
Sebuah mobil pabrikan Mercedes Benz berjalan pelan hingga berhenti tepat di pelataran sebuah vila. Jika dilihat dari letak serta luasnya, orang pasti beranggapan bahwa tempat tinggal itu merupakan sebuah tempat peristirahatan. Letaknya yang cukup jauh dari ibukota, membuat vila itu terkesan menyendiri.
Jika berjalan masuk lebih dalam lagi, seseorang yang hadir akan disuguhkan dengan arsitektur klasik yang bernuansa kayu.
"Ayo! kakek sudah menunggu kita."
Ada rasa hangat yang menyelimuti perasaan Greta. Karena tempat ini sangat nyaman dan terkesan menyimpan banyak kenangan si pemilik.
Greta mengikuti langkah kaki jenjang Prada memasuki pintu utama. Beberapa pengurus rumah berbaris rapi menyambut keduanya. Selain mengucapkan selamat datang kembali, mereka juga terus saja mengulas senyum untuk Prada dan Greta.
"Pak Kresna sudah menunggu Anda berdua," Seorang pria yang paling terlihat senior mempersilakan mereka untuk masuk.
Usai melewati pintu utama, Prada dan Greta berjalan dengan bersebelahan memasuki aula utama yang merupakan tempat yang sering digunakan oleh Kakek untuk menerima tamu.
Tetapi, bukan aula utama yang menjadi tempat tujuan mereka, pengurus rumah tadi membawa mereka ke masuk lebih dalam lagi.
Ini adalah kali pertama bagi Greta mengunjungi rumah kakek. Dia cukup takjub dengan gaya yang diusung rumah ini. "Selera Kakek cukup bagus." puji cucu menantunya.
"Hmm ... " sahut Prada dengan terus berjalan untuk menjumpai kakeknya.
Di sebuah ruang makan, tampak pria tua dengan rambut putih sedang duduk dengan memegang tongkat yang menjadi tumpuannya. "Kalian sudah datang?"
"Kakek, Greta merindukan Kakek." Greta datang mendekati kakek dan memeluknya dari samping. Dia berharap jika suaminya akan melakukan hal yang sama.
Melihat gelagat sang cucu menantu yang mengharap Prada akan melakukan hal yang sama, membuat Kresna berucap, "Dia tidak akan melakukan hal seperti itu, Nak." Kakek sangat paham seperti apa cucu lelakinya.
Tanpa basa-basi lagi, kakek mengajak keduanya untuk makan malam bersama. Sesekali Kresna melirik ke arah Greta yang sedang menikmati kudapan khas negeri asal Juventus tersebut.
__ADS_1
",Kamu sedikit kurus, Nak. Apa suamimu tidak memerlukanmu dengan baik?"
Sontak saja pandangan Greta dan Prada saling bertabrakan. Buru-buru mereka menjawab, "Tidak, Kek."
**
Usai makan, kakek ingin berbicara serius kepada Greta dan Prada. Kakek mengajak kedua cucunya ke aula utama dan bersama menunggu seseorang.
Rupanya, kakek sedang menunggu kedatangan seorang notaris. Usai memperkenalkan diri sebagai notaris yang telah dimintai tolong oleh kakek, pria itu memberi Prada dan Greta sebuah salinan dari dokumen yang telah bertuliskan nama kakek dan juga berkekuatan hukum.
Isi dari dokumen legal itu akan dibacakan oleh notaris kakek. Meski begitu, Kakek juga memberi waktu Greta dan Prada untuk memeriksa kekuatan hukum dokumen tersebut.
"Kakek jangan aneh-aneh, deh! masa bikin wasiat lebih awal?" sergah Greta merasa kurang setuju jika Kakek membuat surat wasiat lebih awal.
"Kenapa? Karena kakek sudah kecewa kalian tidak menyanggupi permintaan kakek."
"Meski harta kakek tidak sebanyak suamimu, kakek masih bisa memuliakan orang yang membutuhkan
" ucap kakek dengan nada menahan duka.
Namun, jika kakek meninggal setelah istri Prada memberikan cucu, maka harta 90 % harta kekayaan kakek akan diberikan kepada seluruh cucu kakek. Dan sisanya diberikan kepada Prada.
"Karena putra atau putri Anda belum memasuki usia dewasa, maka Bu Greta lah yang akan mengelola aset tersebut." imbuh notaris tersebut.
"Tidak masuk akal!" umpat Prada.
Selian Prada yang cukup tercengang, Greta juga belum bisa mempercayai apa yang sudah dia dengar sebelumnya. "Ini ancaman, Kek." tolak Greta kepada kakeknya.
__ADS_1
"Iya, ini ancaman dari kakek."
Usai membicarakan hal ini, kakek kembali ke ruangannya tanpa memedulikan kedua cucunya yang masih bergelut dengan wasiat tersebut. Tak hanya Prada saja yang menolak. Tetapi, Greta juga merasa terdesak dan kurang setuju. Pasalnya hal ini tidak ada dalam kesepakatan di antara dirinya dan Prada.
**
Dalam perjalan pulang juga, Greta masih memikirkan hal tersebut. Karena dia akan segera pergi jika kasus ini selesai.
"Kenapa kamu bisa setenang itu? Bagaimana jika semua harta kakek disumbangkan dan kamu hanya mendapatkan sepuluh persen saja?'
"Kenapa aku harus pusing memikirkan hal itu? Aku sudah memiliki harta dan istri. Dan aku yakin bahwa aku juga sehat jasmani dan rohani agar bisa memiliki putra."
Sontak saja, Greta memukul bahu sang suami. "Jangan bicara omong kosong, aku bukan mesin pencetak manusia."
"Tapi kakek menginginkan keturunan kita." Di mana letak kesalahan kata-kata Prada? Bukankah memang Greta adalah istrinya.
Hingga tanpa mereka sadari, pembicaraan itu harus terhenti karena mobil sudah membawa Greta dan Prada pulang ke rumah.
Sebelum masuk ke rumah, Greta masih sempat mengingatkan Prada agar tidak macam-macam padanya, "Kakek hanya berkata ingin keturunanmu? Bukan menyebut namaku. Iya kan? Jadi kamu bisa mencari wanita lain."
Tersinggung atas ucapan Greta yang mulai mengujinya sebagai pria yang tidak setia, membuat Prada semakin berambisi untuk membuahi tentunya.
Dia berjalan hingga menepikan sang istri dan mendesaknya hingga ke dinding parkir mobil, "Kau pikir kau bukan wanita? Kenapa tidak kau saja? Kan kau istriku. Bukankah hal itu menguntungkan dirimu? Sembilan puluh persen dari harta kakek bisa kau gunakan."
"Tapi ... bukan aku."
Dengan senyum iblis, Prada mulai menggoda sang istri, "Kenapa tidak? Kita bisa mencobanya malam ini."
__ADS_1
...****************...