Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 70


__ADS_3

Pagi ini Hyorin sudah rapi, dia akan mulai masuk rumah sakit kembali setelah beberapa hari terakhir tidak pernah bisa ke rumah sakit karena terlalu banyak kejadian yang menguras hati dan pikirannya.


Dokter Asef tidak pernah mempermasalahkan jika Hyorin tidak masuk sekalipun, dia selalu menempatkan jadwal untuk Dokter cadangan apabila sewaktu-waktu Hyorin tidak bisa ke rumah sakit.


Hyorin sendiri tidak ingin mengecewakan Dokter Asef meskipun dirinya adalah Putri dari pemilik rumah sakit dan bahkan saat ini rumah sakit sepenuhnya adalah miliknya, namun dia tetap memiliki tanggungjawab untuk selalu bertugas sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.


Langkah Hyorin terasa lebih ringan pagi ini seolah banyak beban telah terangkat dari pundaknya.


Hyorin menyapa Karyawan rumah sakit yang kebetulan berpapasan dengannya. Hyorin juga bertemu dengan Indra di koridor. Hyorin berlalu tanpa memperdulikan keberadaan Indra sedikitpun, hatinya begitu kecewa.


Jika dia dulu berpikiran naif dan tidak menerima perjodohannya dengan Ayesh, sudah dipastikan dia akan bersama Indra saat ini dan akan hidup dalam lingkaran kebohongan yang Indra ciptakan untuknya.


"Dokter Orin boleh bicara sebentar?" pinta Indra saat mereka tepat berpapasan.


Hyorinpun berhenti sejenak, menatap laki-laki itu dengan tatapan kurang suka. Seandainya dia mau bersikap arogan ingin rasanya memecat Indra saat ini juga.


"Maaf Dokter Indra, saat ini aku sedang sibuk. Aku harus ke ruang Pasien untuk visitasi," jawab Hyorin datar.


"Kalau begitu setelah Dokter Orin selesai bekerja saja,"


"Maafkan aku Dokter Indra, aku tidak berjanji untuk itu!"


"Apakah Dokter tidak ingin tahu terkait penyebab kematian Ibu dari Dokter Orin sendiri?"


"Maksud Dokter?" tanya Hyorin penasaran.


"Bukankah Dokter Orin sibuk saat ini? Temui aku jika Dokter sudah senggang." Indra berlalu dari hadapan Hyorin.


Hyorin terpaku sejenak mencerna apa yang baru saja Indra katakan. Hyorin sedikit tidak yakin akan ucapan Indra barusan.


"Apa benar yang Dokter Indra katakan?" pikirnya.


Hyorin masih dengan kebingungannya kemudian berlalu memasuki ruang pasien, sedikit melupakan ucapan Indra barusan dan akan memikirkannya nanti saja.


Sementara Silvia dia sudah berada di depan Perusahaan Mahardika Grup. Ketika melangkah memasuki gedung, dia dicegat oleh security.


"Maaf Nona Anda tidak di izinkan untuk masuk ke dalam!"


"Apa kamu tidak tahu aku siapa hah? Aku bekerja disini kenapa aku tidak boleh masuk?!" Hardik Silvia.


"Maaf Nona saya mendapatkan perintah untuk tidak mengizinkan Nona masuk! Saya hanya menjalankan perintah tolong jangan persulit tugas saya Nona!"


"Oshan...Oshan...aku mau masuk...!!!" Silvia berteriak-teriak memanggil Hyoshan.


"Nona silahkan Anda pergi dari sini! Anda sudah mengganggu kenyamanan Perusahaan ini!"


Security itu mencekal tangan Silvia yang terus


memberontak.


"Lepaskan aku...lepaskan...aku mau masuk ke dalam!"


Terdengar derap langkah kaki menghampiri Silvia yang sedang meronta-ronta.


"Lepaskan dia Pak!" Perintah Hyoshan.


"Baik Tuan,"


"Anda boleh pergi untuk bertugas kembali!"


Security itu pamit undur diri, Hyoshan mengangguk.


"Kau Silvia ikut aku!"


Silvia mengikuti langkah lebar Hyoshan.


Hyoshan duduk di kursinya menyerahkan sebuah amplop cokelat.


"Ini bacalah!"


"Apa ini?"


"Buka saja Silvia!"


Mata Silvia membulat melihat isi dari amplop yang ada ditangannya.

__ADS_1


Braaaaakkkkkkkk....


Silvia memukul meja kerja Hyoshan.


"Maksudnya apa ini Oshan?!"


"Kamu di pecat Silvia, perusahaan ini sudah tidak membutuhkan kamu lagi!"


"Selama ini kamu tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, justru kamu memilih untuk bersenang-senang, maka dari itu tidak segan aku akan membebaskanmu untuk melakukan apa saja di luar sana tanpa mengganggu produktivitas Perusahaan!"


"Tidak...kamu tidak bisa memecatku Oshan, aku akan bilang pada Ayah kelakuan kamu yang seenaknya sendiri, kamu pasti akan menyesal!"


"Silahkan saja Silvia,"


Kebetulan sekali Ayah Hyoshan masuk ke dalam ruang kerjanya.


"A-ayah...tolong aku, Hyoshan memecatku Yah!" Silvia berlari ke arah Mahardika, bersikap manja dengan bergelayut di lengan seperti anak kecil.


"Kamu bukan anakku lagi Silvia, keputusan Oshan adalah keputusanku!"


"Pintunya ada disana Silvia, silahkan kemasi barang-barang kamu. Kamu boleh pergi sekarang dan jangan pernah kembali lagi!" usir Tuan Mahardika.


Silvia tidak mampu berkata-kata, dia meninggalkan ruang kerja Hyoshan dengan kesal.


"Sial...sial...kenapa jadi seperti ini, aku pasti akan membuat perhitungan dengan kalian!" umpat Silvia.


Teman Silvia menghampiri Silvia yang sedang mengemasi barang-barangnya.


"Kamu dipecat Silvia?" tanya teman Silvia sedikit merendahkan.


"Diam kamu!"


"Lihat saja aku pasti akan kembali ke Perusahaan ini dan akan aku balas mereka semua!"


"Apa kamu yakin?" teman Silvia tertawa mengejek.


"Tidak usah berisik, minggir aku mau lewat!"


"Idiiihh...udah nggak guna juga masih sombong!"


Ayesh sedang sibuk melakukan penyelidikan terkait cincin yang Mbok Nah temukan, mungkin saja dari cincin itu akan ditemukan petunjuk yang bisa menjebloskan pelakunya ke dalam penjara.


Ayesh dan Doni sibuk mencari tahu dari berbagai media dan sumber. Ayesh melirik jam tangannya dan sudah waktunya bagi Ayesh untuk menjemput Hyorin, dia tidak mau jika Hyorin sampai menunggu.


"Don kamu lanjutkan ya, aku harus menjemput Orin, jika sudah selesai pulanglah."


"Baik Bos, aku juga sebentar lagi mau menjemput Jesika,"


Ayesh mengulum senyum, "Jangan lupa tanyakan pada Jesika, siapakah laki-laki yang malam itu bersama Jovanka!"


"Masih ingat saja rupanya kamu Yesh,"


"Tentu aku ingat Don, apakah kamu lupa tujuanku untuk hidup bahagia?"


"Aku pergi dulu, bidadari surgaku pasti sudah menunggu!"


Ayesh tertawa sambil mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya seperti gerakan orang menembak, kemudian berlalu pergi. Sedangkan Doni muntah udara karena kelakuan Ayesh barusan.


Hyorin masih sibuk menata berkas hasil pemeriksaan pasien diruangannya. Dia teringat perkataan Indra tadi pagi.


"Haruskah aku menemuinya kali ini?" Hyorin bergumam.


"Ah...tidak...tidak...tidak...sama saja aku memohon pada laki-laki menjijikkan itu, bukankah Mas Ayesh sedang menyelidikinya? Tapi apa mungkin ini bisa dijadikan sebuah petunjuk?"


Hyorin menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri merasa berada pada pilihan yang cukup sulit, Hyorin juga khawatir jika Indra sengaja mengatakan hal itu agar dirinya terpancing.


Sudah lama Indra bersama Silvia dan Mamanya, tentu saja bibit kelicikan sedikit banyak sudah tertanam padanya. Hyorin saat ini memilih untuk menghindar dari pada harus berurusan dengan Indra.


Hyorin melihat jam tangannya, merasa suaminya akan segera tiba karena tadi sudah mengabari akan segera sampai. Dia memilih untuk keluar menuju parkiran.


Indra yang melihat Hyorin keluar kemudian mengikuti langkah Hyorin.


"Selamat sore Dokter Orin?"


"Selamat sore Dok," jawab Hyorin datar.

__ADS_1


"Apakah sudah mempertimbangkan ucapanku tadi pagi?" tanya Indra penuh dengan provokasi.


"Mohon maaf Dok, ini sudah sore saatnya saya pulang, mungkin lain kali saja."


"Apa kamu benar-benar sudah tidak menyukaiku Rin?" Indra merubah bahasanya menjadi tidak formal.


"Tinggalkan Pengacara itu, kembalilah kepadaku. Aku akan tetap menerimamu meskipun kamu sedang hamil anak orang lain, aku akan menyayangi anak itu seperti anakku sendiri,"


Indra sepertinya sudah lupa dengan tekadnya tempo hari. Dia sepertinya masih ingin sekali memiliki Hyorin padahal dia pernah berkata asalkan Hyorin bahagia dia akan ikut bahagia, dia ikhlas Hyorin bersama orang lain dan kini setelah lepas dari Silvia justru dia ingin mengejarnya kembali.


"Dokter Indra apakah Anda sudah gila? Jangan asal berbicara karena saya perempuan bersuami yang tidak mungkin berkhianat kepada suami sendiri." Hyorin melanjutkan langkahnya.


"Orin perlu kamu tahu, hubunganku dengan Silvia sudah berakhir!"


Hyorin menghentikan langkahnya, menoleh sebentar ke belakang dan melangkah kembali tanpa perduli ucapan Indra sedikitpun karena baginya baik Indra maupun Silvia sama-sama hanyalah seonggok sampah yang bernyawa, mereka hidup dengan nafsu mereka tapi hatinya dibiarkan mati begitu saja.


"Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan kamu kembali Rin?" Indra membatin.


Hyorin tiba di parkiran bersamaan dengan Ayesh yang juga tiba disana.


Ayesh bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya kemudian kembali duduk di balik kemudi dan membawa istrinya pulang.


Sepanjang perjalanan Hyorin hanya diam, membuat Ayesh merasa sedikit aneh karena istrinya menjadi irit berbicara. Padahal biasanya dia akan banyak bercerita tentang kegiatannya di rumah sakit. Semenjak hamil mood Hyorin seringkali berubah-ubah.


"Kamu kenapa sayang?" Ayesh membelai rambut istrinya pelan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan lainnya dengan lincah mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.


Hyorin hanya menggeleng, sepertinya mood nya kali ini benar-benar sedang tidak baik.


Ayesh menerima notifikasi dari pengawal bayangan yang bertugas mengawasi Hyorin.


Ayesh tidak ingin membuat istrinya curiga dan merasa tidak nyaman karena gerak-geriknya diawasi sehingga dia tidak bergegas membuka pesan dari pengawalnya itu.


"Apakah kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang?"


"Boleh Mas, ayo kita cari makan!" wajah Hyorin tampak bersemangat.


"Ah sepertinya memang karena dia lapar," batin Ayesh.


"Aku yang tentukan tempatnya ya Mas,"


"Boleh, kamu bisa pilih tempat dimanapun yang kamu suka!"


"Benarkah Mas, ayo kita let's go." Semangat Hyorin tiba-tiba bertambah berkali-kali lipat.


Mereka berputar-putar mencari tempat yang nyaman untuk mereka sesuai keinginan Hyorin. Namun, sudah berjalan sekian lama tidak menemukan tempat yang dirasa cocok menurut Hyorin, padahal sudah banyak tempat makan yang mereka lewati tanpa berhenti barang sejenak pun karena selalu saja Hyorin menolak, hampir satu jam mereka mencari bahkan sampai istirahat untuk menunaikan sholat mereka belum menemukan tempat yang tepat.


Ayesh dibuat pusing dengan kemauan istrinya, memang harus memperbanyak stok sabar jika tidak ingin berakhir tidur di luar.


"Mas kamu lihat yang itu, kayanya rame Mas banyak yang antri. Kita kesana yuk Mas?"


Hyorin melihat sebuah tenda dipinggir jalan yang tampak rame pengunjung.


"Disana Rin, kamu yakin?"


"Iya Mas, sangat yakin."


"Apa tidak sebaiknya kita cari tempat lain saja sayang?"


"Memangnya kenapa Mas? Kamu takut makanan disitu tidak bersih, jorok kaya gitu kan Mas?" tuduh Hyorin.


"Bukan itu maksud Mas, kan kamu lihat tuh rame banget kan, apa kamu nggak takut kecapean nantinya, sudah tidak ada kursi kosong sepertinya." Ayesh berusaha mencari alasan yang tepat.


"Mas anak kita maunya makan disitu bukan tempat lain,"


"Iya sayang tapi...,"


Ayesh belum selesai berbicara tapi Hyorin sudah turun dari mobil dan masuk ke kerumunan orang-orang yang sedang mengantri.


"Rin...Rin...dengarkan Mas dulu...,"


 


Hai Kak, maafkan author yang baru bisa update ya, kesibukan di real live membuat tidak bisa nyicil nulis. 🙏🙏🥰🥰🥰


Jangan lupa tetap dukung karya author ya dengan like, coment, vote dan jadikan favourite ya Kak. 😘😘😘

__ADS_1


Terimakasih yang selalu mendukung Author 🙏🙏💕💕💕💕


__ADS_2