Emergency Love

Emergency Love
Bab 45


__ADS_3

"Kamu ini apa-apaan? Gila, ya?'


Prada tidak peduli dan terus menarik Greta keluar dari rumah ibunya.


Greta terus berteriak histeris karena tangan kekar itu menyeret dirinya untuk pulang dan dengan kasar menghempaskan tubuhnya masuk ke dalam mobil.


Baru kali ini, dokter wanita yang notabenenya telah sering menemui banyak pasien atau kerabat pasien yang menyebalkan. Tetapi, sikap Prada ini jauh lebih arogan dari semua orang yang pernah dia tangani sebelumnya.


"Sudah kukatakan berulangkali, bukan? Bahwa kau harus terus bersikap siaga. Apa kau lupa siapa yang menyebabkan orangtua kita meninggal?" Kembali Prada mengungkit penyebab kematian ayah serta orangtua Greta. Dan kini, dia menemukan sang istri tengah berada dalam sarang bahaya yang sewaktu waktu bisa merenggut nyawa Greta.


Greta duduk dengan bersedekap tangan. Dia tidak peduli meskipun suaminya mulai menjalankan mobil. Tanpa menoleh sedikitpun, Greta terus memasang wajah masam serta meluapkan emosinya.


"Kamu tidak beralasan! padahal kamu juga yang terus mengatakan jika setiap orang berhak mendapatkan azaz praduga tak bersalah. Bagaimana bisa seorang ibu yang tulus kau anggap sebagai pembunuh, Prada?" Emosi Greta tak bisa lagi terbendung lagi, dia tidak tahan dengan sikap tak tahu diuntung suaminya. Karena bagaimanapun juga, Rosaline adalah ibu kandungnya. Sudah sepantasnya Prada menghormati Beliau, bukan?


Prada masih berusaha mengutarakan kekesalan juga, dia pun menyela Greta, "Tulus kau bilang? Sekarang aku tanya padamu, ibu tulus mana yang tega memisahkan anak dengan bapaknya?"


"Kamu keterlaluan! aku benci padamu."


Terdiam tanpa menjawab perkataan Greta, tetapi Prada terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memedulikan apapun. Hatinya gundah, sekonyong-konyongnya dia telah bersikap peduli dengan Greta. Namun, nyatanya hingga kini sang istri masih begitu membencinya.


Tak ingin berdebat lagi, sehingga Prada mulai memelankan kecepatan mobil yang dia kendarai hingga mobil mulai menepi di jalan yang cukup sepi. Karena mengemudi tanpa mementingkan arah, sehingga tanpa sadar Prada telah jauh melenceng dari rute pulang mereka.


"Keluar! aku ingin sendirian." perintah Prada dengan hati hancur lebur melebihi kepingan kaca.


"Keluar? Dia mengusirku?" Bukan hanya hati Prada yang hancur tak berbekas, Greta tidak bisa lagi menutupi kesedihannya.

__ADS_1


Dalam perasan luluh lantak, Greta melepaskan sabuk pengaman yang melindungi tubuhnya. Tetapi ...


Alangkah terkejutnya Greta, tangan kanan Prada buru-buru menangkap niat hati Greta untuk melepaskan seat belt tersebut.


"Tetaplah di sini! jalanan ini sepi."


Kekesalan serta gengsi yang tinggi membuat Greta tidak menghiraukan sama sekali perkataan Prada. Bahkan dia kembali melepaskan sabuk pengaman tersebut untuk segera keluar dari mobil sang suami.


"Greta!" bentak Prada diikuti tarikan pada tangan Greta sebelum wanita itu sempat membuka pintu mobil.


Perasaan berkecamuk itu kini tak bisa lagi dikendalikan oleh sepasang suami istri itu. Memiliki sifat yang tak jauh berbeda, membuat keduanya sering terlibat dalam percakapan. Meski kadang salah satunya terpaksa harus mengalah demi menekan ego pribadi.


"Aku akan keluar jika kau keberatan bersamaku, beri aku waktu lima menit untuk merokok!'


Melihat tangis pilu sang istri, segera menghancurkan dinding kokoh yang selama ini dia bangun. Bahkan Prada menenggelamkan kepalanya di atas stir mobil karena tak sanggup melihat kesedihan sang istri.


Isak Greta belum juga usai, bahkan kini dengan hati yang hancur, wanita cantik itu menegakkan kepalanya kemudian menoleh ke samping kanan untuk membuka pintu mobil kembali.


Dengan sekali tarikan saja, Prada mampu menghalangi kepergian Greta dan memintanya untuk tetap berada di dalam mobil bersamanya.


Tidak sampai di situ juga, untuk menenangkan hati sang istri, Prada memberanikan diri dengan mendekatkan wajahnya dan juga meraih wajah sang istri. Tak perlu dukungan atau izin dari Greta, pengacara tampan itu menempelkan bi birnya dengan bi bir ra num sang istri


Aksi nekat itu tidak hanya berakhir dengan menyatukan bi bir saja. Tanpa komando, Prada menekan kepala Greta agar bisa lebih dekat lagi dengannya. Dengan begitu, dia bisa menyelusuri setiap sudut di dalam bi bir itu.


Meski bukan kali pertama mereka melakukan hal demikian, Prada tidak akan puas hanya dengan mengecup saja. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan olehnya. Agar Greta berdiri membuka mulutnya, pria itu terus saja menyerang dengan berbagai gempuran dari berbagai sisi.

__ADS_1


Sikap gerilya Prada membuat Greta tak berkutik dan menyerahkan ci um an pertamanya untuk pria yang baru saja merenggutnya.


Napas keduanya memburu, suasana terasa sesak. Bukan karena tekanan udara. Melainkan karena keintiman yang mereka lakukan. Meskipun sempat melakukan penolakan, pada akhirnya Greta menyerah dan mengikuti apa kata alam bawah sadarnya.


Ke-uwu-an itu harus terhenti mana kala Prada mendapatkan sebuah panggilan mendesak di ponselnya. Jika bukan karena sesuatu yang penting, mungkin dia akan memecahkan kepala Edo karena berhasil merenggut kebersamaannya dengan Greta.


Kesempatan ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Greta, sontak wanita itu langsung melepaskan dirinya dari sang suami. Tetapi, tangan Prada berhasil mengancing kembali sabuk pengaman Greta agar wanita itu tetap berada di tempatnya ketika dia menerima panggilan.


Tak berselang lama, usai memutus panggilan dari Edo, Prada melirik ke arah kuris di sampingnya. Rupanya Greta menutupi wajahnya dengan tas yang sejak tadi dia bawa.


"Kau kenapa? Mau menyembunyikan pipimu yang merah itu?"


"Dasar ca bul!"


"Tapi kau suka, kan?"


"Jangan bicarakan hal ini lagi!" Greta membuang muka dan kini memunggungi Prada dengan terus menghadap ke kanan.


Melihat gelagat Greta yang menggemaskan seperti ini, tak ayal membuat Prada terpingkal karena sifat sang istri yang jinak-jinak merpati seperti itu.


"Jangan seperti itu, aku hitung hingga 3 jika kau tidak mau berbalik maka aku akan men cium mu lagi."


Greta terlonjak karena ancaman dari Prada. "Dia semakin berani dan kurang ajar!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2