
Doni mengajak Nita menuju ke meja dimana Ayesh dan Hyorin sedang duduk dengan santainya tanpa dosa telah menganggu makan malam mereka berdua.
Senyum terkembang di bibir Hyorin saat melihat Nita mendekat ke arahnya, Nita pun sama seperti Hyorin sangat bahagia ketika bertemu dengan sahabatnya tanpa terduga, berbeda dengan Doni yang cemberut kepada Ayesh.
"Nita aku kangen sekali sama kamu," Hyorin bercipika cipiki dengan Nita.
Kemudian Nita dan Doni duduk di kursi yang kosong di sebelah Hyorin dan Ayesh.
"Kamu apa kabar Rin?"
"Aku baik Nit tinggal kakiku yang belum sembuh," Hyorin menunjuk kakinya yang masih diperban.
"Maafkan aku yang belum sempat menjengukmu Rin,"
"Tidak apa-apa Nit, eh...kalian sudah semakin berkembang saja ya?" tanya Hyorin sambil menyenggol siku Nita.
Nita hanya tersenyum, nampak ada segurat kesedihan dari binar matanya. Hyorin sangat paham dengan sikap sahabatnya itu yang masih berharap dengan Kakaknya, namun selama ini Hyoshan masih diam.
"Yesh loe ini benar-benar ya, gangguin orang saja!"
"Gue nggak sengaja lihat loe disini Don, gatel tangan sama otak gue kalau nggak ngerjain loe." Ayesh terbahak mengejek Doni.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka berempat keluar dari Restoran dan berpisah untuk menaiki mobil masing-masing. Ayesh pulang bersama Hyorin ke Apartemen, sedangkan Doni mengantarkan Nita pulang ke rumahnya.
Di dalam perjalanan Nita hanya diam, Doni merasa bingung dengan perubahan sikap Nita. Padahal tadinya dia sangat ceria.
"Dek Nita kok diam saja? Apakah ada yang dipikirkan?"
"Tidak Kak, aku tidak memikirkan apapun."
"Boleh aku bertanya kepadamu Dek?"
Nita mengangguk, "Boleh Kak,"
"Apakah kamu sudah punya pacar?"
Deg...jantung Nita seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan Doni.
"A-aku belum punya Kak," jawab Nita gugup dengan pertanyaan Doni yang tiba-tiba.
"Bagus kalau begitu,"
"Apanya yang bagus Kak?"
"Tidak apa-apa Dek," Doni mengacak rambut Nita pelan, melihat gadis itu dengan perasaan gemas.
Doni merasa puas dengan jawaban Nita tadi, dengan begitu dia lebih leluasa untuk mendekati Nita tanpa hambatan.
Di dalam mobil Hyorin juga hanya terdiam, sepertinya dia teringat kembali dengan perlakuan keluarga sambungnya, padahal Hyorin ketika bersama Nita di dalam Restoran bisa tertawa lepas seolah tidak ada beban di dalam hatinya.
Ayesh merasa jika Nita memang sahabat baik Hyorin yang dulu selalu menemaninya di saat suka maupun duka sehingga tidak heran mereka memiliki ikatan Satu sama lain.
Ayesh dan Hyorin memasuki Apartemen mereka, setelah ritual bersih-bersih selesai mereka naik ke ranjang untuk beristirahat.
"Rin...sudah tidur?"
"Belum Mas, ada apa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan, boleh?"
"Apa Mas?"
"Apakah kau merasa sakit hati?"
"Iya," jawab Hyorin mantap.
"Untuk seorang Indra?"
"Bukan...!" jawab Hyorin lagi.
__ADS_1
"Lalu?"
"Untuk perlakuan mereka terhadapku, terkait Kak Indra dia hanyalah seonggok sampah yang sudah sepantasnya dibuang!"
"Baiklah, mantapkan hatimu dan jangan lagi bersedih. Aku tahu kamu seorang gadis yang tangguh."
"Mas aku mengkhawatirkan Kak Oshan, apakah di Perusahaan dia akan baik-baik saja?"
"Temui dia dan tanyakan kondisinya, sekarang istirahatlah kamu harus segera sembuh agar mereka tahu bahwa Nyonya Ayesh bukanlah orang yang lemah, aku akan selalu mendukungmu."
"Terimakasih Mas, aku mencintaimu!" Hyorin masuk ke dalam pelukan Suaminya, menenggelamkan dirinya di dada Ayesh mencari kenyamanan disana.
"Benarkah? Baru kali ini aku mendengar kata-kata itu keluar dari bibir mungilmu ini, sungguh kata-kata yang sudah lama aku nantikan," Ayesh tersenyum simpul.
Hyorin mengangguk dan perlahan mata indahnya mulai mengatup, membawa pemiliknya berlayar ke tepian mimpi.
"Ibu...Ibu...jangan tinggalkan kami Bu, aku dan Kak Oshan sangat membutuhkan Ibu ada disini, jangan pergi Bu...," Hyorin menangis dengan mata yang masih terpejam, tangannya terangkat seolah sedang menghentikan seseorang agar jangan pergi darinya.
Ayesh terbangun karena mendengar Hyorin memanggil-manggil Ibunya sambil menangis.
Ayesh membangunkan Hyorin dan menyuruhnya meminum air putih yang ada di atas nakas supaya lebih tenang.
Hyorin mengatur nafasnya, perlahan dia mulai bisa lebih tenang dengan posisi masih terduduk dan bersandar di senderan ranjang.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?"
Hyorin mengangguk.
"Tidak apa-apa sayang, itu hanya sebuah mimpi kamu tenanglah ada aku disini."
Ayesh melihat jam dinding, "Baru jam Tiga pagi." Pikirnya.
"Sayang ayo kita ambil wudlu kita Sholat Malam bersama supaya hatimu lebih tenang." Perintah Ayesh kepada Hyorin.
"Baiklah Mas, aku duluan yang ambil wudlu ya."
Ayesh dan Hyorin menjalankan ibadah mereka dengan sangat khusyuk, selesai sholat Hyorin terus mendo'akan Ibunya dan meminta kekuatan kepada Dzat yang Maha Hidup untuk selalu melindungi keluarganya dari mara bahaya.
Ayesh mendekati Istrinya, "Sudah lebih baik sekarang sayang?"
"Sudah Mas, rasanya bebanku jauh lebih ringan. Biarkan jalan takdir yang menentukan, paling penting kita jalani saja dengan baik."
"Ini baru Nyonya Ayesh,"
Keesokan paginya mereka menjalani aktivitas seperti biasa, untuk Hyorin dia tetap tinggal di rumah karena belum bisa berjalan dengan normal.
"Aku berangkat ya, Doni sudah di bawah. Baik-baik di rumah, jangan izinkan sembarang orang masuk. Jika ada apa-apa segera hubungi aku ya!"
"Iya Mas, tenang saja aku pasti akan mengingat pesan darimu."
Ayesh meninggalkan Hyorin, seketika dia teringat dengan Kakaknya tapi tidak mungkin jika harus menemui Kakaknya sekarang. Hyorin memutuskan untuk menelfon Hyoshan.
"Hallo Kak Oshan," ucap Hyorin begitu telfon tersambung.
"Hallo Adikku sayang, masih ingat pada Kakakmu rupanya." Hyoshan menggoda Adiknya.
"Isshhh...tentu saja ingat, Kakak dimana sekarang?"
"Aku di kantor Rin, ada apa?"
"Aku ingin bertemu Kakak,"
"Tumben ada apa?"
"Nanti aku ceritakan ketika bertemu,"
"Baiklah nanti malam aku akan berkunjung,"
"Iya Kak, aku tunggu ya Kak."
__ADS_1
Sambungan telfon pun terputus, Hyorin merasa bosan seharian tanpa aktivitas berarti. Dia memutuskan untuk merajut jaket couple untuk dirinya dan Ayesh.
Hyorin dulu pernah belajar merajut dari Ibunya, meskipun belum terlalu mahir tapi paling tidak Hyorin bisa membuat rajutan yang tidak begitu buruk.
****
Di rumah Ayah Hyorin pagi-pagi sudah terjadi keributan. Ayah Hyorin memergoki Indra yang tidur sekamar dengan Silvia.
Pagi-pagi sekali Pak Mahardika sudah sampai dari perjalanan bisnisnya di Luar Kota. Dia sudah curiga ketika melihat ada mobil asing yang terparkir di halaman rumahnya.
Pak Mahardika masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu dia bawa tanpa diketahui oleh siapapun, sebab kepulangannya kali ini tidak memberitahu kepada Mirna terlebih dahulu.
Sesuai jadwal seharusnya Pak Mahardika baru pulang sore hari nanti, namun pekerjaannya selesai lebih cepat sehingga memutuskan untuk menempuh perjalanan malam.
Tubuh yang penat setelah perjalanan jauh membawanya untuk langsung menuju ke kamar.
Ketika Pak Mahardika melintas di depan kamar Silvia, terdengar ada suara Laki-laki di dalam kamar.
Merasa geram dengan tingkah Silvia, Ayah Hyorin ingin membuktikan sendiri jika dugaannya benar. Kebetulan pintu kamar Silvia tidak di kunci.
Braaaakkkkkk..., suara pintu kamar Silvia dibuka dengan sangat keras.
Indra terperanjat melihat Ayah Hyorin ada di ambang pintu kamar Silvia.
Silvia belum bangun saat pintu kamarnya terbuka, kemudian Indra membangunkannya.
Silvia membuka matanya dengan perlahan dan langsung terlihat pucat pasi dengan kondisi nyawa yang sepertinya belum sepenuhnya terkumpul.
Pak Mahardika mendekati mereka berdua yang tidak menggunakan sehelai benangpun dengan tatapan yang sangat dingin, mereka hanya menutupi tubuh mereka yang polos dengan selimut.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku?!!"
"A-ayah...," Silvia terlihat gugup.
"Kau siapa berani-beraninya berbuat seperti ini di rumah saya?!!" tatapan Ayah Hyorin mengintimidasi Indra.
"Sa-saya Indra Om, maafkan saya Om. Saya pasti akan bertanggungjawab." Jawab Indra tak kalah gugupnya dengan Silvia.
"Kalian berdua memang anak-anak yang sangat bejat, tidak memiliki aturan."
Mirna datang ketika mendengar keributan yang terjadi.
"Ada apa ini kenapa pagi-pagi sudah bising sekali rumah ini?"
Mirna melihat Suaminya berdiri ditepi ranjang Silvia, "Ma-mas Mahardika kapan kamu sampai?"
"Apa yang kamu ajarkan kepada anak gadismu sehingga dia berbuat seperti ini, apa kamu tidak mengajarinya akhlak yang baik sebagai seorang perempuan?" Ayah Hyorin memarahi Istrinya.
"Silvia, kau ini kenapa membuat malu sih?"
"Mama...tolong aku," rengek Silvia kepada Mamanya.
Mirna mendekati Suaminya, "Mas namanya juga anak-anak wajar kalau mereka berbuat salah bukan?"
"Kamu pikir ini hal sepele Mirna? Dia bisa saja mencoreng nama baik keluarga kita dengan kelakuannya."
"Tolong maafkan mereka berdua," Mirna memegang lengan Suaminya, memohon ampun untuk Silvia.
Pak Mahardika memijat keningnya sendiri, kepalanya terasa sangat pening. Lelah dan penat ditambah emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
Pak Mahardika menghempaskan tangan Istrinya, "Kau selalu saja ingin melindunginya, sekalipun dia berbuat kesalahan yang fatal seperti ini, pantas saja dia tidak memiliki aturan!"
"Kau Indra, hubungi orang tuamu minta mereka untuk datang kesini sekarang juga!" perintah Ayah Hyorin.
"Ba-baik Om," Indra pun memilih patuh.
Pak Mahardika keluar dari kamar Silvia menuju kamarnya sendiri yang diikuti oleh Istrinya.
---------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Terus dukung Author ya Kak, jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya agar jangan sampai ketinggalan cerita selanjutnya. ❤️❤️❤️
Happy reading ya Kak, terimakasih untuk yang selalu mendukung Author. 😘😘😘