tahu apa yang Hyorin pikirkan.


Ayesh melanjutkan aksinya dengan lembut,


setelah dirasa cukup melakukan pemanasan Ayesh bersiap untuk melakukan penyatuan tubuh mereka.


Hyorin terkulai lemas dipelukan Ayesh setelah mencapai puncak kepuasan mereka masing-masing kemudian Hyorin perlahan memejamkan matanya.


****


Pagi ini Ayesh dan Hyorin sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama. Hyorin membuka percakapan pagi itu, sebab sedari tadi mereka makan dalam diam.


"Mas hari ini masuk kantor?"


"Tidak Rin, aku ambil cuti Satu hari untuk menemani kamu di rumah,"


"Benarkah? Terimakasih Mas," Hyorin tampak berbinar.


Ayesh mengambil alih tugas Hyorin selama dia masih sakit, membiarkannya tidak banyak melakukan aktivitas fisik supaya keadaannya lebih cepat pulih.


Selesai membereskan dapur, mereka bersantai di depan televisi dengan Hyorin menaruh kepalanya di paha Ayesh.


"Rin kalau Mas cerita sesuatu apakah kamu akan marah? Mungkin ini cukup terlambat untuk aku memberitahukan hal ini kepadamu sebab sebenarnya kamu sudah mengetahuinya malam itu, tapi aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita."


"Aku mendengarkan Mas,"


"Ini mengenai Jovanka," Ayesh menjeda ucapannya.


Hyorin merubah posisinya menjadi duduk menghadap Ayesh begitu mendengar nama Jovanka disebut-sebut.


Dia ingin mendengar langsung dari Ayesh, sebuah kejujuran yang telah lama ia nantikan sejak pertama kali kemunculan Jovanka dalam hidup mereka.


"Aku dan Jovanka memang dulu memiliki hubungan yang cukup serius, bahkan aku berencana menikahinya ketika kita lulus kuliah, aku menjaganya dengan sepenuh hatiku. Hingga pada suatu ketika dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri."


Netra Ayesh mulai berkaca-kaca, ada rasa sakit yang begitu dalam dia rasakan.


"Mas kalau kamu tidak sanggup untuk bercerita, tidak perlu dilanjutkan."

__ADS_1


Hyorin membawa Ayesh dalam pelukannya, mengelus rambut pemuda itu, Hyorin merasa begitu iba dengan Suaminya.


"Tidak Rin aku akan lanjutkan, agar semuanya jelas." Ayesh menatap Istrinya, dia ingin jika Hyorin percaya terhadapnya.


Ayesh kemudian menceritakan semuanya kepada Hyorin tanpa ada yang ia tutupi, sampai dengan bagaimana Ayesh bisa memperoleh video yang mereka putar pada malam reuni itu.


"Hatiku sangat sakit Rin, aku terluka!"


"Apakah itu sebabnya Mas bersikap sangat dingin terhadapku waktu itu?"


Ayesh mengangguk, "Iya Rin, karena Jovanka membuat penilainku kepada semua wanita itu sama, aku anggap mereka itu sama murahannya. Mereka akan bertekuk lutut kepada seorang pria oleh sebab harta yang dimiliki. Namun, ada seorang gadis mampu membuat hatiku yang sudah lama membeku menjadi sedikit menghangat, aku terus mencarinya selama Dua tahun tapi aku tidak pernah menemukannya, pada akhirnya aku menyadari jika ternyata itu kamu."


"Benarkah Mas mencariku?"


"Iya Rin, ketika aku ke Jerman aku selalu singgah di Apartemen yang kamu tempati tapi selalu saja kamu sedang tidak ada. Terakhir petugas Apartemen mengatakan bahwa kamu telah pindah dari sana,"


"Aku terlalu sibuk waktu itu Mas, jadi memang jarang sekali ada di Apartemen."


"Seandainya aku tahu kamu adalah Adik dari Kak Oshan, aku tidak perlu repot-repot untuk mencarimu begitu lama."


"Pantas saja ya Mas, waktu di Jerman rasanya aku tidak asing dengan wajah ini." Hyorin menelusuri wajah Ayesh dari atas ke bawah dengan jari telunjuknya.


"Aku juga pasti sudah lama datang kepada orangtuamu untuk memintamu menjadi Istriku,"


"Kepedean sekali kamu wahai tuan Pengacara, belum tentu juga kan aku akan menerimamu?" Hyorin terbahak.


"Aku tidak perduli bagaimanapun caranya, pasti aku akan mendapatkanmu!"


Hyorin mencubit hidung suaminya gemas.


"Rin sekarang kamu percaya padaku kan? Aku tidak pernah merusak Jovanka, dia yang telah merusak dirinya sendiri." Pandagan mata Ayesh berubah menjadi sangat serius.


"Jovanka pasti akan melakukan segala cara untuk memisahkan kita, jadi aku mohon jangan pernah percaya dengan kata-kata yang dia ucapkan," sambung Ayesh.


"Aku bertanya kepada hatimu Mas, apakah di dalam sana masih ada perasaan yang tertinggal untuknya?" Hyorin menunjuk bagian dada Ayesh.


"Bagaimana mungkin, dulu saja tidak apalagi sekarang. Bukankah itu sudah cukup jelas?" Ayesh balik bertanya kepada Hyorin.


"Iya Mas," jawab Hyorin singkat.


"Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah masih ada hal yang tertinggal dari dirimu untuknya?"


"Untuk siapa Mas?"


"Siapa lagi jika bukan Dokter yang mengejar-ngejarmu itu,"


"Ih...Mas nyebelin kenapa topiknya jadi aku?"


"Jawab saja, mudah bukan?!" Ayesh merangkum wajah Hyorin dengan kedua tangannya.


"Aku tidak mau jawab!" Hyorin bersedekap merasa kesal dengan pertanyaan Ayesh.


"Tinggal jawab saja apa susahnya sih Rin?"


"Kak Indra itu cinta pertamaku, kata orang akan sangat susah melupakan cinta pertama. Mas paham kan?!" Hyorin mengerling menggoda Suaminya.


"Baiklah aku akan mencari Jovanka sekarang, sebab dia juga cinta pertamaku!" Ayesh berdiri dari duduknya, mengikuti alur permainan Hyorin.


"Ok...silahkan saja dan jangan kaget ketika Mas kembali aku sudah tidak berada disini," ancam Hyorin.


Ayesh tetap pada pendiriannya, dia bergegas masuk ke kamar mengambil jaket dan keluar dari Apartemen.

__ADS_1


__ADS_2