
Doni bergegas meninggalkan rumah sakit, dia harus segera melakukan tindakan. Mengecek CCTV minimarket dan tempat dimana mobil Ayesh terakhir kali terparkir sebelum meninggalkan kantor merupakan hal pertama yang akan Doni lakukan.
Doni yakin pasti ada petunjuk disana meskipun sangat kecil.
Petunjuk yang dari kemarin hampir terlupakan karena mereka fokus pada Ayesh.
Beruntung pihak minimarket mengizinkan Doni melihat rekaman CCTV mereka setelah memperkenalkan diri bahwa dia bekerja untuk Firma Hukum Akbar Grup, tentu saja untuk meyakinkan mereka Doni memberikan kartu namanya dan berjanji jika suatu saat diantara mereka memerlukan bantuan hukum bisa langsung menghubunginya.
Rekaman CCTV minimarket telah dia dapatkan, Doni kembali ke kantor untuk mengecek kondisi disana. Di dalam rekaman CCTV kantor, Doni melihat dua orang yang sama seperti orang yang terekam di CCTV minimarket sedang mendekati mobil Ayesh.
Satu orang bertugas melaksanakan aksi mereka, yang satunya lagi mengawasi keadaan sekitar. Kemarin suasana di area parkir memang cukup lengang sebab merupakan jam kerja efektif sehingga sebagian besar karyawan sedang bekerja di dalam dan kebetulan Security sedang tidak berkeliling di area tersebut.
Doni melakukan pencocokan antara kedua rekaman tersebut, sudah dapat disimpulkan jika kedua orang tersebut merupakan orang suruhan Indra.
Doni tampak menelfon seseorang, "Cepat cari dia jangan sampai lolos kali ini!"
Doni menunggu dengan cemas, mengetuk-ngetuk meja di depannya, hingga panggilan seseorang membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana?" tanya Doni dari seberang telfon.
"Dia sedang menuju ke Bandara, sepertinya dia akan kabur ke luar negeri."
Doni bergegas menutup sambungan telfon, menstater mobilnya dan mencoba mengejar Indra bersama dengan orang-orangnya yang telah lebih dulu melakukan pencarian.
Sementara Doni sedang kebut-kebutan, Ayesh masih terbaring di ranjang. Dia merasa sangat bosan jika seharian hanya tiduran di ranjang saja. Meskipun tubuhnya penuh luka, namun dia yang terbiasa dengan aktivitas yang padat merasa dirinya tidaklah berguna. Ayesh terlihat berkali-kali menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
Menarik nafas dan menghembuskannya dipercaya sebagai salah satu cara untuk bisa menenangkan hati yang sedang gelisah.
Hyorin yang baru keluar dari kamar mandi melihat Ayesh tengah melamun sambil terduduk di ranjang.
"Kenapa kok bengong Mas?"
"Aku bosan!"
Hyorin tersenyum, "Kamu harus terbiasa!"
Ponsel Hyorin berdering menandakan ada panggilan masuk, "Hallo?" kata pertama yang keluar dari bibir mungil Hyorin.
"Nona Orin tolong hubungi Indra, cari tahu keberadaannya sekarang. Bersikaplah seolah Nona tidak tahu apa-apa!"
"Baik Kak," jawab Hyorin singkat kemudian mencari nomor telfon Indra dan menghubunginya.
Pada panggilan pertama langsung tersambung, "Hallo Rin?"
"Hallo Kak, aku ingin ikut denganmu saja!" ucap Hyorin berimprovisasi.
Ayesh sudah melotot mendengar perkataan Hyorin barusan, namun Hyorin memberikan kode mata untuk Ayesh. Berharap Ayesh langsung bisa memahami apa yang Hyorin maksudkan.
"Kenapa tiba-tiba ingin ikut?"
__ADS_1
"Bukankah Kakak bilang hari ini akan berangkat ke luar negeri?"
"Mas Ayesh sudah tidak berguna lagi, dia mengalami kecelakaan dan cacat, aku ikut denganmu saja Kak!"
"Apakah kamu yakin Rin?"
"Sangat yakin Kak, share lokasi Kakak sekarang! Aku akan menyusul."
Sambungan telfon terputus, dengan tidak curiga sedikitpun Indra mengirimkan lokasinya. Indra seolah lupa jika sekarang dia adalah orang yang paling dicari setelah melakukan kejahatan.
Indra duduk dengan santai di Bandara menunggu kedatangan Hyorin.
Hyorin sendiri juga menuju Bandara dengan diantarkan oleh Supir, hal ini Hyorin lakukan agar tidak membuat Indra curiga dan pada akhirnya kabur.
Awalnya Ayesh tidak mengizinkan Hyorin, khawatir jika rencana Doni tidak berhasil dan justru membahayakan nyawa calon ibu muda tersebut.
Sesampainya di Bandara, Hyorin menuju dimana Indra sedang menunggunya. Hyorin juga tidak lupa membawa koper besar agar lebih meyakinkan jika dirinya memang benar-benar ingin pergi dengan Indra meninggalkan Ayesh.
Doni dan orang-orangnya sudah mengawasi pergerakan Indra, rencana mereka cukup berhasil sejauh ini meskipun harus menggunakan Hyorin sebagai umpan.
Doni juga harus bisa menjamin keselamatan istri sahabatnya itu yang sedang hamil besar.
Hyorin menghampiri Indra yang tengah duduk di kursi tunggu Bandara.
"Kak Indra?" sapa Hyorin dengan senyum terbaiknya.
"Orin kamu akhirnya datang juga, apakah kamu sudah bawa pasport dan yang lainnya?"
"Kamu kenapa mendadak begini Rin ingin ikut denganku?" Indra sedikit curiga dengan Hyorin.
"Aku baru terpikirkan hal ini ketika melihat kondisi Mas Ayesh yang sudah tidak bisa diharapkan lagi." Hyorin menutup wajahnya pura-pura menangis.
"Baiklah Rin, kamu boleh ikut denganku. Tapi kita harus urus semuanya dulu sebelum pergi, tidak mungkin pergi hanya membawa baju saja bukan?"
"Baiklah Kak, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Hyorin pura-pura polos sambil mengusap air mata buayanya.
"Ikut denganku!"
Indra membawa Hyorin keluar dari Bandara, sementara Doni mengikuti mereka tanpa jejak. Mereka bergerak dalam senyap, inilah yang Doni inginkan.
Hyorin berhasil membawa Indra keluar dari Bandara, sebab tidak mungkin membuat keributan di depan umum karena urusannya akan semakin panjang nantinya.
Ayesh yang berada di rumah sakit merasa semakin cemas dengan istrinya itu, meskipun dia sangat yakin jika Doni pasti bisa melindungi Hyorin, namun hatinya serasa berdentum keras.
Ayesh semakin merasa bahwa dirinya tidaklah berguna. Disaat seperti ini malah istrinya yang harus berjuang tanpa dirinya.
Ditengah perjalanan, mobil yang Hyorin dan Indra tumpangi disalip oleh mobil tak dikenal sehingga harus mengerem mendadak.
"Aaaaawwwwww...," pekik Hyorin menahan perutnya agar tidak terjadi benturan.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Indra panik.
"Aku baik-baik saja Kak, mereka siapa Kak?"
"Itu pasti orang-orang yang memang sengaja sedang mencari kita Rin,"
"Bagiamana ini Kak?"
"Kamu tenanglah,"
Indra turun dari mobil menemui orang yang menghadangnya, orang itu memiliki postur tubuh yang tinggi besar dan kekar. Indra yang mencoba melakukan perlawanan pada akhirnya jatuh tersungkur dan berhasil di lumpuhkan.
Indra dibawa oleh orang-orang itu entah kemana, sedangkan Hyorin yang masih berada di dalam mobil mendapatkan instruksi untuk turun dan berpindah ke mobil Doni yang ada di belakang mobil yang ditumpanginya.
"Apakah Nona baik-baik saja?"
"Aku bak Kak,"
"Ayo kita pergi dari sini, Ayesh pasti sudah cemas."
"Kak Indra mau dibawa kemana Kak?"
"Dia akan dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Doni juga menjelaskan jika mereka tidak akan melukai Indra lebih dari apa yang mereka lakukan kepadanya karena tadi dia melawan.
Hyorin merasa lega dengan apa yang Doni jelaskan kepadanya, sebab bagaimanapun juga Hyorin pernah menyukai Indra sebelum tahu jika Indra hanya ingin memanfaatkannya saja.
Hyorin sudah berada di rumah sakit, dia berhambur ke arah Ayesh. Memeluknya erat seolah sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Gadis nakal dari mana saja kau?" tanya Ayesh sembari menoel hidung mancung istrinya.
Hyorin mengelus-elus hidungnya yang sebenarnya tidaklah sakit.
Hyorin hanya tersenyum, kemudian pandangan Ayesh beralih ke Doni seolah meminta penjelasan darinya.
Doni mengedikkan bahunya, "Kami cuma pinjam istri kamu sebentar saja, lihatlah aku kembalikan dengan utuh...tuh!"
Disaat bersamaan datanglah Jesika menjenguk Ayesh.
Jesika merasa prihatin atas apa yang terjadi pada Ayesh, setelah berbasa-basi sebentar Hyorin mengajak Jesika untuk duduk di sofa. Sedangkan para lelaki masih mengobrol yang tampak sangat serius.
"Indra sudah tamat sekarang Yesh, kamu sudah bisa bernafas dengan lega," Doni menepuk pundak Ayesh.
"Terimakasih Don, kamu sudah bekerja sangat keras!"
Doni mengangguk, "Kamu harus ambil tanggungjawab kantor untuk sementara waktu Don, selama aku belum bisa melakukkannya."
"Percayakah kau kepadaku?"
__ADS_1
"Tentu saja, kenapa tidak!" Ayesh menampilkan senyum penuh arti kepada Doni.
Doni setuju untuk menggantikan Ayesh sementara mengurus kantor karena Ayesh harus istirahat total agar kakinya cepat sembuh, kembali seperti semula.