
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, komedi, fantasi.
Setelah mengingat masalalu yang nyaris terhapus selamanya, Miyuki perlahan-lahan pulih dan merasa lega melihat kondisi Ryu tampaknya sudah mengingat Miyuki sebenarnya. Bahwa Miyuki adalah pengantin yang berharga untuknya.
Namun, Miyuki tidak menyadari sesuatu yang hilang dari ekspresi Ryu. Kalau Ryu sebenarnya sudah tak menginginkan pengantin berharganya karena baginya melupakan kenangan menyedihkan itu sudah melegakannya agar tetap tenang. . .
"Maafkan aku, Miyuki.."
Miyuki juga tak percaya diri, karena merasakan sesuatu yang ganjil melihat Ryu saat ini hanya senang bersandiwara.
"Jika ingatan itu pernah menyakitimu sebaiknya lupakan aku." Sahut gadis pendeknya 160cm berhadapan dengan suaminya di tengah musim dingin yang masih datang.
"Bukan..itu maksudku." Tanggap Ryu, yang kemudian menatap Miyuki sejenak.
"Bukankah kau tidak bisa bersamaku?" Sambungnya dan mengalihkan pandangannya dari Miyuki.
Miyuki terdiam berpikir, seolah pertanyaan itu membuat bibirnya gemetar menjawabnya karena jujur bahwa dia pernah mengatakan sebelum kematiannya yaitu saat itu dia tak punya kekuatan hidup bersama Ryu.
"Jadi begitu..." Entah mengapa Miyuki perlahan-lahan mengerti. Meski airmatanya sedikit berlinang, dia berusaha tidak menangis dihadapan Ryu.
"Akibat kau mencintai dia, ternyata kau tidak bisa membukanya untukku."
"Seolah aku hanya orang asing bagimu, itu artinya..."
"perjuangan ku selama ini sia-sia."
Ryu tak menanggapinyan sedikitpun maupun menatap wajah gadis itu berdiri disampingnya.
Miyuki menghela nafas panjang, "kalau begitu.. Mari jalani kembali seperti saat aku dijadikan guardianmu."
"..bukan sebagai istrimu."
"Tapi aku benar-benar kecewa sikap kasih sayang kau berikan padaku itu, apa itu hanya sandiwara? Mungkin tidak.."
"Kau hanya ingin menyelamatkanku dari penderitaanku itu saja kan?"
"Untuk apa kau melakukan semuanya untukku lalu mengakhirinya dengan menyakiti."
Miyuki menatap Ryu sejenak. "Rasanya aku benar-benar terbuang."
Kemudian tangannya mengambil sesuatu darus kantongnya. "Meski ini pemberianku, tapi benda ini pernah jadi milikmu bukan?"
Dia memberikan sebuah kalung tak asing baginya, Ryu sedikit terkejut bagaimana kalung itu ada ditangan Miyuki.
"Aku pernah bertemu denganmu dalam keadaan amnesia di era perang Hiroshima, lalu kau memberikan benda ini untukku karena aku pernah mengatakan bahwa jika hari ini kau mengingat namaku maka besok kau akan melupakannya."
"Dan kau bilang, jika aku bertemu denganmu lagi maka cukup saja mengembalikan kalung itu ke tanganmu. Karena benda itu akan mengingatkannya." Sambil menyimpan kalung kuno berlia ke telapak tangan Ryu.
"Terima kasih." Ucap Miyuki singkat dan berakhir itu memilih meninggalkan tempat itu.
Melihat Miyuki sudah melangkah jauh, Ryu menyaksikan dengan wajah memilukan. "Aku benar-benar bingung dengan perasaan ku."
"Mengingat semuanya membuat ku jadi jaga jarak dengannya."
Miyuki yang masih berjalan itu juga menumpahkan airmatanya sambil menutup mulutnya hingga jatuh bertekuk lutut di tengah kesepian.
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Dia tidak kembali melainkan lebih dingin lebih dari sebelumnya."
••
Hingga malam itu, bulan tertampak membulat besar menyinari tokyo dengan pancaran terang. Seolah petanda bahwa seseorang kembali ke tempat itu,
"Mayumi-sama?" Panggil gadis muda berambut pirang keabuan dengan mengenakan dress mini yang sopan.
Gadis itu menghampiri seseorang yang sedang berdiri dibawah rembulan malam sambil menyaksikan kota tokyo dari kejauhan.
"Kota ini masih saja mati seperti biasanya..."
"Tiada perubahan sedikitpun, tapi..."
Gumam gadis berpirang merah muda terhenti sejenak, mengingat kabar seseorang yang dia cintainya alias Ryuzaki. Dia ingin tau kabar pria itu dan..
"Miyuki." Sahutnya sambil menatap bulan yang indah hingga angin datang meniup belaian rambutnya.
"Ku rasa dia juga berubah bukan?"
Dia menyadari seseorang memanggilnya, wajahnya berbalik dengan menampilkan senyum kebahagiaannya itu membalasnya dengan..
"Entah kenapa aku jadi gugup, Meri."
"Kau tidak perlu segugup itu, Mayumi-sama."
Gadis dipanggil Meri adalah guardian Mayumi yang selama ini sudah menemaninya di luar negri. Meri adalah gadis yang berhati lembut dan selalu menyarankan Mayumi agar tidak cuai dalam memilih keputusan.
Tidak hanya Meri di sana yang bersama Mayumi, sosok pria tua juga bersamanya.
"Sepertinya kau tidak sabar menemuinya sampai kau segugup ini kan?"
"Ku rasa begitu, kakek." Jawab Mayumi menatap rembulan kembali dengan bibir yang tersenyum lembut.
"Malam yang indah ya.." Tambahnya.
Miyuki berdiam diri di kamar juga merasakan kehadiran Mayumi kembali.
"Dia sudah kembali, tapi.. aku merasa ada yang tidak beres dengan kehadirannya."
Saat beranjak keluar dari pintu kamarnya, gadis itu jatuh lemas hingga tangan seseorang menyambut tubuhnya. Itu menguntungkan, Miyuki tidak terjatuh. Tetapi,
"Kau baik-baik saja?" Tanya Ryu.
Miyuki sadar mendengar suara itu langsung menghindarinya. "A-aku hanya sedikit pusing tapi aku.."
"Huh? Apa yang terjadi?" Namun, tubuh Miyuki jatuh lemah kembali dan Ryu menangkapnya sambil memeriksa denyut nadi Miyuki.
"Miyuki? Miyuki? Kau mendengar ku?"
Pria itu terus memanggil Miyuki berkali-kala. Miyuki hanya diam dengan mata terbuka tanpa berkelip sedikitpun.
"Miyuki?"
Wajah Ryu jadi mengerut sedih kemudian memeluk istrinya. "Sebenarnya apa ada denganmu?"
Gadis itu sadar kembali dengan membalas pelukannya. "Kau khawatir?"
__ADS_1
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ryu.
"Aku tidak tau, tapi.. mata ku melihat sesuatu membuat ku sangat khawatir."
Mendengar Ryu tak meresponnya, Miyuki melanjutkan ucapannya.
"Bahwa suatu saat kau dan aku akan berakhir seperti kejadian itu, tapi aku tidak ingin hal itu terjadi lagi."
Pria itu hanya mempereratkan pelukannya terhadap Miyuki.
"Meski kejadian itu sempat mematahkan ku, tapi kali ini akan ku usahakan tidak mematahkan diri ku sendiri demi melindungimu." Ucap Ryu.
Mata Miyuki membulat sejenak dan kemudian tersenyum kagum kembali. "Kau benar-benar pria yang baik."
Hingga ucapan itu tertidur membuat Ryu tidak melepasnya dari pelukannya karena sadar gadis itu tak sadarkan diri.
"*Aku bisa merasakannya, dengan kondisinya yang lemah sekarang membuat kegelapan mulai bergerak meregutnya. Ku rasa ucapannya benar.."
"Aku dan dia akan berakhir, tapi aku tidak menginginkan hal itu terjadi*."
••
Memasuki awal April, tak terasa musim dingin sudah terlewati hingga musim semi tersinar indah kembali di kota Tokyo.
Kondisi Miyuki tampaknya melemah kembali, selama sehari Ryu merawatnya dengan meminumkan darahnya agar suhu tubuhnya normal. Tidak hanya itu, agar Miyuki mampu mengendalikan kutukannya.
"Apa ada cara membuatnya benar-benar kembali?"
Dan setelah sehari kondisi istrinya mulai membaik, Ryu menyarankan agar Miyuki tetap di rumah dan tidak kemana-mana karena khawatir istrinya sakit kembali. Saat ini kekuatan Miyuki belum 100% terkendali, akibat apple blood sempat memakan hati dan pikirannya. Dan Ryu tak akan membiarkan Miyuki jatuh kegelapan hatinya kembali.
"Aku mengerti." Jawab Miyuki yang membaringkan tubuhnya kembali di kasurnya.
"Cepat kembali, Ryu."
"Tenang saja, aku hanya ada pertemuan klan Nishimura dan pastinya aku akan kembali." Ujar Ryu.
Hari ini adalah pertemuan penting Nishimura karena mendengar kejadian ledakan di Chiba membuat kota Tokyo heboh memberitakan hal itu karena tempat itu tiba-tiba diserang ledakan seperti 9 tahun lalu.
Yang sebelumnya tempat yang ditinggali oleh masa kecil Ryu dan Miyuki hingga kota kecil itu hampir terlenyapkan hanya karena monster yang mengamuk.
Di kediaman Nishimura, Maya dan Miya menyambut kedatangan Ryu.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Miya, sebagai ibu memang harus menanyakan kabar anaknya.
"Seperti biasa." Sayangnya pria tingginya 187cm hanya menjawab singkat nan dingin.
Dia duduk diam di tempat duduknya menunggu beberapa orang datang ke ruangan itu. Miya hanya diam kesal menerima sikap Ryu masih tiada berubahnya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Maya juga menanyakan kabar Miyuki.
"Dia hanya diam di rumah." Jawaban Ryu masih singkat membuat dua wanita itu sedikit kaku bertanya lagi.
Karena melihat Ryu saat ini sedang tidak bermood baik. Mereka khawatir akibat Miyuki mengingatkan masa lalu anaknya hingga Ryu jadi berubah dingin seolah tak ingin bahas panjang.
Perwakilan Nishimura sudah datang bersama kepala cabang Nishimura yaitu paman Neji, Mika, Tatsuro dan Fuya. Tampaknya mereka sedang membahas panjang soal ledakan di Chiba.
"Apa ledakan itu hanyalah sebuah peringatan?" Tanya Mika.
"Jika itu peringatan berarti tempat ini akan jadi sasaran selanjutnya." Ucap Fuya.
"Ini seperti 9 tahun lalu, jadi teringat ya.." Sahut Maya menatap Ryu karena tau kejadian 9 tahun lalu merupakan insiden yang sempat membuat Ryu trauma berturut-turut tahun.
"Bukan. Itu serangan kecil dari tentara asing, saat ini masih dalam penyelidikan tapi aku mendapat informasi bahwa mereka mencari seseorang." Jawab Tatsuro.
"Siapa?"
"Elizabeth."
Mendengar nama tak asing bagi Nishimura membuat mereka sadar tentang Miyuki. Hingga seseorang lagi datang ke tempat itu.
"Maaf terlambat.." Sahut Lujinian ditengah pembicaraan mereka sontak terdiam sejenak. Dan beberapa detik kemudian,
"Kami sudah menunggumu, Lujinian-sama." Ujar Maya menyambut kedatangan dengan mempersilahkan pria itu duduk.
Pria itu duduk dengan mengucapkan kata yang sopan dihadapan mereka. "Terima kasih."
"Apa yang membuatmu kemari? Apa si kakek tua menintamu kemari untuk menyampaikan pesan yang tidak jelas itu?"
"Aku sudah muak mendengar pesan si kakek tua itu." Tanya Miya.
"Aku kemari bukan perintah Rihito-sama, tapi aku kemari karena aku menerima surat ini."
Lujinian yang sempat menerima surat dari kerajaan Elizabeth itu menaruh surat itu tepat dimeja hingga mereka ikut menyaksikan isi surat itu.
"" Kerajaan Elizabeth tidak menerima anak terkutuk telah terlahir dari rahim Moyuka, putri ku. Kami meminta segera lenyapkan gadis monster, meski pernah melenyapkannya. Akan tetapi kami gagal melakukannya karena kekuatan gadis itu hanyalah kegelapan bukan cahaya bersinar terang.""
Ryu yang mendengar isi surat itu sedikit mengeram kesal. "Kenapa harus dia?"
"Apa diantara kalian mengenalnya? Izinkan aku bicara empat mata dengannya?"
Pertanyaan Lujinian membuat Maya, Miya dan Tatsuro ragu menerimanya karena yang membuat keputusan izin adalah Ryuzaki.
"Aku menolak." Jawab Ryu lantas meninggikan nadanya.
Lujinian mengerutkan wajahnya dengan bertanya pada Ryu,
"kenapa?"
"Kau tau.. Selama berturut-turut tahun hingga saat ini dia tak pernah bebas dari penderitaannya. Meski dia monster, tapi sebagian dirinya adalah manusia, dia juga berhak bahagia seperti aku, kalian dan mereka yang bahagia."
"Dan diriku pernah berjanji akan melindunginya tapi..janji itu hanyalah palsu yang tak bisa diwujudkan."
"Di usianya 9 tahun, kehilangan penduduknya di Izu, seorang ibu yang dia cintai juga tak kembali dan dia juga terpaksa membunuh ayahnya, Shimizu kato yang telah membunuh ibunya, setelah itu..orang-orang itu tak pernah berhenti mengejarnya hingga dia bertemu dengan ku, kondisi yang cukup parah."
"Aku merawatnya dengan darah ku hingga aku dan dia benar terhubung. Tapi kebahagiaannya hanya sementara karena senyum itu sudah tak terlihat lagi."
"Kegelapan hatinya mulai menguasainya dan menghancurkan kota kecil Chiba. Tapi yang membuatnya seperti itu hanyalah melihat orang-orang yang dicintainya tak sadarkan diri tepat dimatamya. Mungkin dia berpikir, apa dia akan sendirian lagi? Saat itu aku dan dia berpisah dalam keadaan tewas tak berdaya."
Mendengar curhat panjang Ryu yang berhubungan masa lalunya membuat semuanya bertutup mulut sejenak.
"Aku pernah bertanya pada diriku, apa aku pantas melindunginya hanya karena dia monster yang dibenci oleh dunia.."
"Padahal dia baik." Ucap Ryu memasangkan wajah kesedihannya.
Hingga mereka sulit berkutip mendengarnya.
••
Miyuki diam diri di kediaman Vila, dia menerima panggilan dari Hiroishi.
"Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Aku tidak tau, rasanya tubuhku benar-benar mati rasa."
"Tapi kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Ryu memintaku diam di rumah."
"Akhir-akhir kau tidak hadir dinas, jika kau kesulitan waktu. Kau bisa membuat surat pengunduran diri."
"Tidak Hiroishi, besok aku akan kembali dinas."
"Apa Ryu tidak keberatan?"
"Akan ku coba tanyakan padanya..anu..Hiroishi, apa kau merasakan sesuatu sebelumnya?"
"Hm?"
"M-maksud ku kehadiran seseorang telah kembali."
"Aku sudah tau, saat ini aku sedang berhadapan dengannya."
"A-apa?" Miyuki terkejut bagaikan kesambar petir bolong hingga ponsel digenggamannya ikut terjatuh.
"Huh? M-mayumi-sama? Tidak mungkin kan?"
Memang benar Hiroishi saat ini sedang bertatap wajah dengan gadis berpirang merah muda dengan tingginya 165cm.
"Lama tidak bertemu." Sapa singkat Hiroishi.
"Auramu semakin lebih dingin seperti biasanya, ku rasa kau benar-benar tidak terkejut." Sahut Mayumi.
"Tapi auramu jauh lebih menakutkan bagaikan putri iblis telah kembali."
"Memang faktanya aku adalah putri iblis, tapi aku kemari hanya mencari seseorang."
Gadis itu menatapnya sejenak dengan menampilkan senyum tipis liciknya.
"...seseorang yang telah membunuh ayahku adalah istri Ryuzaki bukan?" tebak Mayumi lantas membuat Hiroishi sedikit membulat.
dia jadi terdiam sejenak, hingga beberapa detik gadis itu menghilang.
"Sepertinya Miyuki dalam bahaya."
••
Hingga malam hari kembali, Ryu tampaknya kembali kediaman setelah pertemuan tadi. Mengingat keputusan dalam pertemuan Nishimura membuatnya menyerah bahwa dia terpaksa mengizinkan Lujinian bertemua dengan Miyuki besok.
Ryu menghela nafas panjang, "merepotkan sekali."
Begitu pria itu masuk, dia melihat Miyuki sedang duduk merajut sesuatu hingga salah satu jarinya mengenai jarum dan mengalir berdarah.
Miyuki terkejut, tetapi melihat darahnya sendiri membuat kedua matanya gemetar. "Huh?"
Ryu menyaksikanya mendekatinya dengan menutup kedua mata gadis itu. "Jangan melihatnya.."
Kemudian menggenggam jari-jemari Miyuki dengan lembut dan membuka kedua matanya.
"Ryu?"
"Apa kau kesepian menunggu ku?"
Miyuki menganggukkan kepalanya. "A..anu itu..Ryu..uhmm.."
"Apa?"
"Besok..aku akan dinas kembali."
"Tapi kau masih dalam pemulihan."
"Aku sudah merasa baikan kok, jadi..jangan khawatir."
Ryu menatapnya dan menyandarkan kepala gadis itu ke dadanya. "Minggu depan, akan ada peresmian Nishimura. Dimana aku akan menjadi pemimpin Nishimura."
"Huh? Itu artinya kau dan aku.."
"Yahh itu benar, mereka menerimamu. Jadi kau tak perlu jadi guardian ku tapi resmi sebagai istri."
Bukannya senang, Miyuki merautkan wajah sedihnya. Dia memilih diam menangis dipelukan Ryu.
"Ryu..."
"Hm?"
"Terima kasih..selama ini kau berusaha melindungi ku dan menyelamatkan ku, tapi..tapi..."
"Banyak hal menghantui ku, ku harap aku tidak kehilanganmu lagi. Aku..aku takut sendirian."
"Aku benar-benar tidak menginginkan rantai itu kembali mengikatku."
Ryu hanya mendengar sambil mengusap belaian rambut coklat gadis itu.
"*Akan ku usahakan untuk mencari cara menghilangkan segel di tubuhku, agar aku bisa menyembuhkannya tidak hanya itu..juga bebas mencintainya."
"..karena saat ini, hanya wanita itu masih mengurung dirinya dalam sebagian tubuhku*."
Malam semakin larut, Miyuki tertidur. Ryu menggendongnya dan membawa wanita itu kembali ke kamarnya. Melihat wajah putih mulus nan lembut membuat Ryu menelan ludah tergoda.
Perlahan-lahan Ryu baring disamping Miyuki sambil menatap wajahnya. Jari-jemarinya mulai bermain sentuh di pipi wanita itu.
"Ryu?" Miyuki terbangun sejenak karena sadar sentuhan itu membuatnya sadar melihat Ryu berada disamping tidurnya.
Miyuki ikut mendekatinya, "aku..tidak keberatan jika malam ini kau tidur diranjang ku."
Tanpa meresponnya, Ryu mengecup dahinya kemudian memeluknya membuat Miyuki tersenyum tipis. Tapi setelah itu dia tertidur kembali. Ryu menarik selimut menutup sebagian tubuhnya bersama istrinya.
"*Andai bibirku tidak kaku mengatakan selamat malam pengantinku, dia pasti senang mendengarnya. Tapi suatu saat, aku ingin dia mendengarnya."
"..Suara hatiku*."
Hingga matahari terbit bersinar indah kembali, sepasang kekasih itu tidur seranjang bersama dengan berpeluk lembut. Meski sebelumnya Miyuki pernah menolak setubuh dengan Ryu akibat Nishimura tidak mengizinkan mereka bersatu melainkan hanya guardian khusus Ryuzaki.
••
Kembali ke rumah sakit Aizawa, Miyuki masuk dinas pagi. Melakukan aktivitas seperti biasanya, hingga tak di sangka giliran Miyuki bertemu seorang familiar baginya. Kedua matanya ikut membulat lebar gemetar,
"Huh?"
"Mayumi-sama?"
{Bersambung . . .}
__ADS_1