
Indra setelah diberhentikan dari rumah sakit Mahardika, dia memilih untuk tidak bekerja selama beberapa waktu, memilih berlibur dan menikmati hidupnya.
Hal ini tentu saja sangat mudah baginya sebab Ayah Indra juga merupakan seorang pengusaha sukses yang tidak kekurangan uang untuk sekedar membiayai kehidupan keluarganya termasuk Indra.
Saat Indra memilih menjadi Dokter sebenarnya ada rasa tidak rela karena Indra merupakan harapan Ayahnya untuk meneruskan perusahaan miliknya, namun kekerasaan hati Indra membuat orangtua itu akhirnya mengalah dan dengan tidak bekerjanya Indra kini di rumah sakit membuatnya kembali merencanakan untuk memasukkan Indra ke Perusahaan meskipun dengan background pendidikan yang mungkin tidak linear sesuai dengan bidangnya.
Indra memilih patuh dengan pengaturan orangtuanya dengan syarat setelah dia kembali dari berlibur ke luar negeri baru dia akan masuk ke perusahaan.
Setelah berlibur ke Perancis, Indra memilih Australia untuk tempat bersinggah sebelum kembali ke Indonesia. Tidak disangka dihari terakhir dirinya berada di Australia dia malah bertemu dengan Ayesh disana dengan tidak disengaja, meskipun tidak sempat untuk bertegur sapa namun kali ini dia memiliki kesempatan untuk bisa melancarkan politik devide et impera atau biasa disebut sebagai politik adu domba yang pernah dilakukan bangsa Belanda kepada bangsa Indonesia pada masa penjajahan untuk memecah belah persatuan.
Kali ini yang akan porak poranda pastilah sebuah onggokan daging yang bernama hati. Indra tersenyum licik.
Indra dengan lancarnya mengirimkan foto yang baru di dapatkannya malam ini kepada Hyorin tentu saja dengan editing yang terkesan seolah Ayesh sedang berkencan dengan seorang perempuan yang tidak lain adalah Alysa.
Indra kini tinggal menunggu kapan bom itu akan tersulut dan meledak.
"Kali ini aku pasti berhasil, ha..ha..ha...," Indra tertawa dalam hatinya.
Malam ini Indra langsung bertolak ke tanah air karena dia memang berencana menggunakan penerbangan malam karena dirasa lebih nyaman sekaligus ingin melihat reaksi Hyorin secara langsung esok hari.
Hyorin kini tengah terpulas di dalam kamarnya, hingga suara panggilan membuatnya terbangun.
"Hallo sayang apakah sudah tidur?" sapa Ayesh begitu panggilannya tersambung dan layar ponsel Hyorin dipenuhi wajah suaminya.
"Aku kangen sekali sama kamu Mas, kemana saja sejak kemarin kenapa susah sekali dihubungi?"
"Aku melakukan penyelidikan terus menerus hingga tak sempat menghubungimu sayang, maafkan Mas ya,"
Hyorin mengangguk, "Jam berapa ini? Apakah Mas baru saja pulang?"
"Iya sayang, tadi baru saja bertemu teman."
"Teman?"
"Iya sayang, kapan-kapan aku kenalin. Bagaimana dengan debay apakah dia rewel?"
"Tidak Mas, dia sangat menurut." Hyorin mengarahkan kameranya ke bagian perut.
Ayesh membuat gerakan seolah sedang menciumi anaknya dalam jarak jauh.
"Mas kapan pulang? Pernikahan Kak Oshan tinggal sebentar lagi Mas,"
"Aku usahakan bisa cepat pulang, Mas sudah kangen banget sama kamu pengin menjenguk dedek bayi juga,"
"Ihhh...Mas," wajah Hyorin bersemu merah mengerti maksud ucapan Ayesh.
"Mas tutup dulu ya, kamu bobo lagi gih. Do'akan Mas agar besok kita bisa menemukan Mr. Jacob."
__ADS_1
"Iya Mas,"
"I Love you Sayang,"
"I Love you too Mas,"
Mereka mengakhiri panggilan video untuk malam ini, Hyorin merasa lega karena Suaminya dalam kondisi baik. Hyorin memilih untuk tidur kembali dan membiarkan ponselnya begitu saja.
Keesokan paginya Ayesh dan Doni sudah berada di rumah Alysa dan Alex, rumah yang begitu mewah, sangat terawat dan asri sebab disana sini terdapat pot-pot bunga yang berjajar rapi, pohon-pohon yang rindang membuat suasana sejuk meskipun terletak diperkotaan yang cukup padat penduduknya.
Alex membawa mereka berdua ke ruang kerjanya, membongkar banyak berkas untuk melakukan pemetaan kemungkinan Mr. Jacob berada.
"Alex apakah kau tahu anak-anak Mr. Jacob tinggal dimana?" tanya Doni yang berpikir kenapa mereka tidak menemui anak-anaknya saja untuk menanyakan keberadaan Ayah mereka.
"Aku sudah pernah melakukannya, namun respon anak-anaknya sungguh di luar dugaan."
"Di luar dugaan, maksudnya bagaimana Lex?"
"Anak-anak Mr. Jacob sepertinya sengaja agar keberadaan Mr. Jacob tidak diketahui oleh siapapun, jadi percumah saja ketika kita bertanya kepada mereka."
"Baiklah, tidak ada cara lain kecuali kita mencarinya sendiri."
Mereka terus membuka file-file yang Alex berikan tanpa istirahat sedikitpun, kecuali untuk sholat, ke kamar mandi dan mengisi perut hingga tidak terasa waktu sudah dini hari. Lelah yang menyergap membuat mereka tertidur di sofa ruang kerja Alex.
Hyorin dibuat uring-uringan seharian ini karena Ayesh kembali tidak bisa dihubungi, selain itu kiriman foto-foto dari Indra membuat dadanya sesak.
Hyorin tetap positif thingking meskipun hatinya sangat resah. Berkali-kali Indra mencoba melakukan provokasi melalui pesan yang dia kirimkan, namun Hyorin tidak membalas pesan Indra satupun.
"Sial...Orin memang benar-benar tidak mudah untuk diprovokasi," umpat Indra.
Ayesh dan Doni sudah hampir seminggu berada di rumah Alex sebab akan memakan waktu jika harus bolak balik dari hotel ke rumah Alex. Kini keduanya memiliki petunjuk yang cukup akurat terkait Mr. Jacob.
Mereka bertiga bergegas menuju Peternakan sapi dan domba di Queensland dan New South Wales sebab dari data yang mereka peroleh Mr. Jacob menghabiskan masa tuanya di daerah itu untuk mengurus ternak-ternaknya.
Hal ini tentu tidak mudah bagi Ayesh dan Doni sebab tempat itu sangatlah luas. Sedangkan waktu yang tersisa tinggal beberapa hari lagi, Ayesh sudah berjanji kepada Hyorin jika dirinya akan pulang disaat Kak Hyoshan menikah.
Peternakan sapi dan domba di Australia menghasilkan daging dan wol yang diusahakan di daerah padang rumput, pada kota atau daerah Queensland dan New South Wales sehingga Australia mendapat julukan sebagai negeri wol karena Australia merupakan negara penghasil dan pengekspor terbesar wol dan daging. Ekspor daging sapi dan domba terutama ke Amerika Serikat dan Jepang. Sedangkan ekspor peternakan yang lain yaitu berupa susu kering dan dikalengkan, mentega dan keju.
"Yesh bagaimana ini jika kita tidak berhasil bertemu dengan Mr. Jacob?"
"Jangan membuatku gugup Don!" jawab Ayesh yang juga merasa frustasi.
"Kalian tenanglah, kita pasti akan menemukannya," ucap Alex meyakinkan kedua sahabat istrinya itu.
Alex memang sengaja ikut dengan mereka selain sebagai petunjuk jalan, dia juga sekaligus melakukan liputan di daerah tersebut. Ayesh bersyukur karena suami Alysa sangatlah baik kepada mereka. Tentu saja karena dulu ketika Alex di Indonesia orang-orang Indonesia sangat baik dengannya, sehingga tertanam dalam benaknya bahwa dia haruslah sama berbuat baik terhadap tamu istrinya itu.
Sudah sekitar Empat hari mereka berkeliling, namun belum bisa bertemu dengan Mr. Jacob.
__ADS_1
Disaat mereka sedang beristirahat untuk makan siang di sebuah kedai, terjadilah keributan di dalam kedai tersebut. Disana ada seorang pria tua yang hendak dipukuli oleh segerombolan pemuda berbaju hitam karena tidak mau menyerahkan uangnya kepada mereka.
Alex yang memahami situasi itu, karena kejadian serupa sudah sering terjadi ketika dia melakukan liputan diberbagai tempat langsung saja menghampiri para pemuda itu yang diikuti oleh Ayesh dan Doni.
Setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang, namun tidak diperoleh titik temu antara kedua belah pihak, pada akhirnya baku hantam tidak dapat terelakan.
Pengunjung yang ketakutan akhirnya pergi meninggalkan kedai itu. Beruntung mereka bertiga dapat menumbangkan gerombolan para pemuda itu sehingga mereka kabur karena ketakutan.
"Kakek apakah kau baik-baik saja?" tanya Ayesh yang melihat orangtua itu duduk bersimpuh di lantai.
"Aku baik-baik saja anak muda," jawab sang Kakek.
Ayesh membantu orangtua itu berdiri dan mendudukannya di bangku kayu yang ada di dalam kedai.
"Kek dimana rumahmu, biar kami antar Kakek pulang,"
"Rumahku ada di ujung jalan sana," Kekek itu menunjukkan arah rumahnya yang berada tidak jauh dari kedai itu.
Mereka mengantarkan Kakek yang sudah renta ke rumahnya setelah memberikan uang ganti rugi kepada pemilik kedai atas kekacauan yang terjadi.
Di depan rumah sang Kakek mereka disambut oleh Dua orang yang merupakan pasangan suami istri yang sepertinya sedang cemas.
"Ya ampun Kakek, kau dari mana saja kami sangat cemas."
"Sudahlah nanti aku ceritakan...ajak mereka masuk dulu," jawab Kakek yang merasa tidak bersalah.
"Mereka ini siapa Kek?"
"Penolongku!"
Wanita itu mempersilahkan tamu Kakeknya untuk masuk tanpa banyak bertanya lagi dan mengambilkan minum serta camilan untuk mereka.
Ayesh melihat sekilas cincin yang dipakai oleh si Kakek dan sungguh Ayesh baru menyadarinya.
"Kek apakah nama Kakek Mr. Jacob?" tanya Ayesh.
"K-kau kenapa tahu namaku? Bukankah kita belum berkenalan?" jawab Kakek sedikit gemetar.
"Namaku Ayesh Kek, ini Doni dan ini Alex." Ayesh memperkenalkan diri dan kedua sahabatnya.
Ayesh merasa sangat lega sebab disaat-saat terakhir dia bisa menemukan Mr. Jacob dan siap mengungkap sebuah kebenaran.
"Kek apakah kau menganali cincin ini?" Ayesh memperlihatkan cincin yang dibawanya kepada Kakek.
Mr. Jacob mengambil cincin yang ada di tangan Ayesh, dia mengamatinya dengan seksama ternyata sama persis dengan cincin yang tersemat dijari manisnya.
Ayesh diliputi kebahagiaan karena berhasil menemukan Mr. Jacob sedangkan istrinya yang berada di seberang sana sedang menggalau berat, pernikahan Kakaknya tinggal sehari lagi dan suaminya tak kunjung kembali.
__ADS_1