Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 97


__ADS_3

Hyorin mulai membuka matanya, dia melihat sekeliling yang terasa begitu asing baginya. Hyorin memijit-mijit kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.


Nita yang menunggui Hyorin sejak tadi mendekati ranjang rawat Hyorin karena melihat pergerakan disana.


"Nit aku dimana?" tanya Hyorin begitu melihat Nita menghampirinya.


"Kamu di rumah sakit Rin," jawab Nita.


"Mas Ayesh...,"


"Mas Ayesh dimana Nit?" ucap Hyorin dengan nada bergetar begitu teringat akan Ayesh yang mengalami kecelakaan.


"Ayesh sedang ditangani oleh pihak rumah sakit, kamu tenanglah semua pasti akan baik-baik saja."


"Nit tolong antarkan aku kesana!" pinta Hyorin.


"Kamu masih lemah Rin, istirahatlah dulu!"


"Aku mau melihat kondisi Mas Ayesh, tolong Nit aku mohon!"


Buliran bening mulai membasahi pipi Hyorin, dia memeluk Nita sangat erat.


"Aku akan antarkan kamu, tapi kamu harus kuat. Jangan menangis, nanti semua akan sedih jika melihat kamu seperti ini."


Hyorin mengangguk dan menghapus air matanya.


Nita mendorong kursi roda Hyorin menuju tempat dimana Ayesh sedang mendapatkan penanganan oleh Dokter.


Ternyata di tempat itu sudah ada orangtua Ayesh dan juga Doni.


"Orin sayang, kamu baik-baik saja kan?"


Ibu Mertua Hyorin menghampiri dan memeluknya dengan erat.


"Mas Ayesh baik-baik saja kan Bu?"


"Pasti...pasti dia akan baik-baik saja, kamu harus yakin, do'akan dia ya Nak!"


Disisi lain Ayah Ayesh dan juga Doni sedang sibuk mengerahkan sumber daya yang mereka miliki untuk mencari siapa orang yang sudah merusak rem mobil Ayesh, sebab berdasarkan hasil penyelidikan terhadap mobil yang Ayesh kendarai terdapat rem yang sepertinya sengaja diputus dengan menggunakan benda tajam oleh seseorang.


Hyorin menunggu dengan cemas, dia tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Ayesh, bagaimana dengan dirinya dan juga buah cinta mereka yang belum lahir ke dunia.


Hyorin tidak bisa hidup tanpa Ayesh, anaknya juga tentu saja membutuhkan sosok Ayah untuk tumbuh kembangnya kelak.


"Rin sebaiknya kamu istirahat dulu, ayo aku antarkan ke kamar rawat kamu!" Nita mencoba membujuk Hyorin agar mau kembali ke kamar tempat dia tadi dirawat.


"Aku tidak mau Nit, aku mau menunggu Mas Ayesh disini."

__ADS_1


"Orin kamu tidak boleh keras kepala seperti ini, nanti kamu bisa sakit!" bujuk Nita lagi.


"Ayah dan juga Kak Oshan akan segera sampai disini, mereka juga akan membantu menjaga Ayesh," ucap Nita lagi.


"Tunggu sebentar lagi ya Nit,"


Tidak berselang lama, lampu ruangan tempat dilakukannya operasi pun padam. Dokter keluar dari dalam ruangan operasi.


"Siapa keluarga pasien, saya ingin berbicara!" ucap Dokter itu.


"Saya istrinya Dok," jawab Hyorin.


"Dokter Orin, apa kabar?" sapa Dokter yang menangani operasi Ayesh.


"Saya baik Dok," jawab Hyorin ramah.


Dokter itu memandang sedih ke arah Hyorin yang tengah mengandung besar. Ada rasa iba kepada Hyorin yang harus mendapatkan cobaan seperti ini dikala dia juga membutuhkan sosok suami yang seharusnya bisa menjaganya.


"Adakah anggota keluarga lain selain Dokter Orin disini?"


"Saya Ayah pasien Dok," jawab Pak Akbar.


"Tuan mari ikut saya, Dokter Orin kau juga bisa ikut!"


Pak Akbar dan Hyorin masuk ke dalam ruangan Dokter, setelah mereka duduk kemudian Dokter menjelaskan kondisi pasien yang cukup stabil. Hanya saja harus dirawat untuk beberapa hari ke depan di rumah sakit, sebab pasien menderita patah tulang pada kaki kanannya.


Hyorin merasa cukup lega sebab Ayesh masih bisa tertolong meskipun dia harus mengalami patah tulang.


Pak Akbar dan Hyorin keluar dari ruang Dokter menuju kamar rawat Ayesh, sebab tadi Ayesh sudah dipindahkan ke ruang rawat VVIP.


Hyorin menghampiri Ayesh yang masih terbaring diranjang dengan perban menempel dimana-mana, Ayesh belum sadarkan diri karena efek obat bius saat operasi. Banyak luka lecet dimana-mana, Hyorin merasa geram memikirkan orang yang tega membuat suaminya terkapar tak berdaya seperti ini.


"Mas kamu harus sembuh, demi anak kita!" Hyorin sesenggukan sambil mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit.


"Nak kamu harus istirahat, biarkan Ibu dan Ayah yang menjaga Ayesh, kamu bisa pulang dulu sekarang!"


"Aku tidak mau Bu, aku mau disini menemani Mas Ayesh,"


"Aku mau melihat Mas Ayesh sampai dia tersadar," Hyorin keras kepala.


"Nanti kalau kamu sakit bagaimana?"


"Aku pasti kuat Bu,"


"Baiklah Nak, kamu jaga kesehatan ya. Ibu dan Ayah serta yang lainnya akan pulang dulu, besok Ibu akan kembali lagi kesini."


Keluarga Ayesh dan keluarga Hyorin pamit untuk pulang, hanya Doni yang masih tinggal di rumah sakit untuk membantu Hyorin dan Ayesh jika membutuhkan sesuatu.

__ADS_1


Hyorin tertidur di samping Ayesh dengan posisi duduk. Tengah malam, Ayesh mulai tersadar. Dia meraba sisi ranjang, ternyata istrinya tertidur disampingnya menungguinya dengan wajah sembab. Ayesh mencoba meraih tangan istrinya itu.


"Kamu pasti sudah terlalu banyak menangis karena aku," batin Ayesh menyesali dirinya yang tidak mampu bersikap lebih dewasa.


Hyorin yang merasakan ada sentuhan hangat pada tangannya kemudian membuka mata yang masih terasa sedikit berat. Betapa bahagianya Hyorin ketika melihat suaminya telah sadar. Senyum dibibirnya merekah begitu indah, rasa ngantuk yang tadi menyergap sirna sudah berganti dengan kebahagiaan.


"Mas Ayesh aku takut Mas, takut sekali!" Hyorin menitikkan air matanya.


"Maafkan aku sayang, aku pergi tanpa bertanya dan berakhir seperti ini!"


"Lupakan semuanya Mas, yang terpenting Mas harus sembuh dulu."


"Kakiku rasanya sakit sekali Rin,"


"Kamu mengalami patah tulang, untuk sementara waktu Mas tidak bisa berjalan dengan sempurna."


"Maafkan aku sayang, aku tidak mampu menjaga diriku sendiri."


"Aku yang akan menjagamu Mas!" ucap Hyorin mantap.


Keesokan paginya ketika Hyorin sedang menyuapi Ayesh sarapan, datanglah dua orang dari pihak kepolisian hendak menanyakan kronologi kejadian karena mereka mendengar jika korban sudah sadar dan dapat diajak untuk berkomunikasi. Mereka berkenan untuk menunggu hingga Ayesh selesai sarapan. Keterangan dari Ayesh akan sangat membantu dalam mereka melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku kejahatan yang telah memotong kabel rem mobil Ayesh hingga menyebabkan terjadinya kecelakaan tunggal yang Ayesh alami.


Doni menemani Ayesh di dalam karena permintaan Hyorin, sedangkan Hyorin sendiri memutuskan untuk keluar dari ruangan tempat Ayesh dirawat. Dia pergi ke sebuah minimarket yang dekat dengan rumah sakit untuk membeli beberapa makanan dan minuman. Di depan minimarket dia berjumpa dengan dua orang yang cukup mencurigakan. Tampak mereka sedang menunggu seseorang. Hyorin masuk ke dalam dengan mata terus mengawasi gerak-gerik mereka.


Tidak berselang lama, tampak seseorang keluar dari mobil yang kemudian menghampiri mereka.


Hyorin begitu terkejut ketika mengetahui jika Indralah orang itu.


"Bukankah Kak Indra pergi ke luar negeri?" batin Hyorin.


Hyorin terus mengawasi interaksi mereka dari dalam.


"Kalian bekerja sangat bagus, tidak membuat orang itu mati tapi membuatnya sekarat untuk bisa mati perlahan-lahan!" ucap Indra merasa puas.


Indra menyerahkan sebuah paperbag kepada mereka yang entah apa isinya, mungkin saja uang tapi untuk menyamarkan sehingga terkesan sebuah barang.


"Anggap kita tidak pernah berjumpa!"


Indra kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya kemudian meninggalkan dua orang tadi yang juga menyusul pergi dengan mengendarai motor mereka.


Hyorin menyudahi belanjanya, membayar di kasir kemudian bergegas keluar dari minimarket untuk kembali ke rumah sakit.


Hyorin masuk ke dalam ruang rawat Ayesh, disana hanya ada Ayesh dan Doni. Kedua polisi tadi sudah pamit untuk melanjutkan penyelidikan mereka.


Hyorin menceritakan apa yang dilihatnya tadi, "Aku malah merasa curiga dengan Indra," ucap Doni.


"Aku akan pergi sebentar, kalian baik-baik disini!" lanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2