Emergency Love

Emergency Love
Elizabeth


__ADS_3

Ilustrasi ;


Emergency LOVE


Genre ; Romantis, fantasi, komedi


Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.


••



Saat Miyuki tengah beranjak ke ruang VIP, entah mengapa tubuhnya semakin melemah.


"Ada apa dengan ku? A-aku merasa lelah."


Saking lelahnya, dia berhenti sejenak kemudian bersandar di tembok.


"Kau harus membunuh Ryuzaki."


Kata itu masih terpikiran olehnya lantas membuat dirinya mengeluh dengar.


"Aku tidak mengerti, kenapa aku harus membunuh Ryu? Kau mencintainya bukan? Aku juga tidak ingin melakukannya..."


"...karena pria itu sangat baik pada ku." Kata batinnya.


Seseorang pegawai wanita sedang bertugas itu menghampiri Miyuki tampak pucat kelelahan.


"Apa kau baik-baik saja, nona?"


"Aku hanya ingin istirahat di ruang VIP."


"Kalau begitu, aku akan membantu nona."


Akhirnya Miyuki terbantu oleh pegawai wanita itu.


Tepat di ruang VIP itu, Miyuki istirahat di sofa lembut.


"Apa ada sesuatu yang perlu ku bantu?" Tanya wanita itu.


"Tidak juga, cukup sampai di sini. Aku hanya perlu istirahat dan...terima kasih sudah membantu." Jawab Miyuki dengan sopan, meski nadanya terdengar gemetar lelah.


"Baiklah, sama-sama. Kalau begitu, aku permisi dulu."


"Baik."


Begitu wanita itu meninggalkan Miyuki istirahat sendirian. Kedua mata Miyuki menatap jendela kaca yang memperlihatkan bangunan-bangunan indah dibawah. Tetapi, melihat awan putih mulai berwarna abu-abu itu lantas membuat Miyuki khawatir.


"Aku merasa hal buruk akan datang."


Tak lama kemudian, seseorang muncul dihadapan tempat duduknya. Kedua alis Miyuki mengerut waspada melihat kehadirannya.


"Rihito victor?!"


"Yah-yah, lama tidak bertemu putri haram elizabeth." Sapa Victor dengan nada mengerikan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Miyuki.


"Tentu saja, perang loo."


"Apa maksudmu?"


"30 detik lagi tempat ini akan runtuh."


"Huh? Apa yang kau bicarakan?! Jangan mencoba untuk menakuti-nakuti ku!"


"Tenang saja, aku tidak mencoba menakutimu tapi..." Sambil mendekatkan wajah yang penuh aura menakutkan itu ke hadapan mata Miyuki.


"Aku hanya kemari ingin sekali memakanmu."


"Apa?!" Kaget Miyuki.


Pria itu menghilang hanya sekelip mata, sesuai ucapannya bahwa 30 detik lagi tempat itu akan rapuh. Sayangnya, Miyuki tidak mempercayainya. Tapi, bagaimana jika itu benar-benar terjadi?


"Semoga saja itu hanya omong kosong tidak masuk akal." Gumamnya.


Walaupun sempat tak percaya, diam-diam rasa cemasnya bangkit. Akan tetapi Miyuki tak sempat melindungi diri karena ruangan itu mendadak ledak.


BAAMMMN💥


Gedung Departemen Asosiasi Sihir itu benar-benar mengenai lemparan peledak hingga bagian atas mengeluarkan banyak api dan runtuhan kecil. Tak hanya itu, orang-orang di dalam juga dibuat panik dan teriak histeris ketakutan.


Haru dan Hiroishi cepat-cepat menemui Ryu yang juga tengah panik.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ryu pada kedua pria itu.


"Sepertinya terjadi ledakan di lantai atas." Jawab Haru memeriksa kondisi gedung atas itu dengan mengenakan kacamata teknologi sihir.


"Lantai atas? Tunggu...lantai atas katamu?!"


"Yes, mas buas petir. Masa ledakannya di langit kayak kembang api aja." Balas Haru santai.


"Gawat! Miyuki berada di ruang VIP dan tempat itu...." Ryu sadar kalau istrinya sedang tidak enak badan itu berada di ruang VIP. Lebih tepatnya, ruang itu ada di lantai atas. Itu artinya, Miyuki sedang dalam bahaya.


"APA?!"


"Aku akan memeriksanya di atas, kalian berdua berusahalah mengevakuasi orang-orang ke tempat aman." Perintah Ryu pada keduanya.


"Di mengerti!"


Ryu dengan cepat berteleport menemukan Miyuki, dia berharap tidak terlambat.

__ADS_1


"Miyuki? Kau baik-baik saja, bukan?"


Sementara Mayumi tampak tenang hingga bibirnya tersenyum. Meri masih panik itu di sampingnya bertanya,


"Kau begitu tenang? Apa ada sesuatu hal yang membuatmu menyenangkan?"


"Benar sekali, ini yang ku tunggu-tunggu serangan aliansi Elizabeth."


"Tunggu? Bagaimana kau tau itu?"


"Mereka lah yang memimpinnya."


"Apa? Jangan bilang orang yang memimpin aliansi Elizabeth adalah..." Ucap Meri menebak orang-orang yang memimpin aliansi Elizabeth adalah....


Shimizu Matsumoto dan Victor Rihito.


•••


Ito bersama Arata, Lina dan Tatsuro yang sedang mengawasi di luar juga menyaksikan ledakan yang menimpa di salah satu lantai bangunan departemen.


"Bukankah itu lantai 5 bagian ruang VIP?" tanya Lina.


Arata dengan cepat membenarkannya. Tanpa aba-aba dari siapa pun, Ito mengeluarkan senapan pembekuan tipe 76. Kemudian, membidiknya ke atas.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lina.


"Dia datang." Jawab Ito sudah siap menembaknya.


Begitu pria itu menembaknya ke atas, terlihat sekumpulan benda kecil meledak di atas hingga kedua orang itu tercengang kecuali Tatsuro tampak biasa saja. Ternyata benda di atas adalah beberapa peluru tempur sedang mengarah ke gedung, untungnya Ito menyadarinya. Dengan cepat, dia membekukan pelurunya hingga perlahan-lahan benda kecil itu meledak.


"Ini adalah perang." Sahut Tatsuro.


"Jadi...aliansi Elizabeth benar-benar menyerang ke tempat ini kah?" Tebak Arata.


"Itu karena Miyuki." Jawab Ito singkat dan jelas membuat sepasang saudara itu terdiam sejenak.


"Heh? Apa katamu?!" Teriak mereka kaget mendengarnya.


"Aku tidak akan mengulang apa yang ku katakan tadi." Dingin Ito menatap mereka dengan mata sayu.


"Jika mereka menyerang di lantai atas, apa itu berhubungan lokasi Miyuki?" Tanya Lina memastikannya.


"Ku rasa begitu." Jawab Tatsuro menatap api yang menyebar di lantai atas gedung itu.


"Terus, apa yang kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa membiarkannya dalam masalah!" Seru Lina merasa mencemaskan kondisi Miyuki saat ini sedang dalam masalah.


Namun, ketiga pria itu tampaknya santai membuat Lina marah.


"Kenapa kalian bisa setenang itu?!" Tegurnya.


Diam-diam Ito menepuk kedua bahu Lina,


"Tenang kan dirimu, kami juga mengkhawatirkannya. Aku juga mengerti apa yang kau rasakan saat ini, tapi..."


"Huh?...m-maksudmu itu...buas petir?"


Ito membenarkannya. Tak lama kemudian, wajah Lina tampak merah memanas karena menyadari kedua tangan Ito masih menempel di bahunya. Bahkan ia sulit menyembunyikan ekspresi tersipu malunya dihadapan Ito.


"A-anu...b-bisakah k-kau melepasnya?" Tanya Lina dengan nada yang gemetar tak beratur.


Mendengar pertanyaan Lina, Ito akhirnya sadar itu juga terkejut.


"Ah! Maaf." Dengan cepat dia melepaskan kedua tangannya hingga kedua orang itu saling menyembunyikan wajah malunya.


"Aaahhhhh!!! Seharusnya aku tidak lakukan ini!!!" Teriak Ito dari suara hati dan pikirannya karena saking malunya pada tingkah sok kerennya dihadapan Lina.


Arata jadi bingung menatap mereka yang mendadak malingkan wajah, sementara Tatsuro diam-diam menghubungi Miya.


"Akan gawat jika mereka melihat ku."


"mereka" yang dimaksudkan Tatsuro adalah aliansi Elizabeth, kemudian Miya dengan santai itu menjawab panggilan dari Tatsuro


"Aku tau, karena kau salah satu dari mereka." Jawab Miya juga mengetahui perang Elizabeth sudah dimulai.


"...tapi, tenang saja. Kerjasama tentara jepang sudah dipenuhi oleh klan master dan itu artinya kau sebaiknya serahkan perang itu pada mereka." Tambahnya.


" Karena mereka hanyalah semut-semut yang sudah mempersiapkan kematiannya." Sambil melebarkan senyum mengerikan.


Tatsuro masih mengkhawatirkan Miyuki,


"Tapi, bagaimana jika mereka tau kalau orang yang ditargetkan itu adalah..." Namun tanggapannya langsung di sambung oleh Miya.


"Ara-ara, apa kau mencemaskan putri dari mantan kekasihmu Tatsuro?" Protesnya.


"Tolong jangan libatkan dirimu dengan perang ini, jika mereka menargetkan Miyuki maka tentu ada yang melindunginya dan bahkan siap mempertaruhkan nyawanya untuk wanita itu." Tambahnya kemudian menutup panggilan itu.


Tatsuro tak punya pilihan lain selain menuruti wanita itu.


"Baiklah."


Setelah mengakhiri panggilan itu, Tatsuro mohon pamit pada mereka.


"Ada hal yang harus ku selesaikan." Ucap Tatsuro.


"Aku mengerti, sebaiknya serahkan hal ini pada kami." Jawab Ito yang sebenar tau alasan Tatsuro yang mendadak ingin meninggalkan area perang.


Lina dan Arata tampak biasa itu sangat polos membiarkan Tatsuro pergi begitu saja.


•••


Akhirnya pria itu menemukan sosok Miyuki dengan kondisi tak sadarkan diri itu bersandar di tiang tembok.

__ADS_1


"Miyuki?"


Sekujur tubuh gadis itu tak berdarah sedikit pun akibat perawatan eidose mampu membuat tubuhnya abadi. Dan kesadarannya kembali,


"Ryu?"


"Miyuki? Kau baik-baik saja?!" Seru Ryu tampak cemas itu menarik wajah Miyuki kehadapan matanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ryu.


"E-elizabeth." Jawab Miyuki mencoba menyesuaikan nafas terengah-engah.


"M-mereka sudah datang d-dan dua iblis itu berhasil memimpin mereka." Tambahnya.


Kedua mata Ryu sedikit membulat terkejut, dia sudah menduga dua iblis itu alias Matsumoto dan Rihito yang memimpin aliansi Elizabeth.


Kemudian, Miyuki mengingat ucapan Rihito sekali.


"Aku hanya ingin sekali memakanmu."


"Ini adalah perang..." Sahut Miyuki menatap Ryu dengan penuh khawatir


"Aliansi Elizabeth." Tambahnya.


Ryu memeluk istrinya terlihat khawatir dan ketakutan.


"Aku tidak menyangka perang ini benar-benar terjadi." Gumam Ryu.


"Apa yang kau lakukan sekarang?" Tanya Miyuki.


Ryu menatapnya kembali. "Tentu saja melindungi mu, tapi bukan hanya itu saja yang ku lakukan yaitu menyelesaikan perang ini."


"Kita harus pergi dari sini." Tambahnya sambil menggendong istrinya. Tentu saja keduanya pergi dari tempat itu.


Tetapi, langkah Ryu berhenti menyadari kedatangan seseorang dari kejauhan yaitu wanita iblis tampaknya mengambangkan dirinya dengan dua sayap hitamnya itu sedang berada dihadapan Ryu dan Miyuki yang saat ini juga berada di lantai dua.


"Ku pikir kau benar-benar sudah mati..."


"...Miyuki?" Sahut Matsumoto tersenyum jahat menatap mereka.


Ryu mengerutkan wajah waspada kedatangan Matsumoto.


"Sepertinya akan merepotkan jika harus berhadapan denganmu, Matsumoto." Balas Ryu sambil menurunkan Miyuki.


Matsumoto mengangkat senapan raksasanya, lalu membidiknya ke arah Miyuki.


"Target di temukan." Gumam Matsumoto.


"Senapan destroyer tipe 45? Darimana dia mendapatkan senjata terlarang itu? Bukankah senjata itu sudah diamankan di pusat keamanan senjata?" Tebak Ryu.


"Apa jangan-jangan tempat itu sudah di alihkan oleh mereka?!" Tambahnya hingga dia kesal.


"Cih!"


Pria itu maju dan siap melindungi Miyuki dengan kekuatannya.


"Senapan destroyer adalah salah satu senjata sihir terlarang yang mengerikan, karena benda itu tiada hentinya menembak akibat atom nuklir berlebihan hingga sulit di atasi." Sahut Ryu pada Miyuki.


"Huh? Lalu, apa kau mampu menangkis tembakan itu?" Tanya Miyuki.


"Akan ku usahakan peluru itu tidak mengenaimu."


"Tapi, pentingkan dirimu juga." Miyuki juga khawatir karena dengan mengorbankan Ryu untuknya itu sama saja melukai hatinya.


Tetap saja, Ryu begitu tenang dan siap melindungi Miyuki dibelakang bahu lebarnya. Senapan yang dipegang oleh Matsumoto telah di aktifkan dan siap menembak target.


Wanita iblis itu tidak sabar menyaksikan Miyuki kian mendebu. Puluhan peluru keluar dari senapan itu berterbangan ke arah Miyuki, Ryu juga siap menangkisnya hanya dengan melebarkan salah satu tangannya.


Puluran peluru itu menembus kaca jendela dan...


"Anti-patronage di aktifkan!"


Miyuki menutup kedua matanya itu melindungi diri dibelakang Ryu. Tapi, dia terdiam tidak mendengar suara ledakan hanya kekuatan angin meniup ruangan itu.


"Huh? Apa yang terjadi?" Gumam Miyuki, kemudian membuka kedua matanya.


Dia sedikit terkejut melihat Ryu yang ternyata mampu menangkis puluhan peluru hanya dengan kekuatan dari tangannya yaitu anti-patrogane alias sihir pelindung.


"Anti-patrogane?!" Tentu saja, Miyuki mengetahui kekuatan khusus Ryu.


"Benar, bukan?" Ujar Ryu sudah memastikan bahwa dirinya mampu menangkisnya.


Hingga puluhan peluru itu hancur kian mendebu.


Dan Matsumoto juga terkejut, "APA?!"


"Darimana kekuatan itu kembali?!!" Serunya.


Bibir Ryu terukir senyum tipis tapi tampak mengerikan.


"Sepertinya ini baru permulaan..."


"Benar, kan Miyuki?" Sambungnya sambil mengeluarkan pistol favoritnya, Taurus silver horn tipe 98 penghancur dari saku kemejanya.


Dan Miyuki ikut membenarkannya.


"B-benar."


•••


{Bersambung . . . }

__ADS_1


terima kasih sudah mampir akhir-akhir ini, maaf jika ada kesalahan tulisan di chapter atas. mohon dukungannya dan tinggalkan jejak pendapat kalian di bawah👇👇


sekali lagi terima kasih banyak😌🙏🙇🙇


__ADS_2