
Tangan Ayesh menjabat tangan Ayah Hyorin untuk mengucapkan janji suci pernikahan, Hyorin yang duduk di samping Ayesh merasa sangat gelisah dengan hati berdebar tidak menentu.
Dia teringat akan Indra yang tengah menantikan jawaban darinya. Dia juga teringat ibunya yang telah tiada.
Hyorin mulai menitikkan air mata haru ketika pemuda di sebelahnya mengucapkan kalimat sakral dengan lantang dalam satu tarikan nafas.
Seketika seluruh isi ruangan mengucapkan kata "sah" secara bersamaan. Hyorin kini sah menjadi istri Ayesh.
Ayah Hyorin menyuruh putrinya untuk mencium tangan menantunya dengan takzim yang dibalas dengan kecupan sayang di kening Hyorin. Seluruh yang hadir di ruangan itu bertepuk tangan meriah, kecuali Silvia yang sangat membenci Hyorin.
Ayesh menyematkan cincin di jari manis Hyorin, kemudian menandatangani seluruh administrasi untuk buku nikah mereka berdua. Tidak terkecuali para saksi dari kedua mempelai.
Acara yang memang hanya dihadiri oleh keluarga dekat kedua mempelai ditutup dengan sesi foto bersama. Seluruh rangkaian acara akhirnya rampung sudah, masing-masing hendak kembali ke rumah mereka.
"Ayesh bawa Orin pulang ke rumah ya," pinta Ayah Ayesh.
"Kami akan tinggal di tempat kami sendiri untuk sementara waktu Yah," tolak Ayesh.
"Jaga Putriku dengan baik ya Yesh," Ayah Hyorin berkata sambil memeluk Ayesh yang baru saja menjadi menantunya.
"Iya Om...eh maksudnya Ayah...tidak usah khawatir," jawab Ayesh masih merasa kikuk.
"Gue titip Adik gue ya Yesh," Hyoshan memeluk Ayesh setelah Ayahnya.
"Siap Kakak Ipar," Ayesh tertawa bahagia bersama Hyoshan.
"Kamu jangan nakal ya Rin," Hyoshan berkata sambil menoel hidung mancung Adiknya gemas.
Hyorin hanya mengangguk karena masih merasa malu.
"Ayah pulang ya Rin, jaga dirimu baik-baik,"
"Iya Ayah, terimakasih. Ayah juga harus menjaga kesehatan. Aku pasti akan pulang karena barang-barangku masih tertinggal disana,"
"Rumah Ayah selalu terbuka untumu Nak."
Hyorin dan Ayahnya saling berpelukan, seketika suasana berubah menjadi sangat mengharukan. Hyorin mengurai pelukan Ayahnya dan menyeka air mata yang mengalir di pipi Ayah tercintanya.
Mereka akhirnya pulang ke kediaman masing-masing dengan perasaan yang diliputi kebahagiaan.
****
Hyorin dan Ayesh pulang ke Apartemen dengan diantar oleh Doni.
"Gue pulang dulu ya takut ganggu," Doni mengerlingkan matanya menggoda Ayesh.
"Jangan mikir macam-macam deh loe, sana cari jodoh jadi pikirannya nggak traveling kemana-mana!"
"Siap Kakak." Ucap Doni sambil berlalu meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
"Ayo kita ke atas Rin," ajak Ayesh kepada Hyorin yang akhirnya mengekori Ayesh dari belakang.
"Kamu mandi duluan sana Rin, nanti gantian." Perintah Ayesh begitu mereka masuk ke dalam Apartemen.
"Mas aku tidak bawa baju ganti,"
"Kamu tenanglah sudah ada baju ganti untukmu di dalam lemari. Besok kita ke rumah Ayah buat ambil barang-barang kamu disana."
Hyorin mengangguk kemudian masuk ke kamar untuk selanjutnya mandi sebab tubuhnya yang memang sudah terasa lengket dan penat.
"Mas sana gantian aku udah,"
__ADS_1
"Baiklah," jawab Ayesh.
Ayesh bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar. Sedangkan Hyorin menuju dapur untuk memasak sebab dari pagi memang dia dan Ayesh tidak sempat makan apapun.
"Mas ayo makan, aku sudah masak." Hyorin memanggil Ayesh yang sedang rebahan di dalam kamar sambil memainkan ponselnya.
Ayesh beranjak menuruni ranjang dan menuju ke meja makan.
"Ini minum kopinya dulu Mas, setelah itu Mas makan. Aku tidak melihat Mas makan apapun dari pagi," Hyorin mengambilkan nasi lengkap dengan lauk dan sayur untuk Ayesh.
"Segini cukup Mas?" tanya Hyorin.
"Iya cukup, terimakasih Rin,"
Hyorin kemudian menaruh nasi ke dalam piringnya sendiri.
Mereka makan dalam diam, hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Selesai membereskan semuanya, Hyorin menyusul Ayesh yang sedang duduk menonton televisi.
"Mas boleh aku bertanya sesuatu?"
Hyorin memberanikan diri untuk bertanya setelah dia menyusul Ayesh duduk.
"Hemmmmm,"
"Mas kenapa kamu merencanakan semua ini tanpa memberitahuku?"
"Aku tidak mau kamu menolak, jadi harus dengan cara ini," Ayesh menatap Hyorin tajam.
"Aku hanya ingin melindungimu, kejadian kemarin sudah cukup membuatku paham kalau kamu tidak bahagia di rumah itu," sambung Ayesh.
"Tapi Mas...Silvia?"
"Mas aku...,"
"Kamu belum mencintaiku kan? Sebab cintamu hanya untuk Dokter Indra, kamu boleh saja tetap seperti itu. Aku tidak akan memaksa sampai kamu benar-benar siap untuk menerimaku."
"Maafkan aku Mas," Hyorin menunduk sambil memegang wajahnya.
"Katakan kepadaku kapanpun ketika kamu sudah benar-benar siap!"
Ayesh beranjak dari tempat duduknya dan berlalu memasuki kamarnya.
Hyorin merasa bingung harus berbuat apa, dia akui cintanya masih tetap sama untuk Indra, sedangkan kini dia sudah berstatus sebagai istri sah Ayesh. Hyorin tidak ingin melukai suaminya, tapi dia juga tidak bisa membohongi hatinya.
Ayesh keluar dari kamarnya, mengecek keberadaan Hyorin yang tak kunjung masuk ke kamar untuk beristirahat. Ayesh melihat Hyorin yang tertidur di sofa dengan posisi kaki ditekuk tanpa mengenakan selimut.
Ayesh mengiba melihat kondisi Hyorin yang mungkin masih belum menerima kenyataan yang bertubi harus dia hadapi, Ayesh mungkin egois namun semua itu demi kebaikan Hyorin sendiri.
Ayesh membopong tubuh Hyorin dan membawanya masuk ke kamar. Dia meletakkan tubuh gadis itu di atas kasur, menyelimuti tubuhnya dan menutup pintu pembatas antara tempat tidurnya dan tempat tidur Hyorin yang terbuat dari kaca tidak lupa menutup gorden pintu kaca tersebut.
Kamar Ayesh dilengkapi dengan ruang khusus yang biasanya dia gunakan untuk menyimpan barang-barang miliknya, ruang khusus itu kini bisa digunakan oleh Hyorin selama masa penyesuaian diri, selain itu Ayesh tidak ingin membuat orang yang melihatnya curiga sebab pasangan yang sudah menikah tidak seharusnya tidur terpisah dan tetap bisa membuat Hyorin nyaman berada disisinya tanpa terlalu jauh mengganggu privasi seorang gadis sehingga ruang khusus itu merupakan solusi yang cukup tepat saat ini.
****
Keesokan paginya Hyorin terbangun dari tidurnya dan merasa kaget mendapati dirinya ada di atas sebuah kasur, padahal dia ingat betul semalam dia tidur di sofa ruang depan.
Dia mencari-cari keberadaan Ayesh di sekeliling, pemuda itu tidak ada di ruangan itu.
Hati Hyorin lega dibuatnya, paling tidak dia malam ini tidak tidur bersama Ayesh yang saat ini sudah berstatus sebagai suaminya. Hyorin melihat ruang yang dia tempati berbeda sekali dengan kamar Ayesh yang dia ketahui.
__ADS_1
Tidak mau ambil pusing dengan semua itu, dia bergegas turun dari tempat tidur kemudian membuka tirai yang ternyata adalah sebuah pintu keluar. Hyorin melihat Ayesh yang masih tertidur dengan pulasnya.
Hyorin mengambil air wudlu dan hendak menunaikan dua rakaat sholat subuhnya.
Ketika Hyorin sedang mengenakan mukena terdengar suara Ayesh yang baru membuka matanya.
"Kenapa kamu tidak bangunkan aku Rin?" tanya Ayesh dengan suara serak khas bangun tidur sambil menggercap-nggercapkan matanya.
"Aku tidak mau mengganggu tidur kamu Mas,"
"Tunggu aku ya, kita sholat subuh berjamaah."
Ayesh bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, Hyorin dengan patuh menunggu Ayesh.
Mereka menunaikan dua rakaat di pagi hari secara berjamah.
Hyorin melipat mukena dan meletakannya di atas nakas, gadis itu hendak keluar dari kamar. Tiba-tiba Ayesh mencium pipi Hyorin dari arah samping.
"Morning kiss," Ayesh menarik sudut bibirnya merasa geli sendiri dengan kelakuannya barusan.
Hyorin yang merasa malu, wajahnya nampak bersemu. Dia melarikan diri dari kamar dengan jantung yang berdegup kencang.
"Kamu tidak ke kantor hari ini Mas?" tanya Hyorin sambil meletakkan kopi untuk suaminya.
"Aku mau di rumah dulu, kamu juga tidak ke rumah sakit hari ini kan?"
"Tidak Mas, aku mau ambil barangku di rumah Ayah nanti siang,"
"Aku temenin ya,"
"Tidak usah nanti merepotkan kamu Mas."
"Kamu itu istriku, tidak ada kata merepotkan bagi seorang suami untuk istrinya."
"Mas bagaimana dengan kontrak kerja kita, apakah batal pada akhirnya?"
"Siapa bilang Rin, kita bahas nanti saja soal itu ya. Kamu jangan khawatir aku bertanggungjawab penuh terhadapmu, semua keperluan kamu aku yang tanggung." Ayesh berkata dengan lantang dan mantap.
"Terimakasih Mas, kita sarapan dulu yuk? Aku sudah masak tadi," ajak Hyorin.
Ayesh mengacak rambut Hyorin kemudian menuju meja makan untuk sarapan bersama.
Ayesh mengeluarkan sesuatu dari dalam saku begitu mereka selesai menyantap sarapan paginya.
"Rin ini untukmu, simpanlah kamu bisa gunakan kapanpun kamu membutuhkannya," Ayesh menyerahkan sebuah kartu tanpa batas kepada Hyorin.
"Setiap bulan akan aku transfer untuk semua kebutuhanmu," sambung Ayesh.
"Tapi Mas, aku belum membutuhkannya. Aku punya uang sendiri dari hasil aku bekerja, bahkan gajiku sebagai Dokter Pribadimu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku Mas, belum lagi gajiku dari rumah sakit Ayah."
"Hasil bekerjamu itu uangmu, aku suamimu dan akan tetap memberikan hakmu sebagai seorang istri."
Hyorin tampak berpikir cukup keras dengan sikap Ayesh yang begitu baik, bahkan sebelum Hyorin mampu menjadi seorang istri seutuhnya bagi Ayesh.
Pemuda itu tetap memperlakukannya dengan sangat baik tanpa menuntut haknya sebagai seorang suami yang sah secara egois dan memaksa. Ayesh sangat memahami kondisi Hyorin saat ini, dibalik sikap datarnya ada kelembutan yang tersimpan untuk Hyorin.
"Simpanlah Rin, aku akan marah jika kamu menolaknya," Ayesh terus memaksa Hyorin agar mau menerima pemberiannya tanpa ragu.
Setelah perdebatan alot yang cukup panjang akhirnya kedua belah pihak saling menerima, mereka kembali bersantai sejenak di ruang depan kemudian bersiap-siap untuk pergi mengambil barang-barang Hyorin yang masih tertinggal di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak 💕💕💕💕