Emergency Love

Emergency Love
Bab 58


__ADS_3

Kedatangan Paman ke kantor polisi ini adalah permintaan Prada. Pengacara itu meminta sang paman untuk mengajak pulang sang keponakan agar tidak terus-menerus menunggunya di tempat yang kurang nyaman ini.


Namun, ketika Paman ingin mengajak Greta meninggalkan kantor polisi, dia melihat dua orang wanita yang sedang terlibat dalam sebuah perdebatan. Yakni Greta dan mertuanya, Rosaline.


Berhubung tidak ingin dua wanita itu terus berseteru, Paman ingin menengahi. Namun, justru Rosaline mencemooh dirinya sebelum pergi meninggalkan dia dan Greta.


"Ta, benarkah kamu hamil? Kenapa kabar bahagia seperti ini tidak disampaikan kepada Paman?" Dia teringat seruan Greta kepada ibu mertuanya tadi. Dia mengatakan tidak akan mengizinkan Rosaline menemui anak serta cucunya.


Namun, alih-alih membenarkan, Greta malah menyeringai, "Paman ... kenapa aku harus menutupinya? Karen kabar itu tidak benar." Kemudian dia terbahak seperti tidak memiliki salah sama sekali.


Paman Greta kembali menekan rasa girangnya, dia juga mendengar jika sang keponakan hanya menikah karena sebuah kesepakatan saja. "Lalu? Apa benar yang dikatakan olehnya? Kamu dan Prada hanya berpura-pura?"


"Nih, kan? Belibet kan? Gimana gue jelasinnya coba? Semua ini gara-gara Prada." Greta menepuk jidatnya dan berusaha meyakinkan Paman agar mempercayai dirinya.


Karen tak memiliki cara lain, terpaksa Greta mengajak pamannya masuk ke dalam mobil guna menjelaskan duduk permasalahan rumah tangganya.


Dengan ancaman inilah, Paman berhasil membawa pulang Greta agar wanita itu tidak terlalu larut dalam kesedihan menunggu suaminya kembali.


"Kesepakatan itu benar adanya, Paman. Tetapi ... kami sudah berdamai. Dia, maksudku Prada adalah pria yang bertanggungjawab pada keluarganya."


Paman Greta tidak menampik hal itu, dari sikap Prada yang begitu mementingkan Greta. Dia sudah bisa memastikan jika ponakannya telah berhasil merebut hati pria itu. "Berdamai? Jadi selama ini kalian berseteru?" selidik pamannya dengan nada gusar yang penuh kepura-puraan.

__ADS_1


"Ayolah, Paman! kita bukan anak kecil lagi. Jika paman tidak suka padanya, aku akan menuruti apapun keinginan Paman."


"Jangan sampai paman menemukan hal yang mencurigakan pada pernikahan kalian. Jika iya, maka paman tidak akan ragu untuk membawamu pulang kembali." Meski hanya sebuah gertak sambal saja, paman Greta berharap jika keponakannya itu layak dicintai oleh Prada.


"Iya, Paman."


"Satu lagi, penuhi ucapanmu tadi. Jika ibu mertuamu tahu kamu hanya berbohong, dia pasti akan terus merecoki hubungan kalian."


"Hamil maksudnya?" Greta teringat akan ancaman Rosaline. Dia terpaksa mengaku sedang berbadan dua hasil hubungan bersama Prada. Karena bagaimanapun, Greta tidak tega jika harus memaki Rosaline. Dengan cara berkelas seperti tadi lah Greta bisa mempertahankan posisinya meskipun dengan berbohong. "Jika kami bisa, Paman."


"Harus bisa! kalian masih muda. sudah sepantasnya berbahagia."


Usai mendengar ceramah dari pamannya, Greta semakin berpikir lebih dalam lagi. Haruskan dia memberikan keturunan bagi mereka?


**


Seperti permintaan sang paman dan juga Prada, Greta kembali ke rumah. Rencana liburan harus disimpan kembali. Bukan gagal, hanya saja dia perlu menundanya hingga Prada dan dirinya leluasa.


Dalam kamarnya, Greta duduk termenung memandang keluar jendela. Matanya sayu, begitu banyak beban yang kini bersarang di benaknya. Meski paman dan Prada berulangkali melarangnya untuk memikirkan hal tersebut. Namun, Greta tetap saja tak bisa menyingkirkan masalah ini.


Sudah lebih dari lima jam Prada diperiksa. Pria itu tak kunjung menampakkan diri di rumah. Sehingga Greta menunggu dan menunggu suaminya.

__ADS_1


"Kenapa dia lama sekali? Bukankah dia bilang tadi hanya memenuhi panggilan saja? Jangan sampai dia ditahan." Greta terus berdoa agar Prada selalu berada dalam lindunganNya.


Berkali-kali dia memeriksa ponselnya, dia berharap salah satu anak buah Prada akan mengabarinya. Ya Setidaknya memberikan kabar baik untuk Greta.


Tak berselang lama, Greta mendengar langkah kaki berjalan mendekati kamarnya. Sekonyong-konyongnya, Greta pun berlari menuju pintu kamar guna memeriksa langkah jenjang itu.


Langkah yang beberapa kali terakhir ini telah dia hafal. Hingga dia tak ingin lagi ada jarak di antara mereka. Greta menghambur seusai menghampiri pria jangkung itu.


'Terima kasih sudah menungguku,"


Wanita itu menangkup pipi sang suami dengan kedua tangannya. Dia mengamati mulai dari ujung rambut hingga kaki Prada. "Kamu baik-baik saja, bukan? Aku takut sekali!"


Kini giliran Prada yang tak bisa lagi untuk berpisah dengannya, pria itu mengeratkan pelukannya terhadap Greta seraya menciumi kepala sang istri. "Maafkan aku! aku membuatmu khawatir, Maafkan aku ... karena aku, kita tidak jadi berlibur."


Greta tidak merajuk, dia sama sekali tidak keberatan atas hal tersebut. Baginya, keselamatan Prada jauh lebih penting daripada berlibur. "Lupakan berlibur, kita masih punya banyak waktu. Asal jangan tinggalkan aku."


"Aku janji tidak akan meninggalkanmu, aku dan uangku tidak akan meninggalkanmu."


"Prada ... Please, deh! udah pewe ada kata manis. Kenapa ujung-ujungnya harus seperti itu, sih? Apa aku terlihat seperti wanita mata duitan?" Dia merasa kesal dan ingin sekali memukul pria itu.


"Tentu saja aku tahu seperti apa istriku, luar dan dalam aku bahkan hafal meski dengan menutup kedua mataku." Pria itu masih sempat menggoda istrinya.

__ADS_1


"Apa ibu menyakitimu, Sayang? Aku tidak akan diam saja jika dia menyentuhmu."


...****************...


__ADS_2