
Keesokan paginya pasangan pengantin baru itu kembali ke rumah Nita untuk mengambil barang-barang Nita disana, Nita akan tinggal di kediaman keluarga Mahardika yang memang hak kepemilikannya sudah beralih ke Hyoshan.
Nita berjalan dengan sangat hati-hati ada bagian yang masih terasa ngilu akibat pertempuran panas semalam.
Sementara mereka sedang bersibuk, ada pasangan pengantin lama yang masih tetap romantis meski banyak badai yang telah mereka lalui bersama.
Hyorin kembali pada aktivitas paginya, membuatkan sarapan untuk Ayesh dan aktivitas lainnya. Hari ini keduanya belum memutuskan untuk kembali bekerja, mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama setelah berpisah sekian minggu.
Ayesh masih merasa sangat lelah, bahkan dia ingin menemui Ayahnya nanti malam saja sekalian menjenguk orangtuanya di kediaman keluarga Akbar.
"Mas kenapa Tante Mirna dan Silvia harus berurusan dengan polisi kemarin?" tanya Hyorin disela-sela sarapan mereka.
"Karena mereka melakukan kesalahan yang fatal,"
"Maksudnya Mas?"
"Mereka terlibat dalam....," Ayesh menghentikan ucapannya merasa sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya khawatir Hyorin akan merasa sedih.
"Mereka terlibat apa Mas?" tanya Hyorin penasaran.
"Nanti malam saja aku ceritakan di rumah Ayah, sekarang habiskan sarapanmu dan kita akan segera pergi berbelanja!"
Hyorin berpikir sejenak, memang benar stok bahan makanan dan juga kebutuhan lainnya sudah menipis. Ditinggal cukup lama membuat dia lupa hanya untuk sekedar berbelanja, untung saja Ayesh selalu mengingatkan Hyorin sehingga dia tidak kerepotan sendiri.
Ayesh juga seorang laki-laki yang mau membantu istrinya dan tidak suka berpangku tangan ketika istrinya sedang repot untuk urusan rumah.
Mereka akan turun tangan bersama untuk membereskan semuanya, sehingga mereka memang belum terpikirkan untuk meminta bantuan orang lain untuk urusan yang satu ini. Entah jika nantinya mereka pindah ke rumah yang sedang Ayesh bangun.
"Aku akan siap-siap dulu ya Mas,"
"Iya sayang, aku akan bereskan ini sambil menunggumu dengan setia," Ayesh menunjuk meja makan dan bergegas membereskannya.
"Asal bukan setiap tikungan ada," jawab Hyorin sambil mencibir.
"Lho bukankah disetiap tikungan hatiku selalu ada kamu, Hyorin seorang!" Ayesh memegang dadanya.
"Gombal!"
"Tidak percaya? Belah saja dadaku." Ayesh tertawa.
"Ntar aku guling-guling karena kehilangan kamu Mas kalau dadanya dibelah, Iya percaya kok, dah ah aku siap-siap dulu." Hyorin melesat masuk ke dalam kamar karena kalau terus meladeni Ayesh tidak akan kelar sampai nanti siang.
"Sayang pelan-pelan, kebiasaan deh kamu!"
"Iya Mas, aku aman kok." Teriak Hyorin dari jauh.
Kini mereka sudah sampai di pusat perbelanjaan, dengan lincah Hyorin memasukan apa saja yang mereka butuhkan ke keranjang meskipun tanpa catatan dia bisa mengingat semuanya dengan sangat baik.
"Sayang kita kesana yuk," ajak Ayesh ke toko perlengkapan bayi.
Hyorin mengekori Ayesh, dia begitu takjub melihat pakaian bayi yang lucu-lucu. Kaos kaki, sepatu, topi dan masih banyak lagi dengan ukuran kecil yang menggemaskan menurutnya.
Hyorin tersenyum sambil mengelus perutnya yang belum begitu besar.
"Kamu sudah tidak sabar ya ingin bayi kita cepat lahir?"
"Iya Mas, lihat ini benar-benar membuatku gemas." Hyorin memperlihatkan sepasang kaos kaki yang mungil dengan karakter hewan yang juga menggemaskan.
__ADS_1
"Kita beli saja yang kamu suka sayang!"
"Apa tidak terlalu terburu-buru Mas, kita juga belum tahu jenis kelaminnya, nanti saja Mas kalau sudah mendekati waktu kelahiran."
"Kita beli saja dua warna, jadinya mau cewek atau cowok sudah tidak usah repot nantinya." Jawab Ayesh enteng.
"Itu namanya pemborosan Mas, tidak baik seperti itu!"
"Dah yuk Mas, kita ke tempat lain saja!" Hyorin menarik tangan Ayesh untuk keluar dari baby shop sebab kalau terlalu lama disana, bisa-bisa semua akan diborong olehnya.
"Hey...sayang...kita belum membeli apapun?"
"Lain kali kita kesini lagi, tunggu kita tahu jenis kelaminnya dulu Mas,"
Hyorin terus berjalan keluar dari toko, kemudian berhenti didepan kedai es cream.
"Kenapa berhenti Rin?"
"Aku mau itu Mas," Hyorin menunjuk apa yang dia maksud.
"Es cream?"
Hyorin mengangguk, "Rasa cokelat dan strawberry Mas,"
"Baiklah kamu tunggu sini ya, biar aku yang mengantri!"
Ayesh masuk ke dalam antrian sedangkan Hyorin menunggu dengan tidak sabar, Ayesh sesekali menoleh ke arah Hyorin khawatir jika istrinya menghilang.
Hyorin memainkan ponselnya sambil menunggu Ayesh datang, dia tidak menyadari jika ada Indra yang mendekat karena melihat Hyorin dari kejauhan.
"Orin kenapa disini?" sapa Indra.
"Aku sedang menunggu suamiku," jawab Hyorin cuek.
"Apa kamu pikir dia akan datang? Bukankah dia sedang bersama wanita lain di luar negeri? Kamu itu bodoh atau bagaimana sih Rin, ada yang menunggumu dengan setia kenapa harus menghabiskan energimu hanya untuk laki-laki yang hanya bisa menyakitimu?"
"Maafkan saya Dokter Indra, saya sama sekali tidak berminat dengan Anda."
"Tolong pergilah dari sini sebelum terjadi kesalahpahaman!"
"Aku tidak akan pergi jika tidak membawamu serta,"
"Anda tidak memiliki hak atas diri saya sama sekali, jadi saya mohon pergilah!"
"Ayo kita pergi bersama!" Indra mencengkeram lengan Hyorin dan menariknya supaya dia mau ikut bersamanya.
"Tolong lepas...saya tidak mau ikut dengan Anda,"
Hyorin sebenarnya ingin berteriak namun dia tidak ingin membuat keributan disana.
Ayesh yang melihat Hyorin ditarik-tarik oleh seseorang pada akhirnya keluar dari antrian yang masih cukup mengular.
"Lepaskan istri saya!" sungut Ayesh ketika dia sudah sampai di lokasi dengan nada yang cukup tinggi.
"Jangan coba-coba menyentuh istri saya dengan tangan kotormu itu!"
Indra menoleh karena mengenali siapa pemilik suara itu, kemudian melepaskan cengkeramanya pada tangan Hyorin.
__ADS_1
Hyorin yang ketakutan berlari ke arah Ayesh dan bersembunyi dibelakangnya.
"Ternyata kau sudah kembali Tuan Pengacara?"
"Tidakkah kau bawa selingkuhanmu pulang?"
"Jaga bicaramu Tuan Indra!"
"Bukankah aku sudah mengirim buktinya kepadamu Rin, kenapa kamu masih mempercayainya?" Indra menunjuk hidung Ayesh dengan jari telunjuknya seolah-olah Ayesh adalah seorang penghianat yang sedang mengalami pesakitan.
"Dia itu menghianatimu," tambah Indra.
"Tuan Indra saya katakan sekali lagi, urusan kami cukup kami saja yang tahu, dan biarlah kami sendiri yang akan menyelesaikannya. Anda tidak perlu repot-repot ikut campur akan hal ini! Jangan buang percuma tenaga Anda untuk ikut campur dalam rumah tangga orang lain, karena yang tahu baik buruknya rumah tangga kami hanya kami sendiri!"
Indra merasa tenggorokannya tercekat, sudah tidak tahu apalagi yang akan dia katakan.
Ayesh menggandeng tangan Hyorin dan mengajaknya pergi dari tempat itu, rasanya sangat tidak elegan jika harus ribut-ribut di tempat umum seperti tadi.
Mereka berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang, sudah jengah rasanya dengan Indra yang selalu saja menganggu kenyamanan mereka.
"Awas kamu, akan aku buat perhitungan denganmu. Berani-beraninya kamu memprovokasi Hyorin." Batin Ayesh dengan bersungut.
"Apakah kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Ayesh begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku baik-baik saja Mas, aku hanya sedikit takut saja."
"Maafkan aku Rin,"
"Kamu tidak salah Mas,"
"Aku yang bersalah kenapa harus ada Indra dalam kehidupanku di masa lalu." Tambah Hyorin dengan nada penuh dengan penyesalan.
"Jangan bicara saperti itu sayang, aku minta maaf karena tidak bisa membawakanmu es cream yang kamu mau," Ayesh mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa-apa Mas, lain kali masih bisa."
"Aku tidak mau nanti anakku kalau lahir jadi ileran, di depan ada mini market kita beli disana saja ya, meskipun tidak sama dengan yang ada di dalam yang penting sama-sama es cream,"
Hyorin tersenyum karena Ayesh benar-benar perhatian dengan dirinya.
"Mas sebenarnya apakah sudah menemukan Mr. Jacob?" tanya Hyorin begitu dia menghabiskan satu es cream rasa cokelatnya.
"Emm...rahasia!"
"Ah Mas Ayesh nggak asyik, masa main rahasia-rahasiaan sih?"
"Biar kamu penasaran sayang,"
"Ih..Mas kamu ini ya,"
"Apa?"
"Cium dulu sini nanti aku beritahu,"
"Idih...maunya," Hyorin mencibir.
"Mau nggak?"
__ADS_1
"Ogah!"