Emergency Love

Emergency Love
Bab 54


__ADS_3

"Ingatlah, Prada ... dia melakukan hal itu hanya untuk melindungimu. Karena hanya kamulah yang dia punya." Ucapan dari Pamannya Greta terus saja terngiang di benak Prada.


Jika benar Rosaline melalukan hal itu hanya untuk Prada, pasti saat ini ibu kandung Prada itu akan mengakui perbuatannya, bukan? Hal itulah yang terus mengganggu pikiran Prada.


"Maafkan aku, Nak! sungguh maafkan aku. Aku banyak berhutang pada kalian." Kalimat permintaan maaf ini, menjadi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Pamannya sebelum mengakhiri pertemuan bersama Prada.


Dalam kebimbangan dan juga kegamangan, jiwa Prada terkoyak antara mengikuti kata nurani dan kenyataan. Kenyataan bahwa sang ibu juga terlibat di dalam pusara ini. Dan nurani yang tentu saja enggan menyeret Rosaline ke meja hijau.


**


"Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan dari Greta ini menyentakkan lamunannya.


Prada menoleh ke sisi kanan tempat duduknya. Sejak menjemput Greta usai berbelanja.


Seusai bertemu dengan pamannya, otak Prada sama sekali tidak bisa diajak berpikir keras. Bahkan demi menghindari adanya kejadian yang tidak diinginkan, Prada meminta Pak Surip untuk menjemputnya.


"Tidak ada, menurutmu jika hal yang paling kita takutkan terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


Tersentak dengan pertanyaan Prada, membuat wanita yang sangat tahu seperti apa watak sang suami mencoba untuk memberikan jawaban sebijak mungkin. Prada bukan tipe pria yang bertindak mengikuti kata hati tanpa mengabaikan logika. Namun, pertanyaan tadi seperti sebuah kegamangan dari sang pengacara itu.


Greta meraih tangan kekar yang ditumbuhi bulu halus itu, dia mencoba untuk menguatkan hati sang suami dengan memberi dukungan seperti ini. "Aku akan menghadapinya, karena jika aku menghindar aku tidak akan tahu kenyataan yang sebenarnya."


Tertampar dengan jawaban Greta, membuat Prada kini lebih bisa menerima jika kemungkinan terjadi hal buruk yang nantinya tak terhindari. "Berjanjilah padaku! Jangan tinggalkan aku."


hanya anggukan yang Prada dapatkan, "Heem."


Kebahagiaan kecil seperti ini, cukup bisa membuat pikiran Prada sedikit merenggang. Terlebih lagi, ketika Greta tak keberatan ketika Prada menarik kepalanya dengan lembut agar bisa bersandar di pundak suaminya itu.


"Di depan macet parah, Pak!" gumam Pak Surip. Sebenar pria tua itu enggan jika harus merusak kebersamaan pasangan suami istri yang sedang dimabuk kepayang itu. Namun, apa mau dikata? Hal ini benar-benar terjadi. Mobil mereka merayap dengan sangat lambat.


"Gak papa, Pak Surip." kata Greta tidak masalah jika perjalanan pulang mereka harus terlambat.


"Aku akan memeriksa di luar, kau tetap di sini!" Prada berniat memeriksa keadaan di luar. Dia ingin tahu penyebab kemacetan panjang ini.


"Kamu bukan keluar untuk merokok, kan?"

__ADS_1


Sebenarnya Prada kesulitan untuk menahan keinginan untuk menghisap rokoknya. Karena merokok sedikit banyak bisa membuatnya lebih tenang.


"Tenang saja, karena kau tidak suka aku merokok." ucap Prada sebelum keluar guna memeriksa keadaan di luar.


Tak berselang lama, Prada kembali masuk ke dalam mobil dengan wajah yang lebih kusut dari sebelumnya. ."Mungkin dia tidak bisa menahan ketergantungan rokoknya," batin Greta.


"Di depan ada kecelakaan beruntun, seorang pengendara di sebelah berkata demikian." Prada mulai bercerita guna melupakan keinginan terbesarnya kini.


"Astaga, ini keadaan darurat. Kita harus mencapai korban." ucap Greta mengimbangi pernyataan Prada barusan.


"Menghindari masalah, malah kini harus terlibat masalah." Mungkin seperti itu isi hati Prada kini. Niat untuk menghindari masalah, dan berakhir dengan sang istri ingin mencapai korban di depan.


"Pak Surip, bisa ambil jalan pintas melawan arus? Kita harus menolong mereka, loh!"


Namun, Prada melarang sang istri, "Tidak, jangan gegabah. Petugas medis pasti akan segera datang."


"Hei, aku ini petugas medis! meski tidak dalam keadaan jaga."


"Tapi ... " Dan "Ah, sial!" Prada kesulitan melawan keinginan sang istri. Dia takut sekali jika kaum wanita telah mengibarkan bendera perang padanya.


Kendati enggan, Prada akhirnya membiarkan ide Greta untuk mencapai ujung kemacetan dengan cara melawan arus seperti yang diinginkan oleh dokter wanita itu.


Astaga bini siapa yang kekeuh seperti ini?


Meski banyak mendapat cibiran dan kecaman dari pengendara lain, nyatanya kini mereka bisa menjangkau sumber kemacetan.


Benar saja, terdapat tiga mobil yang tak beraturan. Parahnya kap salah satu mobil mengeluarkan asap. Hingga membuat Prada dan Greta keluar secara bersamaan.


"Bahaya, jangan mendekat! itu bisa meledak." Prada meminta agar Greta tidak keluar dan mendekati mobil itu.


"Aku tahu, ayo kita bantu mereka. Mereka punya hak untuk tetep hidup." Wanita itu keberatan mengikuti perintah sang suami.


Seorang yang berjiwa besar seperti Greta ini, tidak mungkin akan diam saja melihat keadaan darurat di depan matanya. Alih-alih menurut, Greta bahkan tak takut menerjang bahaya.


"Ayo!" Prada mengulurkan tangannya agar keduanya terhubung dan tidak terlepas satu sama lain.

__ADS_1


Keduanya berlari mendekati mobil yang sudah tak berbentuk pada bagian depannya, banyak orang yang mengerumuni meski hanya melihat saja dari jarak aman.


"Minggir kalian!" pinta Prada.


Kerumunan orang itu saling berbisik mencela dua orang yang sok menerobos ke tempat kejadian.


"Mereka siapa?" kata bener orang mempertahankan Prada dan Greta. "Iya, nih! paling bener aja."


Greta tidak memedulikan kata orang, dia terus berlari menuju mobil yang sudah rusak parah. Tak lupa dia merogoh benda berwarna di dalam tasnya untuk mengelompokkan tindakan untuk korban nantinya.


Langkahnya terhenti tepat di samping sang penemu yang kini tak sadarkan diri, Greta mengetuk kaca pintu mobil. Namun, tak ada jawaban. Karen hal ini, Prada sengaja melebarkan pecahan kaca itu dengan tendangannya agar bisa menyelamatkannya.


"Pak, Pak ... Bapak dengar saya?" perintah Greta karena dia masih merasakan denyut jantung meski cukup lemah.


Kepala pria itu terluka parah karena tubrukan dengan kaca depan mobil. "Sepertinya, air bag mobil ini tak berfungsi."


Tak hanya pria itu saja, di dalam mobil tepatnya di samping tempat duduk pria tadi juga ada seorang wanita yang tengah memeluk seorang putri yang terus menangis.


"Kamu selamatkan dulu anak itu! bawa pergi dan aku akan terus membantu pria ini." Greta ingin menangani pasien yang dalam keadaan lebih membutuhkan pertolongan.


Segera saja Prada bergeser ke sini kanan dan membuka paksa pintu mobil agar bisa menyelamatkan anak korban.


Benar saja, rupanya keinginan Greta untuk menyelamatkan anak korban adalah lebih penting. Karena sang ibu sudah tak bernyawa dalam keadaan memeluk buah hatinya.


Prada menarik paksa ibu dan anak keluar. Meski dengan susah payah, dengan tenaga pria itu akhirnya mereka berdua bisa keluar dari mobil.


"Berikan ini!" Greta memberikan sapu tangan berwarna putih untuk anak kecil itu.


Prada segera membawa anak kecil itu agar bisa disematkan, "Jangan takut! Kau aman bersama Om." Prada juga berteriak pada kerumunan agar membantu anak kecil itu.


Hati mereka tergerak atas usaha suami istri itu. Bahkan kini, mereka semua berbondong-bondong mendekati dan membantu Greta mengevakuasi pengemudi.


"Kepalanya terluka parah, hati-hati!" kata Greta usai memakaikan ikat rambut warna merah miliknya ke tangan korban.


Usai mengevaluasi semua penumpang mobil itu, Greta dan suaminya yang kini dibantu oleh pengendara lain mendekat mobil ke dua.

__ADS_1


"Sebentar lagi, petugas medis datang." ucap salah satu pengendara yang ikut membantu.


...****************...


__ADS_2