Emergency Love

Emergency Love
Dia SPESIAL


__ADS_3


"Yuri, syukurlah kau kembali.." Suara familiar itu tampak khawatir menunggu kehadiran Yuri kembali.


Yuri sadar setelah operasi kemarin, dia sedikit kaku melihat sosok Miyuki menunggu disampingnya.


"dokter bilang, kondisimu sudah stabil hanya perlu istirahat beberapa hari." Ucap Miyuki.


"Sudah stabil?" Yuri bertanya, mengapa kondisinya mendadak stabil? Apa sesuatu terjadi saat dia jatuh pingsan kemarin?


Miyuki dengan tenang menjelaskan bahwa pria yang kemarin menolongnya itu telah membiayai operasi jantung dan perawatan Yuri. Yuri jadi terdiam sejenak dan mengingat pria kemarin itu.


"Di..mana dia?" Tanya Yuri.


"Dia tidak disini."


Yuri menghela nafas panjang, "bisa tinggalkan aku sendiri,"


"Aku..ingin berterima kasih padanya, tapi..."


"Sudahlah, itu merepotkan." Sambung Yuri terdengar menyerah dan tidak mau menyulitkan suasana.


Miyuki sulit mengekspresikannya, dia merasa Yuri ingin menemui Ryu dan berterima kasih padanya.


"Aku..akan memanggilnya untukmu."


Yuri membiarkan Miyuki pergi melakukannya, diam-diam bibir Yuri tersenyum kecil.


"Pria itu...seperti malaikat ya." Batinnya.


••


Ryu kembali ke kantornya dan menyaksikan mata panda Haru tampak menyeramkan.


"Buset! Itu kau Yoshida?" Dia bahkan terkejut melihat Haru bangkit sempoyongan dari tempat duduknya.


"Ehrr..hehe..ya-iyalah, masa hantu." Jawab Haru kelelahan setelah bergadang semalaman mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ryuzaki.


Berkas-berkas di mejanya sudah rapi, Ryu dengan senang hati langsung mengelus kepala Haru seperti anjingnya.


"Anak pintar." Pujinya.


"Aku bukan anjing, Ryuzaki." Tegur Haru.


"Tapi hari ini, kau mirip seperti anjing." Balasnya.


"Hmph!" Tentu saja Haru kesal dan pasrah.


Keduanya serius kembali, "gadis misteri di foto itu adalah Saito Angelina, gadis militer AL." ujar Ryu.


"Saito Angelina? Aah! Bukankah dia salah satu 10 klan master?" Haru menebaknya dengan benar.


"ngomong-ngomong darimana elu tau informasinya, padahal sulit lo nyariin." Sambungnya.


"Bukan urusanmu." Ryu langsung menjawabnya dengan cepat.


"Tapi di angkatan laut sama sekali tidak memiliki nama gadis itu."


Ryu sedikit mengangkat alisnya, "ada yang tidak beres dengan masalah pribadinya."


"Darimana kau tau itu?"


Ryu dengan tenang, "dari teman SMAnya."


"Permisi?" Sapa suara wanita pada keduanya.


"Ada apa, Aori?" Tanya Ryu berwajah santai.


Wanita berpakaian rapi dan polos tapi cantik adalah sekretaris perusahaan Ryuzaki, Sakurai Aori.


"Ini tentang Saito Angelina."


"Heh? Sejak kapan kau ikut?" Tanya kedua pria itu.


"Bukankah aku juga salah satunya?" Balas Aori.


"Lupakan saja, apa yang kau dapatkan tentangnya?" Tanya Ryu mengubah pembahasan.


"Lihat ini!" Aori secepat kilat memperlihatkan lokasi Angelina bersama Arata di tablet miliknya.


"Mereka menuju..RS Aizawa?" Ucap Haru.


Ryu sedikit membulat, "Miyuki!"


Kemudian, dia mendapat panggilan dari istrinya


"Ryu, Yuri mencarimu.."


"Aku sedikit ada urusan."


"Lina?"


Ryu terdiam mendengar suara kaku Miyuki memanggil 'Lina' dan panggilan itu langsung berakhir.


"Yoshida, Aori? Ayo pergi!" Perintahnya.


"Baik, petugas spesial!"


••


Miyuki yang tadinya menghubungi Ryuzaki itu terdiam melihat sosok Saito Angelina bersama Arata berdiri dihadapannya.


"Lina?" Ucap Miyuki menatap Lina, mereka di belakang rumah sakit. Suara angin terdengar kencang nan lembut itu meniup belaian rambut mereka.


"Bagaimana kau tau namaku? Padahal terakhir kita bertemu di Okinawa." Jawab Lina.


"Namamu begitu populer ya.." Bisik Arata disamping Lina.


"Entahlah Mayor, rasanya asing sekali."


"Berhentilah panggil aku Mayor, aku ini kakakmu idiot!" Tegur Arata sambil memperlihatkan senyum pahitnya.


"Kakak?" Tiba-tiba pertanyaan Miyuki membuat mereka sadar dan kembali ke topik pembicaraan.


"Ohohohoh..kenalkan aku Saito Arata, kakaknya Lina." Tanpa basa-basi Arata memperkenalkan dirinya pada Miyuki.


"Dan namamu?" Sambung Lina menatap dingin pada Miyuki.


Bibir Miyuki tersenyum kecil, "begitu ya? Kau benar-benar melupakan ku, Saito Angelina."


"..Yamashita Miyuki, itu namaku."


Mendengar nama“Yamashita”Arata langsung angkat pisau mengarah Miyuki. Namun, sebuah tangan menangkisnya dengan cepat.


"Jangan sampai pisau itu mengalir darah istriku!" Sahut nada familiar itu.


"Ryu?" Miyuki berwajah kagum bahwa Ryu datang tepat waktu.


Mata Arata membulat gemetar melihat tatapan Ryu mengerikan. Diam-diam dia tersenyum jahat.

__ADS_1


"Hehh..Yamashita itu istrimu, Nishimura Ryuzaki?"


Salah satu tangan Ryu yang tadinya menangkis pisau Arata itu hancur.


"Tidak menyangka kau nekat melakukannya lagi.."


"..tapi aku tidak membiarkanmu." Sambungnya.


Miyuki yang masih berdiam diri syok menyadari keberadaan Lina dibelakangnya.


"Sejak kapan dia.."


"Miyuki?!"


Lina dengan secepat kilat mengarahkan pistolnya ke belakang Miyuki. Untungnya Miyuki menyadari hal itu, dengan tatapan dinginnya dia cepat memegang pistol itu dan kemudian...


KRAKKK! pistol itu perlahan-lahan hancur, tentu saja Lina terkejut.


"Apa?"


Wajah Lina dan sekujur tubuhnya mulai kaku gemetar melihat kedua bola mata Miyuki mengerikan bagaikan rubah api mencakari mangsanya.


"Mata itu..mata itu?"


Lina jatuh bertekuk lutut, Arata dan Ryu ikut menyaksikannya itu juga sedikit membulat.


"Maaf.." Hanya itu singkatan dingin dari Miyuki.


Dan Ryu punya kesempatan itu menghajar Arata.


"Biar ku peringatkan agar kau tidak melakukan hal bodoh lagi, mengerti?"


Tiba-tiba suasana mulai mengkabut, Ryu cepat-cepat menggenggam tangan Miyuki agar tidak kehilangan dia dan keduanya menyadari kehadiran seseorang.


"Ito?" Gumam Miyuki. Kemudian, kabut itu menghilang bersama Lina dan Arata.


"Dia membawa mereka pergi?" Tanya Ryu menebaknya.


Dia menatap Miyuki penasaran, apa yang merasuki istrinya? Mengapa pistol Lina bisa hancur secepat itu ditangannya.


"Ku rasa begitu." Jawab Miyuki.


••


"Terlambat!" Protes Yuri berwajah cemberut pada Miyuki.


"Maafkan aku Yuri, tadi ada sedikit masalah tapi..dia sudah datang menemuimu."


"Benarkah?" Wajah cemberutnya menghilang melihat sosok Ryu sudah berdiri disamping Miyuki.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Ujar Ryu bernada dingin.


Pipi Yuri memerah mendengarnya, Miyuki jadi curiga dan menduga bahwa Yuri jatuh cinta dengan suaminya, Ryu.


"Kalau begitu, aku harus kembali bekerja. Jika ada apa-apa kau bisa menekan tombol darurat disampingmu Yuri."


Dan dia memutuskan pergi tanpa mengganggu pembicaraan keduanya. Namun, langkahnya terhenti dibalik pintu, merasa hati dan pikirannya sesak gemetar.


"*Ada apa dengan ku? Rasanya sesak sekali.."


"..jika dia benar-benar jatuh cinta dengannya, apa yang harus aku katakan kalau Ryu adalah*.."


Dia membuang nafas dan menyentuh dadanya yang masih sesak.


"Aku tidak mengerti.." Gumamnya terdengar sedih.


Dari kejauhan, Hiroishi menyaksikannya dan mengerti perasaannya. Meski Miyuki tidak bisa menyadari perasaannya sendiri. Namun, bibir Hiroishi tersenyum lega.


"Syukurlah, tapi..." Dia sedikit mengepalkan tangannya karena melihat Miyuki sedih, itu artinya Ryu sudah melukainya dan tentu Hiroishi marah hal itu.


••


Arata bersama Lina itu terselamatkan oleh seseorang, pria berpirang putih abu-abu dan berotot mulus dengan memiliki mata biru yang indah nan tajam.


"Siapa?" Tanya Arata melihat pria dihadapannya itu sedang mengendarai mobilnya.


"Namaku Ito, kau dan adikmu tetap aman bersama ku."


"Kenapa?" Tanya Arata lagi, alasan mengapa Ito datang menyelamatkan keduanya.


Lina masih syok ketakutan setelah melihat mata Miyuki mengerikan.


"..Yamashita Miyuki, itu namaku."


Mengingat nama itu, kepalanya jadi sakit dan pusing.


"Setidaknya kau jangan melakukan hal bodoh terhadap wanita bernama Miyuki apalagi Ryuzaki." Ujar Ito.


"..karena kalian tidak cocok jadi lawan mereka." Sambungnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Arata mengangkat alisnya penuh curiga.


"Kau akan tau diwaktu yang tepat dan saat ini kau perlu menenangkan adikmu, sepertinya dia masih syok berat setelah meyaksikan tatapan mengerikan itu." Jawab Ito dengan tenang.


"Lina? Kau baik-baik saja?"


Lina tidak menanggapinya, dia masih bingung dan Arata menyandarkan kepala adiknya ke samping bahunya lalu menenangkannya.


"Semuanya akan baik-baik saja."


••


Sementara Ryu bersama Yuri sedang berbicara satu sama lain.


"Terima kasih.." Singkat dari Yuri.


"Sama-sama, kau harusnya bersyukur sudah dirawat dengan dia."


"Aku tau, dia baik, polos dan penurut tapi.. Dia hanya perawat cadangan tanpa lambang keperawatan."


"Perawat cadangan tanpa lambang?"


Yuri menghela nafas panjang itu membenarkannya. "aku tidak tau tentangnya tapi menurut rumor yang ku dengar dia perawat cadangan yang tak bisa melakukan apa-apa selain merawat."


"Lalu, kau tertarik?" Tanya Ryu.


"Tidak, melainkan mencurigakan dan firasat ku mengatakan bahwa dia sudah kehilangan sesuatu dalam dirinya."


"Aku benar-benar tidak mengerti." Tambah Yuri.


"Itu benar, aku belum benar-benar mengerti tentangnya." Batin Ryu.


"Ryuzaki! Ternyata kau disini ya!" Teriak Haru lega menemukan Ryu setelah ditinggalkan bersama Aori.


"Maaf Ryu, dia seperti orang gila setelah kehilangan jejakmu." Ucap Aori yang selalu tampil senyum yang menghangatkan. Tapi suasana hati Ryu. .


"Gezzz! Ini orang mengganggu saja!" Gerutunya.


"Kalau begitu kami akan menunggumu, Ryuzaki." Sambung Aori dengan cepat menyeret Haru keluar dari tempat itu.

__ADS_1


"Oi! Lepaskan aku Aori!"


Aori tidak peduli dan bersikeras menariknya keluar dengan menampilkan senyum pahit pada Ryu karena sudah mengganggunya.


"Hehehe..maaf Ryu."


Ryu lega serangga kecil itu keluar, "mereka itu ya..."


Yuri memperhatikan daritadi tertawa kecil, Ryu mengerutkan keningnya dan heran.


"Ini bukan lelucon kali."


"Maaf-maaf, ternyata kau punya sisi yang lucu ya." Sahut Yuri masih berwajah memerah itu senang bisa akrab dengan Ryu.


"Eh? Apanya yang lucu?" Ryu tampak blank dan tidak mengerti. Tapi dia senang melihat Yuri senang kembali.


"*Yuri Kaito adalah anak bonekanya klan Tanaka, mereka memperlakukan Yuri yang hampir sama dengan Miyuki, guardian."


"..sepertinya masalah klan cabang masih belum terselesaikannya ya*.." Keluhnya.


••


Musim dingin masih berlanjut hingga salju mulai turun, Miyuki selalu menyaksikan keakrapan antara Ryu dan Yuri berturut hari, hal itu mengganggunya dan bingung mengekspresikannya


"Rasanya tidak mau berhenti maupun menghilang, ini..mengganggu ku."


Dan Hiroishi tak tinggal diam memperhatikan Miyuki. Saking tak tahan, dia memutuskan bicara empat mata dengannya.


"Ada apa denganmu, Miyuki?" Tanya Hiroishi menemukan Miyuki jatuh kelelahan.


Miyuki bangkit, "aku tidak tau, aku..merasa sesak sekali melihat Ryu bersama Yuri."


"Apa ini pertama kali bagimu?"


Miyuki menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, ini..kedua kalinya, aku pernah merasakan seperti ini saat Mayumi bersama Ryu." Jawab Miyuki dengan jujur.


"Tapi kau tidak usah menyembunyikan hal ini darinya, cukup saja bilang padanya bahwa kau mencintainya, bukan?"


Mendengar ucapan Hiroishi, Miyuki terdiam karena sulit menanggapi soal perasaannya apalagi cinta. Dia memilih pergi dan mengabaikan ucapan itu.


Dan Hiroishi mendengus kesal, "sepertinya aku harus beri pelajaran si iblis itu!"


••


Ryu sedang menemani Yuri yang duduk dikursi rodanya, keduanya sedang menyaksikan pemandangan matahari terbenam.


"Indah sekali ya.." Gumam Yuri.


Suara angin datang meniup suasana, Yuri merasa gugup mengatakan sesuatu pada Ryu dibelakangnya.


"Ada apa Yuri?" Tanya Ryu sadar Yuri berwajah kaku.


"Anu..Ryu?"


"Ya?"


"Apa kau pernah jatuh cinta dengan gadis lain?" Tanya Yuri.


"Pernah, tapi aku ingin menghilangkannya."


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin membahas panjang alasan ku karena hal itu hanyalah mengganggu ku."


"Maaf.."


"Tidak apa-apa, lagi pula kau bertanya bukan? Sudah pasti aku akan menjawabnya."


"Benarkah?" Sambil memutar kursi rodanya dan menatap Ryu berdiri dihadapannya.


Tangan kecil Yuri memegang erat jas Ryu, "kalau begitu, apa aku bisa..mencintaimu?"


Pertanyaan itu membuat suasana jadi tegang, apalagi Miyuki juga ikut mendengar dibelakang pintu. Dia penasaran jawaban Ryu, akan tetapi..


Tak ada tanggapan dari Ryu, Yuri kecewa karena tau cintanya ditolak begitu cepat. Diam-diam langkah Ryu pergi ke tempat sesuatu. . .


"Kau tidak perlu sembunyi seperti ini terus.." Ujar Ryu menarik tangan orang itu bersamanya.


Yuri terkejut melihat Ryu kembali, tapi kini dia bersama Miyuki sambil berpegangan tangan. Hal itu mengganggu Yuri,


"Apa maksud semua ini?" Tanya Yuri terdengar gemetar dan berkecil hati pada Miyuki.


Miyuki dengan cepat membungkukkan badannya, "aku benar-benar minta maaf, sungguh minta maaf."


"Yuri, sebenarnya.."


Ryu tanpa basa-basi lagi memotong bicara, "aku sudah menikah dan..dia istri ku."


Yuri mendengarnya itu berwajah pucat dan kaku, dia mengalihkan pandangannya dan melihat matahari masih terbenam, angin dingin itu menyapu mereka dengan lembut.


"Begitu ya.." Singkat Yuri terdengar gemetar, airmatanya mulai berjatuhan.


Miyuki jadi tidak nyaman, dia berniat menenangkannya. Namun, Ryu menahan tangannya agar tidak mengganggunya. Dan Miyuki memilih. . .


"Yuri, kau menyukai Ryu bukan? Aku sudah menyadarinya, tapi.."


"Apa kau kecewa karena dia adalah suami ku? Kau mungkin tidak percaya, gadis polos dan tidak ada apa-apanya seperti ku memang tidak pantas dimata orang lain, aku hanyalah beban."


"..meskipun aku hanyalah membebani mereka, tapi aku tidak ingin orang-orang itu jatuh karena diriku."


Yuri menghela nafas panjang, "Tidak ada yang perlu dijelaskan."


"Biarkan aku pergi, permisi." Tambahnya. Dia memilih menyerah daripada membahas panjang karena hal itu hanyalah mengundang emosi


Miyuki menundukkan wajahnya dan kecewa, Ryu yang memperhatikan juga tak tinggal diam.


"Berhenti disitu." Sahut Ryu menahan Yuri pergi.


"Dia tidak memiliki teman, jika kau meninggalkannya maka hal itu menghambatnya bukan?" Sambung Ryu.


Yuri tidak menanggapinya, "dia hampir sepertimu, orang-orang itu memperlakukan mu seperti boneka tapi harusnya kau beruntung.."


"Bahwa mereka tidak menghukummu maupun menyiksamu, mereka hanya minta kau bisa memperlakukan mereka dengan baik tapi kau menyerah begitu saja. . ."


Yuri berwajah kaku mendengar ucapan Ryu. "Jangan samakan aku dengan istrimu." Tegurnya.


"Aku tidak menyamakannya, aku hanya ingin kau berpendapat kalau istriku juga sepertimu, menahan rasa sakit dari hukuman dan penderitaan berturut-turut tahun hingga sekarang, dia tidak pernah menyerah maupun menangis sampai aku menemukannya, dia benar-benar menangis seolah menumpahkan rasa sakitnya padaku."


"..aku menikahinya karena aku ingin menyelamatkannya dari penderitaan maupun hukuman itu, namun penderitaan itu tidak pernah berakhir baginya, dia selalu bilang bahwa“aku baik-baik saja”itu yang membuatku ingin selalu bersamanya."


Miyuki mendengarnya juga kagum dan Ryu menatapnya dengan lembut, "dia itu spesial dan selalu membuatku ingin tau tentangnya, benar bukan?"


"Ryu.." Miyuki berwajah malu dan deg-degan.


Yuri yang menyaksikan pasangan itu merasa iri, tapi dia masih berkecil hati dan memilih pergi tanpa tanggapan sedikitpun.


"Aku tidak tau, seberapa berat penderitaan yang menimpa dalam hidupmu tapi kau tidak pernah menunjukkan bahwa kau menyerah penderitaan itu, apa pantas aku disebut pengecut atau..apa ini kesalahan ku sendiri?" Batin Yuri.


{Bersambung. . .}

__ADS_1


••


Terima kasih sudah mampir membaca😌🙏 jika ada kesalahan sila beri pendapat atau kritik sesuai selera anda. Jangan lupa like dan votenya, jika tidak keberatan..😊 tidak maksa kokk.


__ADS_2