
Greta keluar dari ruang operasi dengan wajah datar. Ditatapnya suami dari wanita hamil yang sudah menunggunya lebih dari 4 jam. Memang operasi bypass kali ini lebih lama dari biasanya. Selain rumit, Greta harus berdiskusi dengan dokter anestesi agar dosis yang diberikan tidak mempengaruhi janin yang dikandungnya.
"Bagaimana, dok?"
"Kondisi Istri Anda masih terus dipantau, untuk saat ini kondisinya cukup stabil dan masih berada di ruang transit sebelum memindahnya kembali ke ICU."
Pria yang merupakan suami pasien tersebut tertunduk lesu, dia merasa bersalah karena tidak mampu meyakinkan sang istri untuk tidak mempertahankan calon buah hatinya sejak awal kehamilan.
"Jangan terlalu menyalahkan diri, Beliau tahu apa yang terbaik untuknya dan juga calon buah hati kalian." bujuk seorang dokter yang baru saja datang menyusul Greta dan juga suami pasien.
Sebagai orang yang bertanggungjawab, Greta tidak boleh pesimis dan tampak menyedihkan di depan keluarga pasien, karena dengan wajah optimis, mereka mampu mendongkrak keyakinan keluarga pasien.
"dok, ini sudah larut. Dan di luar jam kerja Anda. Lebih baik dokter pulang untuk istirahat." Mira yang kebetulan jaga malam ini meminta Greta untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya.
Layaknya mesin, tubuh seseorang juga perlu di-maintenance yaitu dengan istirahat yang cukup. Terlebih lagi, kali ini tanggung jawab Greta bukan hanya IGD saja, melainkan ada sebuah nyawa yang kini harus dia perhatikan.
Greta melihat jam pada ponselnya yang kini menunjukkan pukul 00.19 dini hari. Tetapi, rasa tanggungjawab itu tidak bisa membuatnya berleha-leha. Sehingga, "Aku akan bermalam di sini, lagipula aku sudah mengatakannya pada suamiku."
"Dok ... " Mira menyela, "Pria baik tidak akan datang dua kali, jadi manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin."
Bicara apa Mira? Apa perawat IGD itu sudah mendorong Greta untuk memanfaatkan Prada, padahal selama ini, Greta belum juga meminta apapun dari pria itu.
Meskipun Greta berkilah baik-baik saja, dan akan tinggal di IGD. Tidak menyurutkan niat Mira untuk memindahkan dokter idolanya itu keluar dari IGD. Mira bahkan bertindak lebih dengan berani mengangkat panggilan dari Prada di ponsel dokter tersebut.
Untung saja, Greta tidak curiga karena wanita itu mengeletakkan benda pintar itu secara sembarangan di lobi IGD sebelum dokter wanita itu pergi menyeduh secangkir kopi untuk menyingkirkan kantuk yang menyerangnya.
__ADS_1
Atas ulah Mira inilah, tak berselang lama nampak pula batang hidung Prada mengunjungi IGD rumah sakit Universitas Ganesha.
Begitu Greta kembali ke lobi IGD untuk mengambil ponselnya yang sempat tertinggal, dia melihat sosok pengacara yang sudah menikahnya. Prada terus menatap lurus ke arah dokter yang membawa secangkir kopi di tangannya itu.
Sedangkan Greta? Dokter yang merasa tatapan Prada yang telah menghujamnya kini seolah melakukan sebuah kesalahan terhadap pria itu. Mau tidak mau, Greta mendatangi sosok pria tinggi besar dengan bulu tipis di sekitar wajahnya.
"Ayo pulang! tadi minta dijemput,"
"Aku? Minta dijemput?" Greta menelaah ajakan Prada, Sepertinya ada kesalahpahaman di antara dirinya dan sang suami.
Tanpa menunggu lama, segera saja Prada menarik tangan Greta dan mengajaknya pulang bersama. Tetapi ... "Tunggu dulu, aku akan mengambil tasku."
"Aku tunggu di tempat parkir biasa."
Alhasil, Greta terpaksa mengalah dan pulang bersama Prada. "Kau tampak lelah, tidurlah. Setibanya nanti aku akan membangunkanmu." ucap Prada sebelum menghidupkan mesin mobilnya. Dia meminta agar Greta beristirahat dan tidak lagi meminum kopinya tadi.
"Tapi aku harus tetap terjaga, jika sewaktu-waktu ada blue code dari pasienku."
Geram karena Greta lebih memilih dedikasi dan mengabaikan kesehatannya, membuat Prada harus mengultimatum sang istri yang keras kepala itu. "Dokter di rumah sakit itu bukan kau saja, untuk apa aku berinvestasi besar-besaran di rumah sakit itu jika istriku masih harus memeras otak dan tenaga?"
Sadar jika kini Prada sudah mulai keluar tanduk di kepalanya, membuat Greta tidak berani menjawab semua pertanyaan Prada karena dia tahu, pamannya yang telah susah payah menggaet Prada sebagai investor, pasti akan kecewa jika pria itu menarik investasinya.
"Iya, iya aku minta maaf." Kini Greta bersikap tak acuh dan mulai menata tempat duduknya di samping Prada agar nyaman seperti yang diinginkan oleh Prada. Dia akan mengikuti kemauan Prada untuk segera memejamkan mata dan siap beristirahat.
"Nah, gitu dong. Aku tak tega melihatmu kelelahan.'
__ADS_1
"Iya bawel," umpat Greta dalam hati, meski kedua matanya berusaha terpejam. Namun, hatinya masih tertinggal di ICU rumah sakit.
Hingga meskipun Greta mencoba sekuat tenaga untuk tidur, lagi-lagi dia tidak bisa mencapai mimpi.
"Aku tidak bisa tidur, masih kepikiran pasienku."
Hingga hal tersebut menggerakkan hati Prada dan menarik kepala sang istri agar bersandar di pundaknya. Meskipun hal seperti ini tidak diperbolehkan ketika berkendaraan, tetapi Prada tidak keberatan jika dia kesulitan dalam mengemudi karena kepala sang istri kini berada di pundaknya. "Cobalah kembali!" pintanya.
Sedikit lebih lama dari waktu perjalanan ke rumah, semua itu karena Prada hanya ingin mengemukakan lebih santai agar sang istri bisa beristirahat lebih lama sebelum dibangunkan olehnya.
Niat untuk membangunkan wanita yang masih bersandar di pundaknya, Prada urungkan. Semua itu karena dia tidak tega untuk mengganggu sang istri yang terlelap dalam tidurnya.
Sehingga Prada mengambil inisiatif untuk mengangkat tubuh sang istri saja. "Kau ini makan apa saja hingga tubuhmu berat seperti ini?' Namun, Greta hanya menggumam saja dan semakin membenamkan kepalanya yang kini berada pada dada bidang sang suami.
"Huufh ... " Prada menghela napas dengan kasar akibat ulah sang istri yang sudah membangunkan has ratnya. Untung saja Prada masih bisa menahannya agar tidak sampai meluap secara berlebihan.
Prada segera membawa Greta menaiki anak tangga ke lantai dua di mana tempat tidurnya berada. Semakin cepat semakin baik karena sejak tadi Prada sudah menahan gejolak yang ditimbulkan oleh ulah Greta padanya.
Usai meletakkan dengan pelan-pelan agar tidak menganggu tidurnya, Prada berniat keluar dengan segera dari kamar Greta.
Tetapi, ada hal yang menganggu niat Prada. Bukan karena tidak rela meninggalkan sang istri, melainkan dia melihat pada jam tangan yang dia pakai yang menampilkan irama jantung Greta lebih tinggi dari bisanya. Sesaat, Prada menatap Greta yang tengah tertidur, kedua alisnya menyatu dan dahinya berkerut yang menandakan Greta berada dalam sebuah masalah pada mimpinya.
Sehingga Prada mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Greta, dan memilih menemani dokter wanita itu di kamarnya.
...****************...
__ADS_1