
Secara spontan, Prada menginjak rem pada mobilnya. Sehingga mobil pun berhenti mendadak. Hatinya begitu sakit mendengar kata perpisahan dari Greta.
"Berpisah? Apa kau begitu ingin berpisah dariku?"
"Eh ... kenapa, bukankah kerjasama kita akan berakhir jika kita memenangkan kasus itu?" Greta menelan ludah dengan susah payah guna memecah kecanggungan. Bagaimanapun juga, memang seperti itu kenyataan dari isi kesepakatan tersebut.
Pria itu tak melanjutkan lagi mobilnya, dengan tatapan setajam bilah. Dia menengok ke samping kanannya, "Apa kau tidak ada perasaan sedikitpun padaku?"
"Perasaan dia bilang? Perasaan seperti apa? Seharusnya dia tidak perlu mempertanyakan perasaanku, bukan?" Greta menyela, "Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu tidak memiliki perasaan padaku?"
"A-- aku ... " Prada gelagapan, dia kesulitan untuk menjawabnya. Meski jauh di dalam lubuk hatinya, dia sangat ingin menjawab jika dia kini mulai terbiasa dengan adanya Greta di hatinya.
"Benar, kan? Memang sebaiknya kita segera menyelesaikan masalah ini agar kita cepat berpisah."
Tentu saja Prada keberatan dengan ajakan Greta. Karena dia merasa hidupnya hampa jika tidak ada kehadiran Greta di dalam hidupnya, "Tidak bisa, enak saja maen pisah. Lagipula apa kau tidak merasa rugi berpisah denganku?"
Greta terus menyela, wanita itu ingin menguji sejauh mana arti dirinya di dalam hati sang suami. Meski dia tak banyak berharap, setidaknya Greta memang harus tahu kepastian tersebut.
"Aku masih muda, masih cantik dan memiliki karier yang moncer. Sudah pasti banyak yang mengantri. Kenapa harus rugi?"
Jika tidak ada yang mengalah, sudah dipastikan keduanya akan berkelahi sepanjang jalan atau bahkan hingga sampai di rumah.
"Jangan pergi, aku sudah berjanji pada pamanmu akan selalu menjaga keponakannya." Prada menurunkan egonya jauh di bawah harga dirinya. Bahkan dia sama sekali tidak malu mengakui perasaannya meski hanya sepintas saja.
__ADS_1
Greta memutar kedua bola matanya dan men desah. "Hanya itu saja?" Lalu, "Alasan itu tidak menguatkan."
Kemudian, dengan sikap gentleman Prada meraih j tangan Greta dan meyakinkan jika semua perlakukan padanya itu tulus tanpa ada embel-embel sesuatu. "Haruskah aku melakukan sesuatu agar kau percaya?"
"Ayo pulang saja! aku sudah lapar."
Bukan itu jawaban yang dikehendaki oleh Prada, tetapi setidaknya Greta tak lagi membahas perpisahan darinya. Karena hal itu akan mustahil Prada berikan pada istrinya.
Kembali menghidupkan mobil, tak membuat rasa puas didapatkan oleh Greta. Pasalnya, pria di sampingnya itu sama sekali tidak memberi jawaban yang memuaskan. Hanya jawaban mengambang saka yang keluar dari mulut kaku Prada. Pria itu sama sekali tidak bisa merenggut hati sang istri.
"Aku kurang bisa mengungkapkan perasaan, karena selama ini aku tidak pernah dan bisa menjadi seorang melankolis. Tetapi, aku berjanji padamu, aku akan menjaganya hingga sisa hidupku."
"Kenapa terus melihatku? Lihatlah di depan!"
"Benarkah?" Buru-buru Greta memeriksa sudut dari kedua matanya. Dia akan sangat malu jika hal yang dikatakan oleh Prada benar adanya.
"Bohong, dasar tak tahu malu!"
Alhasil, perdebatan keduanya kini terhenti. Baik Greta dan Prada kembali senyap tanpa sepatah kata pun. Keduanya larut dalam angan masing-masing.
"Aku akan menugaskan Aida untuk menyiapkan liburan kita, kau pastikan saja kapan waktunya. Dan aku akan dengan mudah mengosongkan jadwalku." ucap pria itu sebelum masuk ke dalam rumahnya.
Sebenarnya rencana liburan yang dilontarkan oleh Greta hanya sebuah ide dadakan. Bahkan Yunani bukanlah tujuan yang sebenarnya dipikirkan oleh Greta. Karen tujuan itu terlintas begitu saja ketika berada satu mobil dengan Prada
__ADS_1
"Prada ... " panggil Greta. Dan secara sigap Prada menoleh ke belakang. "Apa?"
"Apa kamu menyukaiku?"
"Pertanyaan macam apa itu? Jadi selama ini apa yang kulakukan tidak bisa menjawab pernyataannya? Tidaklah dia tahu jika yang kulakukan hanya untuknya?"
"Apa aku punya alasan untuk menyukaimu?" godanya.
"Baguslah! aku takut kamu suka padaku hingga kamu enggan melepaskan aku. Jika begitu, aku lega karena tak ada alasan untuk menyukaiku."
"Greta Haruni, wanita yang kunikahi, apa otakmu sudah bergeser ke dengkul, ha?" Prada yang mulai naik pitam, dengan kasar menarik tangan Greta agar lebih cepat sampai ke dalam rumah.
Meski berusaha menolak, ada rasa puas di dalam hati Greta. "Hei lepaskan!"
"Malam ini aku akan menghukummu. Kita lihat hingga besok pagi apa kau masih bisa menanyakan hal bodoh seperti itu lagi." Emosi pria itu sudah di ubun-ubun karena ulah usil sang istri.
Prada terus menarik dan tak ingin melepaskan genggaman tangannya. Keduanya kini tak lagi berada di lantai satu rumah mereka. Mereka berdua kini berada di lantai tiga menuju kamar Prada.
"Aku hanya bercanda, kamu seperti anak kecil, Prada."
"Iya, anak kecil kalau ngambek perlu permen, bukan? Sekarang berikan aku permenmu!"
...****************...
__ADS_1