Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 37


__ADS_3

Hari ini tepat Dua hari sebelum berakhirnya penugasan Hyorin beserta semua anggota tim lainnya. Lusa mereka akan dijemput kembali untuk bekerja seperti biasa di rumah sakit Mahardika.


Hyorin merasa cukup puas sebab selama hampir sebulan bertugas di Desa Z berangsur-angsur warga Desa menjadi lebih baik dibandingkan dengan saat pertama kali mereka datang kondisi warga sungguh memprihatinkan.


Lelah memang untuk semua hal yang harus dilakukan, namun banyak kenangan yang telah terpatri di hati. Setiap permulaan pasti akan ada akhirnya, tergantung bagaimana kita menggoreskan sejarah agar kita dapat mengambil makna dari semua kejadian yang kita alami.


Hyorin tampak sedang berkemas, merapikan semua barang bawaannya agar tidak ada yang tertinggal.


"Duh yang sebentar lagi mau pulang, semangat banget kayaknya nih masih Dua hari sudah berkemas aja," ledek Nita saat masuk ke kamar dan mendapati sahabatnya itu sudah mulai merapikan barang bawaannya.


"Kamu nggak rapi-rapi juga Nit?"


"Besok aja deh aku Rin, masih males ntar masih dibutuhin harus bongkar-bongkar lagi."


"Ya nggak gitu juga Nit, yang masih dibutuhkan biarkan di luar yang udah nggak dipakai dikemasin jadinya besok nggak keburu-buru, ntar malah repot sendiri loh Nit."


"Iya juga Rin, tapi kok aku masih males ya." Nita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Duh jan ada yang betah nih ceritanya,"


"Bukan betah Rin, tapi masih enggan berpisah sama kamu Rin."


"Di rumah sakit kan kita bisa sering ketemu Nit,"


"Tapi kalau disini lebih bebas Rin,"


"Tapi aku maunya pulang, udah kangen sama Suami soalnya." Hyorin malah tertawa sendiri dengan apa yang dia ucapkan.


"Yeee...tak kira nggak mau, ternyata malu-malu tapi mau kamu Rin," Nita ikut tertawa bersama Hyorin.


Sepanjang malam, mereka asyik mengobrol kesana kemari hingga tidak sadar jika sudah lewat tengah malam.


Keesokan paginya, Hyorin dikejutkan dengan suara-suara yang heboh dari luar. Hyorin mengintip dari balik jendela, ternyata banyak orang yang sedang berkumpul di luar sambil membawa ponsel mereka dengan wajah berseri-seri.


"Ponsel aku dapat sinyal disini," ucap seorang warga.


"Punyaku disini juga ada sinyalnya," ucap warga yang lainnya.


Mereka tampak begitu antusias, jika biasanya mereka harus pergi cukup jauh dari Desa Z untuk sekedar mencari sinyal, kini mereka dengan mudah mendapatkan sinyal tersebut.


"Rin coba cek ponsel kamu ada sinyalnya apa tidak? Punyaku dapat sinyal full Rin," ucap Nita begitu antusias.


Hyorin mengecek ponselnya dan benar saja banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk, sinyal di ponselnya juga tiba-tiba full padahal sejak tiba di Desa Z dia sudah tidak bisa menghubungi siapapun dengan ponselnya.


"Aku akan coba menghubungi Mas Ayesh dan mengabarkan kalau kita akan pulang besok Nit,"


"Duh jan yang udah rindu berat, begini ini nih udah nggak sabaran pengin cepet-cepet pulang."


Hyorin terus mengotak-atik ponselnya tanpa memperdulikan ledekan Nita, dia mencari id caller milik Ayesh. Sesaat sebelum Hyorin memencet tombol "Panggil" Ayesh sudah terlebih dahulu menghubunginya, dengan cekatan Hyorin menggeser tombol hijau ke atas.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Mas Ayesh,"


"Wa'alaikumsalam Rin...,"


"Akhirnya ada sinyal di Desa ini Mas, aku bisa menghubungi kamu dan mengabarkan besok aku akan pulang Mas tugasku sudah selesai."


"Benarkah itu Rin?" tanya Ayesh pura-pura tidak tahu.


"Iya Mas, beneran." Hyorin begitu merasa bahagia.


"Tapi Rin...,"


"Kenapa Mas?"


"Besok aku harus keluar Kota lagi Rin, maaf ya aku tidak bisa menjemput kamu."


"Apa tidak bisa ditunda dulu perginya Mas, tunggu sampai aku kembali?"


"Tidak bisa Rin, aku harus menemui seseorang yang spesial jadi tidak bisa ditunda lagi."


"Siapa Mas? Apakah ada orang lain selain aku Mas?"


"Kamu tidak perlu tahu Rin!"


"Kamu jahat Mas!"


Hyorin menutup sambungan telfonnya begitu saja rasa hatinya sungguh hancur, hari yang ia nantikan sejak sebulan yang lalu telah tiba, namun sepertinya akan berakhir dengan kelabu. Sedangkan Ayesh justru tersenyum smirk dari seberang telfon. Ayesh tahu istrinya sangat marah dan hal ini cenderung membuat hatinya sungguh puas.


"Saya mewakili seluruh masyarakat Desa Z mengucapkan banyak terimakasih kepada seluruh tim yang telah bekerja sangat keras tanpa kenal waktu, penghargaan setinggi-tingginya untuk profesionalisme yang luar biasa bagi kalian semuanya yang telah banyak membantu warga kami tanpa pamrih," ucap Kepala Desa Z ditengah-tengah sambutannya yang diikuti dengan tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang hadir.


"Tidak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada seseorang yang sangat dermawan yang telah menyumbangkan bantuan kepada warga kami dan sekaligus mempermudah akses komunikasi bagi Desa Z dengan membangun tower pemancar dari salah satu provider jaringan seluler sehingga pada hari ini kita dapat menikmati kemudahan sinyal untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara kita diluaran sana, beri tepuk tangan yang meriah untuk Saudara Ayesha Reynaldo Akbar yang tidak lain merupakan suami dari Dokter Hyorin." Sambung Kepala Desa Z yang membuat Hyorin membelalakan matanya kemudian mencari dimana keberadaan Suaminya.


Netra Hyorin menangkap sosok yang tampak begitu gagah sedang berjalan ditengah-tengah warga yang menyambutnya dengan antusias bak seorang Pahlawan, diiringi tepuk tangan yang meriah begitu Ayesh naik ke podium.


Jangan tanyakan bagaimana hati Indra saat ini, dia sangat tidak suka jika Ayesh begitu dikagumi masyarakat Desa Z, padahal baru seminggu terakhir ini dia hadir disini. Indra mengepalkan tangannya, amarah bergemuruh dihatinya yang berusaha ia tahan.


Dia terus menatap Ayesh yang sedang berada di atas podium bersama dengan Bapak Kepala Desa. Seluruh warga yang hadir sedang mengantri giliran untuk dapat bersalaman sekaligus mengucapkan terimakasih kepada Ayesh.


Hyorin menatap bangga Suaminya, seseorang yang sungguh sulit untuk ditebak, yang tadi siang baru saja memupuskan harapannya kemudian tiba-tiba muncul dihadapannya dengan penuh kejutan dan ternyata dia memiliki hati yang sangat baik.


Terimakasih Mas, kamu benar-benar pahlawan bagi semua warga disini dan lebih dari itu aku sekarang paham bagaimana perasaanku terhadapmu. Hyorin membatin.


Acara ditutup dengan beberapa penampilan dari pemuda pemudi Desa Z, ada yang menyumbangkan lagu, membaca puisi, menari bahkan pertunjukkan drama. Semua merasa bahagia malam itu.


Hyorin menarik lengan suaminya untuk menjauh dari kerumunan warga yang sedang menikmati pertunjukkan.


"Ada apa Rin, bukankah acara belum selesai?" tanya Ayesh setelah mereka sudah cukup menjauh dari kerumunan.


Hyorin memeluk erat suaminya, dia sungguh sudah tidak sabar menunggu esok hari untuk mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


"Terimakasih Mas, aku sangat bahagia bisa menjadi salah satu bagian dalam hidup kamu Mas," ucap Hyorin.


"Kamu yang telah membuat aku begini Rin, kamulah yang telah merubah hidupku." Ayesh mengelus rambut Hyorin lembut masih dalam posisi Hyorin memeluk Ayesh.


"Bagaimana mungkin Mas?"


"Sebab kamulah alasanku untuk aku berada disini saat ini, melihat kehidupan yang sesungguhnya. Membuat aku banyak bersyukur akan karunia Tuhan terhadapku."


"Mas aku sayang kamu," Hyorin semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku juga Rin, aku merindumu lebih dari apapun. Aku ingin segera pulang bersamamu, membawamu kembali, hidup lama-lama tanpa kamu sungguh membuatku tidak sanggup Rin."


Ayesh mencium tengkuk Hyorin, merasakan aroma vanilla yang masih tetap sama yang sudah sejak lama sungguh dia rindukan, perbuatan Ayesh membuat gadis itu menggeliat merasakan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.


"Mas jangan nakal, ingat tempat tunggu sampai kita kembali."


Hyorin melepaskan pelukannya kemudian berlari menuju teman-temannya.


Dasar gadis yang selalu membuatku merasa gila, ingin sekali aku memakanmu disini.


Ayesh menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, Dia menarik sudut bibirnya merasakan kebahagiannya tengah kembali.


Ayesh menyusul Hyorin yang sudah berbaur kembali dengan warga Desa dan juga teman-temannya untuk pamit kepada gadis itu dan Kepala Desa Z beserta seluruh warga.


"Mas Ayesh hati-hati di jalan ya,"


"Iya Rin, mimpi indah ya."


"Sampai jumpa besok ya Mas,"


Hyorin mencium punggung tangan suaminya kemudian melambaikan tangan mengiringi kepergian Suami tercintanya.


"Ayo Rin kita naik, ntar ketinggalan teman-teman yang lain. Jangan sedih gitu dong Rin besok juga ketemu lagi."


Nita melihat Hyorin yang tadinya sangat bahagia, berubah air mukanya menjadi agak murung.


"Aku tidak sedih kok Nit, ayo kita segera menyusul teman-teman."


"Rin asli Suami kamu keren abis, aku jadi ikutan bangga."


Hyorin menyenggol lengan Nita memberikan kode agar jangan membahas hal itu di depan Dokter Indra. Nita yang paham akan situasi yang ada akhirnya memilih untuk diam.


"Ayo Nit, Kak Indra kita pulang sekarang!" ajak Hyorin dengan menggandeng Pemuda itu dan juga Nita untuk segera naik ke mobil yang akan mengantar mereka.


Hati Indra terasa sedikit menghangat dengan perlakuan Hyorin terhadapnya, meskipun sebenarnya tujuan Hyorin agar tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.


Ayesh dan Doni kembali ke penginapan yang tidak jauh dari Desa Z, sedangkan Hyorin, Nita dan teman-teman yang lain kembali ke tempat persinggahan masing-masing bersiap untuk menyambut kepulangan mereka esok hari.


---------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Hai Kak jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya. 💕💕💕


Terimakasih ya Kak yang selalu setia dengan cerita Author. Author sayang kalian semua 😘😘😘


__ADS_2