Emergency Love

Emergency Love
Pihak Ketiga


__ADS_3

"Aku mohon...jangan membunuh hidupmu hanya karena cinta."


Kalimat itu masih menghantui pikiran Ryu.


"Ryuzaki kau tidak makan?" Panggil suara bibi yang masih terdengar didepan pintu, setelah sekian menit mengetuk pintu, namun Ryu tidak meresponnya. Suara itu akhirnya menyerah,


Apa dia sedang mengurung diri?


"Mengakhiri hidupmu itu sama saja melukai dirimu, apa Mayumi-sama akan menerimamu dengan perlakuan bodohmu!"


Lagi, kalimat itu juga masih terbayang. Ryu lelah dan membiarkan tubuhnya jatuh di kasur empuknya. Dua jendela kamarnya masih terbuka oleh sinaran gelap, suara angin juga terdengar dari jendela.


"Mayumi-sama?" Tiba-tiba panggilan "mayumi-sama" yang sempat keluar dari mulut Miyuki itu tertangkap oleh Ryu.


Itu mengherankan baginya, karena dengan panggilan "Mayumi-sama" Adalah panggilan khusus pelayan atau bawahan Mayumi. Akibat memikirkan hal itu, dia jadi penasaran sekali lagi bahwa apa benar Miyuki punya hubungan dengan Mayumi?


"Jangan membunuh hidupmu hanya karena CINTA."


Sekali lagi, dia teringat kalimat itu hingga membuatnya mulai bertekad dan memutuskan bahwa...


"Aku harus melupakannya..." Itu keputusannya sudah bulat.


••


Hari kembali seperti biasa, Ryu bekerja disalah satu perusahaan terbesar yang telah dibangunkan oleh sang ayah, Tatsuro Nishimura. Terdapat sosok ayah dan anak itu sedang membicarakan hasil bisnis di cafe kecil yang berdekatan dengan gedung perusahaan.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya sang ayah tampak duduk diseberang Ryu. Dia menanyakan kondisi perusahaannya yang telah diserahkan pada Ryu, karena setelah setahun meneruskannya, dia jarang mendengar kabar darinya.


"Seperti biasanya." Singkat Ryu bernada dingin.


Tatsuro terasa curiga dengan sikap Ryu berubah dingin, dia menduga pasti masalah hubungannya dengan Mayumi.


"Apa semua baik-baik saja setelah kehilangan ma..."


"Tolong jangan sebutkan nama itu lagi." Tegur Ryu dengan memotong bicara ayahnya agar tidak menyebut nama 'mayumi' dihadapannya.


"Begitu kah?" Tebak Tatsuro, Ryu mengerutkan salah satu keningnya melihat sang ayah sedang memikirkan sesuatu.


"Sayangnya pernikahanmu tetap diteruskan." Tambahnya, lantas membuat Ryu sedikit terkejut dengan tatapan rasa ingin tahu tertuju pada Tatsuro.


"Apa maksudmu, ayah?" Tanya Ryu masih belum mengerti, alasan mengapa pernikahannya tetap diteruskan. Padahal Mayumi sudah tertelan oleh dunia ini dan itu artinya pernikahan ini pastinya tidak diteruskan melainkan dibatalkan.


"Kau harus tau dari ibumu." Bukannya menjawab pertanyaan Ryu, Tatsuro dengan nada dinginnya meminta Ryu cari tahu dari ibunya karena rencana pernikahan ini adalah ide dari ibunya dan keluarga Shimizu. Setelah itu, meninggalkan sang anak yang masih belum buka tanggapan.


Dia hanya mengandalkan jalan hidup pada anaknya agar benar-benar sempurna tidak seperti dirinya. Karena hubungan sang ayah dan ibunda hanyalah makhluk tanpa cinta yang hanya dijodoh paksa dari klannya sendiri, demi menghasilkan penerus klan Nishimura.


••


Di Villa, sosok Miyuki terkurung disalah satu kamar luas yang hanya tersedia satu kasur tanpa jendela. Semenjak kehilangan Mayumi, dia harus menerima hukuman karena telah membiarkan sang kakak.


"Apa ini kesalahan ku?" Gumamnya, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Mayumi hingga dikabarkan meninggal.


Tetapi, mengapa dia tidak sedih atau merasakan emosi sedikitpun? Seolah rasa emosinya terasa kosong setelah menyelamatkan Ryuzaki yang hampir bunuh diri.


Sosok Mayumi adalah kakak tertuanya dan paling dikagumi oleh banyak orang, sementara Miyuki adalah adik yang sering diremehkan atau dianggap tidak ada. Lebih mengherankan lagi keluarga Shimizu tidak mengizin hubungan saudara itu bersatu. Mereka menjadikan Miyuki sebagai guardian Mayumi.


Miyuki menghela nafas panjang, "aku tidak mengerti.."


Lalu terdengar suara pintu terbuka dan langkah seseorang datang menghampiri Miyuki masih duduk menekukkan tubuhnya diatas kasur.


"Mulai sekarang, kamu akan menggantikan Mayumi." Kata wanita tua bertubuh langsing pada Miyuki.


"Menggantikan" Kata itu melukai Miyuki, karena itu sama saja menjatuhkan nama Mayumi untuk menggantikannya sebagai mempelai wanita di pelaminan.


Miyuki tidak setuju, tapi jika dia protes maka hukuman akan menimpa dirinya.


"Iya." Tiga huruf akhirnya keluar dari bibir Miyuki bahwa dia mau tidak mau harus mempersiapkan diri menggantikan sang kakak.


"Maafkan aku, Mayumi-sama." Kata batin Miyuki terdengar tidak nyaman maupun tidak tega karena dia tidak yakin apa benar Mayumi benar-benar pergi karena merasa bahwa sang kakak masih ada di dunia ini.


"Bagus, begitu kau sudah sah menjadi istrinya itu artinya kau bisa meregut pimpinan klan Nishimura bukan?"


Wanita itu adalah Shimizu Matsumoto alias ibu kesayangan Mayumi, dia melakukan apa saja demi anaknya. Jika Mayumi terluka atau sedih dan marah maka Miyuki sebagai guardiannya harus menerima konsekuensinya. Itu menyakitkan karena harus menahan beberapa pukulan membekas di sekujur tubuhnya. Seperti biasa, Matsumoto tetap mengurungnya kembali.


Miyuki merenung, "jujur saja aku tidak bisa mengkhianati pria yang dicintai Mayumi-sama."


Klan Nishimura adalah salah satu 10 klan master terbesar yang saat ini dibutuhkan oleh angkatan militer untuk pertempuran. Kini Klan Nishimura sedang berada di posisi 5 besar diantara klan lainnya, sementara Shimizu adalah klan cabang utama dari klan Fujii yang juga salah satu 10 klan master.


Miyuki tau rencana Shimizu. Semenjak dia hidup di keluarga itu, Shimizu berencana untuk meregut pimpinan klan Nishimura dengan menggunakan Mayumi agar jatuh cinta dengan Ryuzaki yang merupakan calon penerus Nishimura. Bukankah itu kejam dengan memanfaatkan Ryu agar rencana itu berhasil, dan Mayumi juga merasakan hal yang sama dengan Miyuki bahwa dia juga tidak setuju maupun tega menyakiti Ryuzaki.


Tapi tunggu dulu, Miyuki sempat terkejut setelah sadar bahwa kekasih Mayumi adalah Ryuzaki. Pria yang sempat dia tolong dan bahkan dia juga sempat menamparnya lalu menangis dihadapannya.


"Ampun dah..harusnya aku tidak menamparnya saat itu."


Saat ini dia sangat malu menunjukkan wajahnya dihadapan Ryu di pelaminan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Pipi Miyuki perlahan-lahan merah merona mengingat tingkah laku dirinya sangatlah memalukan.


••


Ryu masih belum mengerti tentang pernikahannya itu memutuskan menemui sang ibunda di Villa Yokohama, orang tua Ryu tinggal di tempat yang berbeda karena diantara keduanya hanyalah beban berat yang merusak suasana, tidak hanya itu mereka jarang berbicara satu sama lain.


Ryu sebagai penerus pimpinan klan Nishimura juga mengerti alasan mengapa kedua orang tuanya dipaksa bersatu. Tetapi tetap saja, mereka juga harus mengerti dan peduli pada Ryu sebagai anaknya.


"Nyonya Miya, tamu spesial sudah datang." Ucap sang gadis sebagai pelayan khusus pada wanita berambut coklat dengan tubuh yang anggun dan memiliki senyuman yang cukup menajamkan atau bisa dibilang "licik"


"Begitu, antar dia kemari." perintah wanita itu bernama Nishimura Miya alias sang ibunda Ryu.


Tamu spesial yang dimaksudkan adalah Ryuzaki, Miya tau bahwa anaknya datang kemari hanyalah butuh jawaban, itu sudah jadi kebiasaannya. Sekarang ini, sang ibunda adalah pimpinan klan Nishimura. Dia akan menyerahkan gelar pimpinan pada penerusnya jika anaknya sudah menikahm


"Apa kau kemari karena suatu alasan?" Miya bahkan sudah menduganya.

__ADS_1


"Apa maksud ibu dengan pernikahan ku tetap di teruskan?" Tanpa basa-basi, Ryu langsung ke inti pertanyaan pada Miya yang duduk diseberangnya.


Miya menarik secawan cangkir tehnya ke mulutnya dengan menikmati aroma teh itu,


"Kau tau, Yamashita adalah sahabat Nishimura." Jawaban Miya terdengar singkat dan cukup membingungkan.


Yamashita adalah klan kecil dari Nishimura, mereka penduduk kecil yang ditugaskan sebagai pelayan atau memata-matai target mereka, tidak hanya itu setengah emosi mereka terasa mati seperti robot, tetapi bagaimana pun mereka juga memiliki perasaan sebagai manusia.


"Saat ini, dia adik Shimizu akan menggantikan kakak tertuanya di pelaminan." Tambah Miya.


"Apa karena ibu ingin menyelamatkannya?" Ryu mencoba tebak jawaban dari Miya.


"Sepertinya begitu."


"Aku juga ingin tau apa yang direncanakan Shimizu, maka dari itu Yamashita orangnya penjujur dan itu artinya dia akan menjawab pertanyaan ku, bukan?" Sahut Miya sambil menurunkan cangkir tehnya ke meja kembali.


"Aku tidak setuju." Tanggapan Ryu terdengar singkat tapi mengundang emosi Miya.


Miya mengerutkan salah satu keningnya dan heran, alasan mengapa Ryu tidak setuju? Berniat mendengar jawaban sang anak, Miya tersenyum sinis.


"Begitu ya, apa karena kau tidak mencintainya?" Miya menebaknya dengan benar.


Ryu sedikit kesal mendengarnya. "Bukankah itu bagus melupakan gadis sampah itu?" Lagi, ejekan Miya mulai memanasi pikiran Ryu.


"Jujur saja, aku juga tidak setuju pernikahanmu diteruskan tapi.. Setelah mendengar nama Yamashita itu, aku jadi tertarik."


Ryu bangkit dari tempat duduknya dengan wajah masih kesal. Tanpa tanggapan darinya, Miya menghalangi langkah Ryu.


"Kau ke sini ingin mendengar jawaban ku, bukan?" Sahut Miya.


Dengan tersenyum sinis dan dingin, "aku juga butuh jawabanmu." Tambahnya.


Ryu tampak diam sesaat membelakangi Miya, lalu berbalik dan melihat wajah ibunya masih tersenyum sinis dan dingin.


"Tetap teruskan pernikahan ini." Akhirnya jawaban itu terdengar dari Ryu.


"Baguslah." Miya sedikit lega mendengarnya, kemudian meminum tehnya lagi.


"*Di antara 10 klan master juga tidak ada akurnya, terutama klan cabang mereka terlihat sedang berperang dingin hanya karena ingin mengkhianati dan meregut nyawa. . ."


"Ini terlalu buruk bagiku, semenjak dia membiarkan ku tetap hidup, ada banyak hal yang mengganggu ku*." Kata batin Ryu.


••


Sehari lagi menjelang hari pernikahan, keluarga Shimizu mengundang Nishimura makan siang sekalian membicarakan kesepakatan pernikahan besok, tentu saja Miya menerimanya dengan senang hati.


"Jangan lupa mengajak calon mempelai wanitanya." Miya membalas pesan singkat dari Shimizu.


Dan kemudian mengabari Tatsuro melalui pesan suara, "aku minta kau datang siang ini."


"Minami?" memanggil gadis itu kemari alias pelayannya atau di panggil Sakurai Minami.


"Tolong sampaikan pesan padanya, kalau siang ini kita akan bertemu mereka." Perinta Miya.


Ryu di kantor juga menerima pesan singkat dari Minami.


"Pertemuan siang ini, kah?" Entah mengapa dia ragu menghadirinya karena Shimizu adalah keluarga Mayumi. itu akan menghambat perasaannya, tapi. . .


"Jangan membunuh hidupmu hanya karena CINTA."


Mengingat kalimat itu, lantas memanas dengan mengepalkan tangannya.


"Kenapa kalimat itu lagi?!"


••


Pertemuan itu akhirnya tiba di sebuah restoran mewah yang hanya diduduki oleh masyarakat tinggi, keluarga Shimizu sudah datang terlebih dahulu tak sampai 10 menit Nishimura juga sudah hadir di tempat itu.


"Maaf, membuat kalian menunggu." Singkat dari suara familiar itu, Nishimura Miya.


"Tidak juga, silahkan duduk." Jawab Matsumoto melihat kedatangan Miya bersama Tatsuro dan anaknya, Ryu. Dia mempersilahkan mereka duduk tepat di seberangnya.


Ryu memperhatikan Matsumoto sejenak, karena merasa bahwa dirinya pernah melihat sosok Matsumoto di suatu tempat.


"Tunggu, bukan kah dia..." Akhirnya Ryu teringat, di saat dia dalam mobil, matanya terahlikan melihat Matsumoto menarik Miyuki dengan paksa ke mobil.


"Apa kau tidak mengundangnya?" Tanya Miya sedikit protes karena sebelumnya dia meminta untuk mengundang mempelai wanita, akan tetapi gadis bermarga Yamashita itu belum hadir di samping Matsumoto kecuali pria muda bersamanya, Masaki alias anak kedua dari Shimizu.


"Tatapanmu seram sekali, kau pikir dia bisa hadir melihat tatapanmu itu Miya-san?" Ucapan Matsumoto malah menantang Miya.


Miya tersenyum sinis, "kau menantang ku? Aku masih punya hak membatalkan pernikahan ini."


"Ancaman mu makin menantang sekali." Balas Matsumoto mengangkat salah satu alisnya.


Kedua wanita ini sedang perang dingin akibat kehadiran Yamashita tidak ada , sementara tiga pria itu tampak santai menikmati minuman mereka dan menganggap dua wanita itu diasingkan.


Suara langkah mendesak datang menghampiri mereka hingga dua wanita itu berhenti perang dingin.


"Maaf, apa aku terlambat?!" Suara gadis familiar itu tiba dengan suara terengah-engah.


Mereka menatap penampilan gadis itu terlihat berantakan, sebagian pakaiannya ada separuh noda darah tertinggal.


"Apa yang terjadi, Miyuki-san?" Tanya Masaki pada gadis itu lalu mengenakan jas miliknya padanya alias Miyuki.


"Ehr..anu, ada sedikit kejadian di perjalanan."


sebelumnya, Matsumoto meninggalkannya lalu meminta Miyuki berangkat tanpa taksi. Tentu saja, Miyuki menurutinya. Namun, diperjalanan. Dia menemukan seseorang terluka karena kecelakaan motor. Sebagai perawat, dia ikut membantu dan memberi pertolongan pertama pada orang itu agar pendarahannya tetap normal.


Kini dia tampak kaku dan ketakutan. Saat melihat tatapan dingin dari Matsumoto, dia berusaha menghilangkan rasa itu. Namun, matanya tertuju pada sosok Ryu yang juga masih menatapnya hingga rasa itu bangkit lagi.


"Huh? Kenapa dia ada di sini?" Dia sangat malu memperlihatkan dirinya yang masih berantakan dihadapan Ryu, apalagi di samping Ryu adalah keluarganya.

__ADS_1


Ryu juga sedikit mengepalkan tangannya bertemu dengan Miyuki karena gara-gara ucapannya itu sempat menghantuinya.


"Apa dia orangnya kah?" Akan tetapi dia mencoba tebak, apa gadis yang digantikan adalah Miyuki?


"Bisakah kau duduk dan tetap tenang?" Miya sudah lelah menyaksikan gadis merepotkan itu, maka dari itu dia memintanya duduk dan tetap tenang agar suasana tidak terganggu.


"Baik." Tetapi, mengapa Miyuki harus duduk tepat diseberang Ryu. Dia tampak tak begitu berani menatap tatapan Ryu begitu dingin.


Suasana tampak membaik, Matsumoto duluan memperkenalkan Miyuki.


"Biar ku perkenalkan, dia Yamashita Miyuki. Gadis yang kau cari Miya-san."


Nishimura sedikit terkejut mendengar bahwa gadis yang berantakan itu adalah gadis yang mereka cari, sempat tidak percaya karena tampilan Miyuki sangat tidak cocok sama sekali.


"Namaku Yamashita Miyuki, senang bertemu dengan kalian dan...maaf jika penampilan ku berantakan." Sahut Miyuki berusaha meyakinkan dengan namanya.


Miya dan Tatsuro belum sepenuhnya percaya karena bisa saja gadis itu menyamar karena perbedaan wajah Miyuki tidak mirip dengan keluarga Shimizu, apalagi dikatakan sebagai anak ketiga.


"Tidak mirip." Ryu juga mengakui Miyuki tidak mirip dengan Mayumi, itu jauh berbeda.


"Meskipun dia tidak mirip, dia adikku!" Masaki angkat bicara melihat Ryu dan keluarganya sedikit merendahkannya.


"Mencoba membelanya kah?" Miya tidak mengerti mengapa keluarga Shimizu mau membawa gadis berantakan itu kemari.


Ryu tidak mempedulikan suara Masaki, dia menatap Miyuki.


"Dengan Nishimura Ryuzaki, apa bisa bicara dengan empat mata, Miyuki?"


Tanpa ragu, Miyuki mempersilahkan dengan senang hati.


"Apa kau punya hak membuat keputusan itu, Miyuki?" Matsumoto protes karena sebagai pelayan harus meminta izin pada ketuanya.


"Tentu saja,"


"..Mayumi-sama sudah mengizinkan ku untuk membuat keputusan ini." Tidak menyangka Miyuki akhirnya juga bisa angkat bicara pada Matsumoto.


Selama ini dia menerima beban penderitaan dari Matsumoto. Mayumi tidak tega, maka dari itu sebelum menghilang dia menyampaikan pesan terakhir untuk Miyuki.


"Mulai besok, kau bebas dan buatlah keputusan itu sendiri."


Matsumoto terdiam tak bisa angkat bicara lagi, namun dengan mengepalkan tangannya itu akan memberi hukuman nanti pada Miyuki karena sudah berani melawannya.


"Ikut aku." Ryu bangkit dari tempat duduknya lalu pergi terlebih dahulu dan meminta Miyuki mengikutinya. Miyuki pun menurutinya.


Miya tertawa kecil setelah menyaksikan wajah Matsumoto tampak diam mematung.


"Lucu sekali."


"Apa yang lucu?" Matsumoto menegurnya.


"Tidak, Tatsuro-san kau melihatnya bukan?" Miya langsung mengubah topik pembicaraan pada Tatsuro.


"Iya." Tatsuro membenarkannya, maksud Miya yaitu tingkah Ryu aneh yang tiba-tiba mengajak bicara empat mata dengan Miyuki. Keduanya curiga, apa Ryu tertarik?


••


Langkah Ryu akhirnya berhenti tepat di sebuah taman kecil yang tersedia di samping restoran itu.


"Kenapa kau menyelamatkan ku?" Tanya Ryu, memulai buka bicara. Dan menanyakan soal saat Miyuki menyelamatkannya.


Miyuki berdiri diam dibelakangnya itu gugup menjawab pertanyaan mudah oleh Ryu.


"Kenapa ya?.." Pikirnya, tidak mengerti. "Anu..aku tidak tau."


"Tidak tau?" Ryu juga heran dengan gadis berambut hitam itu mengubah rambutnya jadi coklat muda.


"Aku tidak mengerti, rasanya emosi ku terbangun melihat dirimu." Jawaban Miyuki sontak Ryu berbalik menatapnya.


"Ini pertama kalinya bagi ku, semenjak aku hidup bersama Mayumi-sama aku tidak bisa merasakan emosi sedikit pun." Tambahnya.


"Mayumi-sama?" Ryu meminta Miyuki memberi alasan mengapa Miyuki memanggilnya,“Mayumi-sama”


Kenapa bukan“kakak”


Miyuki berwajah senyum tipis itu, "apa aku perlu menceritakan sebenarnya?"


"...Sepertinya tidak, karena penderitaan itu begitu terguncang bagiku."


Ryu tidak mementingkan ucapan Miyuki, karena baginya ucapan Miyuki hanyalah gangguan hidupnya.


"Itu lebih baik menyimpannya dalam peti, karena kau hanya pihak ketiga dalam hidupku"


Ucapan itu terasa menodai Miyuki. "Pihak ketiga?" Suara terdengar gemetar dan kaku mengucapnya.


"Benar, kau hanyalah pihak ketiga."


"..Biarpun cinta prima sudah menyelam, aku tak sanggup mengobarkan cinta kedua ku lagi untuk seorang, karena itu mematikan bagi ku."


Miyuki mengerti jawaban itu, perlahan-lahan bibirnya tersenyum, "begitu ya..."


"Jika kau tidak ingin meneruskan pernikahan ini, kau bisa membatalkanya, bukan?." Dia dengan rela siap menerima keputusan Ryu.


Karena dia juga tidak berniat menggantikan Mayumi,


"Tentu saja, aku meneruskan pernikahan ini." Ujar Ryu tersebar damai.


"Huh? Kenapa?"


Tidak menanggapi pertanyaan itu, Ryu memandangi Miyuki penuh tatapan penuh arti makmur, dia tersenyum hangat.


"Menikahlah dengan ku."

__ADS_1


Diam-diam senyuman lembut itu berganti senyuman penuh sandiwara.


{Bersambung. . .}


__ADS_2