
Buah dari pertemuan dengan Ibu mertua, berdampak besar dalam persepsi mata dokter terhadap pasien dan keluarganya. Meski tak banyak membahas obrolan masa lalunya. Tetapi, Greta bisa menangkap pesan dari Rosaline. Dan pandangan Greta terhadap Rosaline cukup berbobot. Karena tidak ingin menghakimi hanya dengan bukti masa lalunya, Greta masih memiliki pikiran positif terhadap ibu mertuanya itu.
Keduanya banyak membahas masalah medis serta kasus medis yang terupdate. Hingga membuat Amora diliputi rasa pelik dalam hatinya melihat kedekatan mertua dan menantunya tersebut.
"Lain kali, datanglah ke rumah bersama Prada, Nak."
"Baik, Ibu."
Mereka berdua berpisah dan masuk ke mobil masing-masing. Namun, secara kebetulan Prada lah yang menjemput istrinya. Hingga pertemuan tidak disengaja itu membuat ibu dan anak tersebut terlibat percakapan singkat.
"Jaga dia, kamu beruntung dia mau denganmu, Nak!" itulah pesan dari Rosaline sebelum meninggalkan anak dan menantunya.
Di dalam mobil, Amora tampak gusar melihat kedekatan keluarga Cemara di depannya itu. Emosi anak sambung Rosaline tersulut bahkan hanya dengan melihat ekspresi Prada yang begitu perhatian dengan istrinya.
Terlebih lagi ketika dia mengingat kesombongan Greta padanya saat Rosaline membahas jewelry bermerek yang dikenakan oleh menantunya itu. "Rupanya kau suka perhiasan mahal, Nak."
"Oh ... ini?" tanya Greta sembari mengulir benda berkilau yang melingkar di lehernya, "Tentu saja, suamiku yang membelinya untukku."
Bak bara yang disiram minyak, sekonyong-konyongnya Amora tersulut emosi mendengarkan sesumbar Greta. Padahal apa yang dikatakan oleh istri Prada ini benar ada hal.
"Ayo dong, Ma! cepetan."
Usai melihat kepergian ibunya, Prada segera mengajak pulang Greta. Jika biasanya pria itu hanya cuek saja. Namun, sore ini juga Prada penuh perhatian dengan menuntun langkah Greta dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Kenapa harus bersandiwara terus? Ibu sudah jauh."
__ADS_1
"Untuk apa aku bersandiwara?"
Prada cukup puas karena hari ini sang istri bersedia bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya. Dan yang lebih mengejutkanku lagi, Greta juga mengenakan perhiasan yang dia hadiahkan untuknya. Hal itu menambah poin kebahagiaan di hati Prada.
Atas hal ini, Prada berniat merayakan kebahagian ini dengan mengajak Greta dinner di luar, "Mau makan malam di luar sekalian?"
Dan kail pun bersambut, "Ide bagus, boleh juga."
Prada berseru girang di dalam hati. Tetapi, kebahgian Prada tidak berlangsung lama. Ketika sebuah panggilan masuk pada telepon pintar milik sang istri.
Telinga' Prada yang kini sudah akrab dengan istilah medis, membuatnya memaklumi Greta. Sama halnya dengan Greta. Kini, wanita itu banyak belajar sedikit ilmu hukum dari sang suami.
Panggilan itu mengatakan ada blue code dari ICU. Kesadaran ibu hamil itu menurun dengan denyut jantung melemah kembali.
"Maafkan aku, ada panggilan dari ICU. Pasienku dalam kondisi kritis."
Tidak hanya itu saja, ada hal yang membuat Prada melongo karena secara tiba-tiba Greta melepas semua perhiasan ataupun benda berbahan logam yang melekat di tubuhnya.
Kebahagian yang sempat terukir itu kini sedikit demi sedikit tersingkir karena ulah Greta. "Kenapa di lepas?"
"Inilah yang membuatku malas menggunakan perhiasan, aku harus standby jika ada operasi mendadak."
"Pantas saja, kukira dia tidak menyukaimu? Maksudku menyukai pemberian dariku."
"Bisa lebih cepat lagi?" Greta membayarkan angan Prada yang sempat meragukannya tadi. "Tentu saja, Yang Mulia." sahut Prada dengan menggoda sang istri agar tidak tegang.
__ADS_1
Tenang saja, usai berdiskusi dengan Rosaline. Greta memiliki kepercayaan diri lagi. Secara tidak langsung, ibu mertuanya telah memberi solusi untuknya. Karena Greta berbicara bukan sebagai menantu, melainkan sebagai kolega ataupun junior Rosaline.
**
Mereka tiba di depan IGD lebih cepat dari dugaan Greta. Tanpa membuang waktu lagi, Greta membuka pintu mobil dengan tergesa. Tetapi, dia tidak melupakan bantuan Prada padanya, "Terimakasih banyak, aku mungkin akan pulang telat atau bahkan tidak pulang lagi."
"Jangan khawatir! jika sudah selesai, segera hubungi aku dan aku akan menjemputmu."
"Pulanglah! jangan bermalam di kantor, jangan lupa makan." usai mewanti-wanti Prada, Greta pun bisa bernapas lega dan segera berlari memasuki rumah sakit.
Ada rasa menyesal di benar Greta, dia berharap jika Prada bisa memaklumi pekerjaan daruratnya ini. Karena pasien ini berada dalam pengawasan Greta sebagai dokter utamanya.
"Aku akan memasak untuknya, sebagai ganti malam ini."
Berarti keselamatan Prada patut diperhatikan karena Greta berniat memasak khusus untuk pria itu. Padahal Prada sudah mati-matian melarang Greta masuk ke dapur untuk memasak dengan alasan bisa membahayakan dirinya, alasan bodoh itu malah bersambut sanggahan dari Greta.
"Kamu takut aku terluka? Hei aku ini biasa memegang pisau bedah. Hanya pisau dapur saja tidak akan menyakitiku."
"Astaga ... bagaimana caraku mengatakan padanya jika masakannya bisa membunuhku? Dia memang luar biasa sebagai dokter dan istri, tetapi buruk sekali sebagai seorang juru masak."
...****************...
Adalah cinta membara. Mampu lahirkan rindu penuh gelora. Di antara belantara resah mendera. Asmara getarkan tiap debar di raga.
Hadirmu menelan memory duka. Dekapanmu memenggal nestapa. Sepenuh asamu mengisi celah jiwa. Menghanyutkan segala lara di dada.
__ADS_1
Bersamamu ku bertapak pasti. Mengusung kasih pada kisah abadi. Kesetiaan pada janji suci. Menyimpul mati cinta di hati.