Dokter Pribadiku, Istriku

Dokter Pribadiku, Istriku
Episode 75


__ADS_3

Nyonya Akbar masuk ke dalam kamar yang sudah lama tidak Ayesh tempati namun tetap dijaga kebersihannya apabila sewaktu-waktu digunakan seperti hari ini contohnya.


Beliau masuk dengan semangkuk bubur dan segelas minuman jahe hangat untuk Hyorin.


Nyonya Akbar tersenyum bahagia melihat putra dan menantunya terlelap dengan saling berpelukan. Beliau mendekat ke sisi ranjang yang Ayesh tempati, mencoba membangunkan putranya.


Ayesh terkesiap kaget karena terganggu dengan sentuhan tangan Ibunya yang lembut dan tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya, dengan cekatan Nyonya Akbar memberikan kode supaya putranya jangan berisik karena Hyorin sedang terlelap damai.


"Sssttt...jangan berisik!" perintah Nyonya Akbar dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


Ayesh mengangguk patuh dan melangkah menuju sofa dengan sangat hati-hati.


"Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu bangunkan istrimu buat makan malam. Kasihan dia belum makan apa-apa sejak sampai disini, Ibu keluar dulu," Nyonya Akbar berlalu meninggalkan Ayesh yang masih mengumpulkan nyawa setelah terbangun dari tidurnya yang singkat.


Ayesh bergegas masuk ke kamar mandi, khawatir istrinya akan segera menyadari jika dirinya tidak ada disampingnya.


Benar saja ketika Ayesh keluar dari kamar mandi, Hyorin tengah duduk di ranjang dengan muka kusutnya.


"Loh kenapa bangun sayang," tanya Ayesh.


"Aku mencari-cari kamu Mas,"


"Aku baru saja bersih-bersih sayang, kamu makan dulu ya, sini Mas suapi,"


Ayesh dengan telaten menyuapi istrinya hingga semua isi mangkuk berpindah ke perut Hyorin.


"Rin...,"


"Hmmmmm..." jawab Hyorin sambil menyesap jahe hangat buatan mertuanya.


"Mas minta maaf ya, seharian ini sudah mengabaikanmu."


Hyorin mengangguk, "Iya Mas,"


"Kok kaya nggak ikhlas gitu sih maafinnya?" goda Ayesh.


"Iiihhh...Mas aku mesti gimana coba," Hyorin bersedekap sambil memanyunkan bibirnya.


"Kaya gini...,"


Ayesh menautkan bibirnya ke bibir Hyorin tanpa aba-aba membuat Hyorin melotot seketika.


Ayesh baru melepaskan Hyorin ketika gadis itu sudah terengah karena kehabisan nafas.


Hyorin memukul pelan dada Ayesh tanda memberontak meskipun dia sendiri menikmati sentuhan bibir suaminya itu.


"Makanya jangan nakal, itu hukuman buat kamu! Kalau masih nakal lagi hukumannya akan lebih dari pada ini, paham?!" ancam Ayesh.


"Aku tidak nakal Mas, kamu aja tuh yang tiba-tiba ngambek. Aku kan jadi sumpek,"


"Kamunya nggak tanya aku kenapa? Malah tidak pulang, ponsel juga tidak aktif!"


"Habisnya Mas sudah kaya Singa, mana berani aku Mas."


"Ponsel? Ah ya di tas Mas, aku lupa dengan benda itu,"


Ayesh merogoh tas Hyorin dan ketemulah benda kesayangan sejuta umat itu. Ayesh mencoba membuka ponsel Hyorin tapi tidak mau menyala karena kehabisan daya.


"Mati Rin, pantes susah dihubungi!" Ayesh mengambil charger dan mengisi daya ponsel Hyorin.


"Mas kenapa marah?"


"Kamu tidak sadar dengan kesalahan kamu?"


Hyorin menggeleng, "Apa Mas?"


"Gadis ini lupa atau amnesia sih, masa tidak ingat apa yang dia lakukan!" pikir Ayesh.


"Di rumah sakit?" Ayesh memancing.


"Aku kerja Mas," jawab Hyorin polos.

__ADS_1


"Iya itu aku tahu, tapi bertemu dengan seseorang, ngobrol sama orang itu tapi tidak cerita sama suami sendiri. Itu apa namanya kalau bukan nakal?" Ayesh merajuk.


"Pasti ini soal Indra," batin Hyorin.


"Mas...cem---,"


"Tidak...!" tukas Ayesh cepat sebelum Hyorin menyelesaikan kalimatnya.


"Lalu apa namanya kalau bukan cemburu tapi kok ngambek?"


"Ya pokoknya aku nggak suka saja kamu dekat-dekat sama dia!"


"Kenapa memangnya Mas?"


"Kamu sudah paham maksudku Rin, kenapa aku melarang kamu!"


"Tidak...aku tidak paham!" jawab Hyorin asal.


"Katakan sekali lagi coba!"


"Aku tidak paham!" Hyorin terus menggoda Suaminya.


"Bilang apa tadi, ayo katakan lagi!" Ayesh menggelitiki Hyorin hingga gadis itu meringkuk seperti Udang sambil tertawa karena kepayahan.


"Mas...sudah Mas, ampun...!" Hyorin meminta ampun agar Ayesh berhenti.


"Cepat katakan kalau kamu paham!"


"Iya...iya...Mas maafkan aku, paham aku Mas." Hyorin menangkup pipi Ayesh.


Ayesh pada akhirnya menghentikan aksinya menggelitiki Hyorin. Setelah beristirahat sejenak sambil merapikan bajunya yang berantakan, Hyorin kemudian menceritakan semuanya kepada Ayesh, berharap tidak lagi terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


"Mas jadi tolong jangan pernah berpikir negatif tentangku, kemarin jika aku tidak mempertimbangkan tentangmu aku akan bersikap impulsif dengan segera menemui Indra, tapi begitu aku mau cerita tadi pagi kamunya sudah ngambek lagi, ngambek terus dan terus kaya bocah!" Hyorin tertawa.


"Ckk..bocah? Kamu bilang aku kaya bocah? Mau aku gelitiki lagi?"


"Tidak Mas cukup, aku sudah capek tertawa."


Hyorin mengedikkan bahu, "Besok-besok aku akan temui dia Mas,"


"Tidak boleh!"


"Kenapa Mas? Bukankah kita juga ingin tahu soal ini Mas, siapa tahu keterangan Indra bisa kita jadikan petunjuk."


"Tidak boleh kalau tidak sama aku Rin, bukankah dia tidak jadi menikah dengan Silvia? Mas yakin dia punya rencana dibalik ini semua."


"Jangan su'udzon dulu Mas, siapa tahu kali ini Indra benar-benar tulus. Kalau sama Mas, mana mungkin dia mau cerita."


"Baiklah tapi harus di rumah sakit, tidak boleh dan jangan mau jika Indra mengajakmu pergi meninggalkan rumah sakit,"


Ayesh memeluk erat istrinya, ada rasa berkecamuk dalam jiwa. Yah...lebih tepatnya rasa takut kehilangan Hyorin yang begitu besar, meskipun Ayesh sendiri memasrahkan takdirnya kepada yang Maha Kuasa pengatur seluruh kehidupan.


"Kamu jangan khawatir Mas, aku pasti bisa jaga diri!" Hyorin membalas pelukan hangat Ayesh, pelukan yang membuat Hyorin selalu nyaman. Ayesh juga mencium aroma alami yang tetap sama dari tubuh Hyorin, wangi vanila yang membuat candu baginya.


****


Keesokan paginya Hyorin bangun lebih awal, dia ingin menyiapkan sarapan untuk Ayesh. Meskipun di rumah mertuanya ada ART namun untuk soal memasak Nyonya Akbar sering turun tangan sendiri, bagaimanapun juga urusan perut suami merupakan tanggungjawab seorang istri.


Nyonya Akbar tampak sibuk di dapur dengan dibantu oleh Bi Titi, ART di rumah Mertua Hyorin.


"Selamat pagi Bu,"


"Pagi Nak, kenapa sudah bangun? Kamu istirahat saja dulu, ini masih terlalu pagi. Lagian weekend kalian bersantailah, nanti Ibu panggil kalau sarapannya sudah siap,"


"Aku mau bantu Ibu menyiapkan sarapan, Orin sudah lebih segar sekarang Bu,"


"Baiklah kalau begitu, sini bantu Ibu!"


Hyorin sibuk membantu Mertuanya di dapur, sedangkan Ayesh masih bergumul dengan selimut di kamar, setelah menunaikan ibadah sholat subuh dia kembali naik ke atas ranjang, hari ini cuaca cukup mendukung untuk bermalas-malasan. Sudah lama juga Ayesh tidak tinggal di rumah orangtuanya, bahkan sebelum dia menikah. Hal ini dia lakukan untuk bisa lebih mandiri.


Hyorin memanggil suaminya untuk sarapan bersama, namun sepertinya dia masih enggan.

__ADS_1


"Aku yang masak bareng Ibu loh Mas, sekarang buruan mandi, aku tunggu di bawah ya Mas!"


Ayesh dengan malas masuk ke kamar mandi dan bergabung di meja makan bersama orangtuanya.


Nyonya Akbar nampak sangat bahagia, sudah lama sekali tidak sarapan bersama putranya dalam satu meja, hal ini menambah sayangnya terhadap Hyorin, sebab karena gadis itulah saat ini Ayesh bisa berkumpul bersama keluarga. Mereka makan dalam diam, hanya bunyi sendok yang saling beradu.


"Yesh kamu ikut Ayah sebentar ke ruang kerja ya," perintah Tuan Akbar begitu mereka selesai sarapan bersama.


"Baik Ayah," jawab patuh Ayesh.


Kini tinggalah Hyorin dan Ibu Mertuanya di meja makan.


"Nak apakah kalian ada masalah semalam?"


"Tidak ada Bu, cuma salah paham sedikit saja. Tapi sekarang sudah baik-baik saja."


"Anak itu memang tidak pernah berubah, dia akan sangat protektif terhadap orang yang sangat disayanginya,"


"Kamu harus sabar menghadapi dia ya Nak," sambung Ibu Ayesh sambil mengangkat piring kotor.


"Iya Bu, akan Orin ingat pesa Ibu."


"Biar Orin saja yang bereskan Bu,"


"Tidak usah Nak, kamu duduklah nanti Bi Titi yang akan membersihkannya,"


Hyorin kembali duduk ditempatnya, "Maafkan Orin sudah merepotkan Ibu,"


"Tidak usah sungkan Nak, Ibu sangat bahagia jika kamu mau kesini."


Hyorin dan Ibu Mertuanya terus mengobrol santai di meja makan yang disambung di ruang keluarga. Sedangkan Ayesh sedang membicarakan terkait cincin yang ditemukan oleh Mbok Nah.


"Itulah yang luput dari penyelidikan Ayah Yesh, kenapa bisa hal sepenting itu Mbok Nah tidak memberitahukan ke Ayah Hyorin," sesal Tuan Akbar.


"Menurut pengakuan si Mbok, beliau lupa karena saking takutnya, hingga beberapa hari yang lalu cincin itu baru ditemukan kembali."


"Menurutmu apakah dia tidak berbohong?"


"Sepertinya tidak Yah, mengingat Mbok Nah sangat setia dengan keluarga Hyorin."


Ayah Ayesh manggut-manggut memikirkan sesuatu.


"Apa mungkin beliau mendapatkan ancaman dari seseorang Yah?" Ayesh menyampaikan asumsinya.


"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Mirna dan Silvia?"


Ayah Ayesh memberikan sebuah berkas kepada Ayesh terkait kepemilikan cincin yang hanya dibuat Dua saja di dunia.


Ayesh membaca berkas itu dan berhenti pada sebuah nama yang tertera dalam berkas.


"Tuan Jacob?" pikir Ayesh.


Tuan Jacob merupakan orang berkewarganegaraan Australia yang memberikan satu cincinnya kepada Bondan yang telah menolongnya dari maut saat kapal Jacob hampir karam di Samudera Hindia.


Karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi sebagai ucapan terimakasih, dia memberikan cincin itu kepada Bondan.


"Apa ini Bondan yang sama dengan orang yang berselingkuh dengan Tante Mirna Yah?"


"Ayah belum bisa memastikan sebab nama Bondan merupakan nama yang sering dipakai oleh sejuta umat, apalagi tidak ada foto yang bisa kita lihat untuk memastikannya,"


"Apa yang harus aku lakukan Yah?"


"Kau pergilah ke Australia, cari alamat yang ada di berkas itu. Ajaklah Doni untuk menemanimu!"


"Lalu Orin bagaimana Yah?"


"Biarkan dia disini, dia akan aman bersama kami Yesh, kau tenanglah!"


Ayesh tampak berpikir keras, sebab dia tidak mungkin meninggalkan Hyorin dalam kondisi sedang hamil muda dan sering mual-mual ketika malam hari, yang tidak bisa berhenti jika belum dipeluk olehnya.


"Pikirkanlah baik-baik Nak, terkadang sebuah keputusan yang kita ambil tidak selamanya bisa menyenangkan semua orang, tapi sekiranya itu perlu maka lakukanlah demi kebaikan bersama." Nasehat Tuan Akbar sebelum berlalu keluar dari ruang kerjanya sambil menepuk bahu Ayesh, isyarat bahwa beliau sangat percaya dengan apapun keputusan Putranya nanti.

__ADS_1


"Baik Ayah...,"


__ADS_2