Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 58


__ADS_3

"Aku akan segera kesana Don,"


Panggilan telfonpun terputus.


Ayesh mengantar Hyorin terlebih dahulu ke Apartemen mereka, namun saat tiba di depan Apartemen Hyorin belum bangun dari tidur nyenyaknya.


Ayesh menjadi tidak tega jika harus membangunkan Hyorin. Akhirnya Ayesh menggendong Hyorin menuju ke unit dimana mereka tinggal.


Di dalam lift Ayesh teringat waktu itu dia pernah mengerjai Hyorin dan membawanya paksa masuk ke Apartemennya. Ayesh menatap wajah ayu Istrinya yang masih terpulas digendongannya, Ayesh sangat menyesali perbuatannya sendiri padahal jika dipikir-pikir Hyorin tidak bersalah.


Dialah yang terlalu kaku, dikuasai oleh amarah dan dendam terhadap perempuan. Beruntung saat ini Hyorin benar-benar menjadi Istri sahnya. Ayesh ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu dan berjanji akan memperlakukan Hyorin dengan lebih baik lagi.


Ayesh meletakkan Hyorin di atas ranjang, menyelimuti gadis itu dan mencium keningnya kemudian pergi meninggalkan Hyorin.


Ayesh kemudian melajukan mobilnya kembali, menuju ke kantor Polisi. Disana sudah ada Doni yang sedang menunggu Ayesh.


"Don bagaimana?" tanya Ayesh begitu dia datang.


"Sedang ditangani oleh tenaga medis di dalam, kalau misalnya diperlukan akan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,"


"Apa yang terjadi sehingga dia begitu nekat Don?"


"Hamil...,"


"Diagnosa Dokter kemungkinan besar dia sedang hamil, sehingga dia melakukan percobaan bunuh diri dengan memotong urat nadi tangannya sendiri."


"Orangtuanya juga sudah dihubungi oleh pihak kepolisian dan mereka sedang menuju kemari," jelas Doni lebih lanjut.


"Apa alasannya Don, kenapa dia sampai nekat seperti itu?"


"Hamil tanpa suami dan di luar nikah, motif sementara seperti itu,"


"Dia tidak tahu siapa yang menghamilinya karena saking seringnya berganti-ganti pasangan, menurut informasi yang aku dapatkan terakhir saat acara reuni setelah mencelakai Hyorin, dia pergi dengan Jesika ke sebuah club malam, ada yang melihat dia mabuk berat, keluar dari club dibawa oleh seorang Laki-laki dan entah berakhir seperti apa tidak ada yang tahu. Kemungkinan Jovanka tidak bisa menerima kehamilannya itu karena masih sangat berharap kepadamu Yesh,"


Ayesh manggut-manggut mendengar penjelasan dari Doni. Ayesh bisa memahami jika Jovanka sangat stres dan frustasi karena beberapa usahanya selalu gagal untuk mendapatkan dirinya kembali. Namun, bukan tanpa alasan jika Ayesh menolak Jovanka untuk kembali ke pelukannya, selain Ayesh sudah menikah tetapi juga karena kelakuan Jovanka yang sudah tidak bisa dimaafkan sebab dia tidak bisa menjaga marwah dirinya sebagai seorang perempuan.


Ditambah Jovanka saat ini harus menerima kenyataan bahwa dirinya tengah hamil yang entah dengan siapa dan harus mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama.


Ayesh menerawang jauh membayangkan jika hal itu terjadi pada Hyorinnya, sudah pasti Hyorin juga akan frustasi seperti Jovanka.


Ayesh tidak bisa membayangkan jika Hyorin yang sangat dia sayangi akan berakhir dengan sangat tragis.


Ayesh hanya berempati saja kepada Jovanka tidak ada maksud lain yang terselip di dalam hatinya, meskipun Jovanka dulu pernah menghiasi hari-harinya menjadi berwarna, sekaligus menjatuhkannya dalam gelap rasa hingga seolah mati rasa.


"Jesika...ya kita harus temui dia Don, mungkin dengan seperti itu kita bisa tahu siapa laki-laki yang malam itu bersama Jovanka."


"Kamu masih perduli kepadanya Yesh, setelah apa yang dia lakukan terhadap kamu dan Hyorin?" tanya Doni penuh selidik.


"Apa yang dia lakukan terhadapku aku sudah tidak perduli, tapi apa yang dia lakukan kepada Hyorin tentu tidak bisa aku maafkan jadi dengan aku menolongnya saat ini paling tidak jika anaknya kelak lahir, Ayahnya akan bisa menjaganya dengan baik selama Jovanka menghabiskan masa hukumannya di penjara sehingga anak itu tidak akan kehilangan kasih sayang sebab diasuh oleh Ayah Kandungnya sendiri meskipun tanpa seorang Ibu disisinya paling tidak anak itu tidak akan kehilangan semua kasih sayang dari orangtua kandungnya."


"Analisismu ternyata sejauh itu Yesh," Doni menepuk bahu Ayesh penuh rasa bangga sebab sahabatnya itu sudah semakin dewasa.


"Aku akan segera menjadi seorang Ayah Don, tentu aku paham bagaimana rasanya seorang perempuan akan menjalani hari-hari beratnya selama masa kehamilan tanpa didampingi oleh seorang suami, aku hanya membiaskan itu semua pada diriku sendiri dan Hyorinku."

__ADS_1


"Jika sudah menyangkut Hyorin sepertinya nyawamu juga seolah akan kamu persembahkan untuknya,"


"Kamu belum merasakan betapa indahnya jatuh cinta pada orang yang tepat untuk diri kamu Don, rasa ingin terus memiliki itu melekat dan ajaibnya tidak pernah akan bosan," Ayesh menerawang.


"Ah sudahlah, yang sedang bucin memang seperti ini terkadang pemikirannya tidak masuk akal,"


"Ayo kita lihat bagaimana perkembangan Jovanka!" ajak Doni kepada Ayesh.


Mereka segera pergi ke ruang khusus perawatan yang ada di kantor polisi tersebut, tampak pintu ruang perawatan masih tertutup.


Ketika Ayesh dan Doni sampai disana, sudah ada kedua orangtua Jovanka berada disana.


Mereka sedang duduk dengan cemas menunggu kabar dari Dokter yang sedang menangani Jovanka di dalam.


Ayesh bersikap seperti biasa, menyalami kedua orangtua Jovanka. Ayesh mengulurkan tangan kepada Ayah Jovanka namun ditepiskan oleh Ayah Jovanka, tersirat kemarahan di dalam netra Ayah Jovanka terhadap Ayesh. Mungkin jika bukan di kantor Polisi, sudah dipastikan jika Ayah Jovanka tidak akan melepaskan Ayesh dan mungkin sudah menghajarnya di tempat.


"Untuk apa kamu datang kemari hah?!!" hardik Ayah Jovanka.


"Saya datang karena Polisi meminta saya untuk datang kemari Om," jawab Ayesh enteng.


"Kamu telah melukai Jovanka, bahkan kamu telah meninggalkannya dan kini kamu menjebloskannya ke penjara. Hatimu terbuat dari apa sesungguhnya?"


"Maafkan saya Om, saya bukan orang yang akan memulai jika tidak ada yang memulai duluan,"


"Om bisa tanyakan sendiri kepada pihak kepolisian mengapa Jovanka sampai berada di tempat ini, mengenai mengapa saya meninggalkan Jovanka, silahkan Om tanyakan langsung kepada putri kesayangan Om itu, kalau begitu saya permisi dulu Om, Tante. Selamat malam!"


Ayesh pergi meninggalkan kedua orangtua Jovanka begitu saja tanpa menunggu Dokter keluar dari ruang perawatan pasien, Ayesh sudah tidak ingin tahu mengenai keadaan Jovanka. Dia akan tanyakan kepada pihak kepolisian saja nanti jika memang diperlukan, jika tidak maka Ayesh tidak akan pernah menanyakannya.


Doni memberikan kartu namanya atas perintah dari Ayesh kemudian pergi mengejar Ayesh yang sudah berlalu pergi.


"Kamu urus semuanya Don dan laporkan segera jika ada keadaan mendesak, kita akan mulai melakukan pencarian Jesika dan Laki-laki yang bersama Jovanka malam itu!"


Doni mengangguk paham dan setelahnya mereka berpisah dengan mengendarai mobil masing-masing.


****


Hyorin yang berada di Apartemen terbangun tengah malam, perutnya terasa tidak enak. Sehingga mendorongnya untuk segera berhambur ke dalam kamar mandi.


Hoek...hoek...hoek....


Hyorin mengeluarkan semua isi perutnya, dia merasa sangat lemas saat ini. Hyorin keluar dari kamar mandi dan baru sadar jika Ayesh tidak ada bersamanya.


"Kemana Mas Ayesh malam-malam begini?" pikir Hyorin.


Hyorin pergi ke dapur untuk membuat teh hangat, berharap jika perutnya akan lebih nyaman setelah minum teh hangat.


Hyorin kembali ke kamar dengan membawa minuman yang tadi ia buat. Perlahan perutnya terasa lebih hangat dan terasa nyaman. Namun, hal itu tidak berselang lama. Dia merasakan hal yang sama kembali, perutnya tidak mau berkompromi dan terasa mual.


Hyorin kembali masuk ke dalam kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang tersisa.


Ayesh masuk ke dalam kamar ketika Hyorin masih muntah-muntah. Dia mencari-cari sosok Hyorin dan mendengar suara Istrinya yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


Ayesh mengetuk pintu dari luar.

__ADS_1


Tok...tok...tok....


"Sayang apakah kamu baik-baik saja? Buka pintunya sayang!" perintah Ayesh dari luar.


Tidak terdengar jawaban dari dalam, Ayesh mencoba meraih handle pintu dan membukanya beruntung tidak dikunci.


Ayesh menemukan Istrinya yang masih terus muntah-muntah, Ayesh mencoba membantu Hyorin dengan memijit-mijit leher bagian belakang Istrinya.


Perlahan-lahan Hyorin berhenti dari muntah-muntahnya. Hyorin membersihkan bagian mulutnya dan berbalik ke arah Ayesh, betapa Ayesh sangat terkejut melihat Hyorin yang sudah sangat pucat.


Ayesh kemudian membopong tubuh Hyorin, membawanya keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di atas ranjang.


"Kamu tidak apa-apa sayang?"


Ayesh mengoleskan minyak kayu putih ke perut Hyorin dengan lembut.


"Terimakasih Mas, aku baik-baik saja."


"Mas dari mana? Kenapa tadi tidak ada disini?"


"Aku tadi habis keluar sebentar sayang, lihat ini aku bawa apa untuk kamu?"


Ayesh menunjukkan barang-barang yang tadi sempat dibelinya sepulang dari kantor Polisi, Ayesh sudah bersiap kerena mungkin saja Istrinya akan menanyakan terkait tujuan kepergiannya tadi maka dia sudah siap dengan jawaban berbekal kantong berisi belanjaan.


Bukan maksud Ayesh untuk berbohong, namun dia tidak mau membuat Istrinya khawatir dan kepikiran jika tahu kondisi Jovanka saat ini.


Ayesh tidak mau membahayakan kesehatan Hyorin dan calon bayinya itu, sehingga saat ini dia lebih memilih untuk menyembunyikan masalah Jovanka dari Istrinya.


"Aku tidak tega membangunkanmu yang sedang terpulas dengan sangat nyaman tadi, jadinya aku pergi tanpa pamit, kamu tidak marah kan sayang?"


Hyorin menggeleng sambil mengecek apa-apa yang dibeli oleh Ayesh, "Banyak sekali ini Mas, semuanya untuk Ibu hamil, eh ya...apakah Mas Ayesh yang membawaku naik?"


"Iya sayang, tentu saja aku. Tidak mungkin orang lain bukan? Mana mungkin aku izinkan orang lain menyentuhmu Rin," jawab Ayesh dengan nada penuh keposesifan.


"Maafkan aku ya Mas, selalu membuatmu repot!"


"Isshhh...mana ada kamu merepotkan, yang ada aku yang selalu membuatmu khawatir,"


Ayesh memeluk Istrinya dengan erat, Hyorin merasa sangat nyaman berada di dalam pelukan Ayesh yang justru membuat mual-mualnya berangsur menghilang.


Kriukkkk....kriuukkkkk....


Bunyi perut Hyorin membuat mereka tertawa bersama.


"Apakah anak Ayah lapar?" tanya Ayesh sambil mengecup-ngecup perut Hyorin.


"Ihhh...geli Mas," protes Hyorin.


"Baiklah Nak, kamu pasti sangat lapar ya setelah Ibu memuntahkan semua isi perutnya,"


"Tunggu disini ya, Ayah akan membuatmu kenyang!"


Ayesh melenggang menuju dapur....

__ADS_1


__ADS_2