
Hyorin tiba di rumah sakit berbarengan dengan Nita yang juga diantar oleh Hyoshan. Setelah menyapa Hyorin sebentar Hyoshan pergi meninggalkan mereka berdua karena harus bergegas berangkat ke kantor.
Setelah berjalan beberapa puluh meter Hyoshan melihat jika ponsel Nita tertinggal di mobil, Hyoshan berpikir untuk kembali ke rumah sakit namun jalanan cukup ramai sehingga Hyoshan mencari tempat yang aman untuk putar balik.
Hyorin dan Nita hendak masuk ke dalam rumah sakit, namun seseorang memanggilnya.
Hyorin dan Nitapun menoleh ke sumber suara.
"Nit itu Indra bukan?" tanya Hyorin gugup.
"Iya Rin,"
"Untuk apa dia datang kesini lagi?"
"Entahlah aku juga tidak tahu Rin," Nita mengedikkan bahu.
Ayesh yang sedang meeting merasa ulu hatinya begitu sakit, setelah masalah Bondan terselesaikan seharusnya dia merasa lega. Namun, serasa ada hal yang membuatnya terus memikirkan Hyorin.
Dia mencoba mengirimkan pesan kepada Hyorin yang tak kunjung dibuka.
Ayesh bergegas menyambar jasnya dan berlalu pergi dari ruang meeting setelah berpamitan kepada semua yang hadir dalam ruangan itu dan menyerahkan semuanya kepada Doni untuk mengurusnya.
Sementara di depan rumah sakit Indra terus mengikuti langkah kaki Hyorin yang hendak masuk ke dalam bersama Nita. Hyorin memilih untuk menghindar dari Indra yang semakin gila menurutnya, kata-kata nasehat tak mampu lagi membuatnya jera untuk tidak kembali mengganggunya.
Indra yang dulu pernah bekerja di rumah sakit ini dengan leluasa bisa masuk kemana saja karena sudah menguasai medan. Bahkan orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya tidak menaruh curiga sama sekali kepada Indra yang melintas.
Hyorin masuk ke dalam ruangannya yang diikuti oleh Nita karena sangat khawatir jika Indra benar-benar nekat. Paling tidak Nita bisa melindungi Adik Iparnya itu jika Indra mencoba macam-macam.
Sementara Indra sedang mencari waktu yang tepat untuk bisa masuk ke dalam ruangan Hyorin, Hyoshan sudah sampai di parkiran rumah sakit. Hyoshan mencari dimana Nita sedang bertugas dengan menemui rekan kerja Nita di unit kerja dimana Istrinya itu bertugas.
"Maaf Tuan, Nita belum sampai disini sejak tadi. Kami juga sedang menunggunya." Jawab salah satu rekan kerja Nita saat Hyoshan menanyakan keberadaan Nita.
"Baik terimakasih informasinya,"
Hyoshan berlalu pergi dan menuju ruang kerja Hyorin karena mungkin saja Hyorin masih bersama Nita mengingat mereka tadi sampai di rumah sakit hampir bersamaan.
Hyoshan menghentikan langkah kakinya ketika melihat seseorang yang mencurigakan, mengendap-endap ketika akan masuk ke ruang kerja Hyorin.
"Bukankah itu Indra? Dia kan sudah dipecat dari rumah sakit ini, mengapa dia bersikap aneh seperti itu?" Hyoshan bermonolog di dalam hatinya.
Hyoshan semakin waspada ketika mendengar suara jeritan dari dalam ruangan, dia sangat hafal suara itu adalah suara Adik dan Istrinya, Hyoshan dengan impulsif berlari ke arah pintu namun sayang terkunci dari dalam ketika Hyoshan hendak masuk.
Hyoshan mencari cara supaya dia bisa masuk dan menghajar Indra sepuasnya.
Hyoshan menghubungi Ayesh melalui sambungan telfon dan beruntung di panggilan pertama langsung tersambung.
"Ada apa Kak?"
"Kamu dimana Yesh? Bisa cepat kemari tidak?"
"Aku di jalan ini Kak,"
"Cepat ke rumah sakit, nanti aku jelaskan!"
"A-ada apa Kak?"
"Kesini saja, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang!"
Hyoshan menutup panggilan telfonnya dan bergegas mencari Dokter Asef. Sedangkan Ayesh tentu saja dibuat panik karena Hyoshan tidak mau menjelaskan apa yang terjadi. Ayesh memacu mobilnya lebih cepat, beruntung bukan jam-jam padat kendaraan sehingga tidak terkena macet.
__ADS_1
Di dalam ruang kerja Hyorin, mereka berdua sedang histeris karena Indra masuk ke dalam ruangan yang sudah Hyorin kunci sebelumnya secara tiba-tiba. Entah dari mana dia bisa memiliki kunci ruangan Hyorin.
"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Hyorin sedikit gugup.
"Tentu saja aku ingin menemui kamu Rin,"
"Eh ada Kakak Ipar juga rupanya disini," Indra menyeringai.
"Jangan macam-macam atau kami akan teriak!" ancam Nita karena Indra semakin mendekati mereka.
"Teriak saja kalau kalian berani, maka semua orang akan gempar sekaligus rumah sakit ini akan jatuh pamornya dan sudah dipastikan akan sepi pengunjung!"
Hyorin meskipun gugup tetap berusaha bersikap tenang.
"Dokter Indra jika tujuanmu kemari ingin menemuiku, silahkan duduk dulu. Kita bicarakan dengan kepala dingin," ucap Hyorin kemudian duduk di kursinya dan mempersilahkan Indra untuk duduk di depannya dengan meja sebagai pembatas diantara mereka.
Nita dalam hati merasa lega karena Hyorin bisa bersikap cukup tenang menghadapi Indra yang jiwanya mungkin sedikit terganggu. Nita tetap mendampingi Hyorin tanpa mau beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Indra merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nita diantara mereka.
"Rin bisakah kamu menyuruh Kakak Iparmu pergi terlebih dahulu?"
"Aku hanya ingin berbicara denganmu saja," pinta Indra.
"Tidak bisa!" jawab Nita ketus.
"Aku tidak akan pergi dari sini, apapun yang akan kamu bicarakan aku harus tahu. Aku tidak mau kamu menyakiti Orin!" jawab Nita semakin kesal karena Indra ingin dirinya keluar, sedangkan Nita tidak mau Indra melakukan hal buruk kepada Hyorin. Jadi dia ingin tetap disisi Hyorin.
Hyorin memberikan kode kepada Nita untuk keluar terlebih dahulu, tujuan Hyorin bukan mengusir Nita tapi memberi kesempatan kepada Nita untuk mencari bantuan.
Nita yang paham maksud Hyorin, kemudian setuju dengan apa yang Hyorin katakan.
Indra tanpa menaruh curiga sedikitpun memberikan kunci kepada Nita, pandangannya teralihkan karena Hyorin yang terus tersenyum ramah kepadanya, pemandangan yang sudah lama dia tidak dapatkan dari Hyorin semenjak kejadian Hyorin tahu Indra bekerjasama dengan Silvia dan Mamanya.
Nitapun keluar dari ruang kerja Hyorin dengan tergesa, berharap menemukan seseorang yang dapat membantunya mengusir Indra dari ruangan Hyorin.
"Katakan Dokter Indra, apa yang mau Anda bicarakan dengan saya." Ucap Hyorin ketika Indra sudah kembali fokus.
"Aku menginginkan untuk bisa bekerja di rumah sakit ini lagi, bisakah kamu mengabulkan permintaanku Rin?"
"Apa tujuan Anda untuk hal ini?"
"Tujuanku sangat sederhana ingin selalu dekat dengan kamu Rin,"
Hyorin tersenyum kecut, "Dokter Indra bekerja itu dari hati, bukan karena tujuan tertentu."
"Aku tahu Rin tapi bisakah kamu mengerti perasaanku?"
"Aku mencintaimu sejak dulu, tapi kamu malah menikah dengan orang lain Rin, hatiku begitu sakit!" Indra memegangi dadanya sendiri.
"Bisakah kamu memanggilku Kakak seperti dulu, jangan formal begini Rin. Aku tidak terbiasa, kamu membuat hatiku semakin sakit karena kamu terus menghindar dariku!"
"Baiklah aku mengalah," ucap Hyorin.
"Kak Indra, percayalah jika suatu saat nanti kamu pasti akan bisa menemukan cinta yang sejati."
"Cinta sejatiku itu kamu Rin,"
"Kak dengarkan aku," Hyorin memandang lekat wajah Indra.
__ADS_1
"Aku wanita bersuami, apakah Kakak tidak lihat aku sedang mengandung buah cinta kami."
"Aku memang dulu pernah mencintai kamu Kak, sangat mencintaimu malah. Tapi apakah Kakak pernah melihat cintaku itu?"
"A-aku menyesal Rin karena mataku dibutakan oleh nafsu hingga masuk ke dalam perangkap Silvia."
"Lalu siapa yang telah menyia-nyiakan aku sebenarnya?"
"Aku minta maaf Rin, bisakah kita memulai dari awal?"
"Aku sudah memaafkan kamu Kak,"
"Tapi tolong maafkan aku Kak, untuk hal itu aku tidak bisa."
"Rin aku mohon, kita bisa sembunyikan hal ini asalkan kau mau menerimaku!"
Indra terus membujuk Hyorin yang ditanggapi Hyorin hanya dengan sebuah senyuman.
"Rin aku mohon beri aku kesempatan,"
BRAAAAAAKKKK.....
Suara pintu dibuka dengan kasar dari luar. Indra yang kaget dengan kedatangan Ayesh yang diikuti oleh Hyoshan dan Nita langsung berdiri dari tempat duduknya. Tanpa berkata apapun Ayesh maju menghampiri Indra dan mencengkeram kerah baju laki-laki itu dengan kasar.
Ada kilatan marah di mata Ayesh, tatapannya begitu angker bagi siapapun yang melihatnya.
"Mas lepaskan Kak Indra, kita bicara baik-baik!" ucap Hyorin tidak ingin terjadi keributan di ruangannya.
"Kakak? kamu memanggilnya Kakak Rin?"
"Mas jangan biarkan amarah menguasaimu, Kak Indra tidak menyakitiku, lepaskan dia aku mohon Mas!"
Ayesh melepaskan Indra dengan kasar, kemudian duduk di sofa yang diikuti oleh Hyorin. Sedangkan Hyoshan dan Nita merasa aneh dengan Hyorin yang sepertinya justru melindungi Indra, namun mereka tetap diam tidak ingin ikut campur terlalu jauh dengan permasalahan yang ada, mereka memilih untuk tetap diam.
Indra sendiri tersenyum licik karena merasa Hyorin justru membelanya, padahal Hyorin sebenarnya hanya melakukan hal yang dia anggap benar, supaya tidak terjadi baku hantam yang akan menimbulkan keributan.
"Tuan Indra saya ingatkan Anda, jangan coba-coba menganggu istri saya, apalagi ini rumah sakit. Sungguh tidak pantas seorang laki-laki lajang menemui istri orang lain di tempatnya sedang bekerja. Bukankah itu tidak sopan namanya?"
"Tuan Pengacara saya tidak ada urusan dengan Anda, saya hanya ingin menemui pemilik rumah sakit ini karena saya merindukannya," ucap Indra tanpa rem.
Hati Ayesh semakin bergemuruh mendengar ada orang yang terang-terangan mencintai istrinya.
"Saya bilang pergi Anda sekarang juga dari sini!"
"Saya tidak akan pergi jika bukan Orin yang menyuruh saya pergi,"
Ayesh menoleh ke arah Hyorin yang dengan sigap menanggapi maksudnya meskipun tanpa kata yang terucap dari Ayesh.
"Kak Indra, sekarang Kembalilah ke kantor Kakak dulu ya. Lain kali kalau ada waktu kita bicarakan hal ini lagi dengan pikiran yang lebih jernih!" ucap Hyorin halus.
Indra berdiri dari duduknya, "Baiklah aku akan pergi, karena percumah saja jika sudah ada suami kamu ini, bawaannya aku ingin menghajarnya," jawab Indra serampangan.
Ayesh siap melayangkan tinjunya ke wajah Indra yang bermuka tembok, namun dicegah oleh Hyorin.
Lagi-lagi Indra tersenyum licik, "Aku pergi sayang, aku selalu merindukanmu!"
Hyoshan dan Nita dibuat melotot dengan perkataan Indra yang memancing harimau lapar untuk bangun dan memangsanya. Sudah dapat ditebak Ayesh menahan amarah yang besar hingga dadanya naik turun.
Ayesh menatap tajam Hyorin.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"