
Ilustrasi ;
Emergency LOVE
Genre ; Romantis, fantasi, komedi
Novel ringan ini adalah karya kecil yang mengandung ilustrasi, hasil dari buatan sendiri.
••
LAST CHAPTER
"Ap...?!"
Ryu terkejut, sejak kapan seseorang berani menancapkan anak panah ke bahu belakang Miyuki. Dan orang yang melakukannya adalah. . .
"Oi, jangan lupakan aku loo."
"Mayumi...?!"
Itu artinya bahwa senyuman yang Mayumi perlihatkan adalah kebohongan.
"Sudah ku duga, kau memang putri iblis."
"Benar, aku putri iblis...."
"Aku benar-benar bahagia loo, rencana ini berjalan dengan lancar sesuai pilihan ku, benar bukan Meri?"
Sosok Meri yang selama ini sedang bersembunyi dalam bayangannya di samping Mayumi.
"Benar, Mayumi-sama."
Dia menampakkan diri dengan raut wajah terpaksa menurutinya.
"Maaf...."
Ryu cepat mencabut anak panah itu, lalu menghancurkannya. Miyuki meringis kesakitan.
"Ngghh!...Ryu?"
Melihatnya kesakitan, Ryu tak tau harus berekspresi apa terhadapnya.
Mayumi mulai bertanya, alasan Ryu sangat peduli dan melakukan apa saja demi Miyuki.
"Kenapa...? Kenapa kau menghidupkannya? Padahal dia sudah mati....!"
"Apa kau tidak bisa mengikhlaskannya? Padahal dia pernah mengkhianatimu...!"
"Bukan." Jawab Ryu menyembunyikan ekspresinya.
"Dia sudah merusak tubuhmu, dia sudah membunuh ayah ku dan...sudah merebut pria yang aku sayangi...."
"Bukan." Jawab Ryu.
"Kenapa? Padahal aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, Ryu."
"Bukan." Jawab Ryu.
"Jawab, Ryu!" Seru Mayumi yang ingin sekali mendengar jawaban Ryu.
Tetapi Ryu tak kuat menahan amarahnya, begitu meledak, salah satu tangannya sangat cepat menarik leher Mayumi jatuh ke tanah.
Aghh!
"Mayumi-sama?!"
Ryu menembakkan sihir Phy string pada Meri agar mencegah dia mengganggu, jika Meri nekat, Ryu tak segan mencabik-cabiknya.
"Diamlah atau ku cabik sehabisnya!"
Meri terdiam menurutinya, meski tubuhnya saat ini tak bisa digerakan akibat Phy String milik Ryu.
"Oi, putri iblis... Jika kau mencintai ku harusnya kau tidak membohongi ku, jika itu rasa cintamu padaku maka kau sepatutnya tidak meninggalkan ku. Tapi, ujung-ujungnya kau hanya seorang putri iblis yang mencoba menghabisi tubuh ku."
Kali ini pria itu benar-benar meledakkan amarahnya.
"Biar ku jawab sekali lagi, Miyuki itu milikku. Jika seseorang melukainya, walaupun itu luka kecil, tidak akan ku biarkan orang itu bebas hidup-hidup. Tak peduli siapapun itu."
Mayumi jadi kaku melihat aura Ryu mengerikan, "singkirkan tangan mu, atau a...!"
Ryu mulai mempersiapkan sihir penghancur tubuh, dissolving gist corpus.
"Kau pikir aku ini siapa, aku tidak akan membiarkan mu lolos sampai kau benar-benar lenyap...!"
"Huh? T-tidak, jangan lakukan itu!"
"Maaf kan aku, aku benar-benar minta maaf."
Bibir Ryu tersenyum kecil nan sinis, "Aku menolak."
"Dissolving Gist Corpus, diaktifkan."
Dia menepatkan pistolnya tepat di salah satu mata Mayumi.
"Ryu, h-hentikan! Beri aku kesempatan..."
Mayumi benar-benar menyesali tindakannya, dia berusaha membujuk Ryu. Tetapi,
Dor... Dor...!
Meri tak menyangka Ryu melakukan hal sekejam pada Mayumi hingga dia lenyap kian menghilang.
"Hiks...m-mayumi-sama?"
"Sekarang giliran mu."
"Huh?"
Ryu mengarahkan pistolnya ke arah Meri.
"Kenapa?"
"Karena kau juga membiarkan Miyuki menderita, harusnya kau membantunya, bukan jadi seorang pecundang hanya diam berdiri disamping majikan iblis itu."
Meri ketakutan menatap mata Ryu sangatlah jauh mengerikan.
"Apa itu artinya kau akan membunuhku?"
Ryu tak ingin banyak bicara lagi, dia muak.
"Matilah!!!"
Dor...!
Dia benar-benar menembaknya hingga kian mendebu. Perlahan-lahan dia jatuh bertekuk lutut dan terengah-engah.
Menatap Miyuki terluka itu, rasanya Ryu ingin meledakkan dunia agar dia benar-benar menuntaskan kemarahannya. Dia menyembuhkannya dengan bantuan sihir.
"Ryu...?" Panggil Miyuki.
Ryu menghampirinya, "aku tidak tenang jika seseorang menyakitimu."
Mendengar jawaban itu, Miyuki menangis.
"Kau tidak perlu semarah itu."
"Tapi...!"
Salah satu tangan Miyuki menyentuh wajah Ryu.
"Tenang Ryu, aku baik-baik saja kok."
"Aku tau itu...."
Ryu menggendongnya, kemudian melihat Lina, Arata, Hiroishi dan Ito masih dalam keadaab pingsan.
"Maaf, kali ini aku tidak bisa kembali."
"Kenapa?" Tanya Miyuki.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu sampai waktu itu tiba."
"Aku mengerti, yang penting kau baik-baik saja, Ryu."
Ryu dan Miyuki menghilang dari tempat itu, dan tak ada siapapun yang tau keberadaan mereka.
•••
2 jun, 2029
Setelah sebulan melewati perang kecil terjadi di Yokohama itu, banyak hal dijadikan bahan pertanyaan dan alasan perang terjadi. Tiada siapapun tahu dibalik pertanyaan misterius itu, kecuali. . .
Pertemuan 10 klan master telah hadir lengkap melakukan rapat kecil di pusat Markas penelitian Moyuka. Tetapi, menyaksikan kehadiran sangat lengkap seperti biasanya auranya masih bermusuhan.
Miya angkat bicara, "Kali ini aku tidak terkejut, tapi aku hanya merasa jijik."
"Sombong sekali."
Miya bersikap dingin mengabaikannya agar tidak mencari masalah.
"Tapi, bukankah hari ini adalah perayaan besar klan master?"
"Apa maksudmu?"
"The new boss."
"Hm?"
"Ohhh...aku hampir melupakan hal itu."
Mereka tidak sabar menyambut seseorang yang akan menjadi ketua klan master. Orang yang ditunggu itu telah datang, dengan kemeja hitam putih yang rapi.
"Perkenalkan, nama ku Xiu Lu Jinian yang akan memimpin klan master terbesar di jepang. Mohon dukungannya."
Lujinian membungkukkan badannya dengan sopan, mereka menyambut hangat padanya, tak ada kritikan sedikitpun karena tekad mereka sudah bulat memilih Lujinian sebagai Master clan.
Kemudian mereka membahas panjang mengenai perang singkat Yokohama.
__ADS_1
"Mengenai perang kemarin adalah hal yang tak terduga, Yokohama tersapu bersih dan tidak ada jejak jasad bergeletak di tempat itu."
"Pihak kepolisian juga menemukan batang kecil anak panah, silver horn."
"Apa ini berhubungan dengan penggunanya?"
"Tidak, seseorang menggunakannya."
"Ada yang tau, siapa?"
"Red Queen." Sahut Miya.
Semuanya masih bertanya satu sama lain tentang siapa itu Red Queen. Tetapi, tak ada yang tahu kecuali Miya dan Lujinian. Mereka ingin tau jawaban dari keduanya, namun mereka mengunci erat bibirnya dengan alasan.
"Aku pernah mendengar kisah itu, ratu merah yang bangkit dari kegelapan hati seorang."
"Ku rasa hal ini mirip dengan pengguna itu."
Miya sadar, dirinya berbohong. Jika dia membuka mulut maka keselamatan Miyuki tidak terjamin aman lagi.
"Aku pernah mendengarnya." Sahut Lujinian juga sadar.
Bibir Miya tersenyum kecil yang mengartikan "kau sangat pengertian." Sambil menatap Lujinian turut membantunya.
Suasana klan master benar-benar lumayan damai, tapi anggota mereka yang telah ikut bergabung di pasukan battalion tak bisa kembali, hal itu nyaris berdebat dan untungnya, Tatsuro sebagai perwakilan Lujinian menenangkan suasana. Bahwa anggota pasukan batallion sudah dievakuasikan ke tempat aman dan selamat.
Saat perang, memang Miya meminta Tatsuro tidak perlu ikut campur melainkan selamatkan orang-orang sebelum satu area Yokohama berakhir.
•••
RS Aizawa, seperti biasanya Hiroishi bekerja menangani pasien barunya. Tapi, ia sedikit terkejut melihat seseorang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Kak Hiroishi?"
"Yuri?"
Melihat penampilan Yuri begitu cantik mengenakan seragam perawat hingga membuatnya bertanya.
"Kau bekerja?"
"Benar, hari ini adalah hari pertamaku bekerja."
Tampaknya Yuri berusaha menunjukkan sisi cantiknya karena penasaran akan jawaban Hiroishi. Menunggu jawaban itu, Hiroishi jadi bingung memberi pendapat karena sadar wajahnya sedikit memancarkan aura malu.
"K-kau sangat cocok memakainya." Dinginnya kemudian cepat-cepat meninggalkan Yuri.
Mendengar kalimat singkat itu membuat hati Yuri berbunga-bunga, bahkan wajahnya ikut memerah tomat.
"Rasanya agak senang mendengarnya..." Batinnya tersenyum, lalu kembali bekerja.
Hiroishi yang meninggalkannya tadi itu berbalik menatap kehadiran Yuri sudah tiada lagi disana. Tak menyangka, bibirnya diam-diam tersenyum.
"Sepertinya dia bersemangat." Gumamnya.
Kemudian memori kecil mengingatkannya hingga raut wajahnya terukir sedih.
"Setelah kejadian itu, aku tidak pernah melihatnya lagi."
Mengingat senyuman terakhir Mayumi itu rasanya sulit melupakannya.
Dia menghela nafas panjang, "*akan ku usahakan melupakannya."
"Sejahat apa pun kau menyakiti ku, melukai ku hingga aku tidak berdaya. Tapi aku yakin, bahwa kau juga memiliki hati kecil yang mulia*."
Hanya dengan mengingat Mayumi, dia tau bahwa gadis itu sudah lenyap ditangan Ryu.
"jangan kebanyakan melamun, monster hitam." tegur seseorang.
wajah Hiroishi jadi jenuh melihatnya, dia mencoba untuk kabur.
"mau kemana? kamar pasien nomer 119 sebelah sini." tegur Haru lagi.
Hiroishi menyerah, "ada apa, Kelelawar?"
"kau tau..."
"aku merindukanmu loo."
"menjijikan...!"
Haru mulai tampak serius, "kau tau bukan, alasan Ryu dan Miyuki menghilang?"
"apa?"
"eh? kau tidak tau...?"
Hiroishi jadi ragu reaksi Haru, setelah mendengar dirinya tidak tau alasan Ryu.
"apa-apaan kau ini....!!" teriak Haru berapi-api dan hampir saja rambut rapinya Hiroishi hangus.
"sudah selesai kah?" santai Hiroishi.
Haru merasa sudah tenang. "udah..."
kemudian, dia serius kembali. "itu karena klan master."
"apa itu berarti klan master adalah inti permasalahannya?" tebak Hiroishi.
"lebih baik, kita tunggu sampai mereka kembali."
Haru dan Hiroishi siap menunggu kedatangan Ryu dan Miyuki.
•••
Di Kyoto, hari itu adalah kencan pertama Ito dan Lina di samping lampu pintas. Namun, suasana hati mereka jadi agak canggung satu sama lain hingga sulit membuka bicara.
Satu menit. . . .
Lima menit. . . .
Sepuluh menit. . . .
Dan lima-belas menit, rasa canggung itu masih belum berakhir hingga Lina menyerah dan memutuskan buka bicara terlebih dahulu.
"A..ahahaha...j-jadi a-agak canggung yahhh."
"U-uhm, maaf." Ito juga tidak nyaman, begitu juga dengan Lina makin tidak enak hati mendengarnya.
"Aahh, tidak perlu minta maaf seperti itu, l-lagi pula ini pertama kali bagi ku kencan dengan pria sepertimu." Sambil mengibas-ngibas kedua tangannya dengan wajah damai nan pahitnya.
"Ooh...begitu ya."
"Ya, kalau begitu...ayo makan siang bersama."
Tiba-tiba Lina ubah topik pembicaraan, setelah menatap restoran enak di hadapannya tadi. Ito merasa sedikit aneh pada Lina, meski aneh tapi Ito malah memujinya dengan nada lembutnya.
"Tiba-tiba kau jadi semangat yahh."
Dan kedua pipi Lina ikut memerah lagi.
"Huh? T-tidak juga...aku hanya terbawa suasana saja."
"Hehhhh...benarkah?"
Ito sedikit menggodanya dengan mendekatkan wajahnya ke hadapan Lina yang tampaknya tak kuat menahan jantungnya berdeg-degan.
"Ayo, aku akan mengajakmu."
Dengan cepat, Ito menarik tangannya. Lalu, mengajaknya ke restorang yang diinginkan Lina.
"Huh?" Lina terkejut dan heran, bagaimana Ito semudah itu mengetahui restoran favoritnya.
Diam-diam langkah mereka berhenti menatap langit begitu indah.
"Kira-kira bagaimana kabarnya?" Tanya Lina.
"...Setelah kejadian itu, kita tidak bisa berkumpul seperti biasanya."
Setelah perang itu berakhir, Lina merasa kecewa karena tidak dapat berkumpul seperti biasanya.
"Lebih baik kita luangkan waktu padanya agar mereka menyelesaikan masalah sendirinya." Sahut Ito.
"Aku tau itu, tapi...bukankah ini terasa sedikit kesepian?"
"Memang benar sih, tapi tunggulah waktu itu akan datang."
"Huh?"
"Dimana saat itu, kita akan berkumpul."
"Benarkah?"
Ito membenarkannya dengan lembut, kemudian keduanya melanjutkan kencannya. Lina sedikit tersenyum,
"Ada apa?" Tanya Ito.
Lina terkekeh kecil kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Uhmm, tidak ada apa-apa...."
"Aneh."
"Ahhh, lihat di sana!"
"Mana...!"
Kedua mata Ito terbuka lebar menyadari Lina yang ternyata memberi kecupan kecil ke pipinya. Langkahnya ikut berhenti, kemudian menatap Lina di sampingnya.
"Aku mencintaimu, Ito..."
Gadis itu melebarkan senyumnya. Ito bukannya terkejut, malahan kagum mendengarnya.
"Terima kasih." Balas Ito.
Mereka saling senyum penuh cinta satu sama lain.
•••
Di kediaman Nishimura, Maya sibuk menghabiskan tehnya di ruang tengah itu menunggu seseorang.
__ADS_1
Dia sedikit mengeluh, "lambat sekali."
"Ada apa, Maya-sama?" Tanya Aori yang senantiasa berdiri disampingnya.
"Aku menunggu pria itu...."
"...Apa ada kabar kedatangannya?"
"Mmm...ahh, maksudmu si ubi jalar itu?"
Mendengar Aori memanggil julukan pria itu membuat Maya tampak aneh.
"Ubi jalar? Siapa itu?"
"Itu aku loo." Seseorang yang akhirnya mengakui julukan itu telah tiba.
Maya tertawa kecil, "hahahaha...lucu sekali."
"Cihh, apa-apaan reaksi itu..."
"Maaf, untung saja aku sedang bermood baik menunggumu, Arata-kun."
Pria yang di tunggu oleh Miya adalah Arata.
"Silahkan duduk, Arata-sama." Ajak Aori.
"Baik terima kasih."
Begitu Arata duduk, Maya langsung membahas ke intinya padanya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apa?"
"Red Queen."
"Itu jauh lebih menakutkan, tapi...aku tidak tau apa yang tejadi setelah dia menidurkan ku dengan lainnya..."
"...begitu sadar, putri iblis itu sudah tiada lagi dan Red Queen..."
Arata menjeda bicaranya sejenak, lalu membuang nafas sejauhnya.
"...juga dilenyapkan."
Bibir Maya sedikit tersenyum, "lalu...bagaimana dengan pria dewa itu?"
"Menghilang."
Maya mengangkat secangkir tehnya ke bibir cantiknya, lalu meminumnya.
"Nah, itu dia..." Ucap Maya menemukan inti pembahasannya.
"Hm?" Arata sedikit mengerut bertanya, apa yang dimaksudkan oleh Maya.
"Misimu."
"Oi, jangan bilang kau memberiku misi untuk mencarinya."
"Keduanya tidak mati loo."
"Ap...?!"
Arata terkejut, kemudian menenangkan dirinya, "baiklah, lagi pula ini sudah jadi tugas ku."
"Itu bagus, spy guardian."
Saito Arata yang selama ini adalah mata-mata guardian. Sebelumnya, Mayalah yang memintanya untuk mengkhianati Battalion agar Arata bisa keluar dari neraka itu maupun anggota klan Saito. Itu karena permintaan Arata sendiri dan Maya dengan senang hati mengabulkannya.
"Apa perlu aku dan Minami ikut bersamanya?" Tanya Aori.
"Tentu..."
"Minami?"
"Ya?"
"Ikutlah."
Dimengerti Maya-sama."
"Hei, kau bercanda ya membawa kan satu gadis itu untukku, kau berniat melakukannya agar aku tidak kesepian ya."
"Darimana kau menangkap pelajaran tak masuk akal itu, dasar ubi jalar."
"Maaf...maaf, bercanda kok, ayo Minami."
"Baik. Kalau begitu, aku dan Arata pamit dulu."
Arata pergi dahulu, Minami menunggu perintah Maya.
Bibir Maya tersenyum sinis, "berani juga ya, Ryuzaki...tapi kita lihat seberapa jauh kau bersamanya melarika diri dari ku."
"Begitu mereka ditemukan, jangan lupa musnahkan." Sahut Maya pada Minami.
"Baik."
•••
Itu benar, Miyuki dan Ryu tidak menghilang melainkan bersembunyi di salah satu tempat terdamai, yang sama sekali tidak ada kegelapan. Keduanya berada di sebuah hotel sewa yang isinya tidak seindah hotel sultan. Tempat itu tampak sederhana dan simpel.
"Wahhh, indah sekali.."
Kedua mata Miyuki berbinar kagum melihat Ryu membangun kastil mungil dengan kekuatannya.
"Benar, bukan?"
"Ryu pria yang hebat."
"Kau juga, Miyuki."
Ryu merasa lega bisa hidup bersama Miyuki di tempat aman dan hal itu sangat sulit ditemukan orang lain karena dia sudah memasang pelindung agar mereka tidak menemukannya.
"Tapi, bukankah ini terlalu sulit harus berpisah dengan mereka ya?"
"Aku tau itu, jika kita kembali maka jepang akan memusatkan masalah besar pada kita apalagi kau, Miyuki."
"Heh? Aku? Memangnya aku berbahaya ya?"
Miyuki sama sekali tidak mengingat kejadian perang maupun penderitaannya karena semua data yang ada di pikirannya telah dihapus oleh Ryu.
"Tidak kok, kau tidak perlu memikirkanya."
"Cukup saja, kau memikirkan ku." Godanya.
"Mesum..."
"Kau selalu saja menggoda ku dengan wajah seperti itu, menjijikan."
"Emang benar aku ini menjijikan tapi kau jauh lebih menjijikan dari ku loo."
Miyuki cemberut, "kau mulai lagi."
Ryu terkekeh kecil, kemudian tangannya mengusap lembut ke wajah Miyuki.
"Aku mencintaimu, Miyuki."
Kedua pipi Miyuki memerah, lalu menanggapinya dengan senyuman meski dia malu membalasnya.
"Ternyata kisah ini benar-benar rumit ya." Gumam Ryu.
"Hm..?"
"Tidak ada apa-apa, ooya aku hampir melupakannya."
Ryu mengambil kotak kecil dari saku jasnya, kemudian memperlihatkan pada Miyuki. Isi kotak itu adalah sepasangan cincin tunangan.
"Mulai sekarang, kau adalah milikku." Sambil mengenakan cincin pada jari manis Miyuki.
Miyuki begitu kagum melihat cincinnya begitu indah.
"Kau menyukainya?"
"Benar."
"Eternity, benda itu yang akan membimbing jalan pikiranmu."
"Eternity...?"
"Tapi, kenapa?" Tanya Miyuki.
Ryu menghela nafas panjang, kemudian mengangkat kepalanya menatap langit cerah nan hangat.
"Suatu saat nanti, dimana hari itu datang kita akan kembali ke jepang."
"Kemudian. . . ."
"...Menghancurkan klan master."
Kedua tangan Miyuki merangkul lembut di salah satu lengan Ryu.
"Dan aku akan tetap bersamamu hingga ujung maut."
"Ahhh...benar juga."
Keduanya tersenyum damai dan menanti hari itu datang.
"Ini belum berakhir. . ."
•••
END
sebelumnya terima kasih sudah membaca chapter Emergency Love hingga part akhir. tapi, ini belum berakhir loo.
jangan lupa perbanyakkan komentarmu setiap chapternya, vote dan likenya karena semakin banyak bakal ada series new story atau season two
terima kasih banyak.
__ADS_1
by : Jannah