
Hari keberangkatan untuk berlibur telah tiba, Greta terlihat antusias bahkan sejak sehari sebelum hari H datang. Pada malamnya saja bahkan wanita itu terus memikirkan apa dan bagaimana yang akan dia lakukan besok pagi.
Melihat ketertarikan pada tingkah sang istri, tak ayal membuat Prada terus menggoda hingga setiap hal kecil. Karen liburan ini sungguh berbeda dari liburan mereka sebelum-sebelumnya.
Namun, kebahagian mereka harus mereka relakan dengan datangnya surat panggilan dari pihak kepolisian.
Prada dilaporkan atas penyitaan serta usaha ilegal untuk mendapatkan barang bukti. Meski dia telah menduga ini sebenarnya, tetapi Prada juga sedikit tersentak dengan kecepatan pelaporan dirinya.
"Kalian tidak bisa menangkap orang sejenak!" Greta mengutuk petugas yang datang untuk menjemput Prada.
Prada memberi kode agar petugas itu keluar terlebih dahulu agar dia bisa berbicara dengan Greta. Mereka telah mengenal Pradabhasu dengan baik, dan petugas itu tahu jika Prada adalah ahli hukum yang tidak akan mangkir dari penyidikan.
Guna menenangkan sang istri, Prada memeluk Greta agar wanita itu tidak berpikir terlalu banyak, "Tenaga saja, ini hanya penyidikan. Aku akan memenuhi panggilan mereka."
Greta menyanggah, "bagaimana jika mereka menahanmu?" Kedua matanya kini berurai air mata karena menyaksikan ketidakadilan ini. "Lalu aku bagaimana?"
"Hei, kau ini wanita istimewa. Istri pengacara harus selalu siap keadaan seperti ini. Ini hanya masalah kecil saja, Yang."
Greta tidak ingin hal buruk terjadi, dia bersikukuh ingin menemani Pradabhasu sang suami ke kantor polisi. Karena Greta ingin menjadi suport sistem bagi Prada.
Apa mau dikata? Prada pun tak bisa menolak keinginan sang istri. Wanita itu mengancam akan meninggalkan rumah jika keinginannya tidak dipenuhi oleh Prada. "Baiklah ... ayo, tapi jangan tinggalkan rumah!"
**
Keduanya pun mendatangi kantor polisi seperti yang tertera pada surat panggilan yang diterima. Meski masih berstatus sebagai seorang saksi, tetapi hal ini membuat hati Greta tak tenang. Pasalnya, hal seperti ini adalah pengalaman kali pertamanya selama menjadi istri seorang pengacara.
"Tunggu aku di mobil saja, aku janji tidak akan lama."
"Tapi, bukti mereka cukup kuat. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Percayalah padaku, aku akan memenuhi dan segera kembali padamu untuk berlibur." Semua akan diupayakan oleh Prada demi Greta. Demi kebahagiaan sang istri. Gangguan kecil seperti ini tidak akan ada artinya bagi Prada. Selain itu, dia juga datang bersama tim kuasa hukum yang dipilih langsung olehnya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa tenang jika kamu dalam masalah seperti ini, aku harus melakukan sesuatu."
Prada sempat tersenyum, meski hal itu dipaksakan olehnya, "Doa dan dukunganmu adalah hal besar yang harus kau lakukan. Dan satu lagi, percayalah padaku bahwa aku akan segera kembali untuk memelukmu."
"Ini tidak salah dengar, bukan? Barusan pria itu mengatakan hal manis untuk kali pertama selama mereka menikah, bukan?"
"Prada ... "
"Apa?"
"Katakan lagi!" Semakin hari, Greta semakin tertarik dan tertarik lebih dalam lagi untuk menyelami isi hari Prada.
Prada juga merasa ada yang berbeda dengan sang istri, "Katakan apa?"
"Katakan sesuatu yang manis untukku! katakan kalau kamu menyukai aku!"
Meski berlomba dengan waktu, Prada juga masih sempat untuk memenuhi permintaan Greta. Tidak salah memang, wanita mana yang tidak suka disayang? Selama ini Prada memang kurang bisa mengungkap isi hatinya, tetapi semua itu tidak mengubah rasa cintanya pada Greta.
"Aku memang tidak bisa seperti suami pada umumnya. Tetapi, ada hal yang kujanjiikan padamu. Aku akan membuatmu bahagia hingga di akhir usiaku." kata Prada mengungkap isi hatinya.
Usai mengungkapkan perasaannya, Prada keluar dari mobil. Tetapi sebelum itu, Prada tak lupa mengecup dahi sang istri dan meminta Greta untuk menunggunya.
Senyum puas itu mengembang di wajah ayu Greta, dia juga mengingatkan akan janji Prada padanya dengan mengulurkan jari kelingking pada Prada.
**
Kepergian Prada bertepatan dengan keluarnya Rosaline dari ruang interogasi. Wanita paruh baya itu keluar dari kantor polisi ditemani oleh kuasa hukum yang ditugaskan oleh suaminya.
Melihat sang ibu mertua keluar dari ruang penyidik dan berjalan ke arah parkir, tak ayal membuat Greta keluar dari mobil dan menyapanya dengan sangat manis. Bahkan kelewat manis.
.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, Ibu!"
Wanita itu hanya meringis melihat kedatangan menantinya, dia tak kaget karena anak buahnya telah melaporkan jika Prada juga dipanggil di kantor ini.
"Sebaiknya kalian menyerah saja, karena kami bukan lawan kalian."
Menanggapi sang mertua, Greta tentu saja memiliki sebuah modal besar. Dia sudah menyiapkan banyak jawaban untuk melawan sang ibu mertua.
"Benarkah? Jadi Ibu lebih memilih keluarga baru Ibu?'
"Jaga ucapanmu, Greta! Ibu melakukan hal ini untuk melindungi anak Ibu."
Cih ... Greta mengejek, "Melindungi? Dengan menjebloskan anak Ibu ke penjara? Aku yang akan melindungi suamiku dengan caraku."
Rosaline tersulut emosi, usahanya tidak boleh gagal hanya karena berdebat dengan Greta.
"Jika Ibu tega menyentuh Prada, maka aku akan memastikan bahwa Ibu tidak akan bisa melihat anal serta cucu ibu lagi." Greta juga tak kalah tersulut. Emosinya tak bisa dibendung karena wanita di hadapannya ini masih kekeuh merasa benar.
"Kau bilang apa? Cucu? Kau kira aku bodoh? Prada menikahimu hanya karena sebuah kesepakatan saja bukan?"
'Sialan!' Greta menambahkan, "Aku tidak akan membiarkan seorang Ibu dan nenek yang akan memisahkan anak dengan ayahnya lagi. Itu sumpahku!"
Rosaline berniat melayangkan sebuah tamparan untuk Greta. Namun, sebuah tangan mampu menghalangi, "Singkirkan tangan kotormu itu dari keponakanku, kau wanita iblis. Wanita yang hanya mementingkan hidup enak. Wanita yang rela menjual kebahagiaan hanya demi rupiah."
"Paman?" Greta menoleh ke arah pamannya yang baru saja tiba di kantor polisi ini.
"Lalu apa bedanya denganmu? Kau juga terlibat,"
"Aku terlihat, semua itu karena ambisimu. Ambisimu lah yang membuat anakmu menjauh darimu, Rosaline. "
...****************...
__ADS_1