
Pagi-pagi sekali Tuan dan Nyonya Akbar sudah sampai di Apartemen Ayesh, mereka ingin melihat kondisi Hyorin begitu mendapatkan kabar jika Hyorin kemarin baru saja diculik.
Nyonya Akbar benar-benar geram mendengar menantu kesayangannya itu diculik, bahkan Nyonya Akbar sampai meminta agar suaminya mengusut kasus ini sampai tuntas.
"Orin sayang, Ibu dan Ayah sangat mengkhawatirkan kamu sayang. Apakah kau baik-baik saja, dimana yang luka biar Ibu datangkan Dokter terbaik untukmu," ucap Nyonya Akbar begitu bertemu dengan menantunya dan langsung memeluknya.
Sifat keibuan Nyonya Akbar sungguh membuat Hyorin nyaman berada disisinya, Nyonya Akbar yang penyayang dan sangat lembut merupakan sosok seorang mertua idaman.
"Aku baik-baik saja Bu, Mas Ayesh menyelamatkanku disaat yang tepat." Hyorin mengurai pelukan Ibu Mertuanya itu.
"Wah putraku memang terbaik," puji Nyonya Akbar kepada Ayesh.
"Bagus Nak, sebagai seorang laki-laki kamu harus bisa melindungi Istrimu dengan baik. Ayah tidak salah mendidikmu selama ini," Ayah Ayesh menepuk bahu putranya penuh dengan kebanggaan.
"Ayah, Ibu ada yang mau aku sampaikan," Ayesh menjeda ucapannya.
"Apa Nak, jangan bikin Ibu penasaran."
"Ayah dan Ibu akan segera menjadi Eyang,"
"Benarkah? Apakah Ibu dan Ayah tidak salah dengar Nak?" Nyonya Akbar sungguh merasa gembira, matanya berbinar menyiratkan kebahagiaan yang tidak dapat terdefinisi.
Hyorin mengangguk membenarkan ucapan Suaminya.
"Eyang...Ayah akan jadi Eyang Kakung? Kamu memang hebat Nak." Tuan Akbar memeluk Putranya.
"Karena Hyorin sedang hamil muda, apa tidak sebaiknya kalian pindah saja ke rumah, jadi Ibu bisa menjaga Orin dengan baik."
"Tidak Bu, kami akan tetap disini." Tolak Ayesh dengan mantap.
"Ishhh...kau ini, tidak tahu kalau Ibu ingin dekat dengan menantu dan calon cucu Ibu saja."
Nyonya Akbar sedikit cemberut dengan keputusan Putranya. Tetapi Ayesh tetap pada pendiriannya yang tidak ingin dibantah. Nyonya Akbar pun pada akhirnya mengalah, hafal dengan perangai Putra semata wayangnya itu yang tidak mudah merubah keputusannya.
Nyonya Akbar menggenggam tangan Hyorin, meletakkannya di atas pahanya dan mengelus-elusnya dengan lembut, menatap menantunya dengan penuh kasih sayang.
"Rin dengarkan Ibu, selama masa kehamilan kamu tidak boleh terlalu capek. Makan yang teratur dan istirahat yang cukup. Jaga cucu ibu dengan baik ya Nak, Ibu pasti akan sering menjengukmu kemari," nasehat Nyonya Akbar kepada Hyorin.
Hyorinpun mengangguk dan tersenyum sangat manis, "Baik Bu, akan Orin ingat nasehat Ibu."
"Apakah kau akan tetap bekerja di rumah sakit Nak?" tanya Ayah Mertuanya.
"Iya Ayah, aku akan ambil cuti jika kandunganku sudah mendekati waktu kelahiran. Jika ambil cuti dari awal dan aku tidak memiliki aktivitas apapun itu pasti akan sangat membosankan."
"Baiklah Nak, jika itu memang keputusanmu tapi ingat jangan capek-capek."
"Yesh jangan lupa perhatikan menantu Ayah dengan baik," pandangan mata Tuan Akbar mengarah pada Putranya.
"Siap Ayah, jangan khawatir akan hal itu."
__ADS_1
"Eh ya, apakah Mahardika sudah tahu soal ini? Pasti dia akan sangat senang mendengar kabar kehamilanmu Nak,"
"Belum Yah," jawab Ayesh dan Hyorin bersamaan.
Mereka akhirnya tertawa bersama merasakan kebahagiaan yang Allah anugerahkan dengan penuh rasa syukur.
Tuan dan Nyonya Akbar pamit untuk pulang karena Ayah Ayesh harus ke kantor pagi ini, sedangkan Ayesh sudah meminta izin untuk tidak masuk kantor sehari dengan alasan akan melakukan viting baju untuk resepsi pernikahan mereka.
Tuan Akbar tentu saja dengan semangat mengizinkan Putranya untuk mempersiapkan acara resepsi mereka dengan baik.
****
Indra saat ini sedang berada di atas ranjangnya, hari ini tidak ada jadwal praktek untuknya, sehingga dia memilih untuk berdiam diri di kamar, otaknya sedang dalam fase sangat tidak kondusif, dia sedang tidak baik-baik saja.
Seorang mantan idola sekolah yang sedang terpuruk, ternyata sanjungan dan pujian di masa lalu akan rupa fisik dan kecerdasan otak yang tersemat pada dirinya justru membuatnya masuk ke dalam jurang kehancuran sebab tak mampu untuk mawas diri.
Indra selalu berpikir jika tidak ada satupun hal di dunia ini yang tidak dapat dia raih. Namun, pada kenyataannya untuk mendapatkan cinta Hyorin saja dia tidak bisa dan bahkan harus berebut dengan orang lain dan pada akhirnya dialah yang harus menerima kekalahan.
Sedangkan kini, dirinya dihadapkan pada sebuah pernikahan akibat ulahnya sendiri yang tidak mampu mengontrol hawa nafsunya dari godaan wanita yang seharusnya dia hindari.
Ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak, inilah gambaran untuk diri Indra saat ini. Indra seharian betul-betul memikirkan pernikahannya dengan Silvia yang sudah sangat dekat.
Berkali-kali Silvia menghubungi Indra melalui sambungan telfon namun dia abaikan, tidak satupun pesan dari Silvia yang dia baca. Indra saat ini benar-benar ingin sendiri, menarik diri sejenak dari hingar bingar dunia yang penuh dengan kepalsuan.
Mengingat kembali jika Hyorin tengah hamil, hatinya sangat sakit sebab impiannya untuk membangun rumah tangga bersama Hyorin pupus sudah. Bukankah akan sangat sulit untuk memisahkan mereka sedangkan buah cinta keduanya sudah ada dalam rahim Hyorin?
Hari ini Ayesh mengajak Hyorin untuk menemui designer baju langganan Ayesh yang memang sedang bertugas menjahit baju mereka berdua untuk dikenakan pada saat resepsi pernikahan mereka nanti.
Ayesh meminta agar baju Hyorin sedikit ditambah ukurannya mengingat Hyorin tengah mengandung saat ini, meskipun baru berusia beberapa minggu dan belumlah merubah bentuk tubuh Hyorin namun Ayesh tidak ingin membuat Hyorin merasa tidak nyaman dan bayinya merasakan sesak nafas ketika memakainya.
Hyorin saat ini sedang berada di dalam untuk mencoba pakaiannya, sedangkan Ayesh telah berganti pakaian dengan setelah jas dengan warna senada yang dikenakan Hyorin.
Ayesh duduk di sofa menunggu Hyorin keluar dari kamar ganti. Tiraipun terbuka, betapa Ayesh takjub dengan hasilnya. Istrinya itu terlihat sangat cantik dengan gaun yang dikenakannya, padahal Hyorin hanya menggunakan make up yang tipis dan natural. Ayesh dibuat tak berkedip dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Cantik...sangat cantik," gumam Ayesh tanpa sadar.
Hyorin hanya tersenyum dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, menahan malu karena Ayesh memujinya.
"Tuan dan Nyonya silahkan persiapkan diri kalian, kami akan mengambil foto kalian berdua,"
Ayesh memposisikan dirinya di samping Hyorin, menggandeng lengan Hyorin dan tersenyum menghadap kamera. Mereka mengambil foto dengan banyak gaya, mulai dari yang biasa saja hingga yang sebenarnya sangat konyol untuk dilakukan.
Acara hari ini pun selesai, mereka sangat puas dengan hasilnya.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil bersiap untuk pulang ke Apartemen karena sudah sangat lelah, terutama Hyorin yang tampak sudah lemas. Tadi sewaktu sesi pemotretan Hyorin sempat beberapa kali muntah, meskipun tergolong hamil muda yang tidak terlalu merepotkan seperti cerita orang-orang kebanyakan namun Hyorin tetap mengalami muntah jika mencium bau yang kurang cocok baginya.
Ayesh memandang sayu pada istrinya yang terkulai lemah di kursi penumpang.
"Apakah kamu lapar sayang?" tanya Ayesh membuka percakapan.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat lelah, bahkan kita sampai melewatkan makan siang karena saking asyiknya tadi."
"Aku tidak apa-apa Mas, hanya lemas saja."
"Kita cari makan dulu di sekitar sini ya Rin, aku tidak mau kalian berdua kelaparan seolah aku tidak bisa memberi kalian makan,"
"Mas ngomong apa sih, kamu selalu memberiku segalanya dengan cukup bahkan lebih dari cukup."
"Nyonya Ayesh memang paling pintar memuji,"
Ayesh pun tersenyum senang.
Mereka sampai di sebuah restoran yang menyajikan menu seafood. Ayesh sengaja membawa Hyorin kesini karena ingin agar protein untuk istrinya tercukupi dengan baik.
Hyorin makan dengan sangat lahap entah mengapa selera makannya menjadi bertambah setelah melihat kepiting dan udang ada di hadapannya padahal biasanya dia hanya biasa saja dengan makanan-makanan itu.
"Makan pelan-pelan sayang, masih banyak tenang saja kalau kurang nanti kita pesan lagi,"
Hyorin tidak menjawab sebab mulutnya sedang sibuk mengunyah, dia hanya tersenyum senang mendengar perkataan Ayesh.
Ayesh melihat bibir Hyorin yang belepotan terkena saus dari kepiting yang sedang ia makan, dengan sigap Ayesh mengambil tisu dan mengelap bibir Hyorin. Hati Hyorin berdesir karena perlakuan Ayesh yang sangat manis terhadapnya.
Selesai dengan semua makanan mereka, kemudian mereka kembali pulang ke Apartemen.
Ayesh sedang berkendara dengan santai, sebab sore hari jalanan sangatlah ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, saatnya jam pulang bagi Karyawan membuat jalanan menjadi sesak untuk sekedar bergerak.
Ayesh tersenyum melihat Hyorin sudah terlelap, lelah dan kenyang membuat gadis itu tidak mampu menahan kantuk yang menyergap.
"Sungguh putri tidur, dimanapun bisa tertidur dengan nyaman, tapi aku cinta." Gumam Ayesh pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba ponsel di saku Ayesh berdering menandakan ada panggilan masuk. Ayesh segera memasang handsfree untuk menerima panggilan dari Doni.
"Ada apa Don, apakah ada masalah besar?"
"Iya Yesh, aku baru saja mendapat kabar dari kantor Polisi mengenai Jovanka."
"Ada apa dengan dia, ceritakan situasinya!"
Doni menceritakan semua yang dia dengar dari pihak Kepolisian yang barusan menelfonnya.
"APA?!!!!!"
--------------------------------------------------------------------
Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak supaya bisa jadi moodbooster. bagi author untuk terus update. 😘😘😘😘
Happy reading ya Kak, terimakasih yang selalu setia menunggu Author update. 💗💗💗💗
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
__ADS_1