Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 45


__ADS_3

Ayesh telah menyelesaikan lagu yang ia bawakan, menggandeng Hyorin untuk turun bersama dari panggung, Ayesh merasa sangat bangga bisa memiliki Istri seperti Hyorin sehingga dia tidak segan untuk memperkenalkannya kepada seluruh teman-teman lamanya.


Teman-teman Ayesh bertepuk tangan meriah untuk mereka berdua, merasa ikut bahagia atas pernikahan Ayesh.


Jovanka tanpa merasa malu naik ke atas panggung, menghampiri Ayesh dan Hyorin yang hendak turun dari panggung.


"Tunggu...! Kalian harus tetap disini!"


"Ada apa Kak? Kami sudah selesai silahkan Kakak lanjutkan ya, kami turun dulu." Jawab Hyorin polos.


"Tidak...Kalian tetap disini,"


Ayesh masih terdiam, dia sudah menduga bahwa akan ada hal yang dilakukan oleh Jovanka. Ayesh bersiap untuk kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja akan terjadi. Ayesh menggenggam erat tangan Hyorin yang ada di sampingnya.


Jovanka meraih microphone yang ada di stand microphone kemudian mulai merangkai kata-kata hasil imajinasinya sendiri.


"Teman-teman mohon maaf ada hal yang harus aku sampaikan saat ini juga di depan kalian semua. Tentu kalian menganalku bukan? Meskipun aku tidak menyelesaikan pendidikanku disini. Aku datang malam ini bukan tanpa alasan, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu dan demi dialah aku kembali," Jovanka mengarahkan jari telunjuknya kepada Ayesh yang ada di depannya.


"Aku dan Ayesh belumlah mengakhiri hubungan kami, tapi saat aku kembali perempuan yang sekarang berada di hadapan kita semua telah merebut Ayesh dariku. Bahkan dia sekarang berstatus Istri sah Ayesh." Jovanka berpura-pura terisak di atas panggung.


"Kalian tentu tahu apa yang aku rasakan bukan? Aku ditinggalkan karena ulah perempuan penggoda ini, dia memang cantik tapi hatinya busuk," Jovanka memandang Hyorin penuh dengan kebencian.


"Kalian tentu tahu bagaimana bucinnya Ayesh terhadapku dulu, kami selalu bersama. Dia juga sudah mengambil hal yang paling berharga yang aku jaga selama hidupku sebagai seorang perempuan, tapi kalian lihat apa yang aku dapatkan? Saat aku kembali dia justru menikah dengan wanita lain, lalu bagaimana dengan nasibku?" Jovanka masih pura-pura menangis.


Hyorin yang mendengar semua penuturan Jovanka merasa dadanya begitu sesak, kebahagiaan yang tadi dia rasakan seketika sirna. Hyorin sampai tidak tahu harus berbuat apa, dia memilih untuk diam dan melepaskan gengaman Ayesh. Hatinya sungguh merasa sakit dan terhianati.


Ayesh yang dia anggap sangat mencintainya ternyata memiliki masa lalu dengan Jovanka yang mungkin saja pernah saling mencintai satu sama lain, pantas saja Ayesh begitu dingin terhadap Jovanka karena telah meninggalkannya ke Luar Negeri dan kini Jovanka telah kembali, Hyorin merasa menjadi orang paling bersalah yang telah mengambil Ayesh dari pelukan Jovanka sebab dia tidak tahu apa-apa mengenai hal ini, dia merutuki dirinya sendiri yang lupa tidak mencari tahu terlebih dahulu mengenai masa lalu Suaminya.


Kasak-kusuk teman-teman Ayesh yang berada di bawah panggung mulai terdengar, ada yang mengolok-olok Hyorin ada pula yang merasa iba dengan nasibnya. Begitupun Ayesh tidak luput dari serangan teman-temannya.


Mereka merasa tidak percaya dengan kelakuan Ayesh yang ternyata di luar dugaan mereka sebab Ayesh yang mereka kenal adalah sosok Pemuda yang sangat cerdas dan tegas, selama kuliah Ayesh tidak menunjukkan gelagat sebagai seorang laki-laki yang nakal.


Bahkan banyak Dosen mereka yang menginginkan Ayesh sebagai asisten dalam mata kuliah yang mereka ampu. Selain cerdas Ayesh juga sosok yang sangat ramah dan sopan, meskipun semua itu pernah hilang dari diri Ayesh sejak kepergian Jovanka ke Luar Negeri.


Teman-teman Ayesh malam ini banyak yang membuat asumsi mengenai kehidupan Ayesh yang sesungguhnya.


Jovanka merasa dirinya ada di atas awang-awang, pengaruhnya berhasil membuat teman-teman Ayesh memberikan penilaian negatif terhadap Hyorin dan Ayesh sendiri.


Dia berharap kali ini umpannya akan kena pada pancingannya, sehingga dia tidak perlu repot-repot untuk memisahkan mereka dengan cara yang lebih kejam sebab mereka akan berpisah dengan sendirinya dan itu merupakan kesempatan Jovanka bisa kembali kepada Ayesh.

__ADS_1


Hyorin mulai berkaca-kaca, memikirkan masa indah bersama Ayesh yang mungkin saja harus segera ia akhiri.


Ayesh melihat Hyorin yang sudah menitikkan air mata, dia tidak mau Hyorin memiliki pemikiran sesuai dengan yang Jovanka katakan, dia tidak mau dianggap merusak masa depan Jovanka dan meninggalkannya.


Ayesh hanya memikirkan perasaan Hyorin, mengenai penilaian teman-temannya terhadap dirinya dia sudah tidak perduli lagi.


Ayesh mendekat ke arah Jovanka, mengambil Microphone di tangan perempuan itu dan menatap Doni seakan memerintahkan sesuatu, Doni yang langsung paham akan maksud Ayesh, lantas menuju control room untuk menampilkan sebuah vidio yang telah lama mereka simpan, awalnya mereka berencana akan memperlihatkan vidio itu kepada Jovanka ketika memang benar-benar dibutuhkan tentu secara privasi tidak pernah ada niatan melakukan hal itu di depan umum. Namun kini kondisinya terlalu berbeda, Jovanka lah yang telah memulai peperangan dengan dirinya.


Jadi mau tidak mau Ayesh harus melakukannya demi Hyorin yang sangat ia cintai. Ayesh khawatir jika tidak segera diatasi bagaikan bulu yang sudah bertebaran terbawa angin akan sangat susah dipungut kembali, sehingga Ayesh ingin secepatnya melakukan klarifikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman dan tidak melewatkan kesempatan ini untuk menjelaskan yang sesungguhnya di depan semua orang.


Ayesh berdiri di sebelah Jovanka dengan wajah yang serius dan sangat tegas.


"Teman-teman sebelumnya mohon maaf seharusnya permasalahan pribadi saya kalian tidak perlu untuk mengetahuinya, sebab ini bukanlah hal yang patut dikonsumsi oleh publik, tapi yang perlu kalian ketahui bahwa saya sangat mencintai Istri saya yang kali ini pasti sedang sangat sedih dan merutuki nasibnya sendiri karena telah menikah dengan orang seperti saya," Ayesh menjeda ucapannya, sesekali melirik Hyorin yang berdiri mematung dengan bercucuran air mata.


"Kalian perlu tahu bahwa orang di samping saya ini, Nona Jovanka....ya saya akui dia memang pernah menjalin hubungan dengan saya sewaktu kami kuliah bersama, tentu teman-teman semua tahu sebab kami tidak pernah merahasiakan hubungan kami, saya menjaganya dengan sangat baik, bahkan saya tidak pernah sekalipun menyentuh dia, saya ingin menjadikannya Nyonya Ayesh setelah kami sama-sama menyelesaikan kuliah," Ayesh kembali menjeda ucapannya membuat Jovanka merasa dilambungkan ke udara karena Ayesh memang dulu benar-benar mencintainya dan menjaganya.


"Namun kepergiannya ke Luar Negeri yang tiba-tiba secara tidak langsung membuat hubungan kami renggang, saya berusaha untuk bersabar. Dialah yang memberikan jarak dengan memutus komunikasi, apakah kalian semua tahu mengapa saya pernah sangat frustasi? Ah tentu kalian tidak akan percaya jika saya hanya berbicara, tapi mari kita lihat bersama dan silahkan kalian berikan penilaian kalian sendiri!"


Ayesh memberikan tanda agar vidio itu di putar dengan tepukan tangan sebanyak Dua kali, semua orang yang ada disana menyaksikan dengan jelas apa yang dilakukan Jovanka saat berada di Luar Negeri.


Hampir semua orang menghujat kelakuan Jovanka yang sungguh amoral, padahal dia mengaku dia belum memutuskan hubungan dengan Ayesh. Bagaimana mungkin seorang Laki-laki tidak akan meninggalkannya jika kelakuannya seperti itu.


Hyorin yang menyaksikan vidio itu merasa sangat prihatin, wanita seperti Jovanka menurunkan harga dirinya hanya karena ingin Ayesh kembali kepadanya.


"Dari mana kamu bisa memiliki vidio itu?"


"Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkannya, tapi kamu perlu tahu jika aku bukan Laki-laki bodoh seperti anggapanmu yang mau menerima bekas dan tidak hanya itu kamu wanita licik yang suka memfitnah!"


Hyorin mendekati Ayesh, dia menarik tangan Ayesh agar jangan melanjutkan lagi.


"Rin kamu harus percaya padaku, Ayesh pernah menyentuhku dan mengambil mahkotaku. Bukankah aku pernah memberitahumu? Kenapa kamu tidak mempercayaiku?" Jovanka memelas kepada Hyorin meminta agar Hyorin mempercayainya.


Hyorin malah merasa bingung dengan perkataan Jovanka yang mengatakan bahwa dia pernah memberitahukan hal ini, tapi kapan? Hyorin sendiri tidak ingat dan merasa belum pernah ada pembicaraan serius dengannya sama sekali.


"Sudahlah Jov hentikan saja semua ini, hubungan kita sudah berakhir sejak lama, bukan aku yang merusakmu tapi dirimu sendiri!"


Jovanka merasa sangat dipermalukan oleh Ayesh di depan semua orang, dia menangis sesenggukan atau mungkin hanya pura-pura menangis tidak ada yang tahu sebab dia sangat lihai dalam bersandiwara.


Jesika yang menatap Jovanka dari bawah panggung merasa puas, dendamnya terbalaskan. Namun, dia akan tetap berpura-pura iba kepada Jovanka.

__ADS_1


"Ayo Rin kita turun," ajak Ayesh kepada Hyorin.


Hyorin tidak menjawab, dia mendekat ke arah Jovanka merasa kasian kepada gadis itu yang masih menangis, sebagai sesama perempuan Hyorin merasa paham akan nasib buruk yang menimpa Jovanka meskipun itu adalah akibat dari ulahnya sendiri.


Hyorin memeluk Jovanka dan hendak mengajak Jovanka turun bersama.


"Kak Jov ayo kita turun, jangan menangis lagi ya Kak?" ucap Hyorin lembut.


"Kamu tidak perlu sok baik kepadaku!"


"Kak...,"


Jovanka melihat kesempatan yang ada, Hyorin yang berdiri di bibir panggung dia dorong dengan sangat kuat hingga Hyorin terjatuh ke bawah panggung. Ayesh terlambat mengambil tindakan untuk menolong Istrinya.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi apa-apa dengan Orin, aku tidak akan melepaskanmu sampai ke ujung dunia sekalipun!" ancam Ayesh kepada Jovanka.


Ayesh berlari turun dari panggung, bergegas menolong Hyorin yang sudah tidak sadarkan diri. Ayesh begitu panik melihat kondisi Istrinya, dia khawatir akan terjadi hal yang fatal pada Hyorin.


Doni pun ikut mendekat ke arah panggung, dia tidak melihat apa yang terjadi sebab dia baru saja kembali dari control room. Doni mengecek kondisi Hyorin yang sudah berada di gendongan Ayesh.


"Don cepat siapkan mobil, kita bawa Orin ke rumah sakit!" perintah Ayesh kepada Doni dengan suara yang bergetar penuh dengan kepanikan.


Doni cepat-cepat ke parkiran membawa mobil ke depan gedung tempat berlangsungnya acara. Ayesh bergegas memasukkan Hyorin ke dalam mobil dan mendekapnya dengan sangat erat dipangkuannya.


Jesika menemui Jovanka yang turun dari panggung dengan lunglai disertai dengan cibiran dari semua orang yang ada di sana.


"Jov kamu tidak apa-apa kan?"


"Bolehkah aku meminta bantuan kamu Jes?"


"Apa Jov katakan saja padaku?"


"Tolong temani aku ke sebuah tempat untuk bersenang-senang agar masalah ini bisa aku lupakan,"


"Dengan senang hati Jov, ayo kita pergi!" ada kelicikan dibalik ucapan Jesika.


----------------------------------------------------------------------


Happy reading ya Kak 😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak. ❤️❤️❤️


Terimakasih ya Kak... 💕💕💕


__ADS_2