
Musim dingin mulai mendatang dipertengahan oktober, suasana tempat itu masih tenang nan damai, tetapi pria bertubuh tinggi 180cm masih terbaring lelah di kasur empuknya.
"Rasanya melelahkan. . .".
Dia lelah setelah menghabiskan liburan pernikahannya selama dua minggu. Kini akhirnya, dia bisa tidur panjang di kasur lembutnya.
Kertas-kertas jatuh menyebar di kamarnya, tak hanya itu pakaian kotornya berhamburan di lantai dan monitor komputernya juga masih nyala. Rasanya tempat itu mirip pembuangan sampah.
" Ring!..ring!..ring!..ring!" Suara jam alarm heboh disampingnya.
"Berisik!"
Suara itu mengganggunya, salah satu tangan putih mulusnya mematikan suara tadi di sampingnya. Tubuhnya begitu malas bangkit dari kasurnya.
"Ugh, aku masih mau tidur..mengganggu saja!"
Jam itu berbunyi lagi dan dia mematikannya lalu melihat jam itu dengan mata membulat.
"APA?!"
"..AKU TERLAMBAT!!" Teriaknya bagaikan disambar petir mengheboh di kamar itu.
Dengan secepat kilat, dia membersihkan diri. Kini wajahnya memajang di cermin sedang merapikan dasinya.
"Dia itu ya!..kenapa dia tidak membangunkan ku?" Sahutnya masih kesal.
Namanya Nishimura Ryuzaki, berumur 24 tahun. Sebagai direktur CEO di perusahaan LIVE milik ayahnya Nishimura Tatsuro dan petugas spesial atau disebut salah satu pangeran iblis dari militer AU 1-0-2. Tak hanya itu, pria wajah tampan dan populer itu juga sudah menikah.
Langkahnya begitu cepat-cepat meninggalkan rumah, dia menemukan bekal makanan dan surat kecil dari istrinya di depan pintu luar. Perlahan-lahan dia membacanya,
"Maaf Ryu, aku harus berangkat lebih awal karena jadual pemberangkatan stasiun ke RS Aizawa tidak sesuai dari dugaan ku. Ooya, jangan lupa bekal makanan untukmu. Ku rasa kau tidak terlambat bukan?"
Diam-diam tangannya meremuk kertas itu penuh amarah,
"SETIDAKNYA BANGUNKAN AKU, MIYUKI!!"
Burung-burung itu ikut kabur mendengar teriakan monster oleh Ryu.
••
Di RS Aizawa, gadis polos bertubuh pendek 165cm dengan mengenakan seragam perawat warna putih dan rapi sedang melangkah masuk ke ruang pertemuan perawat.
"Selamat pagi.." Sapanya bernada lembut dan sopan tapi terdengar dingin menatap orang-orang sedang melihatnya.
"Akhirnya kau muncul juga ya." Gadis berpirang ungu menatap sinis penuh aura licik.
Namun, gadis tadi berambut coklat muda dengan poni dibawah keningnya mengabaikan tatapan itu dan mengubah topik pembicaraan.
"Maaf kak Suzy, ini data laporan medis dua minggu lalu." Sambil menyerahkan berkas pada wanita bernama Suzy.
"Kerja bagus Miyuki, bagaimana aktivitasmu selama kau cuti sebulan?" Tanya Suzy.
Namanya Yamashita Miyuki, umur 20 tahun. Sebagai perawat cadangan di RS Aizawa, dia salah satu perawat iregular tanpa lambang. Perawat lainnya merendahkanya karena tidak memiliki lambang keperawatan. Miyuki tidak mempedulikannya asal diterima bekerja di tempat itu, dia adalah istri sah Ryuzaki secara hukum tidak dengan secara keluarga.
Dia dengan senyum kecil menjawab pertanyaan Suzy tadi, "biasa saja." Singkatnya.
"Aku tau jawabanmu seperti itu, kalau begitu aku bertugas duluan." Suzy sudah terbiasa jawaban Miyuki selalu singkat dan dingin apalagi ekspresinya juga jarang terlihat.
Suzy berambut hitam nan indah itu adalah senior kalangan perawat, dia diutuskan untuk mempimpin tim perawat. Dia sudah menganggap mereka adalah adik-adiknya.
"Baik, semangat bekerja kak Suzy." Balasnya dengan membungkukkan badannya penuh hormat pada Suzy.
Setelah Suzy pergi, suasana kembali beraura dingin dan jahat melihat tatapan sinis itu masih ada dihadapannya. Miyuki bukannya takut, melainkan. .
"Apa kalian sedang sakit?" Tanya Miyuki membuat semuanya bingung. "Eh?"
"Atau perlu aku panggilkan dokter memeriksa kalian?" Tambahnya.
Gadis berpirang ungu tertawa kecil terdengar dingin.
"Konyol sekali ya, mengerjai tanpa sepengetahuanku kah? Tidak sopan sekali."
Namun, Miyuki bersikeras mengabaikannya dengan..
"Permisi.. Waktunya bekerja."
Dengan tenang dia meninggalkan tempat itu, mereka menyaksikan dengan tatapan kosong. Akan tetapi gadis tadi kesal.
"Berani-beraninya mengabaikanku ya, si Es itu!!" Gerutunya penuh amarah. "Sial!"
Namanya Sakura, sebagai perawat profesional memiliki gelar tinggi dikalangan perawat. Hatinya baik tapi otaknya licik, kecantikannya begitu populer hingga pasien yang ditangani ikut jantungan. Selain cantik, dia juga pintar memiliki IQ 199 alias rival Miyuki, si es dingin.
••
Di perusahaan, tumpukan kertas memenuhi meja kantor Ryu. Dia tampak sebal dan malas mengerjakannya.
"Hari pertama bekerja, berkas-berkas sudah menumpuk."
Dia mendengus kesal, "apa malam ini lembur lagi kah? Melelahkan."
Ponsel disaku jasnya berdering, dia dengan cepat menjawab panggilan itu.
"Akhirnya kau memanggilku juga!" Namun nadanya kali ini masih terdengar kesal akibat terlambat masuk kantor.
"Ryu, kau baik-baik saja bukan?" Suara familiar itu adalah istrinya.
Ryu menghela nafas panjang. "Kenapa kau tidak membangunkan ku sebelum kau berangkat?"
"..gara-gara dirimu, aku terlambat dan harus lembur malam ini."
"Maafkan aku Ryu, lain kali aku akan membangunkan mu."
"Baiklah, apa kau tidak bekerja, hm?"
"Aku sedang istirahat 10 menit, apa kau masih marah padaku? Kau bisa menghukumku karena aku membuat kesalahan."
"Lupakan saja."
"Ryu?"
"Sekarang kembalilah bekerja dan.."
Tiba-tiba panggilan itu terputus, Ryu menatap kosong dan beberapa menit kemudian. . .
"Ngrhh! Dia itu ya!!" Malahan dia bertambah kesal.
Tapi setelah dipikir-pikir sesuatu sedang terjadi pada Miyuki. Namun pikirannya diganggu seseorang. . .
"Pangeran Ryuzaki ku!!" Teriak seorang pria bernada lembut penuh riang menemui Ryu.
"Selamat pa.." Belum sempat menyapa temannya, Ryu dengan cepat menendangnya keluar dari pintunya.
"Aku tidak punya waktu!" Tegasnya dingin.
"Eh, tunggu Ryuzaki!" Pria bertubuh tinggi 175cm dan berambut coklat dengan kemeja rapi itu membuka pintunya kembali.
"Aku ingin memberitahumu kejadian di Okinawa itu!" Serunya.
Ryu duduk kembali, "apa?"
Pria bernama Yoshida Haru, teman seangkatan Ryu itu melangkah maju kehadapan temannya dengan serius.
"Tidak hanya Arata di sana, dia bersama gadis misteri itu."
"Gadis misteri?"
Haru menunjukkan foto gadis yang bersama Arata, "identitasnya masih dalam penyelidikan ku."
"memangnya apa hubungannya dengan si brengsek itu?" tanya Ryu.
dia tidak terlalu penasaran foto gadis itu, malahan mengabaikan temannya.
"jelas itu bukan urusan ku." Tambahnya.
Haru jadi kesal mendengarnya itu menarik kemeja temannya dengan kasar.
"Ini tugas dari mayor, tau!" Tegasnya.
Bibir Ryu terangkat sinis, "hei-hei..kau tidak sopan sekali padaku."
Haru sadar itu melepasnya dan merapikan kemeja temannya penuh ramah kembali. Seolah tak terjadi apa-apa,
"Aaa..pangeran ku, kau terlihat tampan sekali dengan kemeja ini." Pujinya.
Namun, Ryu menjitak kepalanya. "Payah sekali."
"..Serahkan tugas itu padaku, aku akan menyelidikinya." Tambahnya dengan merapikan dasinya.
"Dan akibat kau mengotori kemeja ku, bisakah kau menyelesaikan berkas-berkas dimeja ku?" Pintanya.
Haru terkejut melihat berkas-berkas masih menumpuk di meja. "Heh? Aku yang kerjain semuanya?"
"Sendiri?"
Ryu membenarkannya, "pokoknya selesaikan hari ini, jika tidak kau akan terkurung ditempat ini."
"Iya-iya, lalu, bagaimana denganmu?" Tanya Haru, dia terpaksa menerima akibatnya.
"Aku ada urusan yang perlu ku selesaikan." Sambil mengenakan jasnya kembali.
"..aku mengandalkanmu, Yoshida Haru." Dia dengan senang menampilkan senyum buayanya itu pergi meninggalkan perusahaan itu.
Namun, suasana hati Haru terbawa amarah berapi-api tak tahan melihat tumpukan berkas itu.
"BANYAK SEKALI!!" keluhnya.
••
__ADS_1
Miyuki menerima tugas dari Suzy bahwa dia akan merawat pasien gadis berusia 17 tahun, namanya Yuri mengalami penyakit jantung. Dia harus segera operasi untuk mencegah penyakitan tersebut atau hidupnya tidak panjang, namun keluarga Yuri tidak mampu melunasi biaya operasi maupun biaya perawatan Yuri di RS.
"Jadi kau yang akan merawatku?" Tanya Yuri bernada dingin pada perawat yang berdiri disampingnya.
"Benar, namaku. . " Belum sempat perawat itu memperkenalkan diri, Yuri dengan dingin mengabaikannya.
"Aku sudah tau."
Diam-diam dia mempersilahkan wanita itu duduk, "duduklah."
"Baik, aku juga sudah tau tentangmu dan..penyakitmu harus segera diatasi, jika tidak maka hidupmu tidak akan lama." Sahut Miyuki.
"Biarkan saja, aku juga tidak mau hidup." Nada Yuri terdengar pasrah dengan takdir yang dimilikinya.
"..orang-orang itu tidak pernah menganggapku sebagai anaknya melainkan bonekanya." Tambahnya.
Miyuki terdiam sejenak karena kehidupan Yuri mirip sepertinya yang dulu, perlahan-lahan dia menggenggam salah satu tangan Yuri.
"melihatmu saat ini kau sangat lemah, kau butuh kekuatan yaitu.."
"..kau harus sembuh, Yuri."
Kedua mata Yuri gemetar mendengar ucapan seseorang mendukungnya. Namun, dia bersikeras menyembunyikan rasa itu. Miyuki mengerti yang dirasakan oleh Yuri.
"Jangan ikut campur." Dingin Yuri.
"Baiklah, kalau begitu aku keluar istirahat sebentar."
"Tidak usah, cukup saja di sini."
Miyuki lega dan senang mendengarnya, tetapi Yuri tidak melihat bibirnya tersenyum.
"Apa aku bisa menghubungi seseorang?" Tanya Miyuki.
"Siapa?"
"Suami ku."
"Kau sudah menikah?" Tanya Yuri mengerutkan keningnya, karena merasa Miyuki adalah perawat rendahan yang tidak memiliki apa-apa.
Miyuki membenarkannya, "pernikahanku baru saja dua minggu, aku ingin mengabarinya apa semua baik-baik saja karena aku tidak sempat membangunkannya."
"Itu keputusanmu sendiri, jadi tidak perlu minta izin dengan ku."
"..itu urusanmu bukan?" Lagi nada Yuri masih terdengar dingin tapi perhatian.
"Baik, makasih Yuri."
Miyuki menghubungi Ryu dan berbicara, Yuri memperhatikannya itu tidak mengerti ekspresi Miyuki.
"Aku tidak mengerti, mengapa kata-kata itu mendorong ku? Tapi..melihat dirinya seperti kehilangan segalanya."
Miyuki begitu serius bicara dengan Ryu, sebuah tangan muncul melempar ponselnya hingga jatuh. Yuri terkejut menyaksikannya.
"Ayah?!"
Pria berotot raksasa itu menarik rambut Miyuki dengan kasar.
"Jadi kau yang merawat anak ini, berani sekali ya!" Dia melempar Miyuki ke tembok.
"Miyuki?!" Teriak Yuri berwajah cemas melihat kondisi Miyuki.
Miyuki tak bisa bergerak maupun berkata apa-apa lagi dan jatuh pingsan.
Yuri marah, "apa yang kau lakukan ayah?!"
"Kenapa? Orang-orang tidak pantas merawatmu harusnya kau pulang, tidak bersama perawat bodoh di tempat ini!" Tegas ayahnya.
Dia menarik Yuri keluar dan meninggalkan tempat itu.
"melihatmu saat ini kau sangat lemah, kau butuh kekuatan yaitu kau harus sembuh, Yuri."
Ucapan itu masih terpikirkan oleh Yuri dan tentu saja dia menyesalinya.
"Maafkan aku, Miyuki."
••
"Miyuki, Miyuki?" Panggil nada familiar itu mencoba membangunkan Miyuki yang tadinya jatuh pingsan. Kedua matanya terbuka dan merasa lesu.
"Kak Hiroishi? Dimana..aku?"
"Kau di ruang perawatan, kau pingsan dikamar pasienmu, Yuri." Jawab Hiroishi.
"Apa yang terjadi?"
Miyuki mengingat kejadian tadi, "aku sangat terkejut dia melemparku, tapi bagaimana dengan Yuri?"
"Dia sudah tiada di tempat itu."
"Begitu ya, dia pasti sangat ketakutan." Gumam Miyuki dan menduga ayah Yuri membawa anaknya pergi, miyuki cemas Yuri sakit lagi. Tapi dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Di luar, Yuri tampak berusaha melepaskan tangannya dari ayahnya.
"Dasar keras kepala!" Ayahnya menampar wajah anaknya.
Tentu saja Yuri merasa sakit dan ditambah lagi jantungnya juga mulai sakit. "Arghh..sakit sekali."
"Oi-oi, ada keributan apa disini?" Seseorang berdiri disamping tiang itu daritadi menyaksikan hal tersebut.
"Bukan urusanmu!"
Yuri berwajah ketakutan dan memohon pada pria tampan bertubuh tinggi 180cm menyelamatkannya.
"Seorang ayah menelontarkan anaknya sendiri dan..dijadikan bonekanya kah? kejam sekali." Nada familiar itu terdengar dingin.
"Bagaimana dia tau?" gumam Yuri dan heran mendengarnya.
Pria itu bergerak cepat dan muncul dibelakang ayah Yuri lalu menusuk sesuatu ke tubuhnya.
"Apa? Sejak kapan kau.."
alhasilnya, ayah Yuri jatuh pingsan, "tidak sopan sekali." Tuturnya alias Ryuzaki.
Yuri masih ketakutan, Ryu mendekatinya dan berjongkok menatapnya.
"Kau baik-baik saja, bukan?"
"Aku.." Namun kondisi Yuri berakhir jatuh pingsan.
••
Miyuki begitu lega mendengar Yuri kembali dan segera dioperasi.
"Syukurlah, apa keluarganya sedang membantunya?" Dia bertanya salah satu perawat yang mengatasi Yuri.
"Tidak, pria tampan yang membantunya." Suster tampak begitu senang memikirkan pria tampan itu.
"Pria tampan?" Tentunya, Miyuki tidak mengerti siapa pria tampan yang dimaksud.
"Aku menemukanmu." Sahut nada familiar di belakang Miyuki.
"Huh, Ryu?"
"..sedang apa kau disini?"
Suster tadi yang melihat sosok Ryu jadi terpesona, "kyaa! Tampan sekali.."
"..ooya, dialah yang membantu pasienmu."
Miyuki sedikit terkejut tapi senang mendengarnya.
"Kalau begitu aku pamit, bye-bye.." Suster itu masuk ke ruang UGD.
"Dia pasienmu?" Ryu menebaknya dan Miyuki membenarkannya. "Makasih, udah bantuin."
Ryu diam-diam melihat salah satu lengan Miyuki tampak memerah.
"Sudah ku duga, sesuatu terjadi padamu bukan?"
Miyuki sadar itu cepat-cepat membelakangi lengannya.
"Aaah..tidak ada yang terjadi padaku."
Tatapan Ryu mulai terlihat mengerikan, dia dengan kasar menarik lengan Miyuki yang sakit.
"Ah! sakit.."
Ryu melepasnya kembali, "jangan menyembunyikan hal ini dariku."
Miyuki menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah "Maaf Ryu..."
"Katakan siapa yang membuatmu seperti ini?"
"Ayah pasienku."
"Seorang perawat harus tegas menangani keluarga pasien agar tidak menimbulkan masalah, bukan hanya jadi pecundang!" Ryu menegurnya bernada lembut.
Kedua mata Miyuki sedikit membulat, "aku..hanya syok, dia datang melemparku begitu saja."
"Begitu.." Ryu memeluknya, "kau pasti bisa menjadi wanita yang lebih kuat, karena aku mendukungmu Miyuki."
••
Pasangan itu menunggu hasil operasi tersebut, hingga lampu merah lenyap sosok Hiroishi keluar dari tempat itu.
"Bagaimana kondisinya?" Miyuki dengan cepat menanyakan kondisi Yuri. Namun, pertanyaannya diabaikan.
Suasana hati Hiroishi tampak tidak nyaman melihat Ryu juga ada di sana.
__ADS_1
"Kenapa dia disini?" Dinginnya.
Ryu dengan santai menyambutinya, "lama tidak bertemu dokter Yamada Hiroishi."
"Eh? Mereka saling kenal?" Gumam Miyuki menyaksikan tatapan keduanya sedang beradu petir.
"Santai sekali, setelah membuat satu kesalahan sama sekali tidak merasa bersalah kah? Pengkhianat!" Ucap Hiroishi.
"itu jelas bukan kesalahanku." Ryu masih santai meski suaranya terdengar dingin.
Hiroishi kesal dengan mengepalkan tangannya, dia sudah tidak tahan melihat tatapan Ryu begitu menantang dirinya. Dua pria tampan ini sedang perang dingin, Hiroishi ingin memberi pelajaran. Namun, Miyuki dengan cepat menangkis tangannya.
"Ini rumah sakit, kak Hiroishi." Tegur Miyuki, namun tatapannya berubah sedingin es.
"Kak Hiroishi?" Ryu curiga mendengarnya dan berpikir Miyuki sudah mengenal Hiroishi lebih dari teman.
"Aku tau, tapi.."
"Dia suami ku." Lagi ucapan Miyuki lantas membuat Hiroishi turun tangan.
Perlahan-lahan dia mengerti. "Begitu.."
"Meminta cuti sebulan, itu artinya kau menggantikan dia untuk menikahi pria ini." Tambahnya.
"Dia" yang dimaksudkan adalah Mayumi, "jika kau sudah mengerti, itu artinya kau tidak meributkan hal ini di rumah sakit bukan?" Sahut Miyuki.
Hiroishi menghela nafas panjang. "Aku menyerah, tapi..jika dia menyakitimu atau aku tidak tinggal diam."
"Aku tidak seperti orang lain menyakitinya seperti budakku, konyol sekali." Jawab Ryu.
Miyuki berniat menghentikan perang dingin kedua pria itu,
"Ehhr..anu, Ryu? Kak Hiroishi? Anu..."
namun dia bingung memutar kanan-kiri mengalihkannya. Saking tak tahan, dia menarik salah satu telinga mereka masing-masing.
"Kalian ya! Sampai kapan kalian mengabaikan ku!!"
"Aduh duh-duh! Sakitt.." Ringis keduanya, mereka tampak gemetar takut melihat tatapan Miyuki berapi-api mengerikan.
"Ampun dahh, dia mulai lagi.." Ucap Ryu.
"Njiir..sejak kapan dia serem gini.." Ucap Hiroishi.
Mereka berniat kabur, tetapi tangan Miyuki masih menempel ditelinga mereka.
"Mau kemana, hah?"
"Ampun-ampun Miyuki." Bujuk mereka.
Miyuki melepasnya dan menghela nafas panjang, "bagaimana kondisinya?"
Kedua pria itu jadi ternganga bengong melihat Miyuki mengubah topik pembahasan, seolah tidak terjadi apa-apa. "Heh?"
Hiroishi dengan cepat menjawabnya sebelum amarah Miyuki membara kembali.
"Operasinya berjalan dengan baik, tentunya dia kondisi stabil dan besok dia akan sadar."
"Oohh.." Balas Miyuki singkat dan santai.
• • • hanya itu balasan singkat dari Miyuki, Hiroishi bertambah bingung, "huh?"
dia tidak mengerti sikap Miyuki jadi berubah total semenjak Ryuzaki bersamanya.
"Kenapa agak berubah ya? Ini..bukan Miyuki yang ku kenal." Batinnya.
••
Waktu sudah berlalu hingga langit mulai menggelap, Ryu berada di ruang tengah sedang mengetik keyboard laptopnya dan memeriksa latar belakang gadis misterius yang bersama Arata.
Akan tetapi, layarnya“error”Ryu berkecil hati karena sulit menemukan identitas gadis di foto itu hingga membuatnya penasaran.
"Siapa sebenarnya gadis ini?"
Dan Miyuki datang dengan menyediakan secangkir kopi untuk suaminya, "ada apa denganmu, Ryu?"
Wajah Ryu masih terlihat kesal dan sedikit stres, Miyuki duduk disampingnya.
"Kau sedang mencari identitas seseorang ya?" Tebaknya.
Ryu membenarkannya, "tapi sulit sekali menemukannya."
Dia memperlihatkan foto itu pada istrinya, Miyuki terkejut. "Ini.."
"Kenapa? Kau mengenalnya?"
"Dia teman SMA ku, Saito Angelina."
"benarkah?"
Tiba-tiba lampu rumah itu terpadam, "apa yang terjadi?"
Miyuki jadi heran mengapa gelap sekali. Satu lampu bersinar diatasnya, dia terkejut melihat meja dihadapannya dan sosok Ryu mengenakan pakaian detektif muncul dihadapan.
"Huhh? Ryu?" Dia jadi bingung dan tidak mengerti apa yang merasuki pikiran Ryu.
"Apa kau akan mengintrogasiku seperti tahanan menghadapi polisi? Aku bukan tahanan, apalagi kasus seperti ini."
Ryu tidak menanggapinya, malahan mengubah topik pembicaraan.
"Sekarang jawab pertanyaan ku, ceritakan padaku apa saja mengenai Saito Angelina."
"Huh? Ooh, ba..baiklah."
"..dia teman SMA ku, tapi kami hanya berteman selama 14 hari."
Jawaban Miyuki membuat Ryu tak bisa berkata-kata. "Apa?"
Semua lampu menyala kembali, meja dihadapan Miyuki menghilang dan tampilan Ryu kembali seperti semula. "Ryu?"
"Harusnya kau bilang dari tadi." Keluhnya kesal yang kemudian menyandarkan kepalanya dipangkuan istrinya.
Miyuki sama sekali tidak mengerti, ? ? ?
"Tapi Ryu.." dia mengusap rambut suaminya dengan lembut.
"..kau ingat di Okinawa, saat aku diculik. Aku bertemu dengannya, dia bersama pria bernama mayor Arata."
"Kau bertemu dengannya?"
Miyuki membenarkannya, "mataku tertutup jadi aku hanya mendengar pembicaraan mereka."
"Apa yang mereka bicarakan?"
Miyuki mencoba ingat-ingat lagi, "kalau tidak salah, mereka membicarakan pengeluaran senjata di..Osaka dan,"
"..dan ingin bekerjasama dengan aliansi agar menuntaskan dendamnya padamu, Ryu." Jawab Miyuki.
"Bekerjasama dengan aliansi? Konyol sekali, apa si brengsek itu mau cari mati ya." Sahut Ryu tidak percaya jika Arata bergabung dengan Aliansi lain atau hidupnya tidak lolos.
kemudian, tatapannya terdiam sejenak melihat Miyuki melamun.
"Ada apa, Miyuki?"
"Saat aku melihatnya, dia memakai seragam militer angkatan laut dan wajahnya masih sama seperti dulu tapi.."
"Ada yang berubah darinya, dia tidak mengenaliku sama sekali." Ujar Miyuki bernada sedih.
Ryu mengerti itu menggenggam salah satu tangan istrinya.
"Aku akan membuat temanmu itu mengingatmu, Miyuki."
Dia mendukungnya dengan senyum yang ramah padanya. Miyuki lega dan tersenyum lalu menatapanya,
"Terima kasih Ryu."
"Sekarang jangan sedih lagi ya, ntar aku bingung harus ngapain." Candanya.
"Baiklah, sekarang kau harus tidur atau kau akan terlambat besok."
Ryu menolak dengan menggodanya. "tidurlah disini bersamaku."
"Tapi.." Miyuki juga menolak karena Nishimura tidak mengizinkan Miyuki satu kamar dengan Ryu, apalagi tidur berduaan denganya. Selama mereka di rumah, mereka membedakan kamar masing-masing agar tidak menimbulkan masalah antara Yamashita dan Nishimura terutama 10 clan master's.
Namun, Ryu bersikeras menarik wajah Miyuki ke hadapan wajahnya. Mata Miyuki membulat terkejut hingga membuat dirinya berdebar-debar.
"Tidak ada siapa-siapa disini, hanya kita berdua." Ujar Ryu.
Pipi Miyuki memerah dan gugup. Dia tak bisa angkat bicara lagi karena tangan Ryu itu mencegah tubuhnya pergi.
"Mata coklat muda bersinar-binar tampak gemetar dihadapan ku itu membuat ku tidak mengerti, mengapa dia mampu mengeluarkan emosi itu padaku? Berbeda dengan orang lain, seolah emosi itu menghilang dihadapan mereka. Hal itu yang membuatku ingin tau, apa yang membuat emosi itu menghilang ditubuhmu, Miyuki?"
Sementara Haru yang lagi lembur di kantor tidak kuat menyelesaikan berkas itu lagi. Kertas-kertas masih tersisa setengah, namun Haru harus begadang sendirian menyelesaikannya.
"Aku lelah sekali." Keluhnya.
"KAPAN SELESAI??!!"
••
{Bersambung. . .}
Next episode : she's my wife
Yuri stabil kembali sedang jatuh cinta dengan Ryuzaki, Miyuki tidak nyaman memberitahunya bahwa pria yang Yuri sukai adalah suaminya. Kira-kira gimana perasaan Yuri tau soal sebenarnya?
"maafkan aku Yuri, sebenarnya. . . "
__ADS_1
Jangan lupa komentar dan like hasil karya ini, terima kasih sudah mampir membaca, kami segera kembali.