
"Apa...sudah berakhir kah?"
Malam itu, terdengar suara siren ambulan menandakan sedang mengangkut pasien gawat darurat ke rumah sakit Aizawa, Tokyo.
"Ketika kesadaran itu menghilang, hanya satu suara masih terdengar dalam tidur ku yaitu..."
"Ryu! Bertahanlah!" Suara gadis bernada cemas, takut dan bingung. Rasanya benar-benar termakan oleh emosi yang kuat.
"..kekasihku."
Beberapa angota perawat dan dua dokter membawa pria yang mengalami kesadaran menurun akibat tembakan tiga peluru tepat mengenai perut dan lengan kiri ke ruang IGD.
"Dok! Denyut nadinya ikut melemah!" Kata suster memberitahu kondisi pasien tsb.
"Begitu, lakukan operasi!" Perintah pria sebagai dokter bedah itu pada anggotanya.
"Baik."
Gadis berambut coklat panjang dengan berjas putih sebagai dokter tampak bingung, apa yang harus dia lakukan setelah melihat kondisi pria yang dia cintai sedang kritis. Dia hanya berdiri mondar-mandir didepan pintu IGD
"Mayumi, tenanglah!" Dokter bernama Hiroishi mencoba menenangkan gadis itu yang masih mondar-mandir.
Gadis berusia 20 tahun masih gemetar dan cemas itu menghentikan langkahnya.
"bagaimana aku mau tenang melihat dia sedang kondisi kritis!" Serunya berdiri dihadapan Hiroishi.
Perlahan-lahan airmatanya berlinang, perasaan cemas dan takut mulai menakutinya.
"Cukup serahkan pada ku." Singkat Hiroishi masih berusaha menenangkannya, meskipun dia sempat ragu memeluknya.
Gadis dipanggil Mayumi itu menatap Hiroishi penuh harapan besar agar segera menyelamatkan pasien tadi alias kekasihnya karena tau bahwa Hiroishi adalah dokter bedah yang terbaik dan tingkat profesional. Saat ini, Mayumi hanya bisa mengandalkannya.
"Aku mohon padamu, Hiroishi." Nadanya masih terdengar gemetar.
Hiroshi mencoba menyentuh kedua pundak Mayumi, namun tangannya masih ragu karena tau gadis marga Shimizu itu adalah sang kekasih dari pasiennya, Ryuzaki Nishimura.
"Serahkan saja pada ku!" Dia memutuskan menjawab kalimat itu dengan senyumannya agar Mayumi tetap tenang dan berdoa agar operasinya lancar.
"Dokter, perlengkapan operasi sudah lengkap." Kata Suster memberitahu pada Hiroishi.
"Dan kondisi pasien masih dalam kondisi kritis."
"Baik, kalau begitu kita akan lakukan operasi.." Ucap Hiroishi.
"..dan Mayumi, tetap tenanglah, oke?"
"Baik." Jawab Mayumi.
Operasi sedang berlangsung, Mayumi yang duduk diam sedang merenung dan berharap.
"Ryu...bertahanlah." Gumamnya.
Setelah sekian lama menunggu hasil operasinya, akhirnya dikabarkan bahwa operasi berjalan dengan baik.
• •
Mentari cerah itu akhirnya kembali, pria yang tadinya mengalami kritis itu kini tampak stabil setelah melakukan operasi darurat. Namun, dia masih belum sadar. Disampingnya, Mayumi sedang tertidur menunggu kekasihnya sadar.
"Ma..yu..mi.." Terdengar suara Ryu keluar dari bibirnya membuat Mayumi sadar.
"Ryu, kau sudah bangun?" Tanya Mayumi sambil menggosok-gosokkan kedua matanya yang terbangun dari tidurnya.
Melihat Ryu ternyata masih belum buka mata, namun dia terus memanggil "mayumi"
Mayumi menggenggam erat salah satu tangan Ryu dengan lembut,
"Aku di sini."
Mendengar suara Mayumi, perlahan-lahan kedua mata Ryu terbangun. Mayumi perasaan senang bercampur tangis itu memeluknya.
"Ryu, Syukurlah.." Leganya.
Bibir Ryu ikut tersenyum tipis dan lega melihat Mayumi alias sang kekasihnya tetap di sisinya.
"Maaf, aku pasti membuatmu khawatir." Sahut Ryu.
"Ku rasa begitu, kau membuat ku takut.." Nada Mayumi masih terdengar sedih itu menatapnya kembali.
Ryu tampak bingung sejenak melihat airmata Mayumi masih mengalir dihadapannya, namun tubuhnya yang masih sulit bergerak itu tak bisa menghapus airmatanya.
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu." Ucap Mayumi mengerti.
Dia menghela nafas panjang. "Yang terpenting kau harus sembuh, Ryu!"
Dengan nada berapi-api, sebagai calon istri akan merawat Ryu dengan sepenuh hatinya agar cepat sembuh dan segera keluar dari RS.
Ryu tersenyum tipis dan lega melihat Mayumi bisa tersenyum kembali. Dia mengingat kejadian di Yokohama, bahwa dia salah satu korban penembakan.
"Aku sempat berpikir..apa hidupku akan tenggelam begitu saja? Ternyata tidak, hidupku telah diberikan peluang olehnya. Karena tau, dia tidak terima jika dia kesepian. Tapi...bagaimana jika aku yang berada di posisi itu?"
• •
Setelah dua minggu di rawat RS, Ryu diizinkan keluar. Dengan senang hati, dia membawa kejutan dihadapan Mayumi di tengah keramaian. Sebuah kotak cincin dari tangan Ryu itu menunjukkan padanya dan berjongkok.
"Menikahlah denganku, Mayumi."
Mayumi berperasaan kagum dan malu bercampur gugup itu malah bingung menjawabnya.
__ADS_1
Beberapa orang memperhatikannya itu mendorong Mayumi agar segera menerima lamaran Ryu.
Dengan tersenyum plus gugup, "aku bersedia.."
Mendengar jawaban itu membuat orang-orang bahagia dan Ryu ikut bahagia lalu memasang cincinnya di salah satu jari lembut Mayumi.
Tentu saja, keduanya tersenyum dan berpelukan. Menyaksikan hal itu orang-orang jadi ikut senang sambil bertepuk tangan. Namun, suasana hati Hiroishi sedikit terganggu karena menyukai Mayumi. Dia berharap, Mayumi tetap bahagia karena tak ingin melihatnya menangis lagi.
"Permisi..apa kau dokter Hiroishi?" Tanya seseorang menghampiri Hiroishi.
Mendengar nada familiar itu, Hiroishi langsung mengenalnya.
"Tentu. Senang bertemu denganmu, Miyuki." Jawab Hiroishi dengan tersenyum hangat pada nada itu.
••
Hari terus silih berganti, Ryu dengan mengenakan kemeja yang rapi itu ingin menemui Mayumi yang masih bekerja di RS Aizawa. Langkahnya masuk ke pintu ekskalator dan menuju lantai 4, tempat kantor Mayumi.
Pintu itu terbuka dan tepatnya berada di lantai 4, perlahan-lahan dia berjalan dan melihat gadis perawat berponi hitam lurus dan rapi qdibawah keningnya tampak memberikan beberapa berkas laporan pada temannya.
"Kerja bagus Miyuki, terima kasih." Jawab temannya pada gadis perawat seumuran Mayumi.
"Sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu..permisi." Balas gadis perawat berkulit putih dengan rambut kepang dua.
Dia tampak berjalan berlawan arah dengan Ryu. Keduanya saling melewati satu sama lain tanpa berkontak mata hingga sesuatu mengetuk pikiran mereka. Ryu menghentikan langkahnya terlebih dahulu lalu berbalik dan memperhatikan gadis tadi yang ia lewati.
Tanpa berpikir panjang, dia melanjutkan langkahnya. Namun, hatinya terasa bergemetar.
"Ada apa dengan ku?" Pikirnya.
Giliran gadis itu juga menghentikan langkahnya lalu berbalik dan memperhatikan Ryu sudah melangkah jauh.
"Bukankah dia tunangan kakak Mayumi?" Gumamnya.
Gadis itu adalah Yamashita Miyuki atau dipanggil Miyuki. seorang perawat yang baru saja diterima bekerja di RS Aizawa.
••
Ryu masuk ke kantor Mayumi setelah mengetuk berkali-kali namun tidak ada respon darinya. Dia sudah menduga bahwa Mayumi tidak ada di tempat itu.
"Apa dia tidak bertugas hari ini?" Gumamnya.
Dia bertanya disalah satu perawat dimana Mayumi. Ternyata sesuai dugaan Ryu, Mayumi tidak bertugas hari ini.
"Apa bisa berikan alamat rumahnya?" Pinta Ryu pada perawat tadi.
Dengan memberikan alamat Mayumi, Ryu bisa menemuinya. Bukankah itu mencurigakan alasan mengapa Ryu tidak tau alamat Mayumi? Tentu saja, itu mencurigakan karena sebagai tunangan Mayumi harus tau dimana sang kekasih tinggal atau tau tentangnya. Tetapi herannya, Ryu tidak mementingkan kepribadian Mayumi kecuali cintanya pada Mayumi.
Tepat saat dia masuk ke mobil lalu menyalakannya dan berniat berangkat. Penglihatannya malah terahlikan melihat gadis yang sempat ia lewati tadi.
Melihat gadis tadi alias Miyuki ditarik paksa masuk ke mobil oleh wanita keibuan tapi memiliki tubuh lansing seperti gadis 20 puluhan.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau pulang!!" Nada lantang begitu keras oleh gadis Miyuki.
Wanita tua itu tidak peduli, sekeras apapun Miyuki, dia tetap memaksanya masuk dan membawanya pulang ke rumah.
"Cepat masuk!" Tegasnya sambil mendorong Miyuki masuk ke mobil.
Ryu yang masih menyaksikannya itu sadar bahwa dia sebenarnya juga buru-buru menemui Mayumi ke tempat alamatnya dan tidak mementing hal barusan yang terjadi karena itu bukan urusannya, tidak ingin mencampur tangan orang lain.
"Aku hampir melupakannya."
••
Tiba di alamat itu, Ryu sudah berdiri dihadapan rumah Villa. Tanpa berpikir panjang lagi, dia mengeluarkan ponselnya dari saku celanannya.
"Mayumi, apa kau di rumah?" Tanya Ryu nada santai pada panggilan itu.
"Tentu, aku..di rumah. Ada apa, Ryu?" Terdengar suara Mayumi menjawab panggilan Ryu.
"Aku mencarimu, kenapa kau tidak memberitahu ku kau tidak bertugas?"
"Heheheh...maaf, aku sempat melupakannya karena pekerjaan ku begitu banyak jadi aku malah lupa memberitahumu."
Tanpa basa-basi, Ryu memberitahu bahwa dia sudah berada hadapan rumahnya.
"APAA??!" Teriak Mayumi. Ryu sempat terkejut mendengar teriakan Mayumi dari ponselnya, bukan hanya itu suaranya juga terdengar satu rumah.
"Kenapa tidak memberitahu ku kalau kau akan ke sini?"
Ryu menyerah jika dia menjawab panjang lebar alasan mengapa dia ke rumahnya tanpa memberitahunya sedikitpun. Padahal dia berencana memberikan kejutan pada Mayumi.
"Cepatlah ke sini, aku menunggumu." Ryu hanya menjawab dengan nada dinginnya lalu mengakhiri panggilannya.
Sambil menunggu Mayumi, terdengar suara gadis teriak kesakitan membuat Ryu penasaran.
"Argh! Maafkan aku!" Teriak nada sadis dari gadis itu.
"Berani-beraninya kau kabur dan melakukan pekerjaan bodoh itu!" Juga terdengar suara tegas oleh wanita sambil memukul gadis tadi.
Meskipun hanya suara yang terdengar dari telinga Ryu, tapi dia penasaran ada apa dibalik suara itu. Namun...
"Ryu, apa aku membuatmu lama menunggu?" Kedatangan suara Mayumi malah menghentikan Ryu penasaran dengan hal tadi.
"Oh, tidak juga. Aku ingin mengajakmu makan siang saja, apa itu boleh?"
"Tentu saja." Dengan senang hati Mayumi menerimanya tanpa curiga apa yang dipikirkan Ryu.
__ADS_1
••
Bulan september mendekati hari pernikahan Ryu dan Mayumi, kedua tidak sabar menantikannya setelah membuat perjanjian satu sama lain bahwa "Cinta itu juga harus dihargai."
Namun, diakhir-akhir ini hubungan keduanya jadi membosankan setelah tidak bertemu setengah bulan. Apa yang terjadi diantara keduanya?!
Padahal kemarin, semua terasa baik-baik saja.
"Satu hari, satu minggu dan setengah bulan, aku tidak tau apa yang terjadi diantara hubungan ku dengannya, tanpa bertemu, tanpa komunikasi dan banyak halangan untuk menemuinya.. Hingga suatu saat hari dimana seminggu lagi adalah hari pernikahan ku, aku berpikir apa rencana itu akan berjalan baik atau itu, jujur saja pernikahan itu malah menyakiti ku!'
9 september, Ryu masih dalam pekerjaan kantor di perusahaan terbesarnya telah menerima panggilan dari RS Universitas Tokyo.
"Dengan Ryuzaki Nishimura?"
"Benar, dengan saya sendiri Ryuzaki. Ada apa?"
"Kami dari pihak rumah sakit Tokyo ingin mengabarkan bahwa pasien bernama Shimizu Mayumi mengalami kecelakaan semalam dengan kondisi buruk hingga dia tidak bisa tertolong lagi."
Apa? Apa ini bermimpi buruk atau bercanda setelah mendengar kabar begitu buruk?! Tidak mungkin, Ryu tidak mungkin mudah percaya bahwa Mayumi mengalami kecelakaan dan tertelan.
"Tidak mungkin, dia tidak mungkin pergi kan! Ini hanya bahan candaan, bukan?" Nadanya yang begitu gemetar dan kaku itu sungguh tidak terima!
Dia berlari tergesa-gesa dan bergegas ke RS untuk memastikan apa pasien itu benar-benar sosok Mayumi, jawabanya. . .
"Tidak mungkin." Ucap Ryu berwajah kaku dan benar-benar masih tidak percaya setelah melihat wajah pucat Mayumi yang sudah tidak berdaya lagi.
Dia marah dan hampir gila kehilangan gadis yang ia cintai, seseorang datang menemuinya itu memberi pukulan sadis pada Ryu.
"Ini semua salahmu!!" Teriak nada familiar itu penuh kesal.
Ryu jatuh dan menahan rasa sakit itu. Dia tidak peduli seberapa pukulan yang ia terima oleh Hiroishi.
"Aku muak!" Kata Hiroishi akhirnya berhenti memukul Ryu.
"Walaupun aku masih mencintai Mayumi, apa setidaknya kau tidak melukainya, hah?!!" Tambah Hiroishi.
Ryu tidak menanggapinya lagi, dia memilih menutup mulut dan bangkit lagi agar meninggalkan tempat itu.
"Apa benar semua itu adalah kesalahan ku?" Pikirnya.
••
Sebuah jembatan panjang, penuh keramaian kenderaan yang berlalu lalang. Sosok pria bertubuh tinggi 180cm dengan luka-luka kecil masih terlihat di wajahnya itu tampak berjalan lemah di pinggiran. Dia menghentikan langkahnya dan melihat laut masih terbuka luas di bawah jembatan raksasa ini.
"Kenapa laut begitu luas dan mudah menelan gadis yang aku cintai? Kenapa?"
Angin kencang datang meniup perasaan sedihnya itu.
"Apa karena angin yang nendorongnya hingga jatuh ke laut?"
Dia sungguh tidak terima jika kenyataan ini harus benar-benar ada dan terjadi. Dia berharap ini hanya mimpi, tetapi setelah mengingat wajah pucat Mayumi tadi Ryu jadi menyerah. Rasanya hampa dan sia-sia tanpanya.
"Kejam sekali."
Dia tidak mampu menunjukan kesedihan diwajahnya hanya hati dan pikiran terasa tewas merasakan kepahitan yang ada dalan emosinya.
Perlahan-lahan salah satu kakinya menaiki pagar jembatan dengan niat untuk mengakhiri hidupnya karena hidupnya sudah tidak berarti lagi di dunia ini. Tanpa Mayumi, rasanya benar-benar bingung apa yang harus dilakukan selain marah dan gila.
Dia pasrah mengakhiri hidupnya agar bisa bertemu Mayumi di tempat yang sama.
"Tunggu aku, Mayumi." Gumamnya benar-benar bersiap melompat ke laut dengan ketinggian 300m dari jembatan besar itu.
Dia akhirnya melompat setelah memejamkan kedua matanya, namun entah mengapa ada sesuatu tersangkut di tangannya. Ada apa ini?
Sebuah tangan muncul entah datangnya darimana itu menarik salah satu tangan Ryu.
"Apa kau sudah gila, hah?!" Seru gadis familiar itu berusaha menarik Ryu dengan sekuat tenaganya.
Ryu terkejut bahwa gadis yang menariknya itu adalah gadis perawat yang ia temui beberapa bulan yang lalu, Miyuki.
"Kau..."
"Pegangan yang erat!" Seru Miyuki agar Ryu memegang tangannya dengan erat.
Bukannya memegang erat tangan Miyuki, Ryu malah berusaha melepaskan tangannya.
"Lepaskan aku!"
Miyuki tidak peduli, dengan kedua tangannya itu sedang mencoba sekuat-kuatnya menarik Ryu ke atas dan itu berhasil.
Keduanya tampak jatuh terengah-engah, Ryu tidak mengerti mengapa Miyuki menariknya. Lalu, tak disangka Ryu malah menerima tamparan hebat dari Miyuki. Ini seolah-olah hukumannya untuknya!
Ryu kaku dan sekujur tubuhnya ikut membeku, dan terdengarlah suara isak tangis oleh Miyuki.
"Bodoh! Apa kau benar-benar bodoh?!" Kata Miyuki.
"Mengakhiri hidupmu itu sama saja kau melukai dirimu, apa Mayumi-sama akan menerimamu dengan perlakuan bodohmu?!"
"Tentu saja tidak akan! Tidak akan!"
"Aku mohon..jangan membunuh hidupmu hanya karena CINTA."
Kata-kata dari Miyuki itu sungguh membuat kedua mata Ryu tampak gemetar dan kaku. Rasanya kata itu adalah peringatan darinya bahwa dia tidak seharusnya seperti ini hanya karena CINTA.
{Bersambung. . .}
••
__ADS_1