Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 36


__ADS_3

Hyorin yang belum mengetahui kedatangan Ayesh tampak masih biasa saja. Dia memasuki halaman Kantor Desa Z bersama Nita dan Bapak Kadus 3 sepulang dari mengambil obat di Posko Kabupaten.


Hyorin sedikit mengerutkan keningnya mengingat-ingat sesuatu sebab dia melihat ada mobil yang sepertinya cukup familiar baginya terparkir di halaman Kantor Desa Z, namun Hyorin tidak ingin berpikir terlalu jauh.


Mana mungkin Mas Ayesh datang kemari, bukankah dia masih marah denganku. Hyorin membatin sambil membayangkan kejadian sebelum keberangkatannya ke Desa Z.


"Orin kenapa melamun? Ayo cepat masuk!" Nita menarik lengan Hyorin yang tiba-tiba saja berhenti berjalan.


"Eh...iya Nit," jawab Hyorin gugup.


"Kamu mikirin apa sih Rin? Suami kamu ya? Duh yang tadinya marahan sekarang udah kangen aja." Nita yang sudah tahu bahwa Hyorin sudah menikah malah meledek sahabatnya itu.


"Apaan kamu sih Nit, ayo kita masuk!" Hyorin tersenyum tipis.


Hyorin dan Nita memasuki Kantor Desa Z, sedangkan Bapak Kadus 3 sudah terlebih dahulu masuk ke dalam setelah memarkirkan mobil dinas ke dalam garansi Kantor Desa.


Bapak Kepala Desa Z menyambut mereka dengan hangat dan mempersilahkan mereka untuk istirahat sejenak melepas lelah setelah perjalanan yang cukup jauh sebelum kembali ke tempat tugas sembari menunggu tim lain yang akan mengambil jatah obat yang tadi mereka bawa di Kantor Desa Z.


"Apa kabar Dokter Pribadiku sudah lama tidak berjumpa," suara berat seseorang dengan senyum yang mengembang menyambut Hyorin dan Nita begitu mereka memasuki ruang tamu Kantor Desa.


Hyorin dibuat kaget bukan main, orang yang tadinya hanya ada diingatannya kini benar-benar berada di hadapannya.


"Mas Ayesh...ini bukan mimpi kan?" ucap Hyorin masih dalam mode kaget.


"Iya Rin, ini aku Ayesh...suami kamu!" Ayesh merentangkan kedua tangannya.


Hyorin berlari ke arah Ayesh dan memeluk suaminya itu dengan sangat erat.


"Aku kangen sekali Mas, kenapa tidak pulang sebelum aku berangkat?"


"Maafkan aku Rin, akan aku jelaskan nanti."


Doni dan Nita senyum-senyum sendiri melihat Dua sejoli yang sedang melepas rindu.


"Eheemmmm...," suara deheman Doni mengiterupsi.


Hyorin mengurai pelukannya, dia tampak begitu malu tersadar bahwa di ruangan itu tidak hanya ada dirinya dan Ayesh.


"Loe ini syirik aja Don, gangguin orang saja." Ayesh bersedekap sambil menahan kesal.


"Ingat tempat dong bro, peluk-pelukannya nanti lagi aja ini di Kantor Desa loh tidak enak sama orang-orang yang ada disini." Doni terkekeh melihat sahabatnya dibuat harus menahan gejolak rindu terhadap istrinya.


"Iya...iya gue juga sadar kali ini dimana, cuma pelukan doang juga."


"Hei...enteng sekali loe ngomong gitu ya, kasihanilah kami para jomblo bang!" Doni memasang wajah memelas untuk dirinya sendiri.


"Rin teman-teman dari tim lain sudah pada datang kayaknya tuh, ayo kita keluar dulu!"


"Iya Nit ayo kita keluar, kita selesaikan pekerjaan dulu ya Mas,"


Hyorin dan Nita membagi-bagi obat yang tadi mereka ambil, kemudian teman-teman tim lain meminta izin untuk kembali ke tempat masing-masing.


Hyorin dan Nita masuk kembali menemui Ayesh dan Doni.


"Mas Ayesh dan Kak Doni mau langsung pulang atau menginap?"


"Aku mau ke tempat kamu bertugas dulu!"

__ADS_1


"Dia maunya menginap sama kamu Dokter Orin,"


"Ish...mana boleh aku masih dalam tugas."


"Ceritanya kita diusir nih Dok?"


"Bukan begitu tapi tidak enak sama teman-teman lain."


Ayesh mengerti apa yang istrinya maksudkan, tapi dia ingin berkunjung ke tempat dimana istrinya bertugas.


"Rin nanti kita cari penginapan saja di area kecamatan, biar besok kita bisa lebih dekat kalau kesini lagi. Sekarang bawa kami ke tempat kamu bertugas dulu."


Hyorin dan yang lainnya berpamitan kepada Kepala Desa Z beserta seluruh Perangkat Desa yang ada di Kantor itu untuk kembali ke Dusun 3.


Hari sudah cukup sore ketika Hyorin dan Nita sampai di Dusun 3.


"Kok ambil obat saja lama sekali Dokter Orin? Kemana saja kalian, beruntung stok obat masih ada." Ucap Indra begitu melihat Hyorin dan Nita datang.


"Maafkan kami Kak," jawab Hyorin singkat.


"Seandainya tadi mau aku antar tidak akan begini kejadiannya,"


"Aku yang membuat dia lama untuk kembali," suara bass Ayesh menggema diseluruh ruangan.


"An...Anda...kenapa datang kemari?" jawab Indra sedikit gugup.


"Istri saya ada disini, jadi tidak ada larangan bagi saya untuk bertemu dengannya."


"Tapi dia sedang bertugas, tidak sepantasnya seorang suami menyusul istrinya sampai ke tempat tugas hanya karena alasan pribadi!"


"Tentu saja saya memiliki hak, sebab saya Ketua tim disini!" Indra meninggikan suaranya.


"Loe sabar aja Yesh jangan terpancing," Doni memberi saran.


"Baiklah kalau memang kedatangan saya ini mengganggu saya akan pergi tapi ingat saya pasti akan kembali."


"Mas mau pulang?" tanya Hyorin.


"Iya sayang, aku pulang dulu ya besok aku kesini lagi."


Ayesh kemudian berpamitan kepada Bapak Kadus untuk undur diri, Ayesh menatap istrinya lekat, seolah tidak mau terpisah. Rasa rindu masih menyergap di dalam hati, namun kondisi yang memang tidak memungkinkan.


Hyorin mengangguk menatap sedih kepergian suaminya.


Indra di dalam hati tertawa pongah sebab berhasil melakukan provokasi sekaligus sedih belum juga dia bisa membawa Hyorin ke dalam pelukannya, Ayesh sudah datang menghampiri.


****


Keesokan paginya Kantor Desa Z dibikin heboh dengan kedatangan Ayesh dan Doni yang membawa Sepuluh Truck besar berisi sembako yang akan dibagikan kepada seluruh warga Desa Z.


Hyorin yang sedang memeriksa pasien dikejutkan oleh Nita yang tiba-tiba muncul memberikan kabar yang mengagetkan itu.


"Beneran kamu Nit?"


"Iya Rin, Suami kamu keren banget asli. Sudah ganteng dermawan lagi. Seandainya aku punya suami kaya dia." Puji Nita sambil berkhayal.


Hyorin hanya tersenyum, dalam hatinya dia merasa bangga terhadap Suaminya itu. Sikap cueknya selama ini ternyata diimbangi dengan rasa kepedulian terhadap sesama.

__ADS_1


"Ayo Rin kita ke Kantor Desa,"


"Buat apa Nit? Aku masih banyak pasien yang mengantri."


"Ah kamu nggak asyik," Nita cemberut.


Hyorin menoel hidung Nita gemas, "Kamu ini Nit, kita selesaikan tugas kita saja yang disana sudah ada yang mengurus. Nanti juga mereka bakalan kesini Nit."


Ternyata prediksi Hyorin meleset setelah selesai menyerahkan sembako kepada Bapak Kepala Desa Z, Ayesh dan Doni langsung bertolak pulang menuju Kota dan tidak kembali untuk menemui Hyorin terlebih dahulu.


Ayesh berpesan kepada Bapak Kepala Desa untuk membagikan sembako secara adil kepada seluruh masyarakat dan berjanji akan segera kembali dalam waktu dekat. Ayesh juga tidak lupa menitipkan Istrinya kepada Kepala Desa Z jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Hyorin yang menunggu dengan cemas hingga malam berusaha melakukan panggilan, namun gagal sebab memang ketiadaan sinyal dimana tempat Hyorin bertugas.


Hyorin merasa sangat sedih sebab rasa rindunya begitu dalam. Dia menatap sedih layar ponselnya yang dalam tiga minggu terakhir ini seolah tidak memiliki fungsi apapun.


Hyorin sedang berada di halaman depan tatkala Indra menghampirinya.


"Kok melamun disini Rin?" tanya Dokter Indra berpura-pura tidak tahu dengan situasi yang ada.


"Aku lagi ingin sendiri Kak,"


"Kamu pasti kecewa sama Suami kamu ya yang tidak datang kesini lagi?" tanya Indra provokatif.


"Tidak kok Kak, tidak masalah dia mau datang atau tidak bukankah di tempat tugas tidak seharusnya dia menggangguku?"


"Kamu benar Rin, kita seharusnya bisa menempatkan diri dengan baik agar tidak ada kesan yang buruk ketika kita meninggalkan tempat ini." Indra mengelus pucuk kepala Hyorin.


"Jangan seperti ini Kak, aku mohon."


"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku Rin?"


"Kak tidak usah dibahas lagi ya, aku tidak mau Kakak sakit terlalu dalam. Rasa cintaku mungkin sudah dalam posisi yang berbeda, aku yakin Kakak akan menemukan yang jauh lebih baik dari pada aku Kak."


"Tapi Rin...,"


"Aku sudah tergapai oleh orang lain dan kini sudah saatnya Kakak menggapai cinta yang lain pula."


Hyorin beranjak dari tempat duduknya, khawatir nantinya akan terjadi kesalahpahaman terhadap dirinya dan juga Dokter Indra sebab sudah banyak yang tahu bahwa dia telah menikah dengan orang yang tadi siang cukup membuat heboh Desa Z.


Indra menatap nanar langit di malam hari, rasa hatinya yang sudah tak terbendung berulang kali mendapatkan penolakan dari gadis yang sama. Sakit dia rasakan begitu dalam tapi dia sadar bahwa apa yang dilakukannya memanglah tidak dapat dibenarkan.


Ayesh kini sudah dalam perjalanan pulang, Dia sangat puas hari ini meskipun tidak dapat berjumpa dengan istri tercintanya.


"Yesh kenapa loe nggak nemuin Istri loe dulu sebelum pulang tadi?"


"Tidak perlu Don, ntar si Ketua tim ngamuk lagi, gue nggak mau terjadi keributan."


"Takut loe sama tuh orang?"


"Bukannya takut Don, tapi gue nggak mau aja Istri gue jadi tertekan."


"Bijaksana banget loe Yesh, semakin kesini gue perhatiin kayaknya loe banyak perubahan dari si Tuan yang tak berperasaan jadi Tuan yang baik hati dan dermawan."


"Gila loe Don, separah itukah Gue Don?"


Mereka berdua tertawa bersama, sedangkan dibelahan bumi lain ada seseorang yang sedang tidak menentu perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2