Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 71


__ADS_3

Ayesh pada akhirnya ikut turun dari mobil merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada istrinya, mengingat jalan tidak selalu ramah pada penggunanya dan malam tidak selamanya penuh bintang sering kelam bahkan mengerikan.


Ayesh mencari keberadaan Hyorin kesana kemari, tempat itu penuh sesak dengan manusia. Ayesh celingukan tidak menemukan keberadaan istrinya yang sedang susah untuk diatur.


Dipojokkan Ayesh menemukan sosok yang beberapa menit lalu sempat membuat khawatir.


"Disini kamu rupanya gadis nakal?"


Hyorin masih diam, dia tidak suka Ayesh tidak memenuhi keinginannya tadi. Ayesh tetap berdiri karena memang sudah tidak ada tempat lagi untuknya duduk.


"Ini Nona pesanan Anda," seorang laki-laki menyodorkan plastik berisi pesanan Hyorin.


"Ini terimalah Mang, kembaliannya ambil saja."


Ayesh memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada orang yang mengantarkan pesanan istrinya tadi.


"Terimakasih Tuan, tapi ini terlalu banyak!"


"Tidak apa-apa Mang, ambillah!"


"Terimakasih Tuan, sering-seringlah mampir kemari!" si Mamang meninggalkan mereka untuk melayani pembeli yang lain.


Ayesh menautkan jemarinya ke jemari Hyorin dan menariknya pelan bermaksud mengajaknya untuk pulang.


"Ayo sayang, gantian yang lain. Kasian banyak yang antri."


Ayesh dan Hyorin keluar dari kerumunan menuju mobil.


Tiba-tiba perut Hyorin bergejolak hebat.


"Mas perutku!" Hyorin memegangi perutnya.


"Kamu kenapa sayang?" Ayesh memegangi kedua lengan Hyorin, membantunya agar tetap berdiri.


Hoek...hoek...


Hyorin memuntahkan isi perutnya di jas yang Ayesh kenakan. Ayesh tanpa memprotes langsung membawa Hyorin masuk ke dalam mobil.


Dia mengelap jasnya dengan tisu, seandainya yang melakukan itu bukan istrinya tentu saja dia akan marah besar, tapi yang melakukan adalah istrinya yang sedang hamil anaknya darah dagingnya, dia bisa menepiskan semua keegoisan dan kemarahan dalam dirinya.


Mengendalikan emosi memang tidaklah mudah tapi Ayesh harus mencobanya, memahami apa yang istrinya mau dan melingkupinya dengan kasih sayang penuh perhatian.


dia memandangi Hyorin dengan iba. Melihat Hyorin terduduk lemas dan pucat pasi, Ayesh sudah tidak memikirkan apapun selain ingin rasanya tetap membuat istrinya nyaman dan segera sampai di rumah.


Ayesh memberikan sebotol air mineral kepada Hyorin yang telah dia buka sealnya dan menyuruh Hyorin untuk minum.


Ayesh melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati sebab tidak mau jika istrinya merasa mual lagi, kini Hyorin sudah duduk anteng kondisinya sudah lebih baik sekarang.


Ayesh memapah Hyorin masuk ke dalam lift untuk menuju ke unit mereka, sebenarnya Ayesh ingin menggendong Hyorin namun gadis itu menolaknya karena malu jika dilihat orang. Ayesh akhirnya mengalah dari pada terjadi perdebatan.


"Kamu baringan dulu ya, Mas mau mandi sebentar,"


Hyorin mengangguk dan memejamkan mata setelahnya mencoba menekan agar mual itu tidak datang lagi.


"Rin kamu mandi dulu sana, air hangatnya sudah aku siapkan." ucap Ayesh begitu keluar dari kamar mandi, aroma sabun dan shampo yang baru Ayesh gunakan menguar ke hidung Hyorin memberikan sensasi yang sangat segar.


Hyorin melesat ke kamar mandi, berendam sebentar untuk merilekskan otot-ototnya yang kaku.

__ADS_1


Ayesh pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang tadi Hyorin beli, menaruhnya ke dalam piring, menyeduh kopi hitam dengan sedikit gula kesukaannya kemudian tidak lupa membuatkan susu untuk Hyorin.


Rutinitas yang tidak akan Ayesh lupa sepanjang hidupnya, sebab saat-saat seperti ini kasih sayang seorang suami harus benar-benar full untuk istri yang sedang hamil, naik turunnya mood istri terkadang dipengaruhi oleh perhatian suami.


Disaat seperti ini tidak boleh seorang suami mengabaikan istrinya agar sang istri tetap merasa nyaman dan tidak merasa ditinggalkan.


Dukungan demi dukungan harus terus diberikan agar sang calon ibu tetap bahagia tidak boleh stres sebab jika stres dapat mempengaruhi tumbuh kembang si janin di dalam perut ibunya.


Ayesh kembali ke kamar dengan membawa napan berisi penuh makanan. Ketika Ayesh hendak masuk, dia melihat Hyorin yang sedang celingukan dibalik pintu kamar mandi. Ayesh mengurungkan niatnya untuk masuk dan memperhatikan gerak-gerik istrinya itu.


Hyorin menyelesaikan ritual berendamnya karena dirasa sudah cukup, dia membilas kembali tubuhnya dan hendak keluar. Namun, dia lupa tidak membawa serta handuknya ke dalam kamar mandi.


"Kenapa bisa seceroboh ini, aku tidak mungkin keluar dengan kondisi begini." Pikir Hyorin.


Terlalu lama berendam membuat kulitnya sedikit mengkerut, hawa dingin mulai melingkupi sekujur tubuhnya. Hyorin berusaha memanggil Ayesh tapi tidak ada sahutan dari suaminya itu.


"Aduh bagaimana ini, Mas Ayesh sepertinya tidak ada di kamar," Hyorin bermonolog.


Hyorin mengintip dari balik pintu, memang tidak ada suaminya di dalam kamar. Secepat kilat Hyorin keluar setelah dirasa aman.


Menyambar handuk yang ada di gantungan. Pandangan matanya terlihat sangat waspada, takut jika ada yang melihat aksinya itu. Ayesh tersenyum geli melihat istrinya yang menggemaskan, padahal dia sudah melihat semuanya tapi begitulah Hyorin masih merasa malu terhadap dirinya.


Ayesh sengaja mengagetkan Hyorin dengan mendorong pintu menggunakan lengan kanan bagian atas karena kedua tangannya membawa nampan.


Hyorin yang menyadari kehadiran Ayesh kemudian masuk kembali ke dalam kamar mandi. Entah sudah seperti apa wajahnya kali ini, terasa panas karena sangat malu.


Sedangkan Ayesh tertawa penuh kemenangan dengan menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh istrinya.


Ayesh duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya seolah tidak melihat apapun ketika Hyorin keluar dari kamar mandi, Ayesh tidak mau jika Hyorin tahu kalau dirinya mengetahui semua kejadian tadi.


Hyorin tampak ragu untuk mendekat, jantungnya sedang tidak beraturan saat ini.


"Sini cepat, kasihan yang diperut belum makan sama sekali. Apalagi setelah semuanya dikeluarkan, kamu pasti lapar."


Hyorin mendekat ke arah Ayesh, "M-mas tidak melihat apapun kan tadi?"


"Melihat apa sayang? Bukankah itu tak masalah jika aku melihatnya, aku juga sudah sering melihatnya!" jawab Ayesh seolah tanpa dosa.


"Makan dulu sekarang, tidak usah dipikirkan lagi ya. Lagian di rumah ini tidak ada orang lain selain kita berdua."


Hyorin menatap sebal ke arah Ayesh, dia yakin Ayesh melihat semua kelakuannya tadi.


Duh...malu banget, kepergok tanpa sehelai benangpun. Meskipun Ayesh sudah melihat semuanya saat dia mendatanginya, namun sebagai seorang perempuan timur rasa malu itu tetaplah mendarah daging.


****


Di tempat lain, Doni baru keluar dari sebuah restoran untuk makan malam. Dia bersama Jesika yang tadi ia jemput di kantornya.


Mereka nampak akrab setelah mencoba untuk berteman, tidak seperti di Kampus dulu. Meskipun satu kelas mereka hanya mengenal sambil lalu saja.


"Terimakasin ya Don untuk traktirannya,"


"Tidak perlu berterimakasih Jes, gue seneng kok bisa makan malam bareng loe,"


"Idih modus," seloroh Jesika.


"Bukan modus Jes, tapi usaha!" Doni tertawa.

__ADS_1


Deg...


Jesika merasa ada sesuatu di dalam dadanya, terasa bergemuruh ketika mendengar ucapan Doni tadi. Kemudian berusaha menepisnya karena paham Doni memang suka sengklek, kalau ngomong asal keluar. Hanya saja Doni adalah orang yang mampu menempatkan diri dengan sangat baik, dia tahu kapan harus serius dan kapan harus mencairkan suasana.


"Hey...Jes kok melamun? Ngelamunin cowok kaya gue ya?"


"Uluh...kepedan kali kau Bang?" Jesika tak kalah tengil menanggapi Doni.


Mereka bercanda sambil berjalan ke parkiran, tidak sengaja Jesika menabrak seseorang.


"Ma-maafkan aku tidak sengaja menabrak Anda," Jesika membungkukkan badan sambil meminta maaf atas kesalahannya.


"Jes...Jesika kan?" ucap laki-laki yang tadi bertabrakan dengan Jesika.


Jesika mendongak, betapa terkejutnya dia ketika melihat wajah Miko ada dihadapannya.


"Mi-Miko...?!


"Iya Jes ini aku," Miko merentangkan kedua tangannya agar Jesika memeluknya yang pada akhirnya ditepis oleh Jesika. Merasa tidak enak karena ada Doni yang sedang mengamati interaksi keduanya.


"Mereka sangat akrab, apakah ini pertanda jika akan ada kejadian serupa setelah Nita yang kini memilih bersama Hyoshan dibandingkan dengan aku?" batin Doni.


Tiba-tiba baju yang Doni kenakan terasa sesak. Ada gemuruh dalam jiwa, ketika mereka berdua saling melempar tawa.


"Jes kenapa aku nggak dikenalin sama itu tuh?" Mika menunjuk ke arah Doni.


"Eh iya sampai lupa, kenalkan ini Doni teman aku Mik,"


Doni merasa jika Jesika biasa saja terhadap dirinya, terbukti dengan dia mengenalkan Doni kepada Miko dengan santai dan menyebutnya sebagai teman.


Padahal Doni berharap dikenalkan dengan status lebih dari seorang teman. Saat ini luka dihati Doni belumlah kering total, tapi karena kepandaian Doni menyembunyikan hal itu jadi tidak ada yang tahu jika dirinya sedang patah hati kecuali Ayesh yang setiap hari bersama dengan dirinya.


Miko mengulungkan tangannya untuk menjabat tangan Doni, namun saat ini entah dimana Doni sebenarnya berada. Sehingga ulungan tangan Miko tidak kunjung mendapatkan balasan.


Doni tersadar dan kembali lagi ke dunia nyata ketika Jesika mengguncang pundaknya.


"Don loe nggak pa-pa kan?"


"Em...gue...gue...nggak pa-pa kok Jes,"


Doni yang melihat perkenalan tulus dari Miko segera menyambut tangan Miko dan meminta maaf karena tadi sudah mengabaikannya.


"Tidak apa-apa, aku permisi ya Jes. Kalian hati-hati pulangnya ya."


"Jangan melukai banyak wanita, ingat itu Mik!"


Miko hanya menoleh sejenak kemudian melanjutkan jalannya.


"Jes itu tadi Miko teman loe?" Doni memberanikan diri untuk bertanya ketika mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Iya Don, dia teman gue. Tuh anak banyak menderita karena beban hidup yang harus ditanggungnya. Semoga kelak dia bisa kembali ke jalan yang lebih baik,"


"Maksud kamu Jes?" Doni tidak paham dengan perkataan Jesika.


"Dia yang malam itu bersama Jovanka!"


Ciiitttttt....

__ADS_1


__ADS_2