
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar Prada. Pria yang hanya mengenakan celana panjang saja itu bangkit dari tempat duduknya di tepian ranjang. Seolah sudah paham dan telah menunggu lama, dia berjalan ke arah luar.
Dia membuka pintu kamar, "Makasih, Mbok!" ucapnya setelah menerima boks pizza dari tangan Mbok Siti yang sudah mengantarkan ke lantai tiga yang telah pengurus rumah itu terima dari kurir delivery.
"Sama-sama, Pak."
Prada berjalan sambil bersiul, dia merasa bak di awang-awang. Puas sekaligus merasa menang karena telah mendapatkan kenikmatan surga dunia. "Ah pantas saja dia mengeluh," ucapnya setelah melihat sisa-sisa pergulatan sejam yang lalu.
Kamar serapi itu kini telah berserakan akibat ulahnya, semua ini tidak bisa menandingi rasa leganya kini. Lalu di manakah lawan mainnya?
Usai mengeluh badannya remuk redam, Greta berjalan ke arah kamar mandi dengan mulut terus menggerutu dan mengutuk Prada dalam hati, "Pria psyco!"
Dia berkata bahwa badannya seperti terlindas truk dan ingin merilekskan badannya dengan mandi air hangat, teringat jika Greta sempat mengeluh kelaparan, maka Prada masih sempat memesan kudapan simple selama sang istri masih di dalam kamar mandi.
Lebih dari setengah jam lamanya, Greta baru saja keluar dari kamar mandi dengan selembar kain yang melilit di tubuhnya.
Handuk yang tidak seberapa lebar itu, hanya bisa menutupi sebagian anggota tubuhnya saja. Dan semakin membuat pria yang terus melihatnya itu kembali menelan ludah.
"Apa lihat-lihat? Itu mata mau dicongkel?"
"Kemarilah! ayo kita makan! karena setelah ini kita main lato-lato lagi."
"Sarap," Greta terus memaki sang suami. Bahkan tenaganya yang terkuras belum sepenuhnya kembali, dan kini pria itu mengatakan ingin lagi? "Gak waras!"
Akibat cacing di dalam perutnya yang sudah meronta ingin segera diberi asupan, maka Greta bersedia untuk duduk bersama dan makan malam bersama Prada setelah keduanya berolahraga malam.
Sak sampai mengabiskan satu potongan pizza, Prada mengehentikan aktivitasnya. Bukan lantaran deg-degan melihat paha mulus sang istri yang tengah duduk bersanding dengannya. Melainkan adanya panggilan masuk ke handphone miliknya.
__ADS_1
Pria itu segera mengambil benda pintar yang terus berderit itu. Jika dilihat dari cara bicaranya, sepertinya Prada sedang terlibat pembicaraan serius dengan seseorang.
Kemudian dia kembali duduk di samping sang istri yang juga menyudahi makannya. Greta kemudian berdiri hendak meninggalkan kamar.
Namun, Prada justru melarangnya. Pria itu menahan tangan Greta dan memberi sebuah kode dengan tatapan matanya agar wanita itu tetap berada di tempatnya.
"Aku mau keluar, lihatlah!" tunjuk Greta terhadap handuk yang menutupi sebagian kecil tubuhnya.
Prada paham jika sang istri ingin keluar agar bisa mengenakan pakaian di kamarnya. Tetapi, dia keberatan jika Greta harus pergi darinya.
Greta juga tidak bisa lagi menemukan pakaian yang dia kenakan sebelum dilucuti oleh suaminya. Selain sudah merapikan tempat tidur, rupanya Prada sudah menyingkirkan pakaian yang berserakan di lantai.
Karena tak bisa lagi berkutik, kembali Greta duduk do tempatnya dan melanjutkan aktivitas makannya. Mencoba santai, Greta memakan potongan pizza seperti biasanya. Bahkan mulut kecilnya dipenuhi oleh Mozarella yang meleleh pada pizza.
Hal tersebut menambah nilai imut di mata Prada, hingga tak tahan dengan cara makan sang istri, pria itu mencuri sebuah ciuman kembali dengan alasan untuk membersihkan lelehan keju tersebut.
"Gurih dan lezat," Siapapun yang sedang berada pada sambungan telepon dengan Prada akan bertanya-tanya dengan ucapan sang pengacara itu.
**
"Rupanya sudah telat, pasti dia sudah ke kantor."
Benar seperti yang dikatakan oleh Greta. Prada memang meninggalkan dirinya karena tak tega jika harus membangunkan Greta.
Wanita itu meregangkan kedua tangannya ke atas, karena aktivasi tak biasanya semalam, tubuhnya terasa kaku. Tentu saja bukan hanya sekali saja dia dihajar habis-habisan oleh sang suami.
"Dasar tidak tahu malu, mana ada orang yang baru memutuskan untuk bersama dan langsung meniduri wanitanya." Kemudian Greta bangkit dan berjalan ke arah tempat penyimpanan baju Prada.
__ADS_1
Dokter wanita itu menyambar sembarangan sebuah kaos longgar yang bisa dia gunakan sebagai pakaian.
"Yah mungkin ini masih cukup layak," Meksi atasan kaos itu harus dipadukan dengan handuk sebagai bawahannya.
Greta segera keluar kamar Prada dan kembali ke kamarnya. Jujur saja, Greta merindukan kamarnya sendiri karena di kamar itu dia merasa aman dari Prada.
**
Hasil dari penggeledahan yang rencananya hanya digunakan sebagai kamuflase, rupanya memiliki nilai lebih. Pegang kejaksaan yang bekerja dengan Firman banyak menemukan bukti baru. Banyak pengaliran nama atas akun perusahaan dan mereka juga menemukan akun bank hasil transaksi yang mencurigakan. Mereka menduga jika penerima itu adalah sebuah perusahaan cangkang atau kulit luar agar sektor ekonomi yang lainnya bisa aman dari gangguan setoran pajak.
Dari penemuan tersebut, semakin menguatkan tuntutan jaksa atas perusahaan besar tersebut. Bahkan kini berkas mereka sudah diproses dan menunggu pemanggilan saksi.
"Baru pemanasan seperti ini saja, mereka sudah membersihkan harta mereka."
Selain menyegel akun bank di luar negeri, musuh Prada itu juga berbondong-bondong mengamankan aset mereka dengan mengubah hak milik.
"Lanjutkan, kita pantau terus!' perintah Prada.
Hanya dengan sebuah serangan kecil seperti ini saja, sudah membuat musuhnya kelabakan. Lalu bagaimana jika Prada akan menyeret mereka ke pengadilan.
Prada melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia teringat dengan janji temu bersama paman Greta.
"Paman ingin bertemu denganmu, Nak!" isi pesan Direktur rumah sakit.
"Kita bertemu pada jam makan siang saja, Paman."
Mereka berdua membuat sebuah janji temu pada jam makan siang tanpa Greta. Entah apa yang akan dikatakan oleh paman kepada Prada. Karena hanya paman saja yang tahu.
__ADS_1
"Mungkin dia memiliki petunjuk. Tetapi aku harap waspada."
...****************...