Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 62


__ADS_3

Ayesh yang tidak sabar untuk menunggu Hyorin lebih lama lagi akhirnya mengetuk pintu kamar mandi agar Hyorin segera mengakhiri sesi mandi malamnya.


"Rin...sayang...mandinya udahan nanti kamu masuk angin sudah malam ayo makan dulu keburu dingin makanannya sayang,"


"Iya bentar lagi Mas," sahut Hyorin dari dalam kamar mandi.


Hampir Sepuluh menit berlalu Hyorin baru keluar dari kamar mandi.


"Sini Mas bantuan keringin rambut kamu biar cepet kering," pinta Ayesh.


"Tidak usah Mas, aku bisa sendiri."


"Kalau begitu Mas suapin kamu makan ya, ayo buka mulutnya. Kasihan yang di perut pasti sudah kelaparan."


Hyorin patuh dengan perintah Ayesh, sesuap demi sesuap Hyorin memakan makanannya.


"Sudah Mas cukup aku sudah kenyang,"


Ayesh kemudian makan dengan piring yang sama dengan Hyorin bahkan dengan sendok yang sama.


"Mas itu kan bekas aku, apa kamu nggak jijik Mas?"


"Tidak...malah tambah lezat menurut Mas,"


"Mas becandanya nggak lucu deh,"


"Beneran sayang nggak bohong asli, apalagi kalau makan lansung dari itu," Ayesh menunjuk bibir Hyorin.


"Dasar mesum," Hyorin melempar bantal ke arah Suaminya tapi bukan Ayesh namanya kalau tidak bisa dengan sigap menghindar.


Ayesh menghabiskan makan malamnya kemudian bersih-bersih dan menyusul Hyorin naik ke atas ranjang.


"Rin...boleh minta lagi nggak?"


"Aku capek Mas," tolak Hyorin.


"Yah...padahal Mas lagi semangat-semangatnya," Ayesh menghembuskan nafasnya kecewa.


"Besok lagi saja ya Mas, aku ngantuk nih pengin istirahat. Seharian berdiri, pegel kakiku Mas."


Ayesh mengambil posisi duduk, kemudian mengambil Satu kaki Hyorin untuk dibawa ke pangkuannya. Ayesh mulai memijat kaki Istrinya perlahan.


"Mas...," Hyorin menarik kakinya turun dari pangkuan Ayesh.


"Tidak apa-apa aku yang mau kok, jangan merasa tidak enak gitu sayang."


Hyorin akhirnya menikmati pijitan Ayesh yang lembut namun berasa ke titik yang terasa pegal. Hyorin mulai menikmati sentuhan lembut pada kakinya kemudian perlahan mulai terpejam.


"Terimakasih sayang...Hyorinku...sudah mau berjuang bersamaku sejauh ini tetaplah disisiku dan jangan pernah berubah meskipun apapun yang terjadi, aku menyayangimu Rin."


Ayesh berbisik di telinga Istrinya, sesaat sebelum Hyorin terlelap. Ajaib Hyorin dari alam bawah sadarnya memberikan satu respon berupa anggukan tanda setuju dengan apa yang Ayesh ucapkan.


Ayesh mencium kening Hyorin, kemudian berbaring disebelah Hyorin memeluk gadis itu berharap pagi tidak cepat menjelang menghampiri keduanya.


****


Doni yang mengantarkan Jesika pulang sudah sampai di halaman rumah Jesika, rumah itu meskipun kecil tapi terlihat sangat asri dan cukup terawat, terdapat pohon buah-buahan dan tanaman bunga disana sini.


"Thank's ya Don, gue masuk dulu. Maaf nih jadi ngrepotin."


"Sama-sama Jes, gue nggak disuruh masuk nih Jes, tega bener. Hahahaahaa...,"


"Sudah malam Don, ntar tetangga rusuh. Lain kali ya loe kesini lagi!"


"Beneran nih boleh kesini lagi?"


"Iya boleh...sudah sana pulang gih, keburu malam!"


"Gue diusir nih ceritanya?" Doni bersedekap pura-pura ngambek.

__ADS_1


"Gue nggak bermaksud kaya gitu Don, gue cuma khawatir loe kemalaman di jalan."


"Loe masuk dulu, gue mau lihat loe masuk baru gue pergi!"


"Ok deh, gue masuk! Bye Doni." Jesika melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam rumah.


Doni menyalakan mesin mobilnya kemudian pergi meninggalkan rumah Jesika.


Doni


Yesh semua sesuai rencana, tinggal langkah selanjutnya.


Doni mengirimkan pesan kepada Ayesh, tapi tidak kunjung mendapatkan jawaban dari si empunya ponsel.


"Ah...Ayesh pasti sudah KO," pikir Doni.


Doni melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam Sepuluh malam. Doni tersenyum membayangkan kelakuan Ayesh yang mungkin saja sudah terlelap setelah mengerjai Istrinya.


Ayesh membuka pesan dari Doni keesokan paginya, Ayesh menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Harapannya untuk hidup bahagia bersama Hyorin tanpa adanya gangguan dari Jovanka akan segera terwujud.


Ayesh


Ok Don kerja bagus, kamu memang selalu bisa diandalkan.


Ayesh bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, hari ini dia akan pergi ke lapas menemui Jovanka bersama Doni.


Hyorin masih terlelap ketika Ayesh sudah rapi.


"Hey tukang tidur, ayo bangun saatnya sholat subuh nanti ketinggalan keburu habis waktunya!" Ayesh mengguncang tubuh Hyorin lembut agar dia terbangun.


Ayesh sebenarnya tidak tega membangunkan Hyorin yang masih capek sekali kelihatannya, tergambar jelas dari wajah ayunya yang terlihat begitu sayu.


Hyorin menggercap-gercapkan matanya, "Mas kok sudah rapi mau kemana?"


"Ada hal yang harus aku urus, sekarang bersih-bersih dulu sana setelah sarapan aku antar pulang ke rumah Ibu!"


"Kok ke rumah Ibu Mas? Apa tidak sebaiknya ke Apartemen saja aku juga mau berangkat ke rumah sakit Mas,"


Hyorin mengangguk.


"Nah itu baru Istri penurut," Ayesh tersenyum senang Hyorin patuh dengan pengaturannya, Ayesh mengacak rambut Hyorin yang memang masih berantakan.


Hyorin mencebik karena kelakuan Suaminya yang terus saja mengodanya, kemudian bergegas turun dari ranjang dan lari masuk ke kamar mandi.


"Hey hati-hati sayang, ingat kamu sedang hamil nanti kalau kepleset bagaimana?" protes Ayesh kepada Hyorin.


Sedangkan Hyorin hanya nyengir kuda tanpa merasa bersalah.


Pukul Delapan pagi, mereka sudah sampai di kediaman keluarga Akbar. Nyonya Akbar yang sudah tahu bahwa menantunya akan datang menyambut Hyorin dengan antusias.


"Sini Nak cepat masuk kita sarapan bersama!" perintah Nyonya Akbar.


"Kami sudah sarapan Bu tadi di Hotel," jawab Ayesh.


"Yah...padahal Ibu nunggu kalian buat sarapan bersama," jawab kecewa Nyonya Akbar.


"Maafkan Orin ya Bu, Orin tidak tahu kalau Ibu menunggu kami untuk sarapan,"


"Tidak apa-apa Nak, lebih baik sudah sarapan kasihan Cucu Ibu kalau sampai dia kelaparan,"


"Bu titip Orin ya, jangan biarkan dia pergi sendirian. Khusus hari ini dia harus berada di rumah tidak boleh kemana-mana. Dia harus istirahat!"


Ibu Ayesh mengangguk, "Beres ada Ibu!"


"Rin aku berangkat dulu ya, kasihan Doni sudah menunggu di Kantor. Baik-baik di rumah ya, ingat jangan nakal!"


"Ihhh Mas apaan sih, emangnya aku anak kecil!"


"Sudah-sudah berangkat sana keburu siang!"

__ADS_1


Nyonya Akbar sedikit mendorong tubuh Ayesh supaya cepat berangkat, terlihat jelas jika Ayesh sebenarnya enggan meninggalkan Hyorin.


Hyorin mencium tangan Suaminya dengan takzim yang dibalas Ayesh dengan mencium kening Istrinya kemudian bergegas pergi meninggalkan rumah orangtuanya.


****


Ayesh sampai di Kantor setelah perjalanan kurang lebih Tiga Puluh menit, saat melintas di kubikel Karyawan banyak yang merasa sendu karena hatinya patah mendengar anak dari Bos mereka sudah sold out, meskipun sudah lama menikah namun banyak yang baru tahu mengenai pernikahan Ayesh.


Banyak Karyawan terutama Karyawan wanita yang mengagumi sosok Ayesh. Namun, karena sikap dinginnya maka tidak ada yang berani mendekati Ayesh.


"Aku sudah bilang kan Len, kamu nggak akan bisa dapatkan tuh doi, apalagi sekarang dia sudah ada yang punya!"


Ejek salah satu Karyawan kepada Lena yang suka sekali keganjenan dengan Ayesh, bahkan tidak jarang lena terang-terangan menggoda Ayesh dengan memakai pakaian yang super ketat di depan Ayesh.


"Bisa pada diam nggak kalian semua, kalau masih nyerocos aja aku sumpel satu-satu mulut kalian pakai kertas!"


"Yang lagi patah hati memang kaya gitu, hawa-hawanya panas!"


"Makanya kamu jangan keganjenan, kalau sudah begini kan malu." Sindir Karyawan yang lain.


"Kamu kemarin lihat sendiri kan Istri pak Ayesh cantik sekali, kamu mah tidak ada apa-apanya dibandingkan sama Istri Pak Ayesh, jadi buang tuh niat jahat di otak kamu jauh-jauh!"


"Ehheeeemmmm...,"


Ayesh berdehem mendengar celotehan mereka yang sangat nyaring, apalagi membawa-bawa Istrinya. Kini Ayesh sudah berdiri di salah satu kubikel Karyawan.


"Sudah ngobrolnya? Bisa kembali bekerja?!"


Suara Ayesh berhasil membuat Karyawan yang sedang membully Lena kembali ke tempat mereka masing-masing.


Ayesh dengan penuh kewibawaan kemudian masuk ke dalam lift menuju ke ruangannya tanpa menggubris Lena yang kegeeran dibela olehnya. Ayesh sebenarnya tidak bermaksud membela Lena, dia hanya ingin agar semua Karyawan kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.


"Kebiasaan kamu Yesh, lama banget kalau ditungguin." Protes Doni begitu melihat Ayesh masuk.


"Sorry Don, ada kerikil tadi di bawah jadi harus di bereskan dulu,"


"Pasti Lena ya, Karyawan yang sok cantik itu?" tebak Doni.


"Tidak baik Don ngomongin orang, selama dia tidak merugikan kita biarkan saja," cegah Ayesh.


Kini Ayesh dan Doni sudah berada di mobil menuju ke Lapas tempat Jovanka di tahan.


"Jesika bagaimana perkembangannya Don? Apakah dia sudah mau memberikan keterangan?"


"Semalam aku belum berhasil memperoleh informasi dari dia, tapi kamu tidak usah khawatir Yesh. Aku akan segera menemui dia lagi. Pelan-pelan saja agar dia tidak curiga dan akhirnya kabur, kemarin saja begitu aku sebut nama Jovanka sepertinya dia sudah sangat enggan mendengarnya."


"Baiklah Don lakukan sesuai rencanamu, aku tunggu kabar baiknya."


Ayesh dan Doni dipersilahkan masuk oleh penjaga lapas dan disuruh untuk menunggu sebentar.


"Ayesh akhirnya kamu datang juga," pekik Jovanka ketika melihat Ayesh sedang duduk menunggunya, dengan impulsif Jovanka berlari ke arah Ayesh hendak memeluknya.


"Maaf Jov tolong perhatikan sikap kamu, aku sudah punya Istri yang setiap saat bisa aku peluk jadi tidak usah repot-repot!" Ayesh dengan cepat menghindar.


"Kamu jahat sekali sama aku Yesh, aku hanya butuh sandaran dan aku rasa kamulah orang yang tepat."


"Jov apapun yang pernah terjadi diantara kita semuanya sudah berakhir, aku hanya ingin memintamu agar jangan pernah ganggu kehidupanku dan Hyorin lagi! Kalau kamu melakukan hal yang sama kepada Hyorin, aku tidak akan segan untuk membuatmu lebih menderita dari pada ini!" ancam Ayesh kepada Jovanka.


"Aku masih sangat mencintaimu Yesh,"


"Simpan cintamu untuk Suami dan Anakmu kelak!" Ayesh bangkit dari tempat duduknya kemudian berlalu pergi dengan wajah yang datar dan sorot mata dingin.


Ayesh menoleh, "Tolong selesaikan sisanya Don, aku tunggu di mobil."


"Yesh kumohon tunggu sebentar, aku masih ingin bicara!"


Tubuh Jovanka dicekal oleh penjaga lapas ketika hendak mengejar Ayesh. Jovanka terduduk kembali di kursi dengan sesenggukkan.


Sungguh pemandangan yang sangat miris, timbul rasa iba di hati Doni untuk Jovanka tapi tujuannya kesini bukanlah untuk hal itu.

__ADS_1


Doni tidak boleh luluh hanya karena melihat Jovanka menderita sebab apa yang dia rasakan saat ini merupakan buah dari apa yang dia perbuat di masa lalu. So, berani berbuat juga harus berani bertanggungjawab kan gaes.


__ADS_2