Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 60


__ADS_3

Hari ini resepsi pernikahan Hyorin dan Ayesh digelar di Ballroom Hotel Bintang Lima yang sudah Ayesh persiapkan dengan sangat matang.


Ayesh mengundang semua teman-temannya termasuk Jesika sesuai dengan rencana Doni. Tidak hanya teman-teman Ayesh saja, Hyorin juga mengundang teman-temannya tidak terkecuali Nita.


Selain teman-teman dari kedua mempelai, hadir pula keluarga dan kerabat dari keluarga Mahardika dan Akbar, kolega bisnis Ayah Hyorin dan juga para client Firma Hukum Akbar Grup juga nampak hadir. Resepsi kali ini digelar dengan sangat mewah.


Ayesh berjalan menuju kursi pengantin dengan menggandeng istri tercintanya. Hyorin didandani bak seorang princess frozen dengan gaun menjuntai panjang berwarana biru muda yang merupakan warna kesukaan Hyorin, dengan riasan yang natural namun mempertegas aksen wajah yang sudah cantik sejak lahir, Ayesh mengenakan setelan jas dengan warna yang senada dengan Hyorin.


Mereka melangkah maju dengan penuh percaya diri dan senyum yang memukau.


Setiap orang yang melihat mereka berdua saling melempar pujian bahwa pengantin yang sedang berbahagia itu merupakan pasangan yang sangat cocok, yang satu cantik dan yang satunya tampan.


Seluruh ruangan tempat resepsi digelar di dekorasi dengan dominasi warna biru muda dan putih yang tampak sangat elegan, terdapat hiasan bunga disana sini yang menambah kesan romantis.


Ayah dan Ibu Ayesh sedang menyapa tamu-tamu yang hadir, senyum kebahagiaan tampak menghiasi bibir mereka, tergambar jelas rasa syukur yang sangat dalam pada diri mereka.


Disaat bersamaan keluarga Hyorin juga hadir, ada Silvia yang juga datang bersama Indra, mereka menuju ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Indra menyalami Ayesh mengucapkan selamat meskipun dengan hati yang sudah remuk redam namun dia tidak ingin merusak suasana kebahagiaan mereka, Indra sudah bertekad yang terpenting Hyorin bahagia maka dia juga akan merasa bahagia.


"Selamat ya Bro, tolong bahagiakan dia. Jangan lupa kata-kataku waktu itu." Ucap Indra menahan air mata yang sebenarnya sudah akan jatuh.


"Terimakasih Dokter Indra, tanpa dimintapun aku pasti akan membahagiakan dia dengan segenap jiwa dan ragaku, cepat menyusul ya agar hatiku lebih tenang," sindir Ayesh kepada Indra.


Kini Indra bergeser ke arah Hyorin, dia menyalami gadis yang sudah mencuri hatinya itu namun harus berakhir dengan orang lain.


"Selamat Dokter Orin, semoga kamu bahagia dan pernikahaannya langgeng. Kita akan jadi saudara jadi jangan pernah bersikap lain terhadapku, bersikaplah seperti dulu sama seperti saat kita berteman tanpa beban."


Hyorin hanya tersenyum, "Terimakasih Dokter Indra,"


Indra hendak memeluk Hyorin namun dengan cepat Ayesh mencegahnya.


Indra yang merasa bersalah karena terlalu terbawa perasaannya sendiri berjalan turun menjauh dari pelaminan sebab tidak seharusnya dia bersikap demikian yang mungkin saja bisa merusak suasana. Sangat menyedihkan memang tapi biarlah jalan takdir yang menentukan.


Kini giliaran Silvia mengucapkan selamat untuk mereka berdua.


"Selamat ya Kak, seharusnya aku yang berdiri disebalahmu dan bukan dia," Silvia melirik Hyorin dengan sinis.


"Aku masih berharap suatu saat nanti kita akan bersama Kak," ucap Silvia tanpa dosa.


"Jangan pernah berharap apapun meskipun itu hanya sebuah angan-angan, karena semua itu tidak akan pernah terjadi," Ayesh berkata dengan senyum yang dipaksakan dan penekanan pada kata-katanya.


Silvia ingin memeluk Ayesh namun segera saja Ayesh menolak dengan tidak memberikan celah sedikitpun.


Hyorin yang berdiri di sebelah Ayesh dibuat geram dengan ucapan dan sikap Silvia yang tidak pernah berubah.


Silvia menyalami Hyorin tanpa mengucapkan apapun tampak rasa benci dan iri yang menyelimuti hatinya dengan ekspresi wajah yang sangat kentara. Silvia segera turun mencari keberadaan Indra yang entah pergi kemana.


"Seneng ya Mas, ada pengagum yang terang-terangan mendeklarasikan harapannya di depan Istri sah kamu sendiri," Hyorin merajuk.


"Jangan cemberut sayang, masih banyak tamu tidak enak sama mereka kalau wajah kamu ditekuk kaya gitu, mereka nanti mengira aku memaksamu untuk menikah denganku." Ayesh mengerling.


Hyorin berpikir sejenak, memang benar apa yang suaminya katakan. Dia tidak bisa membahas hal ini sekarang, harus ditunda sampai nanti acara selesai.

__ADS_1


Ayah Hyorin dan Tante Mirna mendekat ke arah pelaminan, setelah sebelumnya menyapa rekan-rekan bisnis yang hadir di acara hari ini.


"Selamat ya Nak, jaga Hyorin baik-baik. Semoga kalian selalu bahagia."


Ayah Hyorin memeluk Ayesh, "Jaga Hyorin untuk Ayah ya Nak, Ayah yakin dia akan selalu aman bersamamu."


"Baik Ayah, Ayesh mengerti." Pak Mahardika mengurai pelukannya dan berpindah pada putrinya.


"Ayah...aku rindu sekali sama Ayah," Hyorin memeluk Ayahnya.


"Maafkan Ayah ya Nak, Ayah terlalu sibuk jadi tidak bisa mengunjungimu. Jaga baik-baik cucu Ayah ya Nak, kita akan bicara lagi nanti."


"Iya Ayah,"


Ayah Hyorin mencium kening putri kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.


Tante Mirna hanya mengucapkan selamat biasa saja kepada Ayesh dan Hyorin kemudian turun menyusul suaminya untuk kembali menyapa tamu yang hadir.


Nita hadir bersama Hyoshan, mereka tampak sangat serasi memakai baju dengan warna yang senada. Doni yang melihat hal itu merasa patah hati seketika, namun dia tidak bisa egois terhadap hatinya sebab Nita berhak menentukan kebahagiaannya sendiri, apalagi Nita bersama Hyoshan yang sudah jelas-jelas merupakan laki-laki yang memiliki tanggungjawab tinggi.


Doni pun ikhlas dan berharap suatu saat dia akan menemukan seseorang yang memang ditakdirkan hidup bersamanya.


Doni menyeka air matanya yang lolos begitu saja, kemudian menemui Nita dan Hyoshan yang baru saja turun dari pelaminan mengucapkan selamat kepada Ayesh dan Hyorin.


"Hai Bro, apa kabar?" sapa Doni dengan senyum palsunya untuk menutupi suasana hatinya saat ini.


"Aku baik Don, kamu sendiri?"


"Aku juga baik, eh dek Nita kamu cantik sekali."


"Terimakasih Kak," jawab Nita singkat.


Perasaan Nita sungguh tidak menentu saat ini, dia merasa berada dalam sebuah kondisi yang tidak bisa didefinisikan. Meskipun sudah pasti hal ini tidak akan bisa dihindari.


Doni yang melihat gelagat kebingungan pada diri Nita kemudian meminta izin kepada Hyoshan untuk berbicara sebentar kepada Nita.


"Bro boleh pinjam Nita sebentar?"


Hyoshan mempersilahkan Doni untuk membawa Nita. Sedangkan Hyoshan pergi menyapa rekan-rekan bisnis Ayahnya.


Doni membawa Nita ke sebuah taman dan duduk berdua disana.


"Dek Nita aku tahu kamu tidak bisa menerimaku karena sejak dulu hatimu sudah terisi nama Hyoshan," Doni membuka percakapan.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah atau canggung terhadapku, kita masih bisa berteman bukan?"


"Maafkan aku Kak, aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi...,"


"Dek Nita bukankah aku sudah bilang jangan pernah menganggapku lain, aku ikhlas kamu bersama Hyoshan dia teman baikku, aku hanya tidak ingin kamu menghindariku, anggap aku adalah Kakakmu."


"Aku hanya ingin mengatakan itu, aku pergi dulu ya masih ada yang harus aku urus. Ingat kamu harus bahagia bersama Hyoshan!"


Nita memandang punggung Doni yang perlahan menghilang, ada perasaan bersalah terhadap pemuda itu sebab akhir-akhir ini Nita memang berusaha untuk menghindarinya.

__ADS_1


Nita hanya berharap Doni bisa menemukan pengganti dirinya yang jauh lebih baik sebab Doni adalah orang yang sangat baik dan tulus.


Hyoshan menghapiri Nita yang masih termangu.


"Ayo Nit masuk lagi, kamu bukankah belum makan apapun sejak tadi tiba disini?!" ajak Hyoshan kepada Nita.


Nita mematuhi ucapan Hyoshan dan mengikuti Hyoshan masuk ke dalam. Hyoshan menggandeng tangan Nita dan mengambilkan gadis itu makanan.


Tampak senyum terkembang di bibir keduanya.


Jesika hadir dalam acara itu karena merasa tidak enak sebab Pak Mahardika yang mengundangnya secara khusus.


Setelah mengucapkan selamat, Jesika menemui Ayah Hyorin untuk menyapa orang yang sangat dia segani dalam hidupnya.


Jesika sebenarnya adalah gadis manis yang sangat baik, namun kerasnya hidup membuat dia harus bisa menjaga dirinya sendiri.


"Selamat atas pernikahan putri Om ya, aku ikut merasa bahagia. Tidak menyangka jika Ayesh teman kuliahku dulu adalah menantu Om dan Hyorin yang sangat cantik yang bahkan tidak sempat aku kenal ternyata putri Om."


"Terimakasih Nak, apa kabarnya sudah lama sekali tidak berjumpa."


"Aku baik Om, aku juga sudah bekerja sekarang Om."


"Syukurlah Nak, Om merasa ikut bahagia mendengarnya. Silahkan kamu nikmati hidangan yang ada dan jangan sungkan, kalau sempat berkunjunglah ke rumah Om ya. Om akan menemui tamu yang lain dulu."


Ayah Hyorin menepuk bahu Jesika, merasa bangga dengan anak itu yang mampu melewati semua ujian hidupnya yang berat.


"Terimakasih Om, lain waktu pasti aku akan mampir kerumah Om."


Jesika kemudian pergi ke stand makanan, untuk mengambil beberapa makanan yang ingin dia makan. Doni yang melihat itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Jesika.


Doni menatap Jesika dengan perasaan takjub, si gadis yang dulu tomboynya tidak ketulungan sekarang menjadi wanita yang anggun dan mempesona.


"Ngapain loe Don menatap gue kaya gitu, naksir ya bilang aja?" Jesika merasa heran dengan Doni yang berdiri mematung menatapnya.


"Sorry Jes, gue hanya pangling aja sama loe. Kemana Jesika yang tomboy itu? Anggun bener loe, nggak takut tuh heels nya nyrimpet?" goda Doni.


"Sembarangan loe Don, gini-gini gue bisa kali kalau cuma pakai heels."


Mereka tertawa bersama mengenang masa lalu mereka yang mungkin tidak terlalu dekat tapi saling kenal meskipun hanya sebatas kenal sambil lalu saja.


"Jes gue mau ngomong serius sama loe,"


Jesika menyemburkan minuman yang sedang dia minum dan mengenai jas yang Doni kenakan karena saking kagetnya, pikiran Jesika sudah traveling kemana-mana. Reflek Jesika mengambil tisu dan mencoba membersihkan Jas Doni yang basah dengan tisu.


"Jesika cukup, gue tidak apa-apa!" perintah Doni namun Jesika tidak mengindahkannya.


Doni menangkap tangan Jesika, pandangan mata mereka saling bertemu. Jesika berkesiap dan mengalihkan pandangannya kemudian memperbaiki posisi berdirinya.


"Apa yang mau loe omongin ke gue Don?"


"Ini menyangkut Jovanka Jes, gue butuh bantuan loe."


Deg

__ADS_1


Deg


Deg


__ADS_2